Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 47



Pagi yang indah di Delmiforest, udara begitu dingin, langit tidak terlalu gelap, suara-suara aktivitas hewan-hewan disana pun mulai terdengar meramaikan hunian di tengah hutan dan pinggiran danau itu.


 Howeeekkkkkk


Howwekkk....


Samar suara dari jauh orang muntah terdengar jelas hingga ke dapur bibi Tores, janda 60 tahun itu juga pembantunya saling lihat.


“Sarla?” Bibi menjadi khawatir segera ia tinggalkan masakannya untuk segera melihat Sarla diatas.


Rumah beton beraksen kayu itu tentunya tidak meredam suara kuat walau berada dilantai atas sekalipun, dengan langkah tuanya yang tidak lagi bisa cepat bibi Tores pun sampai dikamar Sarla.


“Sarla, apa yang yang terjadi, kau baik-baik saja?” Ketuk bibi pinru kamar itu membuat Sarla yang diluar kamar mandi pun menoleh.


Sarla sedikit merasa takut, kalau-kalau bibi Tores tahu tentang ciri-ciri dia yang sedang hamil, segera mungkin Sarla menatap dirinya dikaca agar menghapus sisa bekas basah diwajahnya tidak ingin memperlihatkan kekacauannya setiap pagi memang seperti ini.


“Sarlaaaaa?” ulangi bibi Tores lagi.


Sarla pun bergegas berlari membuka pintu, “I-iya Bi, ada apa Bi?”


Bibir Tores menatap Sarla dari atas hingga bawah, “Apa kau sakit Sarla?”


“Ah tidak bibi, disini ternyata dingin sekali ya Bi, benar kata bibi saya harus memakai selimut tebal.” Sarla mengalihkan dengan berjalan keluar.


Bibi Tores tidak lagi membahas, “Ayo turun minum-minuman hangat dibawah, bibi juga sudah memasak soup ayam jamur untuk kalian.” Keduanya pun menuruni tangga kayu kebawah.


“Kalian?” Lihat Sarla pada sang bibi heran


“Ya, Kalian, kau, More juga ayahnya sedang dalam perjalanan kesini.”


Sarla terperangah, langkahnga berhenti, ”Ayah More sudah bisa keluar dari rumah sakit?” Sungguh Sarla bingung bagaimana bisa More membawa ayahnya kesini, lelaki itu benar-benar memberitahukan pada sang ayah tentang kejadian mereka.


Bagaimana dengan Juless apa mereka mengelabuinya juga?


“Ayah More bersikeras ingin keluar dari rumah sakit, dia merasa semakin sakit dirumah sakit, aku senang rumahku akan ramai.”


Sarla merasa takut bagaimana jika ayah Morean tidak menyukainya jelas saja dia seperti benalu diantara Morean dan Juless.


“Bibi sudah berapa lama tinggal disini?”


“Berapa lama? Ku rasa sudah dari kecil aku tinggal disini, ini rumah peninggalan orang tuaku, Rodri memilih keluar dari sini setelah menikah hanya akulah penerus rumah ini.”


“Bibi dan ayah More dua bersaudara, suami bibi?”


“Ya kami dua bersaudara, aku menikah setelah Rodriguez menikah namun tidak lama suamiku tewas dalam sebuah insiden tembakan.”


Sarla merasa sedih, “Maaf bibir aku tidak tahu, aku turut prihatin.”


Bibi pun tertawa, “Sudahlah itu sudah sangat lama berlalu, sebab itu aku tidak suka menjadi seorang yang kaya raya mewarisi harta keluarga kami, hidup serba berkecukupan akan tetapi ada aja sekutu yang mengintai, orang tua kami sudah kaya dari lahir mereka ada pedagang besar yang hebat dulu tidak heran sampai sekarang Rodriguez sanden memiliki harga yang bergelimang dan pintar menjalankan bisnis apa saja lalu menurun kepada Morean sekarang.”


“Hemmmm....” Sara mengerti itu, bahkan ia pun sudah menjadi sasaran musuh Morean.


***


Didalam dapur Sarla dipersilahkam duduk oleh bibi, wanita itu menarikan sebuah kuris untuk Sarla, tidak membiarkan Sarla yang berniat membantunya.


“Ini soup ayam jamur dan air rempah, biasanya yang datang kerumahku akan aku siapkan ini sebagai menu terbaik yang biasa aku masak.” Letakkan bibi sebuah nampan berisi mangkuk soup dan segelas minuman rempah.


“Aku makan duluan bibi? Tidak menunggu bersama?”


“Kau habis muntah, isilah perutmu.”


“Terimakasih bibi.”


Bibi Tores pun menarik sebuah kursi setelah membukan pintu besar yang menghadap pada danau dibelakang sana. Ia menemani Sarla melahap sarapannya.


Bibi Tores tampak terus memperhatikan Sarla hingga membuatnya malu-malu, “Bagimana Sarla? Kau suka?”


“Hemmm...tentu bibi, aku rasa ini soup ayam jamur yang terenak pernahku makan.”


“Kau berbasa-basi Sarla?” Bibi pun tertawa.


Sebuah tawaan bahagia terbit dari wajah Sarla, “Aku berkata serius ini enak, aku tidak pernah memakan maasakan rumah selain masakan kakakku.”


“Ohya, ayah dan ibumu?”


“Mereka sudah meninggal dalam sebuah bencana alam bibi.”


“Ahh...maafkan aku, kau bahkan lebih menyedihkan dariku, tidak masalah jika kau bersedia aku akan masak untukmu kapanpun kau mau sayang, sehatlah selalu, jika bibi boleh tahu apakah kau benar sakit lambung?”


Sarla menelan ludah, pertanyaan bibi sungguh seperti dia tengah menuding sesuatu. Sarla lantas mencoba tetap tenang tersenyum melihat bibi, “Gastritis bibi.”


“Coba angakat leher kamu cantik.” Pinta bibi memegang tangan Sarla seperti dia hendak menelisik sesuatu.


Dengan gugup Sarla pun meletakkan sendoknya, Ia menyentuh pada lehernya, “Ada apa Bi?” Angkat Sarla lehernya.


Bibir lantas menatap leher Sarla, memperhatian sesuatu lamat-lamat. “Tidak ada, kamu tidak lupa sesuatu atau mungkin tidak menyadari sesuatu kan?”


Dada Sarla sedikit sesat, Sarla tidak tahu bagaimana ia meneliti tapi dia seperti mengetahui sesuatu. “Maksud bibi?”


“Kapan kamu terakhir memeriksakan diri?” Deru mobil dan klakson yang kencang membuat bibi menoleh. “Mereka tiba!” Bibi pun bangkit dari sana.


Sarla sudah ketakutan sungguh pasti bibi menebak dia hamil, tidak menuding apapun Sarla pun berjalan keluar beriringan dengan bibi melepaskan nafasnya seperti dadanya tadi baru menahan sebuah tekanan.


“RODRII....akhirnya kau datang!” Sambut antusian Bibi Tores pada lelaki tua yang baru diturunkan dari kursi roda itu.


Tawaan berat suara tua Rodriguez Sanden mengudara, “Aku sebenarnya sehat, mereka saja yang berlbihan padaku Tores!” Mereka pun bepelukan diringi canda tawa.


“Kau sendiri?” Lihat bibi kebelakang hanya ada 1 mobil Rodriguez Sanden dengan 3 pengawalnya.


“Morean dibelakang, mereka mengahalau sesuatu, More membuat laporan seolah aku berangkat ke London untuk berobat, keadaan sedang tidak kondusif.”


“Ya aku tahu itu...ayo masuk aku sudah buatkan makanan kesukaanmu.”


Rodriguez Sanden menatap pada Sarla dari atas hingga bawah, gadis bertubuh mungil namun sedilit berisi, ia menunduk takut disana, bibi Tores sedikit tertawa saat melihat ekspresi Sarla.


“Sarla ini ayah More kau tidak ingin menyapanya, ayo cantik kemarilah.”


Rodriguez Sanden melengkungkan senyumannya, ia meminta anak buahnya untuk mendorongnya maju. “Kau Sarla?”


Dengan malu dan takut Sarla pun mengangguk, “Ya Tuan saya Sarla Wilamo.”


Ha ... Ha ...ha.. Tawaan dengan suara berat Rodriguez Sanden pun mengudara, “Jangan panggil Tuan, Panggil aku ayah sama seperti More, mendekatlah!” Sarla dengan ragu pun mendekat, Ia merendahkan tubuhnya membuat lelaki itu melengkungkan senyuamnya, “Semuanya sudah terjadi, hidup terus berjalan, kalian semua berhak menjalani hidup lebih baik, baik kau, More ataupun Juless, maafkan saya atas semua yang sudah terjadi padamu, saya yakin Morean bertanggung jawab atas apapun yang sudah ia lakukan dan terjadi.”


Sarla mengangguk, “Saya tahu.... Ayah...sa-saya baik-baik saja, secepatnya saat semuanya membaik saya akan pergi.”


Bibi Toress semakin terheran-heran, “Apa yang terjadi, lakukan apa?”


“Ayo masuk!” Ajak ayah Morean lelaki itu mengusap tangan Sarla ia di dorong masuk oleh anak buahnya mengikuti langkah bibi Tores yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi.


Sarla masih berdiri disana, tidak lama mobil yang dikendarai Morean pun tampak tiba, Sarla melihat dari jauh jalanan disekita jalur masuk diantara pepohonan pinus itu pun berjalan kesana.


Tampak dari kaca mobil Morean mengemudi sendiri, Sarla terus berjalan keluar halaman rumah bibi Tores, membuat Morean yang melihatnya dari jauh pun mengulas senyuman.


Wajah cantik yang selalu membuatnya semangat dan bersikap seperti remaja lagi, tidak lama mobil pun berhenti lelaki itu keluar dari mobilnya, Morean hanya memakai baju kau dan celana Jeans tampak benar-benar tidak ingin dicurigai.


“Kau menungguku?” Ia turun segera.


Sarla yang malu-malu pun tersenyum, “Tidak, siapa bilang!”


Morean menelisik sekitar kemudian ia melihat danau dibawah sana yang jalanan kesana hanya ada jalur setapaknya, “Oh ya? Ayo ikut kita akan kesuatu tempat...” Morean menarik tangan Sarla.


“Mau kemana?” Sarla sedikit menarik.


“Suatu tempat yang mungkin kau juga akan sukai.” Morean semakin mengerat kuat tangan Sarla.


“Hemmm, kita kebawah?”


“Ya, ke danau, aku sering kesana dulu.”


Sarla memberhentikan langkahnya menarik Morean, “Aku tidak bisa berenang.” Tatapnya wajah More.


Wajah menggemaskan yang selalu membuat More ingin menggitinya, ia pun menangkup pipi Sarla yang terlihat chubby itu, “Tidak berenang, disana ada rumah pohon.”


Keduanya saling berhadapan, “Hemm... milik siapa?”


“Milik siapa, milik bibi mungkin, bagaimana tidur mu semalam?” Morean menyalipi salur rambut yang membingkai wajah cantik Sarla.


“Lumayan, pijatan bibi membuatku ngantuk tapi tetap berbeda dengan pijatanmu.”


Morean berkerut dahi ia ingin tertawa, “Pijatanku terbaik?” Peluk More tubuh Sarla melingkarkan kedua tanganya dipunggunya.


“Hemmm...tidak juga...”


“Kau tidak mau mengakuinya?”


Sarla merasakan nyaman sekali jika bersama Morean apa saja seakan ia luapkan begitu saja tanpa berfikir. “Hemmmm pijatan mu tidak bisa terkalahkan...”


Morean tertawa, ia pun seketika memeluk Sarla, meresapi aroma rambutnya yang manis itu, mendekap erat-erat seakan Sarla ingin ia masukan kedalam dirinya bagaimana dia bisa mengakhiri ini, ini apa, tidakkah ini seperti pasangan normal yang biasanya?


Sarla sedikit melonggarkan pelukannya lalu menatap More, ia pun berjijit mengecup bibir Morean seketika, “Miss you, More..” Peluknya lagi lelaki itu.


Haruskah membuat ini berlanjut saat rasanya nyaman dan mengalir begitu saja, atau mencoba biasa saja dan membuat jarak sebab aku akan pergi bersama miliknya yang menyatu dalam nyawa dan hidupku.


Tidak lama mereka pun tiba disebuah rumah pohon, jika tadinya Sarla fikir adalah hanya sebuah rumah dari kayu-kayu jelek nyatanya tidak, ini cukup nyaman untuk di inapi dan tampaknya sering di inapai.


Morean menggandeng Sarla naik penuh kehati-hatian hingga tempat itu membuatnya semakin terbelalak, “More ini rumah pohon atau hotel diatas pohon?”


“Kau suka?” Buka Morean jendela dan pintu yang menghadap kedanau.


“Tentu...” Sarla menjatuhkan dirinya disebuah tempat tidur diatas sana, “Oh Tuhan, bagaimana tidur ditempat ini dekat danau dan tengah hutan."


“Kita coba, kau mau?” Morean berjalan mendekat pada Sarla disana.


“Kita tidur disini?”


“Hemmm, kenapa tidak?”


“Sepertinya menyenangkan....” Sarla pun kegirangan bangkit memeluk Morean, “Aku sungguh suka tempat ini More.”


“Hemmm makan jika suka.”


“Nggak lucu...” Sarla kemudian turun dari ranjang namun seketika Morean menariknya.


“More!” Tarikannya membuat Sarla jatuh lagi ke ranjang, sekilat mungkin Morean memeluk Sarla yang terbaring menguncinya tidak bisa bergerak.


Keduanya pun menatap saling mendamba, sebuah pagutan pun kembali terjadi dengan lembut dan menuntut, kedua tangan Morean yang menahan kini mulai menjalari tubuh yang tertutup Sarla, menciptakan gelanyar rasa yang membawa pemilik tubuh terbang dan mencoba menikmatinya.


“Bolehkah aku?” Morean melepaskan pagutannya, ia menatap dan meminta.


Sejak kapan dia meminta seperti itu, apa dia lupa aku adalah pemanas ranjangnya—


 


 


.


.


.


Sajennya jangan banyak2 simpan aja untuk tanggal 1 🤣