
Sarla pasrah Morean malah balik menyerangnya tanpa ampun, jika saat itu dalam tidak sadar kali ini keduanya dalam kesadaran, sofa empuk itu menjadi saksi bisu disana betapa Sarla dihujami tanpa ampun Morean, pakaiannya mereka tergeletak disembarang tempat bahkan Morean membuatnya terobek begitu saja dress yang Sarla kenakkan.
Hentakkan dengan ritme yang masih menggebu masih berlangsung, Sarla menggigiti bibir bawahnya menahan sakit di titik diri bercampur gelobang rasa yang membuat seluruh tubuhnya seakan tersetrum dan meremang.
Hawa panas menyelimuti keduanya dengan suara suara yang menjijikan ditahan tanpa sadar sesekali mengudara.
Pagutan demi pagutan terus terjadi, sesekali berpindah ke leher Sarla menghujami disana hingga menciptakan banyak tanda-tanda kepemilikan Morean disana.
Sarla bukan orang pertama jika tentang virgìn yang pernah ia dapatkan namun Morean tidak tahu saat besama Sarla seperti ini dia ingin terus melihat wajah itu, wajah cantik nan sendu penuh keteduhan membuatnya tenggelam jauh ke diri wanita ini, membuat dia terkadang merasa bersalah namun ia tidak mengerti begitu menggelegak dan tidak terima jika mengingat tentang Sarla terhadap Juless.
Tok
Tok
Tok
“More!”
Suara Juless terdengar diluar sana, Morean sangat terkesiap segala yang belum tertuntaskan terhenti seketika, ia turun dari sana dan panik berlari ke pintu untuk menguncinya dari dalam dengan sebuah kunci lain, sebab dia ingat Juless punya akses masuk kedalam kamarnya.
“Pergi kesana!” Morean memerintah tanpa suara meminta Sarla bersembunyi, Sarla pun memunguti pakaiannya dan cepat berlari.
“More!” Juless memanggil lagi dan memutar mutar handle pintu, Morean yang panik pun memunguti pakaiannya dan langsung ia kenakan.
“Ada apa?” sahut Morean dari dalam berusaha tenang. “Jika tentang hal yang tidak penting, pergilah! Aku ingin beristirahat.” Morean terus berpakaian seraya melihat dari jauh Sarla yang bersembunyi disana juga memakai kembali pakaiannya.
“Makanan sudah siap, Kakek memanggilmu!”
“Sebentar lagi aku datang, pergilah!” Morean pun sedikit membuka pintu berusaha berbasa-basi.
Dan disambut oleh bahu yang mengendik acuh Juless, seraya melirik sang paman dari atas hingga bawah menerka-nerka apa yang sedang Morean lakukan lalu segera pergi dari sana.
“Sudah bosan di appartemen atau hotel tidak lagi menarik, harus membawa perempuan pulang kerumah.” Juless berucap mencibir menjauh dari sana, ia sangat paham pasti sang paman sedang menyimpan perempuan dalam kamarnya.
Sedikit menebak siapa wanita itu apakaj lebih dari Summer, jika sudah membawa kerumah artinya bukan sesuatu yang biasa, tidak masalah Morean yang mengatakan tidak tertarik untuk serius kini termakan ucapannya sendiri.
Ya…. dia mungkin sudah mendapatkan pengganti Summer yang bisa membuatnya bisa serius.
Morean kembali menutup pintu kamar lalu mencari Sarla kembali tampaknya dia dalam kamar mandi memebersihkan diri, Morean pun pergi ke mini pantry sisi kamarnya untuk minum sekalian memeriksa keadaan Sarla, tegukan demi tegukan pun Morean habiskan air itu melihat pada pintu, tidak lama Sarla pun keluar memakai sebuah handuk.
“Aku tidak ada pakaian….” lihat Sarla pada Morean yang malihatnya seolah acuh.
Morean berdehem, dia tahu itu sebab dia tidak sadar merobek pakaiannya, “Cari di lemariku mungkin ada yang bisa kau gunakan….aku akan keluar menemui ayah ku makan siangnya sudah siap, Luke nanti akan menhantarkan makakanmu..” Ia pun meletakkan gelasnya dipantry kembali dan segera pergi dari sana.
Sarla masih mematung disana melihat Morean pergi beberapa detik kemudian Morean pun menoleh melihatnya. “Jangan buka pintu siapapun yang memanggil, sebab Luke tidak akan memangil untuk meminta di bukakan pintu dan 1 lagi jangan lagi mengintip, istirahatlah…”
***
Setelah Morean pergi, lama Sarla memeriksa walkin closet milik Morean itu, ia tidak tahu apa yang akan cocok untuknya, semuanya adalah penuh dengan susunan rapi jas dan kemeja-kemeja sepertinya adalah dibuat khusus untuknya, lihatlah semua brand ternama ini sepertinya melakukan kerja sama dengan keluarga Morean, Rz merupakan logo dan identitas dari keluarga Rodriguez Sanden yang Sarla lihat juga di appartemen.
Hingga Sarla berhenti disebuah susunan kaus yang terlipat rapi, dia semakin bingung yang mana boleh ia kenakkan terlalu banyak, netra Sarla pun membelalak disebalh sini penuh dengan aksesoris pendukung yang sering lelaki itu gunakan membuat mata Sarla seakan berkilau melihat benda-benda mahal itu rapi disana.
Hampir setengah jam ia bahkan belum juga mentukkan yang akan ia pilih, Sarla menggigit jemarinya jika tidak memakain pakaian Morean akan menyerangnya lagi, Sial, Sarla tadi kau yang memancingnya saking ketakutan telah mengintip Juless takut dia berbuat hal yang tidak baik pada Molina.
Hingga akirnya pilihan Sarla kembali lagi pada lemari diawal sebuah kemeja besar berwarna hitam Sarla ambil disana dan segera memakainya, ini lebih baik bahkan seperti dress yang sangat besar saat ia kenakkan, Sarla pun kembali merapikan dirinya lalu mengikat ulang rambutnya yang sudah dibuat Morean tadi berantakkan.
***
Di tempat lain Luke belum juga kembali ke kamar menghantarkan makanan untuk Sarla seperti yang diperintah Morean karena tidak ada yang boleh masuk selain dia.
Luke sedang mengurusi masalah penembakkan Morean ternyata mereka salah sangka ada pihak lain lagi yang memang sudah beberapa waktu ini bahkan sebelum terjadi masalah besar kala itu sudah mengintai Morean dan akhirnya kini tugas Luke bertambah semakin banyak setelah beberapa waktu belakang ini begitu aman kini datang lagi orang-orang yang meneror Morean.
Di dalam kamar Sarla kembali duduk di sofa, rasanya sangat segan sekali untuk merebahkan diri di ranjang itu, dia merasa bukan siapa-siapa untuk menempati tempat itu kastanya adalah jauh dibawah dan merupakan perempuan yang hanya dijadikan sebagi pemuas ***** saja.
Sarla menatap nanar pada televisi yang menyala tanpa suara itu, ini akan berlangsung sampai kapan? Seketika saja Sarla ingat sesuatu dan memegang perutnya dia tidak menggunakan kontrasepti apapun, dia juga tidak lagi meminum pil kontrasepsi yang dia biasa minum dari sebuah klinik tempatnya konsultasi sebab mengalami gangguan hormonal menyebabkan wajahnya pernah sangat berjerawat dan beruntusan.
No tidak, Sarla yakin dia tidah hamil sebab ia yakin pil kontrasepsi yang ia gunakan untuk gangguan hormonalnya itu pasti masih berefek sebab dia baru saja satu minggu sebelum kejadian mengkonsumsinya, tidak mungkin semudah itu hamil bukankah rahimnya butuh penyesuaian atau mendetoksifikasi setelah menggunakan pil itu.
Waktu pun terus merangkak maju kini bahkan sudah hampir menjelang sore, Morean dan Luke tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya menghampiri Sarla, hawa kamar yang dingin serta suasana yang hening serta pergelutan tadi membiuat Sarla mengantuk ia pun benabenar terpejam disana, meringkukan tubuhnya memeluk sebuah bantalan sofa.
Tidak lama Morean pun masuk ia membawa makanan untuk Sarla sendiri membawa sebuah baki dengan susah payah membuka pintu kamarnya sebab satu tangannya diperban.
Luke sudah mengabari dia sedang berada di luar mengurusi beberapa hal, pemandangan yang pertama kali Morean lihat tentunya tubuh mungil yang meringkuk itu mengenakkan sebuah kemeja hiyam miliknya dengan wajah sangat pulas memeluk bantal, Ia tersenyum menahan
segera meletakkan makanan itu dimeja menatap lamat-lamat Sarla dari jauh entah apa yang menyambarnya ia pun segera merendahkan tubuhnya dan mengangkat Sarla untuk berpindah keranjang.
Morean menahan sakit yang masih termat di bekas operasi itu meletakkan Sarla penuh kehati-hatian dan di posisi terlentang yang nyaman.