Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 61



“Ku harap kau tidak akan berbohong More! saat nanti orang itu sudah mengabari tentang wanitamu, malam nanti kau harus makan malam denganku!”


Morean mengacuhkan Summer ia tampak memeriksa ponselnya, namun Summer terus saja berbicara tanpa henti. “Kau akan tepat janji, aku akan buat makan malam untuk kita.”


Perjalanan sudah hampir sampai beberapa kilo meter lagi ke sebuah rumah sakit yang Summer maksud dan seketika Morean mendapatkan sesuatu.


“LUKE, BERHENTI!”


Summer terkesiap, “Kenapa? Ini belum samapai.” Summer melihat kekanan dan kekiri.


Tidak berlama-lama Luke pun berhenti membuat Summer menatap semakin heran pada laki-laki itu dan menatap panik tengah kota mereka berhenti.


“Keluar cepat!” Tunjuk Morean pintu dengan tatapan sengit.


Summer terkesiap, “Why? Ada apa, kita akan mencari kabar wanitamu.” Pekik Summer tidak mau kalah.


Tatapan tajam Morean tidak menyurut, “Turun! Atau aku tidak akan menganggapmu seorang wanita dan membuatmu seperti ayahmu!”


Luke sama halnya dengan Summer dia terperangah, namun ia yakin Morean mendapatkan sesuatu, pintu mobil pun otomatis terbuka, Summer sedikit takut melihat sikap Morean ia pun melangkah turun menarik tasnya dengkah stilettonya hati-hati.


“Kau akan menyesal More!”


“Sampah!”


Pintu Mobil pun segera tertutup kembali dan mobil melaju pergi dari sana.


Summer melepaskan stilettonya ia mengehentak-hentakkan kakinya dijalanan sana, Sunggu dia tidak paham kenapa Morean mendadak memintanya turun.


“Wanita sialan, kau membuat hidupku susah, aku bersumpah kalian tidak akan bertemu selamanya!” Kecam Summer meledak-ledak menatap kesal pada mobil Morean yang sudah sangat jauh.


Morean meletakkan ponselnya, ia mendengkus kesal, “Waktuku terbuang 20menit untuk hal bodoh Summer, jepit rambut, dia melihat unggahan foto di akunku dan melihat yang Sarla pegang tanpa ia gunakan. Tidakkah kau lihat Summer yang sekarang seperti kehilangam akal sehatnya, Luke!”


“Orang tua membentuk pola fikir anak, walau tidak seluruhnya Summer masih mewarisi akal busuk Watson, bagaimana bisa kau sadar, Bos?”


Morean mendengkus, “Dia tidak disini, tapi seperti selalu membuatku merasa dia dekat, aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku ingin membuka fotonya padahal hanya sebuah punggung saat kami ke taman bermain dan dia tidak mau difoto.”


“Istrimu aku yakin masih di kota ini, Bos, dia melindingi anak kalian dan berfikir akan kembali mendapatkan serangan, mungkin kau harus membuat sebuah berita ditelevisi membuatnya menjadi sebuah berita yang terus berputar dimana-mana, memintanya kembali, kau tidak perlu memperlihatkan fotonya atau memberikan namanya, buat dia tersentuh disana katakan seberapa kau mencintainya dan meyakini tidak akan ada hal-hal yang ia takuti lagi terjadi.”


“Kita ke stasiun televisi milik tuan Fancesco sekarang!”


 


...*** ...


Sarla jauh lebih membaik, ia sudah bisa ke kamar mandi sendiri tanpa perlu memanggil pembantu dirumah itu, seperti pagi ini ia sudah bisa membersihkan ranjangnya sendiri.


“Selamat pagi...” Suara Mom Lily mengudara didalam kamar.


“Selamat pagi!” Kenrick sang cucu pun ikut serta masuk kedalam kamar.


Sarla yang sedang membersihkan ranjang pun terkesiap, “Eh selamat pagi, Mom, Kenrick?”


“Kenapa kau membereskan ini, hey tidak! Tidak ayo duduk!”


“Sudah hampir selesai Mom, ini bukan masalah.”


“Bibi, kau mengandung baby? Kata papa dalam perut bibi ada baby, benarkah?” Kenrick mendekat pada Sarla menampilkan wajah menggemaskannya.


Sarla dan Mom Lily tertawa, “Kau menanyakan itu pada papamu?” Mom Lily mengacak rambut cucunya.


“Ya, tapi kemana daddy-nya? Aku punya dad tapi tidak punya mom, kenapa seperti itu Granny?”


“Kenrick, pertanyaanmu tidak sopan!”


Sarla mengulas senyuman, “Kau menggemaskan sekali sayang.” Sarla mengangkup wajah anak laki-laki itu dan tertawa.


Melewati tanaman-tanaman bunga dibelakang rumah, Sarla menghirup banyak-banyak udara segar disana, ia sudah lebih membaik saat ini lukanya pun sudah sembuh.


“Bibi, lihat kupu-kupu!” Bawa Kenrick tangan Sarla.


“Ken, jangan tarik-tarik, Bibi belum terlalu sehat!” Mom Lily menggelengkan kepala tampaknya Kenrick sangat menyukai Sarla.


Di tengan taman terdapat sebuah gazebo dengan fasilitan meja dan kursi disana, tampak suami Lily dan Kaviar sedang menikmati kopi dan berbincang-bincang disana.


Hingga Sarla, Lily juga Ken tiba disana, “Apa yang kalian bahas tampak sangat serius sekali.”


“Hey cantik kau sudah bisa keluar rumah, senang sekali melihat kau sudah pulih.” Mata tua sang kepala rumah itu memancarkan ketulusan sungguh membuat Sarla sangat nyaman berada disana.


“Ya, sudah lebih membaik.”


“Panggil aku ayah, aku suka itu...”Lelaki tua itu menarik sebuah kursi untuk Sarla mempersilahkannya duduk.


Sarla tersenyum, “Baik ayah, terimkasih.”


Kaviar hanya mengulas senyuman melihat pada Sarla dan kedua orang tuanya yang sangat amat menyukai wanita asing ini, apa lagi anaknya lihatlah Ken selalu saja mencari-cari perhatian.


“Kau mungkin akan bertanya-tanya dimana ibu Ken, Sarla.” Mom Lily meletakan potongan roti ke piring Sarla.


“Hemmm.” Sarla berdehem, dan membuat Kaviar melihat pada sana Mama.


“Tidak masalah ini bukan sebuah rahasia yang harus di tutupi, ibu Ken meninggal sudah lama saat Ken baru berusia 1 tahun, dia sakit ginjal.”


Sarla mengusap pada rambut Kenrick, sungguh kasihan anak ini untung saja dia mempunya Mom Lily, juga ayah yang sepertinya baik ini.


“Kau mau menjadi Mommy ku, Bibi?” Kenrick berucap spontan.


Kaviar tersedak, bisa-bisanya anaknya mengucapkan itu pada wanita asing, “Kenrick, jaga ucapanmu!” Sentak Kaviar.


“Ken, no! Bibi sudah punya suami, bibi Sarla adalah bibimu, jangan ucapkan yang aneh-aneh!”


Sarla mengulas senyuman, “Jika Ken mau panggil bibi, Mom, boleh kok!”


Lily mengangkat tanganya, “No Sarla! Panggil bibi ya, nanti bisa menjadi sebuah kesalahpahaman, fikirkan kesehatanmu, anakmu berhak bahagia bertemu ayahnya, Ken punya ayah dan aku, dia terlalu banyak maunya, jangan terlalu dituruti.”


Sang kakek memecah kecanggungan atas ucspan Kenricj yang membuat Kaviar salah tingkah, ia menyalakan televisi berita pagi disana. ‘Sayang, dimana pun kau berada kembalilah, semoga kau mendengarku, mendengar permohonanku—‘


Seketika kakek mengaharu “Berita ini dari semalam terus berputar kasihan sekali Morean Sanden, tidak aku sangka trilioner itu sudah menikah.”


Sarla terbelalak saat semua mata menuju kearah yang dibahas laki-laki kepala rumah itu, gigitan roti yang Sarla kunyah seakan tidak bisa tertelan.


Wajah itu, Morean berkaca-kaca didalam sana memohon, sungguh Sarla mendadak lemah ia merasakan sedih, hatinya sakit, Morean tampak begitu frustasinya.


.


.


.


.


.


.