
Cup
Satu kecupan mendarat pada kepala Sarla yang duduk memainkan ponselnya, ternyata Morean sudah kembali ke rumah pohon tanpa ia sadari, “Kau kembali dad? tidak ada suara...”
Lelaki itu masuk meletalkan barang-barang mereka dimeja,”Kau terlalu fokus dengan ponselmu, apa yang kau lihat?”
“Lihat apa? Hanya berita, siapa yang tahu nomor ponselku selain kau dan Luke, More rindu kakakku.”
“More? Aku lebih suka kau memanggil Dad sepertinya.”
Sarla pun tertawa,”Ohya? Kau sudah siap?”
Morean berjalan ke sofa menjatuhkan dirinya disebelah sang istri, ”Tentu sangat siap, bibi Tores membawakan bubur sayuran untukmu, makanlah selagi panas lalu kita turun ke danau.”
“Hemmmm... dia sangat mengerti, aku lapar sekai, tadi aku muntah tapi tidak terlalu banyak.”
“Kau perlu Dokter Stevanus? Aku akan panggilkan sakarang.”
Sarla yang bangkit ke meja mengambil makanannya pun tertawa, “Kau mengungkit lagi... Wow melon, bibi tahu kesukaanku ini, hemmm yummy...”Sarla memilih mengambil potongan buah melon itu. “Humm, aku suka sekali Dad...”
“Nanti kita isi kulkas buah melon yang banyak.”
“Kulkas dimana?”
“Di tempat tinggalmu yang baru, aku akan sering datang kesana, kita bisa pergi kemanapun yang kau mau jauh dari sini.”
Sarla menelan ludahnya, meletakkan sisa buah yang ia makan, “Kita bisa melewati ini, aku yakin kita bisa.”
Sarla menutupi kesedihannya, sungguh sedih sekali moment awal pernikahan dan hamil harus berjauhan.
“Hemm, aku takut kita akan sering bertengkar.” ujar Morean.
“Kurangi possessivemu, itu akan mengurangi intensitas pertengkaran kita.” Sarla menarik kursi disana ia mulai makan bubur sayur buatan bibi Tores.
“Hemm, tentang Molina nanti kita bisa menjenguknya saat nanti kita sudah sampai Irlandia, yang terpenting saat ini proses penyembuhannya sudah 65 persen, kita pastikan dia akan kembali lagi melihat dengan sempurna.”
Sarla terharu, sungguh jalannya begitu aneh, kesialannya diawal nyatanya membawa dia bertemu dengan orang yang tepat, laki-laki ini dia sebenarnya tidak menganggap hanya penghangat ranjang nyatanya dia sangat meperdulikan Sarla dan hidupnya.
Sarla menarik nafasnya masih terus menyuap makannya melirik Morean. ”Bolehkah aku tahu sejak kapan kau merasa jatuh hati padaku dad?”
“Hemm, apa kah orang tahu kapan dia jatuh cinta?”
“Entahlah tapi pasti ada satu alasan yang membuatmu sampai seperti ini.”
“Pertemuan pertama-- saat aku bangun tidur melihat seorang wanita dihadapanku, dia demam menggigil memeluku, wajah iba itu membuatku terus mengingatnya, dia seakan membutuhkanku.”
“Hemmm, kau jahat! Kau membuatku sakit.”
“Bukan aku, tapi dia kekasihmu.”
“Dia keponakanmu!” Sarla memajukan bibirnya.
“Dan keponkanmu juga, bibi Sarla.”Morean pun tertawa begitupun Sarla, benar-benar aneh bagi mereka seorang kekasih menjadi bibi.
“Dan aku mulai merasakan nyaman saat kau memarahiku, lalu aku terkena pecahan kaca disaat begitu marah kau begitu mengkhawatirkanku, menggendongku mencari klinik lalu kau menggendongku sampai rumah, hemm good daddy, nanti aku akan ceritakan itu pada anak kita.”
“Kau lupa kau pernah sangat membenciku?”
“Hemmm, tidak juga,” Sarla tersenyum,”Ku harap kita bisa seperti ini selamanya walau nanti jarak akan membatasi kita tapi dizaman seperti ini begitu mudahnya berhubungan jarak jauh, semua fasilitas telekomunikasi sudah sangat maju.”
“Hemm, libatkan aku apapun yang kau lakukan disana nanti.”
“Ya, kau juga...”
...***...
Setelah menyelesaikan makan buburnya, Sarla dan Morean pun turun dari rumah pohon, Morean membawa dia pancing menggandeng Sarla ketepian danau.
Keduanya melewati hutan pinus yang berjajar di jalan menuju danau sembari becanda ria, beberapa burung terdengar berkicau membuat Sarla antusias, “Burung apa itu dad?”
“Burung dara biasa.”
“Wah tupai, itu tupai? Lihat-lihat itu apa?”
“Kau seperti turun dari kahyangan, apakah itu langka bagimu?”
Sarla mencubit perut More, “Itu hal langka bagiku, mana sempat aku memikirkan melihat hewan-hewan itu,jika ada ditempatku mungkin aku akan sadar jika mereka membawa uang, ya sepelik itu hidupku dulu...mencari uang dan uang.”
“Hem, kau harus contoh ibumu baby M, semua diawali dengan sulit.”
“Kau tidak?”
“Kita mungkin berbeda hidupku serba ada namun ya kebebasan dan kehidupan normal seperti orang lain tidak ada, hanya kerja dan bekerja, sedari kecil itu sudah tertanam dan mendarah daging.”
“Hemm, sekarang kita jalani hidupmu yang baru, aku kau dan dia...” Usap Sarla perutnya.
Morean tersenyum, ia mengusap kepala Sarla dan memeluknya, “Terimaksih sudah datang kehidupku, my love....” Di pinggiran danau rasa hangat itu tercipta Sarla pun memeluk punggung Morean mendekap dadanya erat
Aku tidak takut apapun lagi More sebab kau ada dihidupku
...***...
Seorang Bodyguard Rodriguez Sanden menghantarkan Juless masuk, menghampiri lelaki tua yang sedang menikmati kopi sorenya dihalaman belakanh rumah sembari melihat sang adik yang memetik tanaman.
“Juless?” Dia terperangah mendapati kehadiran Juless, matanya mencari dimana Luke apakah dia tahu ini.
“Kenapa kakek? Kau sangat terkejut dengan kedatanganku?”
“Julss, kau datang?”
“Kalian bersenang-senang tanpaku kakek? Kau menyambut menantumu tanpa aku?”
“Kenapa kakek? Apa yang akan kau perintahkan pada Luke?”
“Apa maksudmu! Aku hanya ingin memintanya membantu Tores menyiapkan acara makan malam bersama dihalaman belakang.”
“Sejak kapan Luke membantu memasak? Apa yang sebenarmya terjadi, kenapa kakek sangat aneh sekali?”
Luke pun datang membawa sebuah keranjang besar, “Bibi ini keranjangmu, aku letak dimana?” Teriak Luke berusaha menghalau kecurigaan dia yang baru saja mengabari Morean tentang Luke yang datang.
Bibi Tores yang paham akan situasi pun mengangguk,”Ayo bantu aku Luke! Julss kau datang tampan? Bibi merindukanmu ayo bantu aku memetik buah-buah plum ini.”
“Dimana More?”
“Dia pergi berburu ke atas bukit dengan beberapa bodyguard, biarkan dia dengan kegiatannya, ia sedang beristirahat sambil menjagaku.”
“More berburu?” Juless tertawa, yang mana ia mendengar jelas pamannya mengucap cinta dan jelas sekali suara-suara menjijikan itu mengudara, “Berburu keturuan Rodriguez Sanden dihutan? Aku bukan anak kecil kakek, Morean bersama wanita apa yang sedang terjadi sebenarnya?”
“TOLONG!!!! Tolong aku!!!"
Morean berteriak-teriak berlari-lari kencang tidak memakai alas kali tubuhnya basah kuyup, 4 orang penjaga ayahnya dihalaman bibi Tores mendekat.
“Ada apa boss!!”
“Kenapa tuan!” Mereka memang berjaga diatas sebab tidak diizinkan Morean turun.
“ISTRIKu hilang! TOLONG, LUKEE KAU DIMANA!!!!” Pekikan Morean beradu dengan nafas yang rasanya hampir putus, semua orang itu pun bergegas turun, semuanya menjadi panik.
Morean hanya lengah 5 menit saat menangkap udang untuk menjadi umpan disisi lain, kemudian Luke menghubungi mengatakan bahwa Juless datang. Ia pun kembali ke pinggiran danau dimana Sarla berada namun dia tidak ada.
Morean meremasi sebuah patahan kayu yang berdarah seperti bekas tusukan sesuatu, ia frustasi mendadak frustasi, hingga semua yang dibelakang keluar berlarian termasuk Rodriguez Sanden dengan kursi rodanya.
“Ada apa More?” Bibi Tores membelalak, melihat Morean terpaku seperti orang bodoh dengan darah dikayu yang ia pegang, Morean berkaca-kaca dengan tubuh yang basah.
“Istriku, dia menghilang aku hanya berjalan beberapa menter menjauh darinya tiba-tiba dia tidak ada dan hanya ada ini yang ku temukan setelah mencari-cari dia.”
Luke pun bergegas turun kebawah sana, ia juga sama dilarang Morean turun diminta berjaga diatas saja siapa tahu akan terjadi seperti ini.
Juless terperangah, “Istri?”
Morean dengan nafasnya yang memburu pun menatap Juless yang bingung itu, rahangnya menegas dengan sorot mata elang yang tajam segera ia mendekat beberapa langkah dan.
Bruakkkk.....
Morean menghantam wajah Juless sekuat tenaga, ia tebak pasti Juless diikuti seseorang, pasti seseorang telah datang ke Delmiforest. Juless terperangah ini kali pertama selama hidup Morean memukulnya.
"Apa ini? Apa salahku!" Usapnya wajahnya heran.
Morean menarik kasar kerah Juless.
"Sudah ku katakan! Kau jangan datang, kita dalam masalah, kenapa kau selalu saja membuat masalah!”
“Apa maksudmu, apa yang ku lakukan!”
Tatapan nyalang Morean tidak menyurut, begitu bengis menusuk tajam dua netra Juless.
“Kau lihat! Kau lihat istriku berdarah, kau lihat! Harus berapa kali kau menghancurkan hidupnya, HARUS BERAPA SERING!” pekik Morean namun seketika Morean melemah.
“Anakku—“ Bulir beningnya keluar, ia bayangkan keduanya dalam situasi buruk, “Berengseèkkkk kau JULES!!”
BRUAKKK....
Hantam Morena lagi, kakek pun memekik para perawat mencoba memisahkan, Jules mengusap bibirnya yang sudah pecah. “Kau sakit jiwa, apa maksudmu, apa salahnya aku datang, kenapa aku yang kau salahkan, istri anak? Apa maksudnya?”
“Kau pembuat masalah!” Morean maju siap melangkah.
“MORE STOP!” Pekik Rodriguez Sanden.
Julesa tertawa menyugar rambutnya, “Kenapa kau menyalahkan ku? siapa yang mengikutiku suami wanita itu, kau sudah menikah disini dan benar dia hamil bukan? Mungkin kalian terkena sial melakukan hubungan dibelakang seseorang!”
“Bangsaattttt! Kau tidak sadar diri, berapa banyak masalah mu tertutupi, kau menghancurkan hidupnya kau menghancurkan dia, kau membuat dia diperkosà, kau membuat wanita yang kau cintai dan kau cari kemana-mana hamil dan sekarang dia dalam bahaya!”
Juless terdiam ia seperti mendapat panahan besar yang menancap didadanya, dia mencoba mengerti dan memahami.
“Ya dia Sarla alamanda Wilamo, dia mengandung anakku, hamil dalam tragedi pemèrkosaan yang kulakukan sebab keponakan berengsek yang aku besarkan meletakkan zat berbahaya membuat aku hilang kendali, hingga tiga orang lain meninggal! KAU BÈRENGSÈK JULESSSS!!!!” Morean memekik begitu tersulutnya.
Juless terbelalak, seperti tersambar petir disiang bolong, dia diam sejenak sebelum akhirnya tertawa heran, "Sudah dia duga tadi memang suara dia, Suara diaaaa!” Juless mengepal tangannya, banyak kenyataan yang akhirnya ia tahu, dia pun mengulang kembali kejadian kala itu semua yang ia pernah lakukan.
Selangkah Juless maju, “Kau pengkhianat MORE!” Juless pun seketika memukul wajah More namun Morean menghindar.
“More, Jules, stoppp!!” Pekik Rodriguez sanden, "Stop More!!!"
Morean tidak mengindahkan masih menatap oenuh amarah pada Juless, “Kau pembawa sial, kau laki-laki bodóh, kau menghancurkan wanita yang kau cintai sendiri, kau menghantarkan dia bertemu aku, setelah dia bahagia kini kau lagi yang membuat masalah untuknya! Berèngsekk!!!” Morean maju siap menghantam Juless namun lagi-lagi ditahan orang-orang disana.
Juless terpatri ditempat, merasa ini seperti mimpi ternyata sudah beberapa kali ia hampir bertemu Sarla, di rumah, di appartemen, tangannya mengepal, bagaimana semua bisa terjadi, Sarla diperkósa Morean lalu hamil, bagaimana bisa dia disana.
.
.
.
.
.
Next» Lagi sibuk maaf 👀