
Bruakkkk
Molina terkesiap semuanya berlangsung begitu cepat, baru saja ia lihat drama romantis dihadapannya, tiba-tiba saja kericuhan terjadi.
Bugh..
buhgh
Juless dipukuli oleh 3 orang laki-laki berbadan besar yang datang dari pintu samping.
“JULEEESSS!!!!!!” Pekikan Summer menggema, Julles terjatuh kelantai dalam beberapan kali hantaman. Wanita yang bersamanya seketika ditarik paksa oleh orang-orang itu dan dia memberontak disana.
“Tolong!”
Molina menatap heran kenapa semua orang pergi dan takut, kemana penjaga keamanan disini, “Hey apa yang kalian lakukan!” Molina berteriak pada para laki-laki bertubuh besar yang membawa wanita Julless, ia mendekat pada Juless yang tersungkur jatuh, “Juless kau baik-baik saja?”
“Kak Molina—“ Juless dengan wajahnya yang berdarah-darah dan tubuhnya yang dihantami kuat segera bangkit menarik tangan Molina.
“Siapa mereka?”
“Hubungi pamanku atau orang-orangnya, aku butuh bantuan mereka, wanita itu sedang mengandung anak kami.”
Juless dengan sisa tenaganya pun berlari kencang melihat dari jauh Summer yang dibawa masuk kedalam sebuah mobil van tua. Juless tidak tahu mereka siapa entah suruhan siapa, tidak ingin terlambat ia segera memaksa seorang yang kurir makanan yang sedang parkir disana untuk meminjami sepeda motornya Juless menjaminkan sebuah kartunya untuk laki-laki itu segera ia melaju kencang meninggalkan tempat itu.
Molina segera menghubungi Sarla membuat Sarla segera melaporkan pada Morean. Morean terperangah saat Molina mengatakan Juless di pukuli lalu sekarang sedang mengejar wanitanya yang mengandung. Sontak saja Morean terperangah siapa yang dihamili Juless, pantas saja saat ini dia tampak sibuk dengan dunianya.
Luke yang berencana akan menghabiskan malam bersama Dayana menjadi panik saat mendapati kabar dari Morean yang mana Juless juga berada di Romein kawasan yang sama dengannya.
Dengan berat hari Luke pun meninggalkan Dayana, ia berpamitan namun tidak akan menggagalkan rencana mereka untuk membuat Dayana kabur dari tempat terkutuk itu.
Luke berhati-hati turun dari tempat perjudian itu jika lengah dia bisa habis disana, bersyukur tidaklah terlalu sulit lolos dari sana saat ini tampaknya penjagaan tidak.ketat.
Ia pun bergegas pergi menemui Molina untuk menanyakan langsung apa yang terjadi dan bagaimana kronologinya.
Di kediaman Morean Sarla keduanya begitu panik terlebih Morean, sungguh ini diluar dugaan Juless melakukan hal yang sama seperti dia, tapi siapa wanita itu Juless tidak tampak sering bergaul dengan banyak wanita.
“Sudahlah Dad, doakan saja semua yang terbaik, dia meminta bantuanmu artinya dia bersungguh-sungguh dengan wanita itu, siapapun dia aku yakin itu seseorang yang membuat Juless lebih baik.”
“Juless terlalu muda, banyak yang harus dia capai, pendidikanya, karirnya...aku diseusia dia bahkan sedang sangat sibuknya meraih banyak hal dan wanita adalah nomor sekian.”
“Setiap orang berbeda dad, itu pencapaianmu itu yang kau mau, memiliki pasangan di usia muda tidak melulu akan terjadi percekcokan, Juless cukup dewasa menurutku.”
“Tentang anakk sayang, dia punya anak... itu bisa jadi masalah untuk keluarga kita bagaimana jika wanita itu ingin memanfaatkan dia.”
“Itu pendapatmu dad, bukan hal yang terjadi sebenarnya, kita lihat saja.”
...*** ...
Di Kota Romein, Molina yang menunggu pertolongan Luke dan Morean datang sudah menghubungi pihak keamanan disana, ia memarahi keamanan dipusat perbelanjaan tiu yang sangat lambat dalam mengatasi kejahatan. Tidak berlangsung lama Luke pun datang menemui Molina, Molina berhambur memeluknya lalu segera membawa Luke melihat rekaman barang kali Luke kenal para penjahat itu.
Rekamam kejadian segera diputar di pos penjagaan yang tadinya kosong itu, memperlihatkan jelas Juless yang dipukuli dan wajah para penjahat disana yang 2 di antaranya tidak memakain penutup wajah. Namun fokus Luke malah kesebuah hal lain, ia melihat pada gadis yang berpelukan dengan Juless.
“Summy?”
“Kau mengenalnya Luke? Wanita Itu hamil anak Juless, ayo cepat tolong mereka!” Molina begitu hebohnya.
Luke semakin terkesiap mendapati perkataan Molina, segera ia menghubungi seseoranh membuat anak buah Morean yang sudah dijalan untuk pergi menuju gudang ayah Summer, kemungkinan yang memukuli Juless dan membawa pergi summer adalah anak buah dari Watson.
“Kembalilah ke hotel jangan pergi kemanapun sampai semuanya aman.” Ucap Luke pada Molina kala wanita itu terus mendekat padanya begitu ketakutan.
“A-apa yang terjadi Luke!”
“Sesuatu yang berbahaya, pergilah kembali ke hotel jangan kemanapun sebelum aku menjemputmu, kita tidak pernah tahu siapa saja bisa menjadi sasaran kejahatan.”
“Pergilah cepat ke hotel, kau tidak ada masalah dengan siapapun tapi inilah yang adikmu selalu rasakan dia tidak aman kemanapun maka jika kau membali lalu di sisi adikmu kau harus berjaga-jaga juga.”
“Kau akan bertarung?”
“Molina pergilah!”
Molina mengangguk samar, “Jaga dirimu....”
“Cepat pergi dan ingat pesanku jangan pergi sebelum aku menjemputmu.” Luke segera bergegas pergi saat mobil lain sudah datang menjemputnya ia berlari-lari cepat menuju mobil itu.
Dalam situasi yang genting segara Luke menghubungi Morean bagaimanapun dia harus tahu ini.
“Luke?”
“Bos, satu hal yang mungkin akan membuatmu shock, wanita yang sedang Juless lindungi dah hamil itu adalah Summy.” Ucap Luke saat sudah menuju ke markas milik Watson tersebut.
“Apa?” Morean begitu terkesiapnya, ini sebuah berita yang sangat membuat dia shock, “Wanita itu Summy, dia dan Juless? Summy hamil anak Juless?”
Sarla pun mendekat pada sang suami ia pun shock juga, ini terdengar sangat tidak masuk akal, “Summer mantan kekasihmu Dad?”
“Kau tidak bercanda Luke, bagaimana bisa Juless menciptakan masalah yang kita hindari, ini sangat memudahkan Watson memasuki dan memanfaatkan keluargaku, ah apapun itu Luke bantu Juless tentang Summy ikuti saja apa yang Juless mau.”
Panggilan pun segera berakhir, Morean begitu terperangah ini namanya sama saja, tidak ingin Juless bersama Sarla tapi dia bersama Summy dan membuat Summy mengandung. “Apa ini sebuah hal yang direncanakan? Atau mereka sama-sama suka?”
“Apa yang kau takuti dad?” Sarla mendekat memegang lengan suaminya.
“Tidak apapun hanya keselamatan Juless, Summer bisa saja membahayakannya.”
“Bukan hal lain? Tentang dia mantan kekasihmu?”
“Itu masa lalu sayang.”
Sarla mengulas senyuman, “Masa lalu? Kau saja dulu takut aku kembali bersama Juless katamu aku bekasmu tidak boleh bersama Juless.
“Semuanya berbeda, aku dan Summy tidak pernah tidur bersama kami hanya tinggal bersama, aku mengencani banyak wanita dan tidak meniduri Summy! Tapi kau dan aku pernah melakukannya.”
“Oh ya?” Tatap Sarla.
“Apa maksudmu? Kau menyesal tidak bisa kembali dengan Juless? Kau marah?”
Sarla pun tertawa, “Dad ini situasi genting hal gila apa yang kau tuduhkan.”
“Ucapanmu seolah kau kesal Juless mendapati mantan kekasihku! Lalu kenapa kau tidak boleh.” Morean berlalu meninggalkan istrinya.
Sarla berkerut dahi, “Moreee...kau salah paham, kapan aku mengatakan itu, justru aku sangat menyesal bila tidak menjadi wanitamu, kau... Ingat celana dalamku? Jika tidak menikah dengan mu, aku mungkin masih mengkoleksi benda-benda estetik peninggalan penjajahan itu.”
“Aku tidak tertarik dengan leluconmu.”
Sarla melebarkan tawaanya, “Dad, aku tidak sedang membuat lelucon.” Ia berlari mendekati suaminya lalu memeluknya dari belakang membuat More berhenti.
“Kau menyesal karena aku sudah tua bukan?”
“Tua? Kau mengaku tua?” Hahha, “Tidak sayang...tidak seperti itu...kau itu matang ibarat buah kau adalah panen pertama dan ya....sebentar lagi sudah kadarluarsa.”
Morean melepaskan tangan istrinya yang memeluk, “Puas-puasi tertawa....tidur sendiri aku pulang kerumah ayah.”
“Nak ayahmu marah....” Sarla memotong langkah Morean masih tertawa lalu memeluknya dari depan, “....Aku selalu merasa beruntung setiap waktu sebab memiliki pasangan sepertimu kau sempurna dalam banyak hal....” Peluk Sarla suaminya menyandar didadanya, “Kau adalah tempat ternyamanku untuk bersandar... Morean Sanden...”