
Disebuah bandara.
Luke terkesiap saat wanita yang ia marahi tadi membuka kaca matanya, ia benar-benar dibuat tidak sadar bahwa yang ia marahi adalah Molina, sungguh sangat berbeda dengan Molina si gadis buta yang pernah ia temui dulu di kontrakan mereka, kini ia tampak lebih terawat dan sangat cantik.
Dan baru Luke sadari kaca mata yang ia katai kampungan tadi bukan sebuah kaca mata fashion melainkan kaca mata untuk kesehatan perawatan mata setelah melakukan pengobatan serius.
Luke masih terperangah ditempatnya yang mana wanita itu kini bersama cleaning service dan laki-laki cleaning service yang dibayar Luke itu tampak berputar-putar mencarinya dia tidak melihat Luke dibelakangnya.
“Hi Tuan Luke apa yang anda cari kapan kita akan berangkat?” Molina melihat bingun pada cleaning service itu.
“Sa-saya….saya bukan Luke, Saya Miko, Tuan Luke meminta saya menunggu anda didepan sini sebab dia ada urusan lain.”
“Tuhan, bagaimana bisa dia yang diperintahkan menjemputku tapi memerintahkan orang lain lagi, lalu siapa Morean yang membuat keberangkagtan ku kembali, apakah kau mengenalnya? Padahal yang membantuku adalah Sanden apakah Sanden adalah saudarinya Morean?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau tanyakan nona, sekarang carilah orang yang bernama Luke itu dia sudah membayar ku selembar uang dengan nominal besar, mungkin dia meninggalkanmu dan membuatku yang akan mempertanggung jawabkanmu.”
Bugh…
Luke pun memukul pundak clening Service itu, “Hayalanmu setinggi menara Eiffel dikali dua tuan, aku antre buang air kecil bukan meninggalkanya lalu membuatmu mempertanggung jawabkan gadis ini.”
Molina terkesiap melihat Luke, laki-laki bermulut jahat yang mengatainya kampungan itu ternyata adalah Luke seperti yang dikatakan oleh pihak pengelola rumah sakit adalah orang yang akan menjemputnya.
“Kau, laki-laki aneh yang memarahi ku tadi bukan? Laki-laki kelainan jiwa marah hanya karena tersenggol sedikit saja?” Molina menunjuknya kesal.
“Apa katamu!” Luke menegas, namun seketika ia tenang enggan bersiteru.
Cleaning service itu menatap heran pada Luke, “Kau antre buang air kecil tuan?”
“Ya kenapa? Apakah aku harus menyebutkan namamu sebagai orang dalam agar bisa memotong antrean toilet dengan cepat? Baiklah aku tidak suka berbasa-basi, katakan pada siapapun orang yang bernama Molina untuk segera naik kedalam mobil, urusanku sangat banyak.” Luke segera berlalu meninggalkan Molina yang masih terperangah juga laki-laki cleaning service itu yang tidak mempercayai bahwa air port terbaik ini harus mengantri hanya untuk membuang kotoran,
Dengan kesal Molina pun menarik kopernya lalu mengikuti Luke, dia juga tidak tahu harus kemana, sudah lama sekali ia menghubungi sama sekali tidak pernah terhubung, setelah ia bertemu dengan orangyang bernama Sanden itu barulah ia akan pergi mencari adiknya sesuai alamat yang ia ingat kota Bougenv.
Molina melihat kemana laki-laki berna Luke itu pergi, apa yang akan dia kendarai, pasti sebuah mobil tua nan rongsok sebab Sanden saja hanya pekerja kontruksi juga pekerja tetap di toko kue, tapi kenapa pakaian laki-laki bernama Luke ini begitu rapi.
Mungkin dia menyewanya atau mungkin dia habis pergi dari pemakaman lalu menjemputku, “Hi Tuan tolong bantu aku membawa koper ini, aku akan memberikan mu tips nanti.”
Luke tersinggung mendengar ucapan Molina, berani sekali dia memerintah seperti itu, sekelas Morean saja yang menggajinya cukup besar ia bantah apa lagi wanita ini, Luke menoleh kebelakang melihat pada Molina yang kesusahan membawa kopernya, “Kenapan kau tidak meminta petugas bagasi untuk membawanya.”
“Itu cukup mahal! Ayolah bawa denganmu mungkin aku hanya peru membayar setengah dari harga petugas bagasi,” Molina menarik koper mendekat pada Luke, “Tolong bawa, tips menantimu!” Kemudian ia tinggalkan begitu saja.
Luke terperangah, tidak tentang membawa tapi ucapan wanita ini memperlakukannya seperti seorang yang sangat membutuhkan recehan, SIAL, Walau menggerutu Luke tetap saja membawa koper besar milk Molina itu.
“Dimana mobil yang akan kita naiki tuan, mobil jenis apa yang kau kendarai?” Teriak Molina yang sudah jauh sepuluh meter disana.
Luke tidak mengindahkan ia berhenti disebuah mobil mewah miliknya pribadi yang ia gunaan, segera membukan pintu jok mobilnya lalu meletakkan disana, Molina di tempat yang jauh sana terperangah ia pun mau tidak mau berjalan lagi kembali ketempat awal tadi.
Tok… tok…tok….
“Tuan, buka! Buka!”
Dengan acuhnya Luke memutar besar suara audionya menungu 10 menit wanita itu menunggu, Sial namun diluar ekspektasi saat ia ingin membuat kesal wanita itu, wanita itu malah meminta bantuan petugas keaamanan bandara, Molina mengatakan lelaki didalam sepertinya dalam bahaya dia mungkin mabuk atau habis mengkonsumsi obat-obatan.
Tok…tok…tok…
“Buka pintunya atau kami yang akan membukanya tuan!”
“Shut ùp! Aku bersumpah akan membuangmu ke jalan, belum apa-apa dia sudah sangat mentusahkan melebihi adiknya.”
...***...
“Terimakasih banyak mom sudah memberi aku segalanya dirumahmu ini Mom, entah bagaimana aku membalasmu mom,” Sarla memeluk Mom Lily suasana mengharu biru sebab ia akan berpindah hari ini.
“Mom menyayangimu Sarla, kebahagiaanmu adalah yang Mom selalu harapakan, seringlah menjenguk Mom dan orang-orang dirumah ini,” Lily memeluk Sarla erat ia berkaca-kaca, “Semoga kalian bahagia selalu.”
“Tentu Mom, Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu.“
Sarla kemudian memeluk suami Lily, laki-laki tua yang selalu suka menghiburnya disana, juga sosok yang pernah menjadi malaikat penolongnya kala itu.
“HA….HA….Kau membuatku terharu sweetie, terimakasih sudah mau menjadi putriku,” Tepuk-tepuk lelaki tua itu pundak Sarla.
Turut serta Kendrick dan Kaviar menghantarkan Sarla yang siap berangkat menggunakan sebuah mobil anti peluru juga memiliki pendeteksi bom yang sangat baik.
“Semoga semuanya baik-baik saja Mrs. S….” ucap Kaviar.
Sarla tertawa, “Aku akan mengenalkanmu pada seseorang lain kali aku akan menghubungimu, Kav!”
"Berbentuk manusia?"
Sarla tertawa,"Bukan rusa setengah sapi." Sarla pun tertawa begitupun yang lainnya.
“Bibi kau tidak akan datang lagi kesini? Siapa yang akan menemaniku bernyanyi nanti.”
“Tentu datang sayang, kapanpun kau rindukan bibi kita akan menemuimu nanti,” Sarla memeluk bocah kecil itu lalu memeluknya erat.
Sungguh tidak pernah Sarla dapatkan dalam hidupnya kehidupan dalam keluarga seperti ini, anggota kelaurga yang lengkap, ayah ibu yang selalu mencintai dan melindunginya, memberikan tempat yang aman dan nyaman, support terbaik padahal bukan sedarah dan bukan siapapun hanya orang asing yang tidak berdaya diselamatnya.
Seketika Sarla yang sudah naik kedalam mobil turun lagi, Ia menangis terseduh-seduh selama ini Mom Lily benar memperlakukannya dengan dengan sangat baik, paling paham akan kebutuhan tubuhnya juga janinnya, menyempatkan mendatanginya saat sebelum berangkat ke rumah sakit dan menjadi pendengar yang sangat baik.
“Aku akan sangat merindukanmu Mom, bisakah kau nanti ada didekatku saat aku akan melahirakan Mom?”
Pelukan Lily semakin erat ia juga turut berkaca-kaca, “Tentu sayang, Mom akan menemanimu nanti dan akan sering menjengukmu nanti .”
Morean pun tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada keluarga itu, semua hal rasanya tidak cukup membayar kebaikan dan pertolongan yang sudah mereka berikan namun More sudah memberikan dana yang besar untuk hari tua Mom Lily dan suami tanpa mereka ketahui kecuali Kaviar, sebab Mom Lily bercita-cita ingin keliling semua benua di dunia saat pensiun nanti.