
Summer sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kini ia baru saja sampai dirumah miliknya, sungguh Juless benar-benar kebal padahal tidak pernah digubris Summer dan selalu mendapati bentak-bentakkan wanita itu namun ia tetap saja sabar menemaninya, menghantarkannya pulang dan kini membantunya naik ke ranjang, Juless tidak tega melihat Summer tertatih-tatih berjalan.
Sungguh perlakuan, Juless membuat Summer murka, “Sudah ku bilang jangan menyentuhku! Turunkan aku sekarang!” Ia memekik saat Juless susah payah mengangkatnya
“Diamlah, jangan bergerak kau akan membuat kita berdua jatuh.”
“Aku tidak peduli!”
“Tapi aku peduli, ada anakku hidup didalam sini, dia tidak tahu apapun masalah kita.”
Summer terenyuh ia menelan ludahnya, menjadi diam membiarkan dibawa Juless hingga ke dalam kamar, “Aku tidak punya masalah kau yang bermasalah memperkôsaku!”
“Maaf—“ Juless meletakkan Summer dengan baik ke ranjang. “Ayahmu mencarimu, sedari tadi ponselmu berbunyi.”
“Bukan uruanmu! Jangan salahkan aku jika sampai dia tahu aku mengandung dan kau juga keluarga besarmu akan kesusahan olehnya.”
“Mau bagaimana lagi, sudah terjadi yang terpenting jangan usik kakek atau mencelakai orang lain jika tentang harta dan tahta mungkin masih bisa diterima.”
“Omong kosong! Pergi dari sini, aku tidak suka melihatmu!”
Juless melepaskan sepatu yang Summer kenakkan, ia tidak mengindahkan semua ucapan kasar wanita itu, “Kau tidak dengar dokter tadi mengatakan kau tidak bisa ditinggal sendiri, kondisimu belum terlalu pulih, sekalipun kau dokter kau juga memerlukan orang lain untuk membuatmu lebih baik.”
“AAAAAARRRRGGGHhh!!!!!" Summer berteriak histeris, tidak tahu harus berbuat dan berkata apapun lagi, rasanya muak sekali sudah seperti ini, “Terserah apapun katamu, aku tidak peduli lagiiiii!” ambil Summer sebuah bantal lalu menutupi wajahnya.
“Istirahatlah, aku diluar jika kau butuh.” Juless pun keluar membiarkan Summer menutup wajahnya, segera ia menutup pintu.
...***...
Juless merasa lelah sekali, baru saja ia lembur semalaman dan tadi belum juga beristirahat ia sudah dihubungi rumah sakit sebab Summer meminta pulang, mau tidak mau ia harus kerumah sakit dan menunda istirahatnya.
“AWWW......TUHAN!! APA ITU!!!!!!”
Summer memekik kuat sekali, baru saja Jules akan merebahkan tubuh lelahnya disofa, segera ia bangkit dan berlari kedalam kamar Summer, ia terkesiap melihat Summer meringkuk jongkok ketakutan diatas bantalnya sambil menangis.
“Hiksss hikss....
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Lelaki itu mendekat dan seketika Summer menarik tangan Juless dan memeluk lengannya.
Hikss hiksss.... “Itu ada hewan bergerak-gerak dibawah selimut, “Tunjuk Summer selimut tebalnya yang masih terlipat, “Buntutnya runcing sepertinya anak ular.”
“Anak ular?” Juless terkesiap segera membawa tubuh Summer yang menempel turun, “Menjauhlah!”
Ia mengedarkan pandangannya mencari sebuah benda yang bisa dipakai untuk melindungi diri, tidak ada apapun disana, Juless pun mengambil sendal Summer mungkin bisa digunakkan untuk memukul lalu ia tarik perlahan selimut tebal Summer itu.
“Hati-hati Julss!” Summer semakin menempel kedinding saking takutnya.
Namun alih-alih melihat anak ular yang menakutkan, yanf ada didalam sana hanyalah sebuah cable carger, Juless menarik benda panjang itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Ular? Ular listrik?”
Juless mengulas senyuman, “Ya kau tidak pernah berbohong dan selalu benar— selamat malam, tidurlah lagi.”
Summer melepaskan selimut tebalnya, ia bergidik ngeri tidak mau meniduri ranjangnya lagi, “Aku tidak ngantuk!” segera Summer keluar, membuat Juless menggelengkan kepalanya menarik nafas pasrah.
Summer pun menaiki sofa yang akan Juless tiduri tadi, menyalakan sebuah televisi dan memeluk bantalnya, “Ini rumahku terserah aku mau tidur dimanapun.”
Bibir Juless menyimpul senyuman, “Ya tidurlah tidak ada yang melarangmu.” Juless pun pergi dari sana ia berjalan ke arah dapur Summer.
Summer melirik laki-laki itu pergi kedapurnya, lagi-lagi ia mengumpati Juless tidak waras dan kurang kerjaan, “Dasar tidak tahu malu!”
Lama sekali Juless tidak kembali, Summer bahkan lupa laki-laki itu masih ada didapur, Summer yang sudah hampir setengah tidur seketika terjaga saat ia menghidu aroma lezat dan kemudian Juless kembali keruangan tempat Summer berada itu.
Juless memasak sesuatu, semangkuk sup-supan sederhana berbekal bahan seadanya yang ia dapati dari kulkas Summer.
Tiba-tiba saja ada suara perut yang mengerucuk terdengar jelas disana. Summer menelan ludahnya ia malu dan memaksakan dirinya semakin memejam.
Juless tersenyum, “Kau lapar? Ini bahan dari dapurmu, aku siap berbagi jika kau mau...”
Summer mengendikkan bahunya acuh menutupi miring wajahnya, “Tidak, aku bisa memesan makanan sendiri.” Ucapnya didalam sana.
“Terserah....” Juless tertawa, ia menarik sebuah meja mendekati sofa lalu duduk melantai dengan mangkuk sup-nya, lagi dan lagi suara kerucuk pun mengudara, semakin membuat Juless tertawa, “Hey baby, kau lapar? Ya aku tahu kau lapar, ibumu tidak mungkin seperti itu.”
“Omong kosong!”
“Hemm....minuman ku tertinggal.” Juless bangkit berjalan kedapur mengambil minuman dinginnya, segera cepat Summer bangkit dan melirik pada mangkuk sup Juless.
Ia mencebik melirik makanan itu sungguh terlihat lezat dengan asapnya yang mengepul, ia ingin mencicipi kini melirik lagi ke arah dapur takut tertangkap basah ia pun mengurungkan niatnya.
Juless dengan minumannya pun kembali, sedikit tertawa melihat wajah Summer disana ia sangat menggemaskan melihat pada mangkuk itu kemudian berpura-pura tidak melihat saat Juless datang.
“Makanlah.... “
“Tidak, terimkasih.” Tolak Summer.
“Tidak untukmu tapi anakku... “ Juless pun menggeser mangkuk itu mendekat pada Summer, “Makanlah....aku sudah makan di kantor tadi.”
Summer melihat wajah Juless, ia seperti tidak yakin tapi sungguh ia sangat lapar, “Untukku?” ulang Summer.
“Hemmmm, ya....makanlah yang banyak, kau harus sehat dia membutuhkanmu— aku juga...” ucap Juless pelan diujung kalimatnya.