
“Rodriguez Sanden berangkat ke London bersama Morean, ayah sudah melacak datanya ada dimanifest dan ada nama mereka disana.” Jelas Watson kepada sang putri yang begitu terkesiap mendapati kabar dirumah sakit Rodriguez Sanden sudah tidak ada.
Wajah Summer merah padam sudah sangat kesal,“Sial, More kau benar-benar berubah, MORE! Apakah wanita di appartemen itu juga bersama?”
“Tidak ada, hanya Rodriguez Sanden, Morean juga 2 orang perawat dan beberapa pengawalnya, Luke dan Jules tidak bersama.”
“Luke tidak bersama More?”
“Tidak, mungkin dia mengawasi beberapa hal disini.”
“Wanita itu siapa ayah? Dimana dia sekarang benarkah dia mengandung anak More!” Summer begity frustasinya, “Anak buahmu tidak bisa handalkan apa susahnya mengawasi seorang wanita! TIDAK BERGUNA!” ARRRGhhhtt...pukul Summer meja dan bangkit.
“Salahmu Summy! Jika kau membuat dirimu hamil dulu, kau pergi jauh tentu akan dicari lelaki itu, sekarang ya, aku tidak bisa berbuat banyak.”
Summer membelalak, “Kau tidak bisa berbuat banyak ayah? Kau mengatakan hal itu? Semua ini karenamu, kau memaksaku pergi! Membuat alibi pernikahanku agar Morean hancur dan kau bisa lihat, dia tidak hancur! Dia tidak mencariku bahkan membenciku!”
“Ini belum selesai Summy! Jaga sikapmu jangan buat More semakin membencimu.”
Summer ingat tingkahnya saat kemari ia berusaha menjebak Morean karena lelaki itu begitu acuhnya, “Argghh SIAL! Dia buta, dia lupa apa yang kami lewati tahun-tahun panjang bersama kami, apa istimewanya wanita itu apa!”
“Mungkin kau terlalu agresif Summy! Kau terlalu memperlihatkan ketertarikanmu, More butuh waktu, harusnya kau bersikap dingin dan tidak membuatnya ilfeel!”
“Omong kosong ayah! Semua salahmu, kau tidak tahu bagaimana aku menunggu kembali ke negara ini, menunggu masalahmu selesai sekaligus study-ku tapi apa, hubungan ku juga selesai, WATSON!!” Pekik Summer.
...***...
“Luke!” Juless sedari semalam sudah uring-uringan, semua orang tidak bisa dihubungi, ia mencari informasi Rodriguez House tentang ayahnya yang berangkat bersama More ke London tapi tidak ada satupun yang tahu
“Apa apa?” Luke baru saja kembali ke Rodruguez House setelah seharian kemarin ia mengurusi pekerjaan Morean yang ia tinggalkan sebab More menghantarkan ayahnya ke DelmiForest bukan keluar negri.
“Ada apa, katamu? Bagaimama bisa kakek berangkat semendadak itu, apa yang terjadi, bahkan Dokter yang menanganinya tidak tahu.”
“Terjadi sesuatu hal pada Tuan Rodri, More telah mendaparkan dokter terbaik disana beberapa wakti lalu dan baru bisa berangkat kemarin.”
“Kenapa tidak ada yang mengabariku?” Tatap Juless kesal.
“Kau sibuk dikantor hingga kampusmu, kakekmu tidak ingin kau khawatir!” Luke pun berlalu meninggalkan Juless, ada banyak pekerjaanya hari ini yang mana Morean akan menikahi Sarla siang nanti segala persiapan telah ia kerjakan kemarin yang mana hanya sebuah acara pemberkatan biasa saja tanpa resepsi apapun.
Menjadi sebuah hal yang mengejutkan bagi Luke namun sudah ia tebak, More sangat mencintai Sarla, semua tampak jelas tanpa perlu diungkapkan.
Juless merasa ganjil sialnya dia tidak bisa banyak berbuat banyak, sebab mendadak pekerjaan kantornya melebihi tugas anak magang, dia seperti diberi tuntutan banyak hal.
Namun sampai sekarang ia terus menghubungi Morean entah walau tidak juga disambuti seperti sangat sibuk disana.
“Luke, aku tidak bisa menghubungi More!” Pekik Juless pada Luke yang sudah menjauh.
“Dia sibuk, jika kau sangat penting kirimkan saja sebuah pesan nanti dia akan membacanya!”
Ya dia sibuk dengan bibi dan sepupumu.
...***...
Pagi yang cerah di Delmiforest, semua disana tampak mencoba melupakan segala permasalahan yang ada termasuk Rodriguez dan bibi Tores mereka sedang menyantap sarapan dihalaman rumah menghadapa pada danau dibawah sana, mereka tampak bahagia atas keputusana Morean yang akan menikahi Sarla dan Sarla akan pergi setelahnya kesebuah tempat yang jauh.
Morean memang membuat dirinya akan beberapa hari disana setelah membuat data kebohongan keberangkatannya ke London. Namun ia tidak menyangka akan seperti ini.
Entah keyakinan apa yang membuat dia akan menikahi Sarla namun hatinya sangat yakin dia adalah pelabuhan yang tepat kemana kapalnya akan kemanyandar yang mana ketidaksengajaan membawa mereka menjadi terikat oleh calon anak mereka.
Dengan ragu dan tidak tahu ini salah apa tidak, Sarla pun menerima itu, entah dorongan apa yang membuatnya menerima tapi sungguh dia tidak bisa menolak.
Sarla bangun sangat awal, ini akan menjadi hari yang mungkin bersejarah untuknya, dia akan dinikahi oleh seorang iblis temprament yang amat ia benci itu namun ternyata dia adalah lelaki yang paling manis dan hangat aslinya.
“Bangunkan aku besok pagi!”
Sarla yang yang baru selesai mandi pun ingat permintaan Morean semalam, segera ia yang hanya memakai bathrobe pun menuju kamar Morean disebelah, mereka tidak satu kamar.
Sebuah ketukan Sarla lakukan, “Moree! Bangun!” Pintu tidak terkunci Sarla bisa memutar handlenya ia pun segera masuk kedalam kamar Morean, sebuah kamar besar berkonsep klasik dengan sebuah ranjang kayu bertiang empat dan furniture kayu lainnya.
“MORE bangun!”
Morean masih diatas ranjang ia menggeliat menatap pada Sarla yang datang. “Hemmm 5 menit...”
Sarla membuka jendela kamar Morean membuat More semakin bersembunyi menarik bantal dan beringsut ke sisi gelap.
“Kau lihat ini sudah siang.”
“Hemmmm....”
“Pukul 3.” Angkat morean tanganya 2 jari.
Sarla tertawa menurunkan tangan More, “3 atau 2? Jarimu membuat angka 2.”
“Entahlah sini mendekat!”
“AWWW....”Morean menarik Sarla hati-hati hingga ia jatuh keatas kasur More, “More ini sudah siang! Ayah dan bibi menunggu dibawah untuk sarapan sebelum Luke tiba dan membawa kita.”
“5 menit...” ulangi More lagi, ia memeluki Sarla mengusap kedalam bathrobenya perut yang sudah sedikit naik itu. “Kalian akan jauh dariku nanti, aku tidak akan sering seperti ini, jadi jangan larang aku jika ada kesempatan itu.”
Sarla ikut terharu, akhirnya Morean menurut untuk melepaskan Sarla dan anaknya ketempat yang lain, “Kau akan kunjungi kami sebulan sekali?”
“Hemm.” Morean menempelkan wajahnya pada leher Sarla meresapi aroma segar Sarla yang baru mandi. “Mungkin, pastikan terus mengabariku, bibi Tores tidak bisa ikut kesana namun aku akan minta seseorang mengawasimu disana dia akan membantumu jika kau butuh apapun disana, “Nona Wella dia rekanku, dia akan menjagamu disana nanti.”
Sarla menoleh pada wajah Morean, Ia mengusap rambut depan laki-laki itu, Sarla pun kemudian menghujami ciuman padanya, “Aku akan selalu merindukanmu.”
“Hemm, aku juga...” Peluk erat Moran tubuh Sarla. “Mandikan aku.” Bisiknya menggoda.
“Tidak sekarang! cepat bangkit dan mandi, More!” Sarla pun bangkit akan keluar membuat Morean tertawa. “Aku tunggu dibawah.”
“Tunggu!”
Sarla yang akan keluar pun barbalik lagi, “Ada apa?”
“Sepertinya dikamar mandiku tidak ada sabun.”
“Ohya?” Sarla pun bergegas memeriksa kamar mandi dikamar mandi itu mendorong pintu kayu besar disana ia menyapukan pandangannya, “Ada More, semuanya ada—“
Cklak
Lelaki itu sudah masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya, “Tidak ada kan?” Dia pun tertawa telah berhasil mengerjai Sarla.
Mata Sarla membola, “Jangan macam-macam More! Kau mau apa?”
“Mau apa? Mau mandilah!”
“No, More! Jangan macam-macam, aku hamil kau tidak boleh melakukannya.”
Hahaah, “Nothing, aku hanya ingin menunjukan sesuatu, didalam closet.”
“Ini tidak lucu More, ada apa dalam closet hanya ada kotoran.”
Morean semakin tertawa, Ia membuka closet tertutup itu, “Kata Luke itu adalah calon-calon kesebelasan yang gagal, calon dokter, polisi, hingga calon tukang pangkas yang tidak jadi, Ya, akan seperti ini aku setiap hari nanti saat jauh dari istriku, memproduksi kegagalan setiap hari."
Sarla berkerut dahi, “MORE! Astaga kau tidak penting sekali! Cepat mandi atau kau ku masukan juga kedalam sana!” Sarla pun bergegas keluar dari kamar mandi semakin membuat Morean tertawa.
.
.
.
.
.
Next »
Sajennnn........
.
.
.
.
.