
Malam merangkak naik udara panas kian terasa menyengat dikamar yang sempit tanpa pendingin udara itu, yang mana tubuh polos Morean memeluk Sarla berhadapan, Morean pun terjaga, ini entah menjadi malam kali keberapa mereka tidur dalam keadaan seperti ini, Morean merasakan sebuah hal yang membuatnya nyaman namun juga keadaan ketidaktenangan sebab ini sebuah hal yang harusnya tidak berlanjut hingga tidur dan menginap, sebab ia tidak pernah berniat untuk bersungguh-sungguhan pada wanita ini melebihi partner pergulatan panasnya saja.
Morean melepaskan diri dari Sarla meletakkannya kembali kesebuah bantal, menatap lamat-lamat wajah cantik itu, ia pun segera bangkit dari sana bergegas memakai pakaiannya, tidak terasa ia sudah beberapa jam disana dan Luke sudah beberapa kali menghubunginya, jelas mungkin banyak hal yang sudah terjadi.
Morean pun seperti biasa pergi dari sana saat Sarla masih terlelap dengan pulas tidak lupa menyelimutinya dan memastikan dia aman disana, saat hendak keluar dia pun masuk kembali seperti merasa ada yang kurang, bisa-bisanya ia merendahkan tubuhnya lagi lalu mengecup dahi Sarla.
Di Rodriguez House, kebohongan Morean memerintah sang keponakannya untuk pulang mengatakan sang kakek sedang drop benar-benar kenyataan, malam itu lelaki yang tidak lagi muda itu terjatuh dari kursi rodanya saat ia hendak menjangkau ranjang lagi dan lagi dia langsung dilarikan kerumah sakit.
Luke dibuat panik yang mana Morean menghilang tidak bisa dihubungi namun tiba-tiba Juless kembali pulang, Juless begitu sangat paniknya datang disaat luke juga sedang panik dan mereka pun bersama-sama membawa Rodriguez Sanden kerumah sakit bersama para pelayannya yang lain.
Menjadi sebuah pertanyaan besar untuk Juless sang paman yang memintanya pulang namun dia tidak ada disana dan Luke pun harus membuat sebuah kebohongan bahwa Morean sedang dalam perjalan kembali dari luar kota.
...***...
Beberapa jam berlalu Morean akhirnya tiba dirumah sakit di lantai khusus dimana sang ayah dirawat kembali, Morean dengan wajah gusarnya pun melangkah tergegasa-gesa kesana, “LUKE, bagaimana?” Morean tampak sangat khawatir, Juless yang duduk didepan sana pun menoleh pada sang paman.
“Kau harus memecat para perawat More dan buat perhitungan kepada mereka bagaimana bisa tiga perawat sudah disediakan dan kakek masih bisa terjatuh juga.” Kesal Juless bangkit dari duduknya.
Morean juga tidak terima itu, benar sekali apa yang dikatakan Juless bagaimana bisa sang ayah masih bisa kembali mengulang kejadian kemarin, “Pecat mereka Luke!” Morean berucap tegas berjalan mendekat keruangan sang ayah hendak mengintip disana.
Luke diam sejenak, lalu melangkah mendekat ke Morean yang mengintip, “Aku rasa tidak sepenuhnya adalah kesalahan para perawat, kau sangat mengenal seperti apa ayahmu, Bos! dia lebih suka melakukan apapun itu sendiri dan memaksakan dirinya padahal tidak cukup kuat.” Ucapan Luke membuat Morean menghela nafas berat, itu benar juga adanya memang ayahnya seperti itu, tidak suka merepotkan orang lain.
“Tapi sudah tugas mereka menjaga kakek, bagaimana bisa 1 orang pun tidak ada yang tahu kakek jatuh.” Imbuh Juless memijat pelipisnya kesal pada semua keadaan, ia masih terus mengingat kejadian tadi pertemuannya dengan Sarla, jika tidak karena kondisi kakek dia pasti sudah berhasil menemukan Sarla.
Seketika Juless menggeram sendiri meremas tangannya, mengumpat perlakuan Sarla tidakkah dia tahu betapa depresinya dia mencari wanita itu, “Arrrrrghhhttt! Bruakkkkk…"
Suara pukulan Juless membuat Morean dan Luke melihat kepadanya, bisa dilihat jelas seperti apa kesalnya Juless saat ini, kedua ornag itu kemudian saling berpandangan.
“Juless tadi melihat wanita itu, aku akan pindahkah dia ketempat lain, tentunya Juless sudah tahu dia ada disana.” Bisik Morean berlalu dari Luke.
Suara-suara derap langkah terburu-buru dari sebuah elevator di lantai khusus perawatan keluarga Rodriguez itu membuat Morean dan Luke yang hendak pergi ke area lain pun berhenti, para tenaga medis tampak terburu-buru menuju kedalam ruangan ayah Morean, Juless bangkit disana sana bertanya apa yang terjadi, seseorang pun meminta Juless tenang, "Dokter lain sudah naik siap membantu menangani," dan ia pun masuk kedalam.
Morean menjadi gusar dan mendekat kesana, “Apa apa, apa yang terjadi Juless?”
Morean menjadi panik, katanya sudah ada seorang dokter didalam kenapa tidak bisa juga menanani, tidak lama elevator disana tampak muncul orang lain lagi seorang wanita cantik yang memakai seram dokter terburu-buru, namun seketika saja wanita itu berhenti disana melihat Morean, Juless dan Luke ada disana, dia yang sedang memegang beberapa barang dan peralatannya pun mematung.
Pintu ruangan seketika terbuka lagi, perawat keluar dari sana, “Dokter bisa sekarang…” ucap perawat itu, membuat ketiganya yang tidak sadar menjadi sorotan seorang wanita berseragam dokter itu tadi pun menoleh kebelakang serempak, sontak saja ketiganya terbelakak terlebih Morean.
Juless seketika menyimpul cibiran memecah keheningan, “Apakah ini sebuah kebetulan? Mungkinkah direncanakan?”
Morean mendengkus dengan wajahnya yang seperti tidak suka dengan keadaan ini, “Fikirkan yang harus kau fikirkan, seseorang sedang bertarung nyawa, diamlah jika kau tidak bisa berbuat apapun.” Morean pergi dari sana, ia mencoba tenang namun juga begitu shock bagaimana bisa wanita itu ada disini, baru saja beberapa saat lalu sang ayah dirawat disini, tapi dia tidak pernah melihat wanita itu ada disana, jelas kembalinya Mr.Watson kesana juga membawa sang anak kembali lalu kenapa dia kembali bersama sang ayah tidakkah dia sudah menikah?
Luka lama itu seperti kembali dibuka, Morean seakan tidak terima wanita itu yang menangani sang ayah walau dia tahu wanita itu akan selalu bersikap professional berbeda dengan ayahnya sang manipulative kelas kakap itu.
Morean pun duduk disisi lain ruangan tunggu diperintah Luke, lihatlah kemunculannya membuat Morean seketika terbawa keingatan lalu seorang gadis yang selalu bersikap lembut namun selalu bertindak tegas menindak ketidakbaikan sang ayah, dia Summer Magdalene Watson seorang seorang gadis yang sedari kecil sudah bercita-cita menjadi seorang dokter berambisi tinggi dan sangat serius dalam hal apapun kini dia kembali lagi dihadapan Morean.
Selalu panik saat Morean terluka dan merupakan cinta pertama Morean sejak ia remaja, Kenapa kau ingin menjadi Dokter Summy?
Sebab aku benci orang-orang yang kusayangi sakit, aku akan membasmi smeua sakit mereka dan membuat mereka selalu bahagia.
Apakah aku termasuk kedalamnya?
Wajah cantik itu tersenyum menatap Morean, Tentu More, kau adalah orang ketiga didunia ini yang berarti untukku setelah ayah dan ibu, I love you…More..
...***...
Dikediamannya Sarla pun terjaga, seperti kemarin ia terbangun dengan tubuh yang terselimut, netranya mengedar mencari kemana lelaki itu sepertinya sama seperti saat itu sudah pergi bahkan sebelum pagi, Sarla mengaduh merasakan tubuhnya begitu remuk, sekujur tubuhnya begitu sakit, mungkin sebab semalam lelaki itu menyantapnya habis hingga beberapa kali, sungguh Sarla merasakan dirinya tidak enak badan dan sepertinya ia akan demam.
Sarla mencoba berbaring sejenak disana, merenggangkan dirinya namun ia tidak bisa berdiam dia harus pergi ke restoran untuk kembali bekerja berharap kali ini pekerjaanya tidak ada gangguan lagi dan semuanya berjalan dengan baik, Sarla pun bangkit dia langsung mencari obat pereda demam sebelum dia benar demam di atas meja kecil kamar itu kemudian pergi kedapr untuk memanaskan air.
Sarla tergopoh-gopoh memegangi dinding ia seperti tidak menapak segera meraih sebuah pemanas air dan mengisinya, “Iblis sialan! Kau membuatku sakit!” Kesal Sarla memijati kepalanya.
.
.
.
.
.
Next » Up tunggu like ribuan 🤣 makanyaa lama🤣 Sajen banyak, comment banyak 🤣