Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 58



Pencarian Sarla diberhentikan saat malam hari untuk sejenak beristirahat namun tidak dengan morean ia tidak ingin menyerah.


Morean kembali ke hutan dimana mobil para penjahat itu ditemukan, ini adalah tengah malam tidak aka ada yang tahu bahaya apa yang bisa saja menyerang Sarla, hal buruk apa yang mungkin akan datang dimana mungkin hewan buas atau melata lain akan sangat aktif di malam hari.


Rodriguez Sanden dan Bibir Tores masih tidak bisa istirahat mereka terus mondar-mandir menunggu kabar, sunguh Tores tidak sabar menunggu pagi dia ingin ikut turun mencari ia mungkin tahu titik mana saja yang begitu rimbun sulit di akses hingga yang mudah.


Di dalam hutan yang begitu gelap dan rimbun Sarla menepi sejenak kedalam hutan yang dia tidak tahu ini sudah dititik mana.


Seluruh tubuhnya sudah begitu lelah sekali, kakinya tidak lagi sanggup berjalan sudah lama sekali rasanya ia disana tanpa tahu arah dan tujuan.


Sarla yang memang tidak bisa banyak berjalan akhirnya terpejam setelah lama duduk, ia menyandar pada sebuah pohon, Sarla setengah tidur dan pingsan.


Bahkan beberapa lalat tampak terus berusaha menghingapi pinggangnya yang luka parah itu padahal ia sudah berusaha menutupi.


Morean terus berteriak-teriak ditempat awal namun sudah sangat jauh jaraknya dengan Sarla, Sarla sudah berjalan sekitar 5 kilometer di hutan tersebut dari saat dia keluar dari mobil penjahat itu.


“SAYANGG…..”


“Keluarlah!”


Morean mengusap rambutnya frustasi sungguh ia begitu sangat frustasi tidak tahu akan bagaimana dia sekarang, tidak tahu apakah istrinya itu masih dalam keadaan aman atau mungkin dia pingsan, sebab Morean tahu bagaimana lemahnya Sarla dia tidak bisa banyak berjalan.


“Kuatlah Naaak….” Morean akhirnya berjongkok tubuhnya juga sudah lelah sekali ia sama sekali tidak beristirahat, baginya bagaimana dia bisa beristirahat sedangkan istri dan anaknya didalam sana entah bagaimana.


"Bertahanlah....." Bibir Morean kelu dengan wajah yang sangat berantakan.


...*** ...


Beberapa jam kemudian, matahari sudah merangkak naik, yang mana cahaya-nya bahkan tidak membuat tempat yang Sarla duduki di tembusi hanya gelap yang sudah berganti terang, Sarla mengerjab ia sudah terbaring jatuh ke tanah, perutnya begitu keram saat ini dengan kedua paha yang begitu pegalnya.


Sarla berusaha bangkit untuk duduk, tenggorokkannya begitu kering ia sudah berapa lama tidak menyentuh air, jangankan makanan, suara kicauan burung mulai nyaring di pendengaran suara hewan-hewan tanah selalu tidak pernah berhenti sepanjang malam.


“Maaf sayang…mama membuatmu tersiksa, kita cari air ya…” Sarla mengusap perutnya menahan rasa sakitnya.


Sarla kemudian beringsut untuk bergerak, sebab rasanya ia tidak mampu lagi berdiri, Sarla mendekat dengan rumbut-rumput berdaun besar yang ada dekatnya lalu ia petik untuk bisa meminum titik-titik embun yang membasahi dedaunan itu.


Sarla tidak mampu lagi jika harus kembali ke sungai untuk mencari jalan keliar dalam keadaan seperti ini, mungkin dia harus sejenak berdiam disana hingga kedua pahanya lebih nyaman dan bisa dibawa berjalan lagi.


Di tempat lain sedari pagi hari saat matahari bahkan belum terbit bibi Tores keluar dari rumahnya, menaiki sebuah sepeda bergerobak kayu membawa serta dua anjingnya untuk mencoba membantu mencari.


Pencarian dari pihak Morean bahkan belum di lakukan sebab hutan delmiforest jika pagi dilarang di lintasi helicopter atau apapun di atas sana terkait peraturan pemerintah setempat mengenai keamanan hutan terkait pembalakan liar kecuali sore dan malam hari saat petugas tidak lagi ada.


“Bibi kau mau kemana?” Teriak sebuh mobil pengawas hutan.


“Behenti! Berhenti!... tolong bantu aku, keponakakan ku sedang hamil dia hilang di hutan kemarin saat kalian libur ada penjahat masuk kekawasan hutan, semalaman helicopter sudah mencari namun tidak berhasil menemukan.”


“Helicopter?”


“Sudahlah jangan dipermasalahkan lain kali kita makan soup ayam dirumahku, ini masalah besar masalah keluargaku tolong bantu aku, aku sudah membawa Bobby dan Fugos untuk mencari mungkin kalian bisa membantuku sebab kalian paling hafal hingga titik terdalam.”


“Ayo ke markas!” Ajak seorang lelaki tua itu, “Kita punya titik-titik kameran dibeberapa tempat mungkin di melewatinya.”


Di tempat lain Morean juga tidur dipinggiran sungai bersama beberapa anak buahnya yang entah sejak kapan sudah di pinggiran sungai itu juga, sama juga mereka tidak berhasil menemukan, hingga salah seornag bangun dan mengingat ini hari sendin mungkin penjaga hutan  bisa membantu mereka.


“Boss!” Bangunkan orang itu Morean.


Morean yang menutup wajahnya dengan tangan pun mengerjab, cahaya matahari langsung menyorot kewajahnya membuatnya memicingkan mata dan melihat seseorang yang gelap di atasnya mencoba membangunkan.


“Hemm…belum ada hasil?”


“Bos, ini hari senin, mungkin petugas hutan sudah bekerja kembali, aku yakin mereka bisa membantu kita mencari titik-titik dan mungkin mereka punya kamera tersembunyi di beberapa tempat.


Morean bergegas cepat untuk sampai ke markas petugas delmiforest.


...*** ...


Sesampainya di markas penjagaan hutan, Bibi Tores dan para petugas itu bergegas keluar dari kantor, saat Morean datang membuat Morean terperangahah, “Bibi kau sudah disini, bagaimana?”


“More! dua orang pemburu baru saja setangah jam lalu mengangkat Sarla, dia pingsan di tengah hutan, Sarla tampaknya mengalami pendarahan jika dilihat dari kamera itu, tapi aku tidak tahi tidak terlalu jelas…”


“Pemburu, PENDARAHAN?”


Morean terkesiap lagi-lagi dadanya seperti mendapatkan pukulan.


“More! Cepat mungkin mereka belum keluar dari hutan ini, kita harus bergegas menemukan dua pemburu itu!”


“Apakah mereka benar pemburu?” Morean bertanya pada petugsa disana.


“Ya wanita itu memasuki kawasan bebas berburu ada banyak burung disana dan ada banyak pemburu disana tanpa dikenali datang dari berbagai macam tempat.” Jelas penjaga hutan itu.


...*** ...


“Ayah ini bukan darah menstruasi mungkinkah wanita ini hamil?”


Seorang lelaki tua tengah menggendong  Sarla yang pingsan di sepeda motor jenis trail itu membuatnya berada di tangah susah payah sebab bertigga dan saling himpit, mereka akan membawa wanita ini kemobil mereka di pintu masuk delmiforest menyelamatkannya.


Tadinya Sarla bangun dan berteriak minta tolong kepada mereka berdua didalam sana, namun saat didatangi dia pingsan sepertinya dia dehidrasi atau darah yang keluar dari kedua pahanya membuatnya pingsan.


“Bawa saja kerumah kita,  Kaviar! Ibumu dokter dia pasti paham apa yang terjadi dengan wanita ini yang terpenting dia masih hidup, mungkin dia korban pembunuhan atau pemerkosaan kita akan bermasalah dengan penjahat atau apapun, biar ibumu yang mengurusinya….”


Dengan susah payah motor mereka pun melaju sangat kecang keluar dari lintasan jalur kembali menuju mobil, segala medan batuan dan terjal mereka lewati dengan hati-hati sebab tubuh tidak berdaya ini bersama mereka.


Sarla benar-benar pucat, tidak henti-hentinya laki-laki tua itu memeriksa detak jantung Sarla berharap dia akan terus hidup walau apapun halberat yang dia alami.


“Hiduplah nak, mungkin kami adalah jalanmu untuk tetap hidup…”


.


.


.


.


.


.


.


Next 1 satu lagi»