Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 39



Sarla menyengir kuda atas Morean yang menjadi kesal diminta makan juga, “Ti-tidak maksudku bisakah kau menemaniku makan melon ini bersama tapi aku rasa kau sedang terburu-buru bukan? Pergilah, aku bisa makan sendiri.”


Lelaki itu melihat pada arloji miliknya, Luke sudah bersuara diluar sama mereka sudah hampir terlambat, ”5 menit!” Morean pun menusuk sebuah garpu para potongan melon itu lalu ia masukan dalam mulutnya sendiri, membuat Sarla tertawa kegirangan.


“Aku mau...” Pinta Sarla membuka mulutnya, membuat Morean pun menusuk buah dengan garpu lagi lalu menyuap Sarla.


Cklak.


Suara pintu membuat keduanya tersadar, Luke sudah mengetuk kemudian membuka karena kesal tidak disahut, ia mengusap dahinya kala melihat Bosnya malah sedang asik memakan potongan buah.


“Bos belum tamat drama telenovelanya?” Wajah kesal Luke terlihat jelas disana, melihat aksi Sarla yang kemudian menyuapi banyak potongan melon kedalam mulut Morean hingga penuh.


“Sudah!” Morean mengangkat tangannya agar Sarla berhenti. “Aku pergi sekarang, neneknya Marimar sudah memanggilku!”


Sarla tertawa,“Kau akan pulang ke sini kan?” kini ia memelas.


Morean diam sejenak, terkadang dia juga merasa aneh atas sikap Sarla kepadanya, “Sejak kapan kau suka ditemani iblis?”


Sarla susah mengontrol dirinya, padahal dokter sudah memeperingatkan jangan terlalu terbawa emosional, “Tidak juga, untuk apa aku sendirian disini, jika tidak ada gunanya lebih baik aku pulang.”


“Tidak akan pulang sampai kau benar-benar pulih, aku akan kembali, satu atau dua jam lagi.” Morean kemudian pergi menutup pintu dan meminta pelannya didepan kamar Sarla untuk mengawasi dia juga membantu apapun yang dia butuhkan.


...*** ...


Di sebuah rumah sakit, Summer tampak sedang berada diruangan perawatan ayah Morean, gadis itu tampak berusaha mengambil simpati lagi keluarga Rodriguez, sialnya ayah Morean sudah terlanjur ilfeel pada keluarga Summer yang mana ayahnya adalahan pembual kelas kakap.


“Kau ingin pulang ayah?” Summer masih memangil itu kepada Ayah Morean, panggilan yang sama seperti dulu dia pernah menjadi calom menantu keluarga itu.


Lelaki yang terbaring diranjang itu mengalihkan wajahnya, “Lakukan yang terbaik, aku ingin pulang namun jika Morean tidak mengizinkan aku tidak akan memaksa.”


Summer tersenyum, ”Aku bisa membantumu Ayah, aku juga bisa merawatmu hingga sembuh total dirumah.”


Ayah Morean sudah menduga itu, Summer sedang berusaha masuk lagi kekeluarga mereka dan ingin menjadikan ini jalur masuknya. “Aku butuh bantuan untuk sembuh namun aku tidak tahu Morean mau atau tidak menerima bantuanmu, dia sudah memiliki seorang calon istri mungkin dia akan keberatan jika kau datang lagi, tidak ingin masa lalunya menjadi masalahnya dengan sang calonnya sekarang.”


Air muka Summer berubah, terlihat melampirkan ketidaksukaan atas ucapan lelaki tua itu, seketika Summer mengingat orang yang dikatakan muntah-muntah diappartement milik Morean, membuat Morean sangat panik bahkan mengacuhkannya.


“Hanya calon istri bukan? Apa yang memberatkan, aku tidak berusaha mengusik mereka, lagi pula aku sudah menganggapmu seperti ayahku sendiri, Juless seperti adikku sendiri aku tidak ada hubunganya dengan calon istri Morean.”


Tiba-tiba Juless masuk, membawa makanan yang sang kakek mau, ia melebarkan senyuman melihat Summer disana, “Hi Summy kau datang, bagaimana keadaan kakek hari ini?”


Summer membalas dengan senyuman lebarnya,”Kau sudah tampak sangat dewasa Juless lama sekali kita tidak bertemu, Keadaan ayah lebih stabil hanya saja masih perlu pengawasan khusus.”


“Kakek jadi pulang dan dirawat dirumah?”


Rodriguez Sanden mengendikkan bahunya, “Semua tergantung Morean, dia belum mengkonfirmasikan apapun tampaknya dia sedang sibuk.”


“Sibuk? Aku baru dari kantor dan dia tidak ada disana.”


Summer menyimpul bibirnya mencibir, “Aku baru saja dari appartemen Morean melakukan pertemuan dengannya tampaknya dia memang sedang sangat sibuk seseorang ku dengar sakit dan muntah-muntah disana hingga harus menunda pembahasan tentang ayah.”


Ucapan Summer membuat sang ayah berfikir, “Siapa di appartemen dia tinggal bersama siapa disana?” Tatap sang kakek pada cucunya, “Apakah wanita yang kemarin dikabarkan dia bawa kerumah juga?”


“Entahlah, Mungkin saja! Artinya wanita itu mampu menyaingi kekhawatiranya pada kakek, lihatlah dia tidak datang kesini.” Juless meraih ponselnya hendak menghubungi seseorang.


“Terserah apapun itu jika dia berniat memperistri wanita itu, aku tidak masalah disaingkan, kau akan menghubungi siapa? Luke baru menghubungiku mereka tidak datang sebab ada pertemuan ditempat lain, jangan berusaha menjatuhkan pamanmu, dia tidak seburuk yang kau fikirkan aku kenal seperti apa putraku.”


Summer terdiam tidak lagi merespon, hingga dia pun mengangguk hormat dan berpamitan, “Permisi ayah...aku ada pertemuan lain," Summer pun menghilang disebalik pintu, bisa ia ambil kesimpulan ayah Morean tampak tidak lagi mendukung dia dan Morean bersama lagi.


Didalam sana Juless meletakkan makanan sang kakek diatas mejanya, “Kau akan makan sekarang kakek?”


Lelaki tua itu menggelengkan kepala, “Siapa wanita yang menjalin hubungan bersama More, apakah kau mengenalnya?”


Juless berjalan mendekat pada sang kakek, “Aku tidak tahu, aku mencurigai dia berselingkuh atau menyembunyikan wanita dari seseorang, sangat tidak masuk akal Morean menyembunyikan wanitanya.”


Kekhawatiran setika menyergap sang kakek, ia membenarkan ucapan sang cucu, “ Hemmm jangan menuduh seperti itu apakah More cukup bodoh melakukan itu.”


“Terserah, dimata kakek More selalu terbaik tidak pernah cacat sedikitpun berbeda dengan aku.”


...*** ...


Dengan laju mobilnya yang sangat kencang Summer pun tiba dikediaman Mr.Watson ayahnya, sebuah gerbang seketika terbuka mempersilahkan Summer masuk, ia memarkirkan asal mobilnya segera berjalan cepat masuk kedalam rumah besar itu.


“Ayah!” Teriak Summer.


Sang ayah yang berada diruangan bersantainya mensesap minuman hangatnya sebelum tidurpun menoleh pada langkah-langkah cepat yang terdengar menuju ketempatnya.


“Summy, kau pulang?” Watson sangat bahagia Summer datang ketempatnya sebab sejak meninggalnya sang ibu mereka seperti berjarak, Summer membenci kematian ibunya sebab sang ayah yang membuat hidup mereka semua berantakan hingga mereka pun kembali ke Madrid bersama tapi Summer tidak lagi mau tinggal bersama Watson ia ingin hidup sendiri menjalankam profesinya seperti biasa.


“Kau bisa melacak siapa wanita yang bersama Morean? Apa itu bagian dari rencanamu lagu untuk menghancurkan keluarga mereka dan membuat perusahaanya bermasalah?”


Sang ayah terkesiap, “Apa maksudmu? Duduk Summy! Sekarang tuduhan apa lagi yang kau lemparkan kepadaku!” Tatap wajah terkesiap Watson pada sang putri.


“Aku lelah berbasa-basi ayah, More bersama wanita, bagaimana bisa selama ini aku sendirian aku berusaha setia, aku tidak bersama siapapun bahkan saat kau mengarang pernikahanku tapi aku tidak menikah namun bersekolah lagi, aku berusaha tetap setia sebab kau yakinkan aku More tidak akan bersama wanita manapun, sebab katamu kau hanya sedang memberinya pelajaran tapi apa ayah, More kini dia akan menikah! Katakan ini kebohongan! Katakan ini hanya sebuah rencana mu atau recana dia ingin membuatku cemburu!”


“Duduk Sammy, ini bukan rencanaku, kau sendiri lihat Morea selama ini tidak menjalin hubungan dengan siapapun mungkin benar itu hanya ingin membuatmu cemburu sebab kau kembali lagi setelah hilang mendadak, semua butuh proses Summy tenanglah!”


Summer yang begitu gusar pun menjatuhkan dirinya didepan sang ayah, “Semua tidak seperti sedang ingin membuat ku cemburu ayah, semuanya terlihat sungguhan, kau harus bertanggung jawab atas ini, aku tidak ingin menjadi wanita murahan yang mengejar-ngejar laki-laki, semua ini karenamu ayah dan kau tahu tuan Rodriguez menjadi pasienku saat ini.”


Watson tertawa, “Dia menjadi pasienmu? Tidakkah itu bagus kau bisa masuk lagi kekeluarga itu.”


“Kenapa seperti sangat kebetulan apa kau yang membuatnya?”


Watson mengendikkan bahunya, “Kau Lucky sayang, Dewa keberuntungan menyayangimu, aku menepati janjiku bukan akan berubah dan memperbaiki semuanya.”


Summer terdiam lama memperlihatkan wajah sedihnya, “Tapi ku rasa Rodriguez Sanden tidak lagi menyukaiku, dia seperti mendukung More dengan orang lain padahal niatku tulus pada More bukan seperti ayahku yang ingin memanfaatkan power dan nama baik mereka.”


Watson tertawa mendapati hinaan dari Summer, “Kau bisa memprediksi kinerja organ seseorang? Tidakkah kau bisa lihat dia akan bertahan berapa lama lagi? Jika dia penghalangmu maka kau bisa membuat organya semakin cepat mengalami kerusakannya!”


“AYAH, Hentikan fikiran burukmu!” Summer bangkit dari sana menatap tidak suka pada perkataan sang ayah,“Aku memang terlahir dari seorang lelaki buruk tapi aku tidak ingin kebahagiaanku melewati jalur yang salah dan buruk! Aku akan pulang!”


Summer pun segera meninggalkan hunia tua milik ayahnya itu.


...*** ...


Morean masuk tanpa suara kedalam kamar yang Sarla tempati tampak disana Sarla duduk di sebuah sofa panjang memeluk bantal menonton sebuah realitishow pertandingan tinju.


Morean yang masuk bahkan tidak disadari wanita itu, membuat Morean berdehem,” Kau tidak tidur?”


Sarla seketika menoleh, Ia tampak tersenyum girang sekali lalaki itu pulang. “Kau pulang?”


Morean mengendikan bahunya, “Kau lihat siapa yang pulang?”


“Aku mau uang?” ucap Sarla tanpa ragu mengulurkan tangannya, membuat Morean terkesiap bukan keberatan.


“Uang?”


“Ya Uang, bukan daun jeruk.” Sarla bangkit dari sana ia mendekat pada Morean seketika merabah area paha More kanan kiri hingga saku jasnya, membuat Morean mundur.


“Kau mau apa?”


“Aku mau uang!” Tatap Sarla serius, “Tidak boleh?” Sarla begitu punya keberanian yang tinggi entah sejak kapan dia seberani ini namun ia tidak tahu kadang Ia begitu berani kadang takut sekali.


Morean pun merogoh saku celannya, mengeluarkan sebuah dompet, “Uang buat apa? Kau tidak boleh keluar!”


“Aku ingin berbelanja, aku lihat pakaian di majalah itu cèlana dàlam dan pakaian dalamnnya bagus-bagus.”


Morean berkerut dahi, ini bukan Sarla sekali memperdulikan dalàmannya, biasanya Morean lihat miliknya bahkan sangat buruk dan bolong dibeberapa sisinya.


“Boleh ya?” Sarla memelas lagi melampirkan manik memelasnya.


Morean mengeluarkan kartu-kartu miliknya, “Semuanya untukmu!” Serahkan Morean ketelapak tangan Sarla.


“Kau marah, apakah aku memerasmu?”


Morean pernah berharap wanita ini memanfaatkannya tapi bukan telalu polos seperti ini memintanya dengan sangat jujur.


“Tidak, sudah malam ayo tidur, besok pagi-pagi aku harus kerumah sakit,” Morean pun berlalu hendak mengganti pakaian kemudian Sarla mengikutinya, Morean pun berbalik melihat Sarla mengikuti. “Naik ke tempat tidur, kau masih sakit tidak perlu mengurusiku.”


Sarla menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak akan melakukan itu, aku hanya ingin mengganti pakaianku.”


Morean berkerut dahi, “Lemarimu disana! Kau hanya sakit perut kan? Bukan sakit otak!”


Sarla tertawa melewati Morean begitu saja, ia lalu berjinjit meraih kebagian kaus Morean diatas sana, “Aku mau kaus milikmu yang itu, kau tidak pernah memakainya lebih baik aku jadikan baju untuk tidur!”


Morean berkerut dahi melihat Sarla, ia menggaruk dahinya segera membantu Sarla mengambil pakaian yang terletak dipaling atas rak itu. “Apakah pakaianmu kurang banyak?”


“Apakah memakai kaus yang tidak pernah kau gunakan merugikanmu?”


Morean menggeleng, “Terserah kau saja!” Ia pun berlalu dari sana setelah mengambil pakaian untuknya.


Harusnya aku merasa khawatir akan bagaimanan kedepan nanti tapi aku tidak tahu kenapa sesuatu seakan suka kehadiranmu juga selalu ingin menjadi yang paling kau perhatikan.


“Aduh jatuh...” Suara Sarla panik, membuat Morean disebalah sana yang mengganti pakaian mengintip Sarla di tempatnya.


“Apa yang jatuh?” Morean menatap menyelidik.


Sarla menyengir kuda, “Tidak tidak ada...”  Dia tampak memunguti sesuatu disana dan segera ia genggam sembunyikan.


Morean menelisik pada tangan yang Sarla sembunyikan, “Di tangan mu apa?”


“Ti-tidak ada!” Kini wajah Sarla berubah takut, sebab laki-laki itu mendekat, segera menarik tangan Sarla melihat yang ia sembunyikan.


“Buka!’


Morean membuat Sarla membuka tangan, “Berdarah!” Teriak Morean melihat tangan Sarla yang menggenggam kaca dari kacamata milik Morean yang tidak sengaka ia jatuhkan.


Lelaki itu segera menghisap dua jemari Sarla yang berdarah itu begitu panik, segera ia tarik sebuah shyal miliknya di sana dan ia gulung. “Apakah hobby mu adalah sakit dan mencari penyakit!” Morean terus menggulung membuat Sarla hanya menatap pada tangannya itu juga wajah lelaki itu yang sangat serius itu.


Sarla mengulas senyuman, “Aku tidak sengaja! Maaf—“


“Naik tempat tidur!” Tegas Morean.


“Ma-af ...


“Naik atau aku seret kau untuk naik!” Morean tampak memunguti kaca-kaca itu dibawah sana, hingga Sarla pun pergi dari sana dan segera naik ke tempat tidur.


Sarla sudah naik keatas tempat tidur memakai sebuah kaus hitam big size milik Morean menyelimuti dirinya sembari menunggu lelaki itu yang ia lihat dari jauh membuang pecahan kaca disana.


Hingga tidak lama Morean yang sudah berganti pakaian dengan sebuha kau dan celana pendeknya pun datang.


"Sudah minum obat?"


Sarla mengangguk sudah dan terus memperhstikan lelaki itu yang hendak naik ke atas ranjang mengambil posisi disebelah Sarla.


"Tidur!" Perintah Morean.


Sarla pun mengangguk lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Morean, saat Sarla sudah berbalik badan barulah Morean mendekatkan jarak mereka, Morean menempel disebalik punggung Sarla, memeluknya dan meniduri bantal yang sama.


Kau bisa membaca keinginan anakmu, More? dia ingin seperti ini, ayahnya menyentuhnya saat akan tidur.


Sarla meresapi pelukan Morean hingga semakin memindahkan tangan Morean agar menyentuh perutnya.


 


.


.


.


.


Sajennnn...