Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 66



Sebulan belalu.


Morean dan Sarla mulai terbiasa dengan kehidupan yang mereka jalani, Morean benar-benar tidak menemui Sarla lagi ke kediaman Mom Lily, namun mereka masih saling berhubungan melalui kiriman bekal, surat-suratan via panggilan telepon sesekali.


Bagaimanapun ia takut hal buruk terjadi, mereka juga sudah mempersiapkan hunian baru mereka disebuah kawasan tengah kota namun dibawah tanah.


Sarla mencoba mengerti kondisi orang tua Morean yang tidak boleh ditinggal lama-lama sebab Morean adalah satu-satunya tumpuan keluarga itu. Walau kata Morean Juless sudah lebih bisa di handalkan.


Juless membatalkan study keluar negrinya, ia memilih melanjutkan disini sembari bekerja yang kini dia sudah harus ikut serta turun tangan seperti permintaan kakek, ia bukan remaja lagi sudah harus ikut mempertanggung jawabkan apa yang mereka miliki.


Di sebuah parkiran rumah sakit, Juless menunggu Summer disana sudah beberapa jam, ia menyesali perbuatanya beberapa waktu lalu, sungguh sangat menyesali harusnya dia tidak seperti itu, sangat tidak pantas dan kurang ajar.


Bagimana bisa saking kesalnya pada keadaan ia melampiaskan kemarahanya pada Summer yang merupakan mantan kekasih sang paman dan usianya jauh diatas dia 7 tahun.


Berhari-hari ia mencoba tenang dalam keacuhan tapi sungguh ia tidak bisa, rasanya masih sangat mengganjal sebab dia kala itu melakukannya tanpa pengaman dan membuat seluruh yang tidak harus masuk menjadi masuk.


Laki-laki yang masih memakai pakaian rapi baru saja pulang dari kantor itu berdiri didepan mobil, ia sudah menghubungi kerumah sakit menanyakan jadwal Summer seolah menjadi pasien, jadwal Summer sudah selesai dan dia akan pulang sebentar lagi.


Dari jauh Juless sudah melihat Summer yang berjalan keparkiran membawa tasnya dan meneteng sebuah kunci dengan gantungan bonekanya, ia berjalan mendunduk, tidak berekspresi apapun tampak seperti biasa saja disana.


Namun tiba-tiba Summer berhenti, saat melihat Juless didepan sebuah mobil yang terparkir didepan mobil milikinya.


Wajah Summer berubah kesal menatap benci pada orang yang menunggunya itu, “Apa yang kau kau lakukan!” Sentak Summer.


Juless pun mengulas senyuman berjalan pelan sekali untuk mendekat, “Aku hanya ingin melihat keadaanmu.”


“Menyingkir, jangan halangi jalanku!”


Juless pun menyinkir, “Silahkan aku tidak menghalangi jalanmu, aku hanya ingin melihat keadaanmu dan meminta maaf aku yang diluar kendaliku.”


Tatapan nyalang Summer belum menyurut pada wajah Juless, “Sudah! Kau sudah melihatnya aku baik-baik saja dan harusnya aku bagaiamana yang kau mau?”


“Tidak ada, baiklah jika tidak ada apapun, aku hanya menakuti sesuatu terjadi, dua orang dewasa saling menyatu tanpa pengaman.”


Telinga Summer begitu geram mendengarnya, “Tutup mulutmu, aku bisa menuntutmu jika aku mau, kau melecehkanku, kau berengsekkk!”


Juless sama sekali tidak gentar ia masih terus mengulas senyuman, “Ayahmu mungkin suka jika mengetahui ini, dengan ini dia bisa masuk kekeluargaku!”


“Omong kosong Juless! Jangan pernah kau membuat ayahku tahu, kau fikir aku peduli dengan apa yang keluargamu miliki, jika aku mau sudah lama aku memeras pamanmu, lupakan Julesss jangan pernah mengingkitnya, jangan pernah membahasnya, ada banyak orang dewasa didunia ini yang melakukannya, jangan buat masalah atas itu, bersikaplah dewasa!”


Juless diam sejenak menghembuskan nafasnya, “Baiklah, aku mengerti.”


Summer pun terburu-buru pergi untuk masuk kemobilnya.


“Summy?” Juless mendekat cepat kepada Summer melihat segala isi tas wanita itu keluar berserakkan semuanya.


Summer panik ia segera berjongkok memunguti cepat, barang-barang miliknya, namun terlambat Juless melihat semuanya yang bertaburan disana, ada lebih dari 5 buah alat pemeriksaan kehamilan disana.


Juless segera mengambil 1, “Jangan sentuh milikku!” Summer segera merampasnya namun Juless melihat hasilnya adalah dua buah garis dua.


Juless terbelalak, ia sungguh tidak menyangka, Summer pun menajadi semakin frustasi menyedari sepertinya Juless mengerti itu.


Sudah hampir sebulan ini Summer seperti orang tidak waras, ia depresi mendapati bahwasanya dia telat datang bulan, segala cara ia telah coba walau tidak fatal seperti meminum soda atau minuman lain agar mencegah kehamilan.


Summer tahu itu tidak efektif untuk mencegah dia hamil namun Summer begitu takut untuk melalukan kejahatan pada janin dalam tubuhnya sendiri, sebagai seorang dokter dia sering membantu menyelamatkan nyawa seseorang bagaimana bisa dia harus berusaha keras membunuh darah daging yang mungkin tumbuh dalam rahimnya.


Hingga disepuluh hari telat datang bulan Summer pun membeli tespack memberanikan diri dan betapa mengejutkanya dia saat hasilnya adalah positive, beberapa kali dia mencoba bahkan berkali-kali namun hasilnya masih sama.


Ia begitu terpuruk, tidak ingin sekalipun ia bertemu ayahnya, bahkan ia tidak lagi memikirkan tentang Morean yang ia juga tidak tahu bagaimana kabarnya, Summer lebih memikirkan dirinya harus bagaimana dia saat ini.


Sialnya betapa bodohnya dia hari ini membawa tespack yang baru ia coba lagi tadi pagi dirumah sakit, kenapa tidak langsung ia buang saja.


Summer benci keadaan ini, ia sangat enggan sekali menerima kenyataan bahwa ayah dari anak yang ia kandung adalah Juless, laki-laki muda berusia jauh darinya.


“Summy! Kau hamil!”


“Stop! Omong kosong itu bukan milikku!” Summer memunguti barang-barangnya ia begitu panik, segera mungkin ia masuk kedalam mobilnya.


Juless tidak menyerah ia pun menarik tangan Summer, “Jelaskan Summy, kau hamil!”


“Mana yang mengatakan aku hamil, kau fikir aku tidak mencegahnya, ada banyak cara yang aku bisa lakukan untuk mencegahnya.”


“Aku tidak percaya, kita periksakan kerumah sakit jika memang kau tidah hamil setelah kejadian itu!”


“Kau sakit jiwa Juless, kau tidak tahu malu berfikir aku hamil, kau tidak malu siapa aku, aku pernah bersama pamanmu.”


“Lalu kau fikir aku mau? Aku hanya ingin memastikan saja.”


“Lalu apa? Apa yang akan kau lakukan jika benar, APA!” Summer tersulut menantang Juless, “Kau tidak fikirkan apa yang terjadi, bagaimana aku harus menghadapi ini, aku hamil oleh keponakan mantan kekasihku, berengsekkkk!” Summer memukul kesal stirnya ia menangis disana, sungguh muak sekali dia dengan hidupnya.


Bermimpi bertahun-tahun menikah dan hidup bahagia bersama Morean namun malah sebaliknya, lelaki itu berbahagia dengan orang lain dan kini dia dihamili orang lain.