
Seharian Sarla merasa sangat bersalah juga gelisah, ingin sekali meminta maaf tapi sang ego terus menariknya jangan lakukan.
Sarla bahkan memasak banyak dari bahan-bahan yang Morean belikan berniat ingin menemui Morean membawakan makanan ke kantornya sebagai ucapan permintaan maaf telah membuat lelaki itu begitu kesal.
Namun sungguh Sarla takut dia hanya sebuah wanita sampah mungkin kedatanganya tidak akan diterima lelaki itu dan memalukannya disana.
Tapi Sarla tidak bisa menyerah jika belum mencobanya, Sarla terus meyakinkan diri ia harus menemui lelaki itu dan semoga lelaki itu mau menemuinya dan jika tidak bertemu mungkin bekal makanan yang Sarla buat bisa di titipkan kepada para penjaga disana.
Sarla bergegas bangkit, Iya sudah yakin kali ini akan datang ke kantor lelaki itu, Sarla tahu dimana tempatnya dan memakan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk sampai disana.
Ia tidak tahu apakah Morean bisa memakan makanan seperti ini namun ini cukup sehat berbentuk kudapan jenis salad sayuran dengan daging yang di grill dengan kematangan medium, bagi Sarla ini adalah sebuah makanan mewah ia jarang sekali memakannya namun inilah bahan-bahan makanan yang Morean beli untuk isi kulksa Sarla.
Dua kotak bekal berwarna merah muda dengan motif polka sudah ia siapkan, kini Sarla pun bergegas mengganti pakaian untuk kemudian keluar kesebuah jalannan besar menggunakan autobus menuju tengah kota kantor dimana gedung perkantoran Morean berada.
Beruntung hari tidak terlalu terik, Sarla merasa aman berjalan kaki, masih antara yakin tidak yakin pergi kesana, Sarla juga berfikir apakah ini salah atau benar mendatangi sumber masalah dalam hidupnya.
Di perjalanan menuju tempat pemberhentian autobus, dia melihat sebuah apotek obat, sesuatu yang terus menggejolakinya membuat Sarla berniat mengmpiri tempat itu.
Ya apa lagi jika bukan untuk membeli sebuah tespack, dengan ragu dan juga canggung akan membeli benda itu, Sarla pun segera masuk tidak beralama-lama segera mengambil dan membayarnya.
Sarla segera memasukan kedalam tas kemudian berlari kecil segera menaiki angutan umum itu, penumpang cukup sepi saat ia naiki, Sarla mengeluarkan benda itu dan membaca-baca petunjuk pemakaiannya, efektif dilakukan saat pagi hari, ia masih terus berharap ini membawa pada hasil yang negatif.
Sebuah tarikan nafas yang berat pun mengudara, Sarla menoleh pada jalanan diluar sana, ia berada disebuah keramaian namun ia merasakan sebuah sepi dan sendiri.
Lagi-lagi Sarla memeluk perutnya lagi, jika benar didalam sini dia ada makhluk kecil itu, dialah yang akan menjadi bagian terpenting hidupnya nanti, teman dalam segala hal, tapi kau tidak pernah diharapkan iblis itu, tenang aku selalu menginginkanmu apapun nanti kita akan selalu bersama.
Beberapa lama diperjalanan akhirnya membawanya sampai disebuah pusat kota, Sarla mulai was-was lagi memakai sebuah topi.
Kini ia memakai pakaian yang tidak pernah ia pakai dan bukan stylenya dia seperti biasa, begitu feminim sebuah dress di atas mata kaki dan topi bermotif buka dikepalanya, di waktu sekarang biasanya Juless ada di kampus dia akan sibuk dengan tim basketnya tepat di hari rabu.
Dari jauh sudah Sarla lihat gedung tinggi itu diseberang sana, akan bagimana dia masuk dan menerobos penjagaan disana, Sarla pun mengeluarkan ponselnya yang tidak pernah ia gunakan itu, dia akan menghubungi Morean melihat responnya dan memastikan keadaan.
Sarla melangkah, berdiri tepat diseberang gedung, Sarla pun mencari kontak panggilan Morean yang sudah di tersimpan diponsel itu.
***
Morean yang tadi datang ke kantor terlambat karena pagi tadi berada di tempat Sarla kini tampak akan pergi lagi keluar, ia akan melakukan beberapa pertemuan salah satunya menemui dokter yang menangani sang ayah lagi yang tidak lain adalah Summer membahas ayahnya yang memaksakan kembali pulang.
Morean berhenti saat ponselnya ia dapati berdering, Luke yang sudah masuk kedalam elevator pun berhenti menunggu bosnya itu.
Morean mengangkat satu alisnya ke atas saat ia lihat yang memanggil adalah nomor ponsel yang dia berikan pada Sarla.
Morean mengacuhkannya sengaja masih sangat kesal atas Sarla yang tidak sedikitpun menghargai apa yang dia buat dan selalu menganggapnya hanya menciptakan sebuah penderitaan saja untuknya.
Morean segera masuk kedalam elevator, mencoba mengalihkan Sarla yang akhir-akhir ini mengisi kesehariannya yang memang banyak menyita waktunya.
Hingga Luke dan Morean siap keluar dari gedung perkantoran itu, Morean membiarkan ponselnya trrus berdering bahkan ia membuatnya silent untuk tidak mengusiknya.
Didepan sana Sarla memberanikan diri menyebarang ia sangat was-was akan dimarahi lelaki itu lagi atau terjadi sebua kesialan yang membahagiakan yaitu bertemu Juless.
Namub belum Sarla sampai digerbang ia sudah di hampiri oleh penjagaan disana, gerak-geriknya sungguh sangat mencurigakan.
“Apakah ada yang bisa dibantu, Nona?” Lelaki itu menatap Sarla dari atas hingga kebawah.
“S-saya ingin bertemu Tuan Morean, apakah dia ada didalam sana?”
“Ma'af kami tidak mendapatkan pemberitahuan apapun nona, anda datang atas perintah dari sebuah agency mana nona? bisakah anda hubungi atasan anda, maaf sebab kami tidak bisa mengizinkan siapapun masuk tanpa sebuah izin.” Jelas lelaki itu ia pun meninggalkan Sarla yang berdiri disana.
Sarla tidak tahu harus bagaimana dia pun terus berusaha mendatangi penjaga itu dan rekan-rekannya yang terus memantau pada sebuah layar.
“Maaf tapi apakah Morean ada didalam.” Sarla ingin memastikan lagi.
Lelaki yang berdiri itu kembali mengangguk hormat, “Maaf nona kami tidak bisa memberikan informasi apapun kepada seseorang yang tidak diketahui tujuan pastinya datang, ini demi menjaga keselamatan dan merupakan peraturan yang ada.”
“Maaf Nona, tapi tidak bisa menitipkan apapun kecuali mempunyai izin khusus dan pemberitahuan dari dalam.”
Mereka terus menatap aneh pada Sarla, yang terus berusaha ingin menemui Morean, dari tampilannya tidak tampak seperti kelas para bangsawan, keluarga kalangan atas atau model-model terkenal yang mana wanita ini hanya berjalan kaki turun dari Autobus dengan sendal jepitnya.
"Saya mohon, izinkan saya menitipkan ini." Sarla terus memohon.
Da akhirnya mereka disana mulai hilang kesabaran memilih tidak lagi merespon Sarla, hingga Sarla pun menjauh dari sana mengusap peluh didahi yang tertutup topi, ia rasa tidak bisa berdiri lama-lama seperti ini kepalanya akan terasa pusing dan membuatnya mual seperti saat kemarin.
Tidak tahu harus bagaimana, nyatanya menemui lelaki itu tidaklah mudah, dia yang datang dari jauh membawa bekal menjadi sia-sia, Sarla sedikit memijat pelipisnya lalu berjalan ke ujung area pintu masuk tepat disebuah taman selamat datang perusahaan itu dan ia duduk tepat dibundaran taman itu melantai disebuah undakan.
“Aku mohon jangan mengusirku, sebentar saja, biarka aku istirahat sejenak,”gumamnya menepis mentari yang terik mengenai wajah dengan tangan.
Namun sesuai dengan firasatnya lelaki penjaga disana bangkit, duduk taman itu adalah sebuah hal yang dilarang sebab sangat merusak pandangan.
“Nona pergilah dari sini, kami akan marahi jika ada melihat anda disana,”
Sarla semakin memicingkan mata, mengahalau cahaya, “5 menit, saya takut pingsan dijalanan kepala saya mendadak tidak nyaman.”
“Maaf nona atau duduklah didepan sana, tolonglah mengerti, kami bisa dipecat atas ini.”
Mendapati ucapan seperti itu Sarla pun mendengkus ia berangsur bangkit membawa kantung bekalnya lagi dengan langkah yang pelan sebab ia mendadak mual.
TIIIIIIIINNNNNNNNNNNNN....
Mobil yang ditumpangi Morean, Luke seketika mengerem mendadak seorang penjaga disana tepat didepan mereka tampak berbicara pada Sarla menunjuk-nunjuk kearah lain.
Morean tidak melihat kedepan dia sibuk dengan ponselnya, Luke terkesiap saat Sarla membuka topinya mengusap wajah dengan satu tangan.
“Bos! Nona itu!”
Morean melihat apa yang membuat Luke bersuara, “Sarla?” Meletakkan ponselnya begitu saja Morean pun turun, “Ada apa ini?” Morean besuara tegas.
“Ah, maaf Tuan nona ini ingin menemui anda namun saya hanya menjalankam peraturan perusahaan bahwa tidak bisa menerima seseorang masuk tanpa perintah atau pemberitahuan apapun, saya memintanya ke taman depan menunggu.”
“Pergilah!” Morean mengerti itu.
Kini Sarla yang datang karena merasa bersalah itu pun menuduk mengenakan lagi topinya, “Ma-af....” Lirihnya tidak menatap wajah Morean takut Morean marah.
Morean tidak menyangka dia akan nekat datang Morean pun segera menarik Sarla masuk kesalam mobilnya, membuat Luke keluar dan berpindah kedepan, Mobil pun berlalu dari sana.
Didalam mobil tatapan lelaki itu begitu dingin tidak berucap apapun membuat Sarla meremasi jemarinya takut. “Kau tahu itu bahaya, kau tahu kau mendatangi bahaya dengan mengatakan mencariku!”
“Ma-af....”Sarla masih menunduk, “Aku hanya ingin menghantarkan ini, lain kali aku tidak akan datang.”
“Batalkan pertemuan dengan Summer, Luke! Hantarkan aku ke appartement jemput aku malam nanti menemui Tuan Erdrow...ayahku akan baik-baik saja dirumah sakit.
Sarla terkesiap, “Jangan batalkan apapun acara mu, turunkan aku di pemberhentian Bus, aku hanya ingin menghantarkan makanan untukmu, tidak lain.”
“Tidakkah iblis ini punya hati, kau fikir aku bisa menelantarkanmu.” Lelaki itu berucap dingin namun sukses membuat Sarla menghanga seperti mendengar sebuah ucapan dalam kehalusinasian.
.
.
.
.
#Sajeeeennnn malam jumpat 👻