Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 86



Sesampainya dirumah sakit Juless pun berteriak-teriak meminta pertolongan masih terus membawa tubuh Summer yang terkulai tidak berdaya itu.


Dia terus memohon dan menangis disana agar Summer bisa di selamatkan dan tetap hidup, tidak peduli bagaimana pun kondisinya Juless memohon sekali Summer tetap hidup dan selamat meski harus cacat.


Para tenaga medis yang bertugas disana langsung membawa Summer dan memberikan pertolongan untuknya, Juless diminta menunggu diliar saat mereka akan melakukan pertolingan itu, dengan berat hati dan sedikit kesal Juless pun menurut.


Ia mengusap wajahnya kasar mondar-mandir didepan pintu tempat dimana Summer berada, bibirnya terus berucap memohon tidak peduli padangan semua orang yang melihatnya, ia berdarah-darah ia kacau seluruhnya tampak berantakan.


Tidak lagi ia peduli ponselnya yang terus bedering dan kakinya yang hanya memakai sebelah sepatu dan satunya lagi terlepas saat ia berlari, sungguh baru kali ini dalam hidupnya ia sepanik dan sehancur ini, ini bahkan melebihi saat dia kehilangan Sarla. Ini tidak hanya sakit namun rasanya ia ingin mati saja, saat tidak ia rasakan lagi denyut nadi Summer.


Juless terus berharap bahwa tadi ada perasaannya saja, perasaan saat di panik dan tidak bisa merasakan denyut nadi itu, hingga salah seorang keluar dari dalam sana wajahnya menaruh keprihatinan pada Juless, “Turut berduka tuan—“


JEDERRRRRRRRRRRRRR


Petir seakan menyambar Juless lalu mematikan dia dalam sekali tembakan, semuanya menjadi kenyataan semuanya hancur, Juless rasanya limbung ia menggelengkan kepalanya dengan dadanya yang begitu sesak, “Suster coba periksa kembali, ini pasti salah!” Juless berucap tegas dengan matanya yang membasah, berusaha masuk ia tidak percaya itu.


“Tunggulah sebentar istri anda masih pingsan dan dalam penangan, janinya yang meninggal akan segera kita lakukan penangan lebih lanjut.”


“Apa suster? Pingsan….” Secercah harapan itu kembali datang walau diakhir ucapan dikatakan dia harus kehilangan anaknya.


“Ya maaf sekali janinnya tidak bisa diselamatkan, benturan kuat membuatnya keguguran, saya permisi…” Perawat itu tampak akan mengambil sesuatu dan pergi dari sana.


Juless rasanya ingin berteriak, TUHAN TERIMKASIH, ini bukan keadaan yang baik dia kehilangan anak mereka tapi setidaknya jauh lebih baik dari Summer yang tidak meninggal juga, Juless pun menjatuhkan dirinya di sebuah deretan bangku disana ia menunduk rasanya begitu haru sekali namun juga merasa lega mendapati Summer masih hidup.


***


Di tempat lain Luke tersulut emosi menghadapi ny.Lindon yang akan melarikan diri juga para anak buahnya yang terus menyerang. Lelaki itu pun menembak Ny. Lindon, saat ini wanita itu sudah tidak berdaya kedua pahanya tertembak oleh Luke dan ia meminta kepolisian yang menanganinya, sudah muak dengan semua ulahnya, lagi pula dia memang menjadi incaran banyak orang dalam banyak kasus kejahatan lainnya.


“Jika seperti ini dari tadi, Summer mungkin akan baik-baik saja!” Kesal Luke atas Juless yang terlalu takut Summer kenapa-kenapa jika melakukan penyerangan langsung.


Saat matahari mulai terang dan menyelesaikan urusannya disana Luke bergegas pergi untuk menemui ayah Dayana di kediaman wanita yang merupakan kekasih ayah Dayana tersebut, Luke akan membawanya pergi lalu kemudian mengkoordinasikan pada Dayana agar segera keluar dari sana sebab tidak akan ada lagi yang harus dia takuti, ayahnya sudah terbebas dari penjara wanita iblis.


Tidak tidur semalaman tanpa istirahat sudah biasa unuk Luke yang memang menjadi tangan kanan keluarg a Rodriguez, ia menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai dikediaman ayah Dayana tersebut, tidak tahu bagaimana kabar Summer sekarang belum ada kabar apapun dia harap semuanya baik-baik saja bathinny.


Melewati pemukman kumuh dipinggiran kota Luke segera mencari alamat yang sudah Dayana berikan itu, sebuah salon tua yang berada disebelah toko penjual souvenir tua bernama toko Bouldero berada, sedikit kumuh dan sangat padat kawasan itu Luke masih terus mengemudikan mobiln ya mencari-cari disana. Beberapa menit ditempat pada itu beruntung ia sudah mendapatkan toko souvenir yang Dayana maksud tersebut.


Dan tepat sekali disebelahnya adalah sebuah salon kecil dengan tulisan yang sudah rusak disana. Dna dilantai dua tempat itulah kediaman ayah Dayana dan kekasihnya itu, Luke berfikir sejenak akan bagaimana mengelabui orang-orang didalam agar dia bisa masuk.


Kekasih ayah Dayana itu mengenal Luke dan ia tahu Luke sama nasibnya dengan Dayana terlahir dari keluarga sederhana dan serba pas-pasan dan tidak tahu jika semuanya sudah berubah bahkan ayah Luke si tukang pembuat sepatu sudah tidak lagi ada.


Suara jelas dari sebuah pintu tarik yang diturukan terdengar jelas oleh Luke, tepat sekali itu ada lah bibi Dayana tersebut, si wanita tua dengan penampilan berlebihannya rambut berwarna merah dan pakaian terbukan ciri khasnya, dia menutup salonnya tampaknya dia akan pergi.


Masih dalam jangkauan Luke kini wanita itu bergegas pergi dari sana lalu memanggil supir taksi jauh diseberang salonnya.


Tidak Ingin menunggu lama Luke segera pergi ke salon tersebut, ia membuka laci dashboar mengambil sebuah alat disana dan segera turun dari mobilnya untuk bisa membobol salon tersebut, beruntung tempat itu begitu sepi Luke tidak ingin bersikap mencurigakan dengan sekali paksaan merusak pengunci pintu itu Luke berhasil membuat pintu besi salon tersebut terbuka dan segera ia masuk kedalam.


Luke berjalan pelan-pelan ke atas sembari melihat-lihat area disana, semuanya tampak menyeramkan dan tidak terurus, mungkinkah mereka masih tinggal disini? Luke pun sampai dilantai 2 itu namun ia terperangah tidak ada apapun disana hanya ada ruangan kosong yang lebar tanpa sekat dan tanpa lampu disana.


Ayah Dayana tidak ada disini, lantai dua ini nyaris seperti tempat uji nyali sangat menyeramkan dan kotor sekali. “ Hi apakah ada orang disini?” Pastikan Luke lagi.


“Permisi siapapun jawab aku!” Suara Luke memantul disana dan benar di sana tidak ada siapapun lagi.


Tanpa Luke tahu ditempat lain sebuah hal buruk sedang terjadi, bibi Dayana pergi kerumah perjudian itu sebab Dayana sedang akan berpindah tangankan ke seorang pengusaha kaya raya asal Tiongkok karena pemilik perjudian itu terlilit hutan dan kalah dalam sebuah taruhan bernilai fantastis.


Tidak ada pernikahan semuanya hanya permainkan bibi Dayana dan hari ini juga Dayana akan dibawa pergi laki-laki itu keluar dari kota ini baru selanjutnya akan dibawa ke negaranya untuk ia jadikan istri sungguhan.


***


“Kau dimana Luke! Summer belum juga bangun dan mereka kehilangan bayinya!” ucap Morean di panggilannya kepada Luke yang tidak ada dirumah sakit saat dia datang kesana.


Luke bergegas pergi dari hotel sambil mengangkat panggilan, “Ny. Lindon sudah diamankan—maaf Bos, aku ada urusan mendadak dan ini akan kembali.”


Juless tidak peduli apapun pendapat Morean yang terkesiap atas apa yang terjadi dengan dia dan Summer ia tidak berucap apapun selain memberitahukan yang sedang terjadi, “Apapun yang menimpamu aku turut prihatin Julss— maafkan aku yang tidak tahu apapun.”


“More— apa aku punya salah hingga mendapatkan ini semua?” Netra Juless berkaca-kaca ia begitu merasa hancur saat ini.


Morean menggelengkan kepalanya, “Setiap orang melewati jalan yang berbeda-beda mungkin ini jalanmu, sulit kehilangan sesuatu apa lagi bagian dari ktai namun beruntungnya kau dan Summy masih diberi kesempatan untuk bersama, kalian bisa mulai lagi cara yang berbeda setelahnya…aku bangga padamu Julss, kau pria yang bertanggung jawab dan sangat bisa dihandalkan.” Morean berkaca-kaca menepuk pundak sang keponakan, “Aku bahagia untukmu Julss bocah kecil menyebalkanku sudah cukup dewasa dariku.”


Juless kemudia bangkit dan segera ia berhambur memeluk sang paman, ia seperti mendapatkan semangat lagi saat ini karena memang Morean yang sedari ia kecil menjadi penyemangat, tempat berteduh dan segala kaki tangan luar biasa dalam setiap langkahnya.


.


.


.


.