
Hanya dalam hitunga menit dua buah haelikopter mengudara diatas langit perbukitan Delmiforest yang luas itu, jarak tempuh menuju keluar kawasan hutan ke jalanan besar sangatlah jauh.
Artinya jika sebuah mobil yang membembawa Sarla pergi dari sana, pasti mereka masih berada didalam kawasan itu, namun kini kendalanya adalah cuaca langit sore mulai gelap namu tetap mereka berusaha mencari.
Sudah pasti dan sangat diyakini para penculit tidak akab melewati jalur yang sudah ada melainkan jalur lain yang mungkin jarang sekali dilewati kendaraan.
Sarla didalam mobil sedang berfikir keras, jika dia memukul kepala lelaki yang mengemudi ini tentunya dia akan oleng, dan mereka akan menabrak dan bisa pula temannya langsung menyerang kembali dan mengetahui dia yang sudah melepaskan ikatan mereka.
Jangan di tanya seperti apa keadaan dan goncangan di dalam sana, tubuh Sarla nyaris terpental-pental sebab mereka bukan melintasai jalanan namun jalur air dan batuan sebagai petunjuk jalan mereka untuk kembali sebab di ujung berkilo-kilo meter menuju masuk ada sebuah sungai besar tepat dipintu masuk hutan yang sepertinya menyambung dengan danau ini.
“Helli Jack, menepi atau matikan lampu!” Mereka mulai panik diikuti.
“Gelap kita tidak bisa jalan jika mematikan lampu!” teriak sang rekan yang masih terus melaju.
“Berhenti, kita berhenti saja tunggu situasi aman atau helicopter itu pergi.”
Mobil pun seketika melambat hingga berhenti, masuk, “Masuk Jack, jangan dipinggiran aliran air lebih kedalam hutan mereka akan kesulitan melacak kita, Jika mereka ada yang mengejar lewat jalur darat ini bukan lintasannya kita mungkin aman, aku juga tidak tahu kita akan bagaiman kita di ujung sana.”
Mereka pun keluar melihat kondisi, di suasana yang akhirnya gelap itu dengan suara helikopter yang begitu nyaring diatas mereka namun sepertinya mereka akan sulit ditemui, tempat itu begitu rimbun bukan hanya hutan pinus saja namun sudah kawasan dengan pepohonan yang sangat lebat.
Beberapa menit mereka berhenti sekaligus beristirahat, sialnya lampu sorot yang begitu jauh hingga kebawah dari helikopter menyorot mobil mereka.
Informasi pun langsung dikirimkan ke Morean yang di tengah jalan jalur pelintasan bahwa mereka menemukan sebuah mobil yang menyorok kedalam hutan, Morean segera memutar arah saat dikirmkan posisi sebuah mobil yang dicurigai adalah milik penculik Sarla itu.
“Kuat baby! Kuat kau harus kuat, kuatkan Mom nak!”
Sarla berlari sekencang-kencangnya ancang-ancangnya melarikan diri sudah berhasil sejak kedua orang itu turun dari mobil ia pun ikut turun dan berlari.
Hutan sudah gelap gulita hanya ada pencahayaan langit yang masih terang, kakinya tidak menyurut dia terus berlari tidak peduli sakit dan perih yang ia lewati pun luka yang terus mengaliri darah.
“More aku bawa anak kita, aku akan lindungi dia, aku harus pergi biarkan dia lahir dan tumbuh ku harap suatu hari kita bisa bersama-sama lagi.” Sarla menangis merasakan ini semua ia tidak boleh lemah ia harus kuat.
"Kami akan merindukanmu dad, ikhlaskan perpisahan ini...." Sarla meremasih dadanya, baru saja ia merasa aman dan nyaman tapi nyatanya tidak.
Sarla sudah mendengar helicopter diatas sana yang berputar-putar ia rasa dia tidak akan kembali kepada Morean, anaknya terancam, nyawanya pun terancam, dia harus pergi minimal hingga dia bisa melahirkan anaknya dengan selamat.
Begitu banyak masalah yang ia harus hadapi saat bersama Morean, tidak akan ada yang tahu jika dia pindah keluar negri lalu Morean mengikutinya dan sering datang, pihak musuhpun masih mengikutinya seperti hari ini keberadaanya dilacak, akan lebih baik dia menghhilang dari semua orang pergi yang jauh dari hidup Morean.
...***...
Kehadiran Morean dan beberapa orang disana termasuk Juless yang mengekori Morean berbalik arah membuat kedua orang yang sedang beristirahat itu terkejut, sebelum mendekat keduanya pun masuk kedalam mobil segera melarikan diri, sialnya mereka terkepung dua orang turun dari helikoper yang direndahkan itu, Morean juga Juless yang tidak bisa mengakses hutan yang ribun itu berlari-lari kedalam hutan meninggalkan mobil mereka di jalur lintasanan.
Tetap keduanya tidak berteguran berlari-lari menuju jalur air dan akhirnya setelah membelah semak dan jalanan yang terjal mereka sampai bersama dua orang lain yang sudah turun juga.
“SARLAAA!!” Morean memekik saat ia sduah melihat mobil jeep penculit itu.
“Babyy!”
Kedua orang tanpa pakaian itu sudah dipukuli disana setelah berhasil ditangkap, Morean tidak peduli ia langsung membuka mobil dan ia terperangah Sarla tidak ada.
“Sarla!” Morean membuka tempat duduk menerobos masuk, “SARLAAAA!” Dia tidak mendapatkan apapun selain bekas ikatan dari baju-baju yang robek yang Sarla tinggalkan.
Kedua orang itu pun mendapat hantaman Juless berkali-kali, mereka bersumpah tadi mebawa Sarla namun tidak tahu dia dimana sekarang, pelacakan menggunakan helicopter pun kembali dilajutkan dan Morean pun menghujami pukulan tidak henti kepada keduanya.
“KATAKAN APA YANG BERDARAH! APA YANG LUKA!”
“Pu-punggungnya terkena ka-kayu….”
BRUAKKK…
Hantaman kerqasa mendarat lagi diwajahnya, “Kau tidak akan selamat jika terjadi apapun dengan anak dan istriku!” Kecap Morea.
Juless menghempas kasar satu orang lainnya sebab dia merasa sakit dan telinganya panas mendapati ucapan Morean anak dan istri..
“Bedebaaah! Jika kau mengungkap semua ini tidak akan terjadi More! Kita bisa menjaganya bersama”
“SAYAAANGGGG!”
Dia kembali berteriak-teriak dihutan itu ia yakin Sarla masih disana dan bersembunyi, seketika semuanya berpencar kembali mencari di area dimana mobil itu berhenti.
“Sayang keluarlah! Kita pulang!” Morean begitu depresinya membayangkan pinggang istriya yang tetrluka hingga darahnya sebanyak itu, pasti dia merasakan sakit yang teramat.
“SARLAAAAA, KAU DENGAR AKU!!”
Sarla terkena pecahan kaca saja ia begitu panik apa lgi seperti ini dan dalam keadaan mengandung seperti ini, Morean seakan merasakan sakitnya.
“BABYYYY! KELUARLA! SEMUA AKAN MELINDUNGIMU!”
"SARLA!!!!"
...***...
“Bagaimana mereka sudah tiba ayah?” Summer tiba digudang milik ayahnya itu.
Watson kehilangan jejak dan kabar anak buahnya, “Kau fikir semudah itu keluar dari sana, nyawa mereka taruhannya!”
Summer tersulut, “Anak buah mu tidak ada yang berguna, jangan bilang ini gagal juga!”
“Kau terlalu terobsesi Summer, cintamu pada More membutakan dirimu, kau seperti bukan Summy anakku.”
Summer menjatuhkan dirinya ke sofa, “Kau tidak pernah tahu rasanya diposisiku ayah, mencinta sesernag bertahun-tahun menunggunya lama namun kenyatan mengkhianatiku, sakit ayah!”
“Omong ksong Summy!”
...***...
Beberapa jam berlalu.....
Morean, meremasi tanganya masuk kedalam mobil, matanya masih berkaca-kaca, dengan rahanya yang masih menegak sempurna, ia nyaris nyaris hampir membunuh Watson tadi, saat ia tidak bisa menemuka Sarla, ia segera bergegas menemui lelaki itu.
Segala hal yang menghadang ia hujami, ia yang jarang pernah bertarung menjadi petarung habdal tadi, seorang pengawal Watson bahkan kritis mengenai tembakan Morean yang datang ke gudang dengan meledak-ledak.
Watson bahkan sudah berlumuran darah mendapati kemarah Morean bersyukur Luke mencegahnya, sebuah kata terlontar dari bibir Morean kepada Watson.
"Mati saja kau Watson! jika kau ingin kekayaan ambil dan buat perhitungan pada ayahku bukan istriku!"
Summer yang berpura-pura bodoh tidak tahu apapun masih begitu shock, melihat ayahnya nyaris hampir dibunuh Morean yang seperti bukan Morean.
Juless yang ikut serta disana juga terbelalak mendapati kemarah Morean yang begitu tidak biasa itu.
Morean pergi dari sana ia akan kembali ke delmiforest mencari Sarla kembali kesana, namun sudah membuat semua anak buahnya memblok jalur kebandara hingga tempat keberangkatan lain yang mungkin saja Sarla sudah lolos dan melarikan diri.
"Saat aku katakan pada dunia semuanya akan baik-baik saja namun seketika saja kau sudah menghilang entah kemana ..."
Morean meremasi stir mobilnya pergi dari sana dan Juless pun tidak kalah frustasinya memukul badan mobilnya mendapati semua kenyataan ini.
"Maafkan aku baby,... maafkan aku andai aku tahu kau begitu menderika karenaku...." Remas Juless tanganya masih terus memukuli badan mobil merasakan penyesalan dan frustasi.
.
.
.
.
.
.