Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 27



Mobil orang suruhan Luke pun memberhentikan Sarla dikediamannya itu, Sarla segera turun matanya langsung menangkap dua orang didepan rumahnya, Sarla kemudian segera memperlambat langkahnya dengan kedua telapak tangan yang ia kepal sedari tadi kini sudah begitu membasah sebab gusar.


Tampak berdiri disana dua orang berpakaian rapi tampak salah seorang yang lebih tua melirik waktu, mungkin mereka sudah lama disana.


Segera ia menoleh lagi kebelakang, melihat orang suruhan Morean yang menghantarkannya tadi sudah berlalu pergi.


Sungguh Sarla tidak bisa memastikan apakah dia hamil saat ini atau tidak, bagaimana jika nanti dalam pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa dia hamil, pasti lelaki itu akan meminta dia menggugurkannya mengingat Morean yang menegaskan dengan jelas dia tidak ingin punya anak dan tidak ingin dia hamil.


Bagi Sarla jikapun saat ini dia hamil dia tidak ada pilihan selain menerimanya, dia adalah anugrah walau dikeadaan yang salah.


Tuhan selamatkan aku.....


Sarla melangkah yakin segera menuju ke teras rumahnya dimana dokter yang dipercaya Morean itu berada.


“Mrs. Wilamo?” sapa asisten dokter itu melihat kehadiran Sarla.


“Ya saya, Sarla Wilamo…” Sarla pun mempersilahkan keduanya masuk kedalam kemudian, sungguh langkahnya begitu berat, bagaimana membuat ini gagal dan tidak terjadi sebuah pemeriksaan.


Namun harapannya sia-sia, Sarla pun mulai melakukan sesi tanya jawab perihal menstruasinya dan jadwal datang bulannya di sebuah ranjang kecil yang ia bentang disana.


Sarla refleks berbohong mengatakan dia sedang datang bulan saat ini saking takutnya, lelaki tua itu begitu sangat ramah ia menyadari kegugupan Sarla, “Tidak apa-apa jangan khawatir…” ia pun terus melakukan observasi Sarla. “Anda pernah mengandung sebelumnya?”


“Ah tidak…”


Sarla kemudian menceritakan perihal dia yang memang mengkonsumsi pil kontrasepsi beberapa bulan ini terkait masalah hormonal dan jerawatnya.


Lelaki itu menatap serius pada Sarla seperti tengah menebak sesuatu, seketika saja ia menyudahi sesinya, “Anda bisa melanjutkan penggunaan pil kontrasepsi itu jika memang benar tidak mengandung, nanti saya akan kirimkan beberapa yang terbaik setelah kembali dari sini tapi jika takut terjadi sebuah keteledoran atau lupa mengkonsumsi pil saya bisa melakukannya kontrasepsi dengan sebuah suntikan.”


Sarla pun segera bangkit, “Ah tidak, tidak masalah saya akan rutin mengkonsumsinya dokter, lalu apakah saya tidak hamil saat ini Dokter?”


Dokter itu menjadi terkesiap, “Kehamilan di tandai dengan telatnya menstruasi dan anda tadi mengatakan bahwa anda sedang menstrusi...."


Sarla tersentak kecil bagaimana bisa dia sebodoh itu menanyakannya itu saking terlalu paniknya, “Ah maaf dokter saya gugup…”


Sarla kemudian segera membahas yang lain untuk mengalihkan agar dokter ini tidak mengulang pemeriksaanya atau memeriksa lebih detail.


Hingga akhirnya Morean pun menghubungi dokter itu menanyakan hasil pemeriksaanya, membuat Sarla menjadi semakin gugup dan berkeringat dingin, ya…dokter menjelaskan menurut hasil yang dia amati Sarla tidak mengandung sebab dia sedang datang bulan tapi jika kurang yakin bisa melakukan sebuah pemeriksaa lebih lanjut dirumah sakit.


Morean tidak mau Sarla kerumah sakit apa lagi menghantarkannya langsung itu akan menjadi sebuah masalah untuk Sarla dan dia sendiri, “Baiklah lakukan yang terbaik, berikan ponselnya pada Nona Wilamo sebentar.”


Dengan malas Sarla pun maraih panggilan Morean tersebut, “Ya!”


“Akan ada acara ditengah kota itu hari ini sebuah festival perayaan yang akan berlangsung hingga malam nanti, Juless ada disana ikut berpartisipasi dalam acara penyuluhan juga donor darah, aku pastikan kau tidak akan kemanapun hari ini, Nona Sarla wilamo.” Tekankan Morean ucapannya segera mematikan panggilannya.


Sarla pun menarik nafasnya berat mencerna setiap ucapan lelaki itu, pantas saja tadi begitu ramai ia lihat tadi dipusat kota kecil itu. "Juless andai kau tahu aku disini di kota ini..."


Hingga dokter yang memeriksa Sarla dan asistennya pun berpamitan pulang Sarla menghantarkannya hingga kedepan pintu, lelaki muda yang merupakan asisten dokter itu berhenti di hadapan Sarla ia seperti sudah menahan diri untuk tidak berbicara sedari tadi hingga akhirnya ia tidak tahan lagi pun berbicara.


Sarla terkesiap, “Ma…maksudnya?” Sungguh jantung Sarla seakan ingin terlonjak keluar mendapati ucapan seperti itu.


Lelaki itu pun mengulas senyuman, “Anda bisa menutupi tapi dokter tahu yang sedang anda tutupi…”


Mendapati ucapan itu Sarla pun melihat Dokter yang sudah pergi itu, segera Sarla berlari turun ia berjalan cepat, hingga berlari kecil megejar dokter yang sudah siap akan masuk kdalam mobilnya itu, tidak ia perdulikan kakinya tidak memakasi sebuah alas kaki, ia begitu panik.


“Dokter… tunggu!” Teriak Sarla membuat dokter itupun menoleh, ia terkesiap atas Sarla yang berlari panik, Sarla mengambil tangan dokter tua itu seketika dan menatap memelas padanya, “Dokter saya mohon apapun yang anda ketahui cukup anda saja yang tahu…. Tentang berbohong dan akibatnya biarkan saya yang menanggungnya, jangan sampai Morean tahu apapun yang anda sedang curigai pada saya….sebab jika benar saya hamil lalu saya akan dibunuh begitupun janin yang mungkin ada dirahim saya…” Sarla meremasi tangan dokter ini ia begitu memohon padanya menatap berkaca-kaca.


Benar sekali apa yang dokter itu tebak Sarla tidak menstruasi dia hanya mencegah pemeriksaan lebih lanjut, dokter tua itu mencoba mengerti keadaan, mungkin saat ini Sarla dalam keadaan terancam, “Saya tidak bisa meyakinkan apakah anda benar hamil atau tidak nona, mungkin saja saya salah anda harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tapi mungkin anda akan aman selama Morean tidak membuat anda melakukan pemeriksaan lebih lanjut”


“Dokter saya mohon…bantu saya apapun yang anda ketahui berpura-puralah tidak tahu, lagi pula anda tidak berbohong saya yang berbohong disini.”


Dokter itu menatap kasihan pada Sarla yang begitu gusar, “Saya turut prihatin atas apa yang anda alami nona, semoga saja anda tidak benar hamil supaya hal yang anda takuti tidak terjadi namun jika sudah terjadi…”


“Ya, dokter saya yakin tidak, seperti yang saya katakan sebelum hubungan itu terjadi saya beberapa hari sebelumnya masih mengkonsumsi pil itu…”


Dokter pun tersenyum, “Semoga semuanya berjalan seperi harapanmu Nona, selamat siang…” dokter itu masuk kedalam mobil.


Dan Sarla melangkah gontai kembali kerumahnya, ia berjongkok takut memeluki perutnya mengucapkan permohonan dia tidak sedang mengandung anak lelaki itu.


Suungguh Sarla sangat ketakutan sekali saat ini ia meremasi tangannya ingin sekali ia memastikan dirinya saat ini, Sarla pun ingat sesuatu haruskah dia membeli sebuah tespack untuk memastikannya sendiri.


***


Di sebuah meeting room hotel, Morean baru saja selesai menghadiri sebuah pertemuan dengan para koleganya kini ia akan pergi lagi bersama Luke dari tempat itu ke tempat lain, sebuah Limosin sudah menyambutnya didepan sana dengan beberapa orang penjagaan yang turut serta masuk dimobil lain dibelakang sana, Morean mendapatkan sebuah undangan pertemuan dari Mr.Watson ayah dari Summer yang di tuding hendak membunuhnya itu, ini merupakan sebuah keanehan bagi Morean hal licik apa yang sedang ia rencanakan, tidak masalah Morean pun menyetujui itu dia bersedia melakukan pertemuan yang mungkin berbahaya untuknya itu.


Sekaligus Morean ingin melihat keadaan lelaki itu sekarang apa yang akan dia hanggarkan saat ini begitu berani muncul lagi padahal sempat menjadi list di daftar pencaria orang lalu siapa yang membackupnya saat ini hingga terlepas dari semua dan tertuntaskan tidak mungkin istri dari Lindon yang juga tidak mempunya apapun selain hanya usaha perternakan dan sebuah pabrik sepatu itu tua.


Luke melihat Morean dari kaca ia sedikit tersenyum, “Kau yakin akan menemuinya? Tidakkah ini membuang waktumu? Jangan katakan jika kau datang untuk mengetahui keadaan Summer Boss…bukan ayahnuya” ucap Luke dengan wajah datar dan dinginnya disebelah supir sana.


“Omong kosong!” Morean menyeringai atas ucapan Luke, “Sudah kau kirimkan ponsel untuk wanita itu?”


“Sudah, dan aku harap dia tidak membuangnya sebab menggunakan ponsel pasti akan membuat dia semakin tertindas olehmu.” Celetuk Luke membuat Morean tertawa.


“Shùt up! Pastikan kau sudah memesan tanah pemakaman untukmu sendiri Luke! agar segera aku menuntaskan ajal mu! Aku sudah muak dengan celotehan sampahmu setiap hari…”


.


.


.


Next »Mak Sajennn, ekwkkw dah mau jadi dukun tar lagi 🗣