Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 75



Molina melangkah pelan memasuki kediaman mewah yang dikatakan Luke adalah tempat tinggal Sarla adiknya itu, Molina terperangah, sangat-sangat terperangah tempat ini begitu mewahnya benarkah Sarla pemiliknya, benarkah dia adalah istri dari Morean Sanden.


Satu tarikan nafas Molina mengudara, kepergiannya melakukan pengobatan bukan sebuah kemujuran namun sebuah hal yang direncanakan. Segala hal terkait apa yang adiknya jalani.


“Kakaaak!” Suara Sarla menggema, ia keluar dari kamarnya saat dia tahu Molina datang dari camera pengintai dikamarnya, segera ia lepaskan gandangan Morean dan berhambur memeluk sang kakak. Betapa ia merindukan kakaknya ini.


"Kakak...akhirnya kau kembali."


Molina yang terperangah pun membalas pelukan sang adik yang sangat amat ia rindukan itu juga, dari jauh Molina lihat seorang laki-laki berdiri disana melihat ke arah mereka.


Ya dia wajah yang sama pernah dia lihat pada papan-papan billboard pada iklan-iklan bisnis ternama, dia Sanden itu? dia yang menyamar dan memberibantuan untuknya sebab karena Sarla.


Molina melepaskan pelukannya dari Sarla, merasakan sebuah perut besar yang mengganjal, “Kau hamil?”


Sarla menyeka air matanya lalu mengangguk.”Ya...Kak, maafkan aku, maafkan aku tidak menceritakan padamu banyak hal yang terjadi di saat aku memutuskan pindah kontrakan saat itu.”


Molina menelan ludahnya, harus berkata apa dia saat ini, marah dan kecewakah? Tapi Sarla menjadi jalan untuk di bisa melihat lagi.


“Senang melihatmu sudah lebih baik saat ini, Molina.” Sapa Morean.


Molina menatap laki-laki itu serius, suara ini...aroma parfum yang sama kala itu pernah membuatnya curiga dia bukan seorang pekerja toko roti, terus terngiang disana saat proses penyembuhan, Molina terus memikirkannya selalu akan menjadi orang yang sangat ia ingin lihat kala dunia sudah terang dihadapannya.


 Tapi...kenyataan membawa pada sebuah hal yang sangat diluar ekspektasi. Laki-laki ini adalah suami dari sang adik, laki-laki ini adalah adik iparnya.


Molina maju selangkah, masih menatap pada Morean dan ia berkaca-kaca, segera Molina berhambur memeluk Morean, More terkesiap tubuhnya tersentak kecil mendapati pelukan Molina.


Molina tidak bisa menahan dirinya, karena memang laki-laki ini membuat dia semangat dan punya harapan lagi, “Terimakasih sudah memberikan kesempatan aku melihat lag, Sandeni.”


Hiksss hiksss


Tangisan Molina pecah, membasahi suit rapi Morean yang sudah siap berangkat bekerja. Sarla melihat itu diam tidak bergeming, terus berfikir positive ini hal wajar karena More memang yang membantunya. “Tapi bagaimana kakak tahu dia Sanden, apa dia ingat suaranya?”


“Luke, seseorang yang menjemputku menceritakan beberapa hal padaku, kau lah Sanden yang menyelamatkan itu....” Molina mundur melepaskan pelukannya dari Morean.


“Bukan aku tapi Sarla yang menjadi jalanmu, dia mengorbankan dirinya....berterimakasihlah pada adikmu— istriku ini.” Morean seketika mengingat ketakuan Sarla, bagaimana jika kakaknya tertarik padanya karena sudah membantu dia untuk sembuh. More pun mendekat pada Sarla mengambil tangannya, “Kau pembawa keberuntungan, my dear....”


Sarla mengulas senyuman tipis melepaskan tangan Morean, “Tidak semuanya hanya kebetulan saja, jangan fikirkan siapapun yang membantu yang terpenting saat ini kakak sudah baik-baik saja.”


Molina mengangguk, “Kau harus menceritakan semua pada kakak Sarla semua yang terjadi.”


“Tentu—ayo aku tunjukkan dimana kamar kakak, kakak akan tinggal disini.”


“Jika kau tidak keberatan untuk sementara waktu.”


“Tentu tidak! Ayo.....” Seketika Sarla berhenti melihat pada suaminya lagi, “Kau akan berangakat sekarang sayang? Hati-hati!” Sarla melambai.


“Hanya itu?”


Sarla mengkerutkan wajahnya, “Pergilah sekarang! Daah....”


Morean tertawa tanpa suara, diacuhkan Sarla pergi bersama sang kakak menuju kamarnya.


“Baiklah selamat bersenang-senang.”


Molina terus mengamati sisi-sisi rumah itu, dan sekilas pada penampilan adiknya, sungguh semuanya berubah dan berbanding terbalik, Sarla benar-benar beruntung, memiliki kekayaan berlimpah, kebahagiaan, rumah tangga yang baik, suami yang tampan dan begitu tampak mencintainya yang mana dia saat ini tengah mengandung.


“Taaaraaaa ... Ini kamar kakak! Semoga kakak suka ya! Semua yang aku punya adalah juga milik kakak, ini mungkin tidak sebanding dengan apa yang kakak berikan kepadaku selama ini.”


Molina menatap takjub pada kamarnya, ini sangat-sangat mewah jauh sekali dengan tempat tinggal mereka dulu yang hanya sepetak kecil lalu tidur beralaskan kasur tipis.


“Ini sangat bagus Sarla....”


“Mengawasi, bahaya mengintai? Ada apa?”


Sarla tersenyum, ia pun mulai menceritakan semuanya pada sang kakak dari awal kejadiannya, semua permaslaahan dan juga musuh-musuh Morean, agar tidak terjadi kesalah pahaman dan kakaknya tidak bertanya-tanya.


“Semuanya tidak langsung seperti ini kak, banyak hal buruk yang aku dan Morean lewati.....semua dimulai ketika malam itu, Juless membuat kekacauan saat aku bekerja untuk Morean sebagai teman kencan seserorang—“


“Bekerja sebagai teman kencan?”


“Baiklah dengar dulu, maafkan aku sebelumnya, kakak mungkin tidak tahu ini, dulu aku menjadi wanita bayaran untuk menemani seseorang berkencan, bukan tidur tolong di ingat!”


“Sarla?” Molina terkesiap.


“Ya dengarkan lah dulu—“


Sarla pun menceritakan panjang lebar, sangat detail semuanya yang terjadi, kecelakaan, peristiwa pemerkosàn, kematian orang-orang, musuh Morean hingga ia yang hampir mati dihutan lalu berpisah sementara dengan Morean.


Hampir 1 jam lebih cerita Sarla tidak juga selesai, berkali-kali Molina terkesiap, ia sangat shock mengetahui Sarla mengalami semua ini, mengalami kepedihan ini, dia tidak menjalani sebuah permulaan yang manis dan baik sebelumnya.


“Ini sungguhan?” Molina menatap adiknya lamat-lamat.


“Hemm... Ya semuanya begitu kelam, bersyukur semua sudah berlalu.”


Molina menatap lirih pada sang adik, bagaimana pun Sarla sangatlah beruntung, lihatlah kini hidupnya, semua ia miliki, semuanya begitu sempurna.


Kring....kring......


“Sebentar kak!” Sarla mengulas senyumannya melihat pop up pada ponselnya, suaminya menghubungi.


“Ya dad?”


“Aku sedang berada di walmart, aku melihat banyak melon disini.”


“Apa yang kau lakukan disana dad?”


“Sedang melakukan survey langsung, kau mau melon?”


“Melon? Tidak...aku sudah memakannya setiap hari, aku rasa sudah mulai bosan, bawakan aku sesuatu yang asam dad.”


“Sesuatu yang asam? Dimana-mana orang meminta yang manis bukan asam.”


“Itu keingan ku dad, bukan orang lain.”


“Baiklah nanti aku tanyakan apa yang asam disini aku akan bawakan untukmu.”


“Terimakasih, selamat bekerja dad..” Sarla segera mematikan panggilannya.


 Molina diujung ranjang terus melihat sang adik, lihatlah betapa manisnya hubungan Morean sanden dan Sarla sang adik, rasa kosong dan mencelus tiba-tiba muncul dipermukaan hatinya melihat kebahagiaan Sarla itu.


 


.


.


.


.


.