
Setelah perdebatan panjang antara Morean dan Luke, Kaviar anak sang pemilik rumah tampak baru pulang entah dari mana, ia terkesiap melihat Morean dan salah seorang yang tidak ia kenal disana.
“Hey, Tuan Morean Sanden.” Sapa Kaviar dari dalam mobilnya yang ia buka sebagian.
Morean yang baru saja akan menghubungi ayah dari Kaviar meminta membukakan pintu mendadak tidak jadi. “Kaviar kebetulan kau disini.”
Kaviar melihat cake dengan sebuah lilin besar yang dibawa Morean, “Sarla berulang tahun?”
“Ya, aku ingin memberinya kejutan.”
“Oke, masuklah lewat samping rumah tapi maaf, apakah kau tahun ini tanggal berapa?”
“Tanggal 6?” Morean menjawab kurang yakin.
Kaviar pun menyalakan layar ponselnya, memperlihatkan pada Morean tanggal hari ini, “Tanggal 7 saat ini, ibuku sudah merayakannya kemarin aku rasa.”
Morean terperangah, pantas saja Sarla hari ini tidak mengirim bekal padahal ini hari senin dan biasanya dia akan kirim bekal sebab Morean di hari senin sangat sibuk.
Morean mengusap wajahnya gusar, “Habis lah aku....” Tahu dia Sarla pasti akan marah dan kecewa.
Luke berbalik acuh ia menahan tawa melihat More yang bingung, “Sorry Bos, jika tentang ini aku tidak bisa membantu seperti mencuri lilin tetangga rumah tadi bos, pilihanmu hanya 2, pulang tidak membawa apa-apa atau masuk kedalam dan mendapati kemurkaan tupai liarmu yang dilupakan suaminya.”
Prak.... Morean mendang kaki Luke, “Bukan aku sengaja untuk lupa, harusnya kau sebagai asistenku mengingat semua.”
“Aku sudah ingatkan kau 10 hari lalu dan setelah itu akupun ikut lupa.”
"10 hari yang lalu, 1 hari saja aku susah mengingat bagaimana 10 hari."
Tidak lama Morean pun masuk, menurutnya lebih baik telat dari pada tidak merayakannya sama sekali, laginpula dia membawa sebuah hadiah yang cukup istimewa, ia yakin Sarla akan suka dan tidak memarahinya.
Morean pun masuk lewat samping rumah seperti yang dikatakan Kaviar dari sana langsung tembus kearea ruangan keluarga dan kamar Sarla.
Morean mengetuk pintu kamar pelan sekali, namun seketika Kaviar memberikannya kunci-kunci cadangan dirumah itu segera Morean membukanya.
Sebuah pemandangan yang amat ia rindukan, dalam suasana tamat Sarla tetlelap sana, Morean menguncapkan terimakasih pada Kaviar lalu segera menutup pintu kamar.
Morean menatap lamat-lamat dari jauh, nyaman sekali terlelap disana, disamping sang istri memeluknya mungkin tidak akan ada yang akan dia khawatirkan setiap malam dalam tidurnya.
Perlaham Morean mendekat, ia tidak tega membangunkanya namun gerakkan dari tubuh Morean yang berjalan disana menimbulkan suara, Sarla pun seketika terjaga.
“KAU SIAPA!!!” Sarla seketika memekik.
“Sayang....selamat ulang tahun.”
Sarla yang sudah menatap awas mengucek-ngucek matanya seketika saat mendapati ucapan itu. Wajahnya segera berubah sebal bukan takut lagi.
“Pulang! Aku marah!”
“Aku tahu....tidak perlu mengatkannya, sungguh aku sangat sibuk bekerja, aku bukan lupa ulang tahunmu, aku hanya lupa bahwa ini sudah tanggal 7.”
Morean berusaha menjelaskan ia meletakkan cake yang menjadi tidak ada gunanya itu dinakas, lalu duduk di ujung ranjang Sarla.
“Sayang....sungguh aku tidak berniat lupa, tidakkah kau mengasihaniku, aku merindukan tidur nyenyak, merindukan suasana kamarku yang gelap karena kau tidak suka terang.”
“Basa-basi! Sudah mengucapkannya, pulang saja sekarang.”
“Kau tidak ingin hadiah?”
“Tidak, aku hanya ingin suami yang romantis, peka dan—“
“Seperti?”
Sarla pun semakin tersulut, “Untuk menjadi romantis kau juga bertanya harus apa?”
“Ya seperti apa?” Morean menjadi bingung.
Sarla melotot kesal, “Senjata perangmu di pitai, Puas!" Kesal Sarla, “Sudahlah aku masih kesal, aku benci, aku mau tidur, kau tidak tahu bagaimana Mom Lily memberi kejutan untukku tapi suami ku tidak, dia bahkan sama sekali tidak datang dan baru datang ditengah malam di tanggal besoknya.”
Morean mengulas senyuman, “Iya...iya maaf...” Sarla mengambil tangan Sarla, “Aku tidak bisa romantis, maafnkan aku yang selalu saja gagal membahagiakanmu.”
Sarla menjadi mewek, bibirnya maju beberapa centi segera ia memeluk Morean, Hikss hikss...
“Aku sedih sekali saat kau tidak datang dihari specialku.” Sarla terseduh-seduh leher suaminya.
“Ya aku tahu, maaf.... harusnya aku tidak pernah lupa tanggal.” Morean mengusap-usap rambut sang istri, “Bolehkan aku mengulangnya...anggaplah ini hari dimana hari special itu dan aku tidak lupa, selamat hari lahir istriku sayang, wanita paling cantik selain mendiang ibuku, satu-satunya wanita yang setiap hari membuatku jatuh cinta, wanita super yang sangat aku kagumi karena berjuang mempertahankan makhluk kecil buah cinta kami dalam segala bahaya, sebuah kata cinta tidak cukup menjelaskan betapa aku beruntungnya memilikinya. Mrs. Sanden.”
Morean mengecup didahi Sarla, kemudian menahannya lama, meresapi hingga kehati bahwa ucapannya sungguh-sungguh dan serius.
Disuana manis dalam tamaramnya cahaya lampu tidur itu, Morean mengeluarkan selembaran kertas lalu mengulurkannya pada Sarla.
Sarla yang masih terharu dan berkaca-kaca atas ucapan Morean mengambil kertas itu ragu, “Apa ini dad?”
“Hadiah mu.”
Sarla melihat dalam tamaram sedikit dia angkat, “Rumah?”
“Hemm, rumah baru kita sudah siap, aku datang untuk menjemputmu dan bersiap, sebuah rumah dibawah gedung dengan pengamanan super ganda, pencegahan bencana alam yang super baik, dengan segala fasilitasnya yang lengkap juga sangat ramah lingkungan untuk anak kita, tetap ini untuk sementara, aku tetap berharap anakku hidup bebas diluar sana, dia anak manusia bukan anak cacing dibawah tanah.”
Sarla pun tertawa, “Ya, aku tahu....setidaknya ini mungkin akan aman untukku dan tidak perlu jauh-jauh darimu, terimkasih dad....” Sebuah kecupan pun mendarat pada pipi Morean, betapa Sarla bahagianya atas hadiah ini.
Cup...
.
.
.
.