
“Stevanus siàlan!”
Summer menggeram, kedatangannya kerumah sakit tempat Stevanus bertugas hanyalah sia-sia. Dimana dia sudah menunggu 1 jam menunggu dokter itu namun berakhir pada jawaban dia yang mengecewakan.
Stevanus membawa-bawa perjanjian dokter agar tidak membuka privacy pasien untuk hal-hal pribadi orang lain, Summer menggeram kesal, ia tidak pernah menjadi seperti orang yang tidak waras dan berlaku diluar kendali seperti ini sebelumnya.
“Ayah kau harus bertanggung jawab! Semua ini karena mu!” Summer menggeram kesal meremasi stering mobilnya. “Juless...ya Juless.” Summer ingat lelaki muda itu dia dan Juless amat dekat dulu.
Segera Summer menuju kerumah sakit lagi yang mana memang sudah tugasnya siang ini, berharap dia bertemu Juless ia ingin terang-terangan dan jujur pada Juless bahwa masih sangat mencintai Morean agar lelaki itu bisa membantunya.
Di tempat lain Watson tengah memukuli satu orang anak buahnya yang baru saja kembali ke gudang, bisa-bisanya mereka gagal dan tertangkap, sekarang artinya Morean sudah membentuk pertahanan lebih ketat mungkin juga sedang melakukan serangan balasan.
Tidak mungkin yang tertangkap tidak memberitahukan siapa yang memerintahnya jika diancam akan dibunuh.
”Tooloool! hanya menerobos saja kalian gagal!”
Bugh...Hantaman demi hantaman melayang pada lelaki itu.
“Mereka adalah para lulusan pertahanan terbaik Bos, mereka mempunyai trick dan senjata hebat.”
“Aku tidak peduli itu! Pengalaman kalian lebih banyak, awasi terus aktivitas disana! termasuk lintasan bawah tanahnya, cari celah bagaimanapun caranya bawa wanita itu kehadapanku hidup, mati atau terluka.” Watson pun pergi dari sana.
“Baik Bos!”
Summer kini menghubungi ayahnya, ini cara paling cepat untuk hal apapun, “Ya Summy?” Watson mengangkat panggilan itu.
“Dokter Stevanus, rumah sakit Galapagos medistry tahu siapa wanita Itu dan apa yang dia alami, dokter itu tidak mau memberikan informasi apapun kepadaku.”
Watson tertawa untuk pertama kalinya sang anak berlaku seperti ini, “ Kau akhirnya membutuhkan ayahmu Summy?”
“Berhentilah berbasa-basi ayah, semua ini kau yang membuatnya berantakan.”
“Hidup dan matiku untukmu Summy.”
“Stop ayah! Aku butuh petunjuk bukan ucapan manis dari sang master of muslihat sepertimu.”
“Hahaha, Kau membuatku rindu ibu mu, Sammy, ayah akan menemui dokter itu langsung untukmu putri kecilku.”
...***...
Sore hari Morean membawa Sarla ke sebuah wahana bermain yang ia mau itu, sebuah tempat dimana suara-suara terdengar berisik, menjelang sore suasana semakin ramai, warna-warna cerah tampak mendominasi di sana, balon-balon yang terbang, musik-musik ceria mengudara.
Sarla spechless saat memasuki sebuah pintu masuk, “Kita akan masuk More?” Ya Sarla memanggil nama itu dengan tak canggung lagi.
“Jika kau mau hanya diluar pagar aku tidak masalah.” Lelaki itu mengulas senyumannya, mereka sedang mengantri pembelian tiket.
Sarla pun tertawa, “Tidak, aku mau masuk!”
Keduanya memakai pakain senada, Sarla dengan blouse putih garis-garinya dan Morean hanya mengenakan Sweater putih garis-garis seperti yang Sarla siapakan, lelaki itu masih dengan outfit yang bukan dia sekali begitu juga rambutnya, Sarla merubah itu.
Hingga Morean pun sudah mendapatkan tiket untuk mereka masuk, tangannya kembali menggenggam Sarla, “Kau siap?” ketulusan terpancar di mata lelaki itu menatap Sarla.
Dan di sambut antusias oleh Sarla, “Tentu.” Merekan pun berjalan masuk, mata Sarla langsung berbinar yang mana ia lihat begitu menyenangkannya warna-warna dan cahaya disana.
Mereka menyinggahi sebuah gerai penjualan aksesories dan sovenir Sarla ingin membeli sebuah bandana dan sebuah tas kecil, ia masuk dengan hebohnya.
“Hati-hati!” Ingatkan Morean saat Sarla nyaris ditabraki banyak orang.
“Aku mau itu...aku mau itu!” Antusias Sarla langsung memilih sebuah bandana, ia memilih dan memakaikannya kekepala Morean, “So cute!” Sarla memegang pipi Morean, “Kau menggemaskan More.” Haha.
Morean tertawa sdan melepaskan, kemudian memilihkan untuk Sarla, “Ini bagus.”
“Oh ya? Aku cantik?”
“Lumayan.” Morean mengusap rambut Sarla, Dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini, hal sederhana dan biasa walau dari jauh sana para bodyguard menjaga mereka dari jauh.
Sarla pun kembali menariki Morean keluar dia mulai membeli ice cream lalu menunjuk sebuah komidi putar untuk mengajak Morean naik, “Aku mual berputar-putar.”
Sarla pun memelas, “Please....” Puppy eyes menggemaskan membuat Morean tidak bisa mengatakan tidak.
Hingga mereka pun menaiki wahana berputar berbentuk kuda-kuda Sarla tertawa disana saat Moream tampak takut, “Hanya 1 kali...” Pinta lelaki itu.
Sarla pun tertawa, “Ya sekali, pegang tanganku!” Sarla menggenggam tangan Morean mereka duduk bersebelahan di kuda berputar itu.
Sarla begitu gembiranya matanya memancarkan itu, Morean mengeluarkan sebuah ponsel, moment langka ini sepertinya harus ia abadikan.
“No! Jangan abadikan apapun, biarkan perpisahan kita nanti hanya menyisahkan kenangan di memori kepala dan hati tapi tidak dalam sebuah wujud gambar, seiring waktu tahun ke tahun terlewati kau dan aku akan saling melupakan dan memori mu akan terisi dengan hal lain namun jika foto mungkin saja kau akan lupa menghapusnya, bagaimana jika kau merindukan ku...hahhaa akan dimana mau mencariku?”
Morean menyimpan ponselnya ia tidak suka Sarla membahas itu, “Ayo ketempat lain.” Lelaki itu pun bangkit, serasa ada yang berdenyut di titik dirinya.
“Ya itu lebih seru!” Gandeng Morean lagi tangan Sarla. “Kau ingin digendong sampai sana!”
Sarla kembali tertawa, Sebenarnya Mama sedih nak, bolehkah Mama nangis? Ayah mu lelaki yang baik dia melindungi kakekmu, ibu juga kau tanpa dia sadari.
“Tentu, jika kau tidak keberatan!”
Morean pun turun dari komidi putar itu lalu merendahkan tubuhnya agar Sarla naik, betapa gembiranya Sarla ia tertawa memeluk leher Morean meletakkan kepalanya di pundak lelaki itu.
“Kita berlari?” Morean memperlihatkan tawa menyimpan pedihnya.
Sarla pun berteriak, “Ayo lari, Moreee!” Ia semakin berpegang kencang pada leher Morean mereka tertawa sampai diwahana permainan lain.
Berbagai macam permainan mereka mainkan, memancing, melempar bola mendapatkan boneka, memukul kelInci, Morean memainkan itu semua untuk Sarla, beberapa kali ia gagal dan mereka tertawa hingga Morean yang sudah kesal pun memarahi tongkat pemukulnya.
“Menangkan aku, jika tidak tempat ini aku tutup hari ini juga!”
Sarla sukses tertawa atas kefrustasian Morean yang kalah itu, “Sini aku coba memukul kelinci itu!”
“Kau tidak bisa.” Morean menepis.
“Bisa, coba sini!” Tarik Sarla lagi tongkat itu, “Satu...dua...ti—gaaaaa....Yeaayy aku berhasil!”
Sarla pun mentertawakan Morean ia memeluk lelaki itu mentertawakannya, “ Kau menang dalam pekerjaanmu tapi tidak diluar itu.”
“Kau hanya sedang beruntung saja!”
“Terserah yang penting aku menang,” Sarla sedang menunggu hadiahnya, dan segera ia ambil setelah penjaha mengeluarkan boneka itu. “So cute, baby panda dia lucu bukan?”
“Jelek!” Morean masih kesal dia tidak bisa memenangka itu.
Haha, “Kau hanya kalah dalam hal ini—“ Tapi kau memenangkan hati aku dan anak kita, Sarla kembali menarik nafasnya. “Panggil dia baby M!”
“Baby M? Dia adalah Panda, harusnya baby P! Kau ingin merubah takdirnya menjadi Manda?”
“Kau bisa bercanda, Baby M adalah huruf depanmu.”
“Kau tidak ingin membuat kenangan tapi kau menamai dia denganku, bagaimana jika kau merindukanku?”
Bibir Sarla melengkung tipis, menetralkan sesak yang datang lagi. “Aku tidak akan merindukanmu, percayalah.” Ini hanya boneka More, bagaimana dengan dia yang ada dalam perutku, seumur hidupku dia akan membuatku mengingatmu.
Setelah puas memainkan semua wahana permainan mereka pun beristirahat disebuah taman, tepat dilapangan dengak rerumputan hijau yang rapi, Sarla kelelahan setelah berlarian ia mengajak More duduk disana bersama orang-orang lain yang tampak beristirahat juga.
“Are you happy?” Tanya Morean menatap pada Sarla disampingnya.
Sarla tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya berbaring direrumputan itu, menatap pada langit sore yang mulai merah. “Seratus persen happy.”
Tidak lama Morean pun ikut merebahkan dirinya direrumputan tepat disebelah Sarla, ia menatap pada langit merah indah yang sama, “Aku terakhir kali kesini saat acara sekolah Juless.”
“Kau menjadi orang tuanya?”
“Hemmm... Selalu.”
“Aku tahu kau pasti bisa jadi orang tua yang baik, tidak semua orang bisa mengurus dan membesarkan keponakannya.”
Morean melengkungkan senyuman, “Harusnya aku terpaksa namun semesta memilihku untuk jadi wali Juless, ya...hidup tidak pernah ada yang tahu.”
Tidakkah sekarang kau bisa melihat sisi lain iblis itu Sarla? Dia begitu hangat, dia penyayang walau tampak dingin.
Keduan tangan mereka pun saling mengambil, kemudian menyalipi pada jemari masing-masing dan menggenggam, hingga lelaki itu melepaskan tangannya meminta Sarla meniduri lenganya.
Sarla pun mengiyakan ia meniduri lengan Morean, mereka menatap burung-burung terbang disana beratapkan langit indah, beralaskan rerumput hijau yang kering, mereka tertawa membahas hal-hal tidak penting disana, termasuk Morean yang mengejek ****** ***** Sarla yang bolong.
Sarla tidak berhenti tertawa dalam rasa hangat ini, sungguh Morean jauh lebih menenangkan dari Juless, ia jauh lebih manis dan romantis.
.
.
.
.
.
.
Next »