Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 21



Sarla tidak bergerak , ia bahkan tidak berjalan ke tempat kotak p3k berada seperti perintah Morean, mata indahnya menyapu keseluruh kamar dan bertanya-tanya kenapa lelaki itu membawanya kesini, bukankah ini rumah keluarganya, kemarin dia sangat bersikeras tidak akan membuatnya bertemu Juless tapi sekarang kenapa berubah fikiran membawanya dekat dengan lingkungan dimana Juless berada.


Tidak lama Luke pun masuk yang datang entah dari, Luke melihat pada Sarla yang mematung disana, ia paham dan mengerti atas kebingungan Sarla, “Maaf ini kesalahan, harusnya mereka menghantarkanmu ke Restoran bukan kesini, maaf telah membawa anda masuk ke kamar sebab Juless juga berada disana.”


Morean disisi lain yang mendengar Luke datang pun kembali lagi masuk ke area depan ruang bersantai dikamarnya tersebut, “Pergilah Luke, kerjakan tugasmu yang lain, biar saja dia disini, tidak aman pergi sekarang jika masih ada Juless di rumah.”


“Baiklah.” Luke pun segera keluar dari sana.


Di luar sana sana saat menutup pintu Luke sedikit terkesiap dia berpapasan dengan Juless didepan sana yang hendak keruangan gym tatapan keduanya begitu dingin hingga Luke memilih segera pergi, mengacuhkan Juless.


Didalam kamar Morean mulai menyalakan sebuah televisinya, kemudian ia berangsur duduk menyeringai tanpa melihat Sarla yang masih tidak bergeming ditempatnya, “Kau tidak suka duduk atau kau ingin menjadi salah satu patung karya seni di sebuah musium?”


Sarla menarik nafasnya atas ucapan Morean, akhirnya mengerti dia ada disini bukan kemauan lelaki ini melainkan kesalahan, mata indahnya kembali melihat lagi pada lengan Morean tidak memperdulikan kakinya yang sedikit sakit tadi, “Apa karena tanganmu, kau tidak datang?”


“Tidak datang?” ulangi Morean melirik dengan ekor matanya, seketika ia tertawa tanpa suara, “Kau menungguku, kau sudah sangat siap memberikan dirimu kepadaku ternyata....”


“Aku hanya bertanya tentang tanganmu bukan tentang siap atau tidak siap, bukankah kau tidak akan peduli, aku siap atau tidak kau tetap saja akan melakukan apa yang kau mau sesuka hati?”


Tangan Morean terangkat meminta Sarla diam, “Pergilah ambil kotak P3k sembuhkan lukamu, aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun.” Morean segera merebahkan dirinya di sofa menaikan kedua kakinya di atas sana dan Sarla pun tidak menjawab lagi ia segera mengambil kotak p3k dilaci yang Morean tunjuk.


Sudah beberapa hari Morean memang tidak pergi kemanapun, ia di minta untuk beristirahat sejenak pasca operasi kemarin, dia terus berada dirumah juga sekaligus menemani sang ayah yang sakit sedikit lebih manja meminta di temani saat sarapan dan makan siang jika tidak, dia tidak akan makan.


Rodriguez Sanden sang ayah mengalami sulit berjalan pasca jatuh kemarin namun kesehatannya sudah lebih baik walau hanya memakai kursi roda.


Bagi Morean sang ayah adalah sebuah hal yang sangat berharga untuknya, jika tidak karena sang ayah sakit dia juga akan tetap pergi bekerja tidak terlalu memanjakan sakit bekas operasi itu, di rumah ia menjadi sering bertemu Juless walau hanya waktu menjelang malam selepas Juless magang dari kantor milik keluarga mereka.


Juless menjadi semakin dingin kepada Morean sejak tempo hari meminta bantuan namun tidak di kabulkan, namun saat ini dia sudah terlihat lebih baik tidak sefrustasi diawal kepergian Sarla, dalam sikap seolah acuhnya Morean tetap meminta Luke memperhatikan sang keponakanya, Ya, Juless masih terus mencari Sarla selalu mendatangi tempat tinggal Sarla yang lama bahkan toko bunga dan café tempat bekerja Sarla dulu.


***


Di dalam kamar Sarla kembali berdiam setelah mengolesi kakinya dengan sebuah salap anti memar, ia melihat pada Morean yang tampaknya sudah memejam disana, Sarla menjadi bingung lalu apa yang akan ia lakukan disini, Sarla pun memilih duduk di ujung ranjang besar milik Morean sembari menatap seperti orang bodoh ke layar televisi yang menyala itu.


“Tolong kakiku!” Tiba-tiba Morean yang ia fikir tidur bersuara.


Sarla tersentak kecil dan berdehem menyahut ya, segera meletakkan tasnya dan berjalan pelan sekali mendekat pada Morean, ia menatap bingung harus duduk dimana, apa melantai dibawah seperti budak lalu memijatinya dari bawah atau duduk di sofa meletakkan kaki lelaki itu dipahanya.


Sarla pun memilih melantai, membuat mata Morean membuka sempurna, “Apa yang kau lakukan? Kau fikir aku meminta mu menjadi pelayan? Duduk di atas!” Ia pun menurunkan kakinya, membuat Sarla sedikit terkesiap dengan suara tinggi Morean itu lalu segera bangkit dan duduk disana.


Bukan pelayan jadi apa?


Pemùas *****?


“Hemm… tidak jadi tunggulah disini ini jadwal ayahku makan siang.” Lihat Morean pada waktu dan bangkit, Sarla hanya bisa pasrah melihat sikap lelaki itu. Beberapa detik kemudian ia melihat pada Sarla, “Kau sudah makan?”


“Ah, tidak aku tidak lapar.”


“Omong kosong, aku akan kembali sebentar lagi, kita makan bersama disini.” Morean pun keluar dari kamarnya dan membuat pintu itu segera tertutup dan kembali terkunci.


Bibir Sarla menyimpul cibiran, ibilis yang aneh dan tidak bisa ditebak apa mau dia sebenarnya, Sarla mulai menerawang jauh sembari menyandar, kapan mulai lelaki itu menjadi seorang Sanden dan mendekati sang kakak, lalu saat dia pindah dan bertemu beberapa kali dengan lelaki itu apakah itu sebuah kebetulan?


Sangat tidak mungkin bukan, jelas sekali dia sudah mengikutinya pasti sejak dari tempat tinggalnya lama.


Lalu wanita saat itu yang bersamanya, kenapa mereka disana, untuk apa? atau jangan-jangan tempat tinggal mereka direnovasi juga dia, jalanan, lampuan jalanan semua atas perbuatannya, No, Sarla kau terlalu jauh buat apa dia melakukan itu dan mengasihanimu apa lagi bertangung jawab, dia mengejarmu ya seperti yang dia katakan, dia hanya sedang terkesan denganmu sejak malam itu.


Kau mùrahan Sarla…


Sarla mengusap wajah kedua tanganyan lelah, ia rindu Juless merindukan lelaki yang selalu saja membuatnya bahagia tanpa memandang rendah dia tanpa melihat apapun darinya, ingin sekali melihat dia saat ini, tentu saja Juless juga tidak ingin ini semua terjadi jika dia tahu efeknya akan seburuk ini.


Sarla pun bangkit, mencari celah dimana ia bisa melihat keadaan di luar kamar Morean melihat keadaan di luar sana termasuk keadaan Juless saat ini, mungkin kesalahannya datang kesana bisa menjadi sebuah kesempatan dia untuk melihat lelaki itu.


Sarla pun bangkit menyapukan pandangannya kesekeliling, mungkin ada kaca atau celah-celah disana yang bisa membuatnya melihat keluar, ia mulai berjalan diruangan besar itu menggunakan kesempatanya ketidak beradaan Morean, namun sama sekali tidak ada celan disini ia pun kesisi lain diarea sebelah sisi ruangan dimana sebuah mini bar dan susunan rak anggurnya berada, Sarla melihat ada jendela disana, Sarla pun bergegas kesana.


Jendela kecil yang tidak bisa dibuka itu mengarah pada halaman belakang kediaman besar itu dan sebuah ruangan berdinding kaca yang Sarla tidak tahu apa, ia sudah berdiri disana melihat ke luar suasana disana begitu hening beberapa menit Sarla memperhatikan ruangan berdinding kaca berwarna hitam itu sepertinya itu adalah sebuah tempat berolahraga.


Tidak ada apapun sedari tadi ia lihat dibelakang sana, hanya beberapa orang di pinggir-pinggir sebuah tanaman tampak sedang memotong daun, seketika saja hampir menyerah tidak afa harapan Sarla menutup mulutnya dengan matanya yang membulat sempurna.


"Itu Juless!" Sarla melihat Juless tengah keluar dari tempat itu memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan sedang mengusap keringat dengan handuk berjalan keluar. Sebuah kerinduan pun muncul ke permukaan hatinya.


Juless… itu kau...


Kau tidak rindu aku?


Netra Sarla berkaca-kaca, melihat pada wajah tampan yang selalu terlihat tenang itu, ingin sekali ia berlari dan memukulinya, kau yang membuat semua ini, kau membuat semuanya menjadi serumit ini


“Apa yang kau lakukan!” Seketika sebuah suara menggema, membuat Sarla terlonjak seakan-akan ia sedang tertangkap basah membuat kejahatan.


Sarla menggeleng takut bibirnya seperti terkunci, segera mungkin Morean mendekat dan menariknya kasar tangan Sarla membawanya keluar dari sisi kamar itu.


Sarla mengaduh tertahan tangannya di tarik kuat, Morean pun menghempas Sarla ke sofa empuk itu, membuat Sarla semakin ketakutan telah ketahuan mengintip Juless, "Ma-af—“


Sarla menatap takut Morean mata indahnya berubah sendu dengan wajahnya yang sangat memelas.


Tatapan Morean begitu menakutkan lelaki itu merendahkan tubuhnya membuat Sarla mundur dan mengelak, “Sepertinya sudah tidak lagi menyayangi kakakmu?” Morean tahu Sarla mengintip Juless di tempat olahraga itu.


“Ma-af…”Sarla terbata, “Jangan lakukan apapun pada Molina,” Mohon Sarla.


Morean pun bangkit merogoh sakunya, “Aku tidak suka orang yang suka membantah dan ucapannya tidak bisa dipegang.”


“Ku mohon….jangan lakukan apapun pada kakakku!” Sarla bangkit seketika ia meraih tangam lelaki itu yang memegang ponsel namun Morean menepis melepasakan tangan Sarla, Sarla menjadi panik. “Ku mohon jangan lakukan apapun tuan…ku mohon…tuan...”


Sebuah akal tiba-tiba muncul pada Sarla, seketika Sarla pun berjinjit memagut bibir Morean cepat yang sibuk dengan ponselnya lalu Sarla melingkar kedua tanganya paksa pada leher lelaki itu dan merapatkan tubuhnya.


Morean sukses terbelalak netranya membola melihat Sarla seagresif ini, ia benar mengujami bibir Morean dengan pagutannya yang begitu tidak terarah, Sial, Aroma ini, aroma manis dari tubuh seorang Sarla dan pagutannya membuat Morean ikut terbawa suasana dan seketika ia pun mendorong Sarla ke sofa lagi.


.


.


.


.


.


.


Next » Bagaimana udah kelen siapakan menyan 🤣