
“Pergi Juless! aku tidak ada urusan lagi dengan Summer…” Morean yang tadinya begitu terkesiap pun mencoba untuk tenang , itu adalah kejadian yang sudah berlalu, ia sudah menerima kenyataan dia dan Summer tidak lagi ada urusan dan hubungan apapun, Summer dan keluargnya lah yang mengakhiri semuanya.
“More, kau berbohong! Kau berpura-pura tidak peduli, aku tahu bagaimana kau mencarinya.”
Juless pun mentetawakan sang paman.
“Keluar Juless!” Morean bersitegas, ia yang tadi membuat tubuhnya menegak kini berangsur merebahkannya, “Jangan campuri urusanku, aku ulangi sekali lagi, aku tidak ada urusannya lagi dengan Summer dan tidak ingin berurusan dengan kau juga gadis yang kau cari itu."
Luke pun mengerti sebelum diperintah ia mendorong Juless keluar sebelum Morean benar-benar kesal dan akan lepas kendali pada sang keponakan.
Juless yang terdorong oleh Luke pun memelas lagi, “Bantu aku Luke, pinjamkan aku orang-orangnya hanya orang-orang More yang aku tahu punya kemampuan melacak dan sesuatu yang bahkan sampai jarak yang sangat jauh sekalipun ….”
“Pulanglah Juless, More sedang sakit…”
“Luke, tunggu dulu!”
“JULESS MENGERTILAH!” Luke pun meninggi menjadi kesal dan memekik, “Pergilah kau jangan membuatnya terpancing emosi, kau bisa di lemparkan langsung ke Amerika tanpa peduli kau mau atau tidak.”
“SIAL!” Juless pun menyerah, ia memasang wajah kesal menatap Luke sinis, “Baiklah aku bisa mencari tanpa bantuan kalian, aku bersumpah tidak akan meminta bantuan pada kalian sampai kapanpun!” Juless terus menggerutu berlalu dari sana.
...***...
Beberapa hari berlalu Morean tidak pernah kembali ke appartement dimana dia meninggalkan Sarla, dia juga sama sekali tidak memberikan kabar apapun pada Sarla, dua orang pembantu yang melayaninya disana tidak pernah sekalipun menjawab apapun pertanyaan Sarla mereka seperti dibuat untuk tidak akrab apa lagi berbaur dengan Sarla menghindari kedekatan dan akan iba pada Sarla lalu membuatnya bisa keluar dari sana.
Setiap hari yang Sarla lakukan hanya menatap keluar jendela besar appartement itu melihat gedung-gedung indah disana dan burung-burung yang berterbangan kesana kemari, merasa ingin sekali bisa sebebas burung dia bisa bebas kesana kemari tanpa perlu memikirkan apapun selain makanan, Sarla mengulas senyuman menutup lagi gorden itu, semuanya saat ini terasa sangat membosankan.
Sehari dua hari dia menikmati ketidakberadaan Morean, namun hari berikutnya ia mulai bertanya-tanya kemana dia, terakhir kali ia mengatakan akan ke rumah sakit mengunjungi sang ayah, apakah ada sesuatu hal yang terjadi disana.
Sarla mencoba tidak peduli itu namun akan sampai kapan ia seperti ini, bahkan segala hal keinginannnya yang Morean minta tulis di sebuah kertas sudah ia titipkan pada pelayan untuk diberikan pada Luke sang asisten akan tetapi lelaki bernama Luke pun tidak kunjung datang kesana hanya saja semua kebutuhannya tampak disiapkan disana, pakaian, makanan, apapun yang ia butuhkan semuanya terpenuhi.
Sarla kembali naik ke atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya disandaran, ia tidak pernah duduk lama dan berdiam lama dalam rumah seperti ini tanpa melakukan apapun, setiap hari biasanya ia lakukan untuk mencari uang dan uang namun kini semuanya berbeda jauh ia harus terkurung dalam sebuah tempat yang bisa memberikannya apapun namun tidak kebebasan.
Netra indah Sarla melihat pada foto keluarga yang ada disamping ranjang itu lagi, ia bukan Morean yang dia lihat melainkan Juless sang mantan kekasih, seketika Sarla mendekat dan menutup foto keluarga itu, rasa benci sudah menyelimutinya pada lelaki bernama Juless itu, ia tidak menyesal mengakhiri memang pantas mereka berakhir dia terlalu kekanak-kanakan dan tidak bisa berfikir sebelum melakukan tindakan yang berefek fatal.
Tok…
Tok…
Tok…
Suara ketukan pintu membuyarkan kekesalan Sarla, “Masuk saja,” Sarla tahu itu adalah seorang pelayan ini adalah waktu makan siang dan sepertinya dia akan menghantarkan makanan untuknya.
Pintu pun terbuka membuat Sarla menoleh, “Maaf nona, Tuan Morean meminta anda bersiap-siap seseorang akan menjemput anda untuk pergi ke tempatnya, permisi.”
“Tunggu, Bibi! Dia akan membawa ku kemana?” Sarla pun bangkit melihat pada wanita yang menunduk hormat itu.
***
Kini Sarla sudah dalam perjalanan menuju ketempat yang ia sama sekali ia tidak tahu itu, sebuah gaun sederhana berwarna coklat muda membalut cantik tubuh rampingnya dengan rambut yang dibiarkan terurai dan sebuah handbag kosong yang ia dapatkan disana namun tidak berisi apapun, lelaki bernama Morean itu tidak memberikannya ponsel atau uang secara cash mencegah sesuatu yang buruk di lakukan.
Lagi dan lagi Sarla menanyakan tujuannya akan kemana tetap saja dia mendapatkan jawaban yang sama sebuah jawaban ketidak jelasan, Sarla pun memilih diam melihat jalanan dikuar sana gedung-gedung kontemporer dan klasik yang berdiri indah disepanjang perjalanan mereka dengan musim semi yang masih berlanjut mengeluarkan daun-daun dari pohon-pohon yang lama sudah lama terlihat seperti mati.
Tidak lama sampailah mereka disebuah mansion yang jalan menuju kedalam pintu utamanya itu begitu sangat jauh, jarak pintu gerbang hingga dengan rumah bahkan hingga ratusan meter, Sarla bertanya-tanya dia akan dibawa kemana, mungkinkah ini kediaman lelaki itu dna keluarganya? Tidak, dia tidak mungkin mempertemukan aku dengan keluarganya dan pastinya ada Juless disana.
***
Morean didalam kamarnya terkesiap ia yang masih menggunakan perban dilengan tampak sangat kesal dan marah seorang pelayannya salah menyampaikan informasi yang Luke perintah sampaikan kepada supir mereka, harusnya menghantarkan Sarla kesebuah restoran favorite keluarga mereka sebab Morean akan mengajak Sarla makan siang, akan tetapi mereka malah membawa Sarla kerumah dan berfikir aka nada acara makan siang di kediaman keluarga Rodriguez itu.
Sarla tampak sudah dipersilahkan turun dari mobil, Luke pun segera bergegas berlari-lari keluar sana untuk membuat Sarla masuk lagi kedalam mobil, namun tiba-tiba sebuah kebetulan yang tidak diinginkan pun terjadi, mobil Juless juga berhenti diparkiran besar kediaman itu.
Luke segera menarik Sarla untuk masuk kedalam sana dan membawanya cepat berjalan masuk kedalam kamar Morean dengan berlarian sebab kamarnya berada di tempat yang lumayan jauh.
Luke membuka cepat kamar Morean dengan akses yang ia juga punya, segera membuat Sarla masuk, nafas Sarla masih begitu tersenggal-senggal di bawa Luke berlari, kakinya bahkan sempat keseleo sebab stiletto yang ia kenakan terlepas menendang undakan tangga naik keatas tadi.
Luke kembali keluar sementara Sarla sudah aman didalam kamar Morean, ia mengaduh atas kakinya yang sedikit memar, “Apa yang terjadi dengan kakimu?”
Sarla mengacuhkan kakinya dan pertanyaan Morean, ia segera melihat lengan Morean, “Apa yang terjadi dengan lenganmu?” Tatap Sarla serius pada perban-perban di lengan Morean itu.
Morean mendengkus lalu bibirnya menyimpul cibiran, “Jangan berpura-pura memperdulikan ku, aku tahu kau pasti sangat senang aku tidak datang kesana,bukan? Kau munin berharap aku sudah mati, sembuhkan luka mu, kotak p3k disebelah sana!” Tunjuk Morean kesuebiah laci dan pergi kesisi lain kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next » Healing dulu ya guys nanti lagi, tggu tampilan like ku indah, rankku naik 🙃