Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 32



Beberapa jam berlalu keadaan yang tegang berangsur membaik, Rodriguez Sanden yang tadi dinyatakan mengalami penurunan kinerja jantung sebab kerusakan organ hatinya yang semakin parah kini mulai sedikit lebih baik, para dokter pun sudah meninggalkan ruangan itu dan mengizinkan pihak keluarga untuk masuk walau dibatasi.


Morean yang biasanya akan datang keruangan dokter Fernad mendadak enggan sebab ternyata dokter yang biasa menangani ayahnya tersebut sudah dipindah tugaskan dan wanita itulah penggantinya saat ini disana.


Morean menatap lamat-lamat sang ayah yang terbaring memejam itu, tidakkah harusnya dia bersikap sewajarnya, tidak ada hubunganya kesehatan sang ayah dengan masa lalunya itu, sebagai keluarga pasien sudah harusnya dia tahu kondisi yang sebenarnya saat ini.


“Boss! Kau diminta datang menemui dokter.” Luke pun masuk entah datang darimana, ia bisa menebak apa yang ada dalam fikiran Morean, sebab Morean tidak pernah seperti ini jika ayahnya sakit pasti menjadi yang paling awal menanyakan sebelum dijelaskan.


“Aku tahu, perintahkan perawat yang baru masuk, pastikan mereka tidak lengah sedetikpun.” Morean segera keluar dari sana berpapasan dengan Julles yang menunggu masuk, “Pastikan kau tidak kemanapun, tetaplah didekat kakek!”


Morean berucap tegas ia mengantisipasi Juless agar tidak pergi mencari Sarla lagi.


Juless tidak merespon namun menangkap jelass ucapan sang paman, sungguh sangat sial, baru saja ia berencana mencuri kesempatan untuk pergi, Morean lagi-lagi menghancurkan rencananya.


Disebuah ruangan dokter seorang wanita cantik yang tidak lain dokter specialis penyakit dalam itu mengetuk-ngetuk penanya sembari menatap pada hasil pemeriksaan dan hasil lab yang baru datang.


Suara ketukan pun membuatnya menoleh,”Masuk!” lalu kembali lagi melihat pada hasil observasinya, “Silahkan duduk,” Summer sudah tahu yang datang adalah Morean seperti jadwal yang ada, keluarga pasien Vvip rumah sakit itu akan menemuinya.


Summer bersikap profesional, mengulas senyuman menyapa Morean layaknya keluarga pasien lain yang berangsur duduk disana, “Senang bertemu denganmu More, baiklah kita akan mempersingkat waktu, ini hasil pemeriksaan dari lab juga rontgen Tuan Rodriguez Sanden—“ Summer pun menjelaskan panjang lebar tentang penyakit sang ayah yang nyaris dikatakan komplikasi bahkan jantungnya sedikit mengalami pembengkakan, ia harus melakukan perawatan yang intensive.


Morean sungguh gugup saat yang mana mereka adalah dua orang yang begitu dekat dan saling mencintai kini benar-benar menjadi orang lain bahkan orang yang saling tidak kenal, Morean trus mencoba tenang sebagaimana Summer juga profesionalnya, wajah itu sekilas membuat Morean merasakan lukanya lagi pedihnya ditinggal pergi dan menikah oleh wanita ini.


“Jelaskan saja intinya, apa yang harus aku lakukan untuk ayahku!” Morean memotong penjelasan Summer yang panjang lebar, sungguh luka itu seperiti muncul lagi kepermukaan membuatnya muak dan enggan berlama-lama disana.


“Aku sedang menjelaskan,” Summer pun menatap kesal atas dia yang disanggah.


“Kau adalah dokter tugasmu menyembuhkan, aku bukan ahli dalam bidang itu percuma penjelasan panjang lebar, segeralah ke intinya.”


Summer diam sejenak, tatapannya berubah dingin,”Bersikaplah yang normal More—aku sebagai seorang dokter yang menangani ayahmu bukan sebagai musuhmu atau orang yang kau benci tidak kau harapkan ada dihadapanmu.”


Morean pun menyandar pada sandaran kursi, melihat pada wajah Summer dan menerbitan senyuman mengejek, “Siapa yang sedang kau bicarakan, musuh dan orang yang dibenci? Apakah kau fikir aku peduli tentang kepergianmu lalu marah dan membencimu?” Haha... “Kau terlalu percaya diri dan menganggap dirimu seolah penting...dokter Summer Magdalene.”


Morean pun mendorong sebuah papan nama yang terpasang dimeja itu.


“Baiklah jika kau kurang nyaman aku menangani ayah mu, kau bisa menggantinya dengan yang lain.” Summer pun menghubungi seseorang yang tidak lain adalah pihak management rumah sakit, ia berbicara menanyakan dokter specialist lain yang bisa menggantikannya.


Morean segera bangkit seketika dan membuat telepon yang Summer pegang terputus dengan menekan tombolnya disana, “Profesionalah, aku tidak pernah mengatakan aku keberatan.” Tatapnya tegas Summer sedikit membungkuk mengejek Summer.


Summer terperangah masih memegang gagang telepon itu, sedikit mundur sebab wajah Morean yang menegas dihadapannya begitu menyeramkan, “Kau terlalu emosional More, berhentilah seperti itu tidak baik untuk kesehatan jantungmu!”


Bruak..


”Stop!” Morean benci kalimat prihatin itu yang selalu ia dengar dulu,”Lakukan tugas mu, jangan urusi yang bukan urusanmu!” Ia yang menjadi tersulut tanpa sebab pun berjalan meninggalkan meja kerja Summer.


Summer berdiri seketika, “Kau salah paham padaku More— semua tidak seperti apa yang kau fikirkan.” ucapan Summer membuat Morean memberhentikan langkahnya sudah memegang handle pintu untuk keluar, lelaki itu menoleh kebelakang melemparkan tatapan sengit yang begitu muak ia tidak merespon basa-basi apapun segera keluar dari sana.


Summer mendesah lelah mengusap pada dahinya, ia pun duduk kembali, “More... Kau salah paham, maafkan aku—“ Summer menjadi frustasi memijati dahinya pertemuan pertama setelah perpisahan mereka begitu buruk, ini hal yang wajar ia harus terima sikap Morean yang membencinya semuanya terjadi dengan sebuah alasan bukan tanpa sebab.


***


“Sarla, rumahku tidak jauh dari tempatmu nanti kita bisa mampir, ibuku sangat pintar memasak jika kau mau nanti makan malamlah dirumahku.” Tawar teman baru Sarla bernama Viviane.


“Lain kali mungkin, kau tinggal bersama orang tuamu Viviane?”


“Hemmm...ibu,ayah dan adik perempuanku...datanglah mereka sangat suka temanku datang.” Sahut Viviane yang sedang mengelap meja.


Sarla mengulas senyuman, “Hemmm.. sepertinya menyenangkan, aku tinggal bersama kakaku tapi saat ini dia sedang berada diluar kota melakukan pengobatan mata, ibu dan ayah ku sudah meninggal sedari aku kecil.”


Viviane mengusap pundak Sarla, “Aku turun prihatin denganmu, jika kau mau kau bisa sering datang, rumahku selalu terbuka, ibu dan ayahku bukan orang yang kaya tapi mereka senang menyambut siapa saja disana....mereka begitu peduli dengan siapapun.


“Aku iri padamu, Viviane... Semoga mereka selalu sehat dan bahagia.” Keduanya pun saling merangkul disana sembari melepaskan tawaan bahagia.


Sedikit mendapatkan semangat menjalankan hari, Viviane sosok albino yang sedikit di musuhi disana menjadi teman yang menyenangkan disana, saat ia fikir kemarin gadis ini sama saja nyatanya Sarla salah, gadis ini bahkan dimusuhi juga sebab perbedaan kulitnya.


...*** ...


Seperti sudah menjadi rutinitas selepas bekerja Morean mendatangi rumah Sarla, kali ini dia membawa banyak bungkusan makanan ingin mengajak wanitan itu makan bersama, Morean begitu antusias turun dari mobil membawa barang-barannya seketika saja seorang anak tetangganya yang kemarin berjalan keluar dari rumah membawa bonekanya.


“Bibi rumah hijau belum kembali, dia pergi bekerja...” Anak kecil itu mendatangi Morean sebab tampak Morean membawa kotak pizza, gadis itu terus menatap kotak itu.


Morean pun merendahkan tubuhnya, “Kau mau?” Dan gadis itu mengangguk, segera Morean mengulur kotak itu, “Untukmu...”


“Sungguh? Yeay...ibu......” Gadis kecil itu pun berlari pergi darisana, menjadi sebuah keistimewaan bisa memakan makanan yang dijual oleh sebuah produk makanan ternama disana sebab mereka tidak mampu membelinya.


Tidak lama Morean tiba di Restouran ia terbelalak, saat melihat toko sudah tutup dan ia baru ingat saat hari rabu restoran hanya sampai pukul 5 sore saja, ini sudah pukul 8 malam dan Sarla belum sampai rumah, Morean memukul stering mobilnya kesal dan pergi dari sana segera kembali ke kontrakan Sarla.


Ia menebak-nebak mampir kemana wanita itu yang dapat laporan tadi dia bekerja, Sarla tidak boleh bergaul dengan siapapun saat ini harusnya dia ingat itu, geram Morean segera melajukan mobilnya pergi dari sana.


Next »


***


“Kau baru pulang di pagi hari? Apa yang kau lakukan semalaman, Sarla!!!” Tarik kasar Morean lengan Sarla hingga ia hampir terjatuh.


.


.


.


.