Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 50



Morean pun naik lagi ka rumah pohon itu, ia mendapati Sarla masih diam tidak bergeming memeluk dirinya dengan mata sendu mematap pada dressnya yang tergeletak itu. Terlihat jelas ia masih begitu shock atas kemarah Morean yang meledak-ledak itu


Morean memunguti dress Sarla membuat Sarla melihat padanya takut, tidak mengindahkan lelaki itu segera memasukan dress Sarla ketubuhnya hingga terpasang lagi, Sarla seperti boneka yang pasrah membiarkan Morean memasangkannya, hingga suara relsleting yang Morean naiki mengudara, tanda sudah selesai.


“Kembali ke atas!” Tarik Morean tangan Sarla lagi-lagi Sarla hanya bisa pasrah menatap pada tangannya yang digenggam Morean turun dengan hati-hati sebab baru saja hujan.


Akan apa dia sekarang, semua sudah terungkap dia mengandung anak lelaki ini, artinya dia adalah beban baru untuk Morean dan tidak akan pernah terlepas dari Morean bagaimana pun.


Morean masih begitu dingin mengganndengnya naik tanpa berucap apapun, Sarla semakin seperti sipesalah yang tertangkap basah sedang berbuat kejahatan, walaupun benar dia sipesalah lelaki ini sungguh membuatnya tidak berkutik sama sekali.


Sesampainya dirumah hingga ruangan keluarga, Morean terus menggandengi Sarla dengan wajah tegasnya itu membuat sang ayahnya dan bibi Tores melihat heran pada mereka berdua yang datang.


“Apa yang terjadi?” Bibi Tores terkesiap.


“Duduk!” Perintah Morean pada Sarla, membuat sang ayah terkesiap.


“Apa yang terjadi More! Semalam kau terlihat senang sekali ingin menemuinya ada apa sekarang!”


Sarla terus meremasi tangannya akhirnya ketakutan itu terjadi dia menjadi tawanan dan kini sedang di dakwa.


“Di mengandung! Dia berbohong dia bahkan berencana akan pergi, kalian bisa lihat apakah seperti itu seorang ibu akan membuat anaknya jauh dari ayahnya! Dia membuat dokter Stevanus berbohong kepadaku, apa yang kau katakan padanya hingga dia iba padamu?”


Rodriguez dan bibi Tores saling pandang, hal yang baru mereka bahas benar adanya, Sarla mengandung dan banyak hal besar akan terjadi.


Jelas Morean marah, Juless yang bukan anaknya saja ia begitu menjaga dan menyayanginya tidak bisa jauh, apa lagi dengan darah dagingnya sendiri.


Lelaki tua itu menarik nafasnya berat menatap pada Sarla,”Benar begitu Sarla?”


Sarla menunduk takut, kemudian dia menangis, “Apakah aku salah melindungi anakku, apakah aku salah menutupi saat dia bilang jika bisa aku tidak mengandung anaknya?”


“Sudahlah More, Rodri jangan dibahas pasti Sarla punya alasan kenapa dia berbohong, semua sekarang sudah terungkap yang kita fikirkan akan bagaimana saat ini, Juless tentunya akan tahu ayahnya disini pertengkaran kau dan Juless pasti akan terjadi, kau tidak ingin juga Sarla keluar dari sini bukan? Kawasan kota berbahaya Watson atau yang lain pasti akan menemukan Sarla jika mereka tahu Sarla mengandung anakmu akan banyak masalah lainnya.”


“Aku akan keluar negri Bibi, itu rencanaku! Jika dia menyayangi anaknya dan tidak mau permasalahan keluarganya muncul, ku rasa itu yang terbaik.” Sarla berani berucap demi hidupnya juga sang anak.


Morean pun mendengkus kesal, “Keluar negri! Apa bisa aku pastikan kau tidak akan menghilang, kau gadis licik pasti kau akan menghilang sebab pengawasanku mungkin tidak bisa terlalu ketat disana.


“Sudah! Sudah! Juless mungkin harus tahu, meskipun pahit bagaimana pun ini kesalahnya, kalian bisa menikah dan Sarla bisa pergi keluar negri dan kau bisa mengunjunginya kapan pun kau mau.” Usul Rodriguez.


“Kau yakin Rodri membuka ini semua? Kau pasti akan kehilangan Juless kalian tahu dia seperti apa, apakah tidak menunggu dulu hingga suasana lebih tenang, minimal Juless bertemu wanita lain atau dia tidak lagi mempermasalahkan kepergian Sarla itu ku rasa lebih baik, beberapa bulan ini masih terlalu awal untuk mengungkap semua, masalah akan semakin banyak, belum lagi Watson, Summer dan siapa itu wanita yang menembak Morean kemarin.”


“Ku mohon biarkan aku pergi.” Sarla menangis lagi.


“Pergi bersamaku tidak untuk sendiri!” Morean meyakinkan diri, mugkinkah dia bisa pergi melepaskan semua ini lalu pergi bersama Sarla dan anak mereka, memulai kehidupan barunya  


Rodriguez menatap sang anak, “Pergi bersamamu? Bagaimana perusahaan yang sudah kakek dan ayahmu sudah mati-matian dirikan, ayahmu yang hampir mati ini akan berapa lama disini,  semua permasalahan Watson, semua yang sedang menyerang tanpa sebab, kau melepaskan tanggung jawabmu begitu saja demi tanggung jawab lain, tidak bisakah sekalian jalan, biarkan Sarla pergi keluar negri biarkan dia dan anaknya jauh, bukan hal yang rumit untuk kau mengunjunginya.”


Rodriguez Sanden terdiam, “Kau harapan besarku More, kau berbeda dengan Juless, dia belum bisa dihandalkan, kau tidak ingat janji ibumu agar tidak meninggalkanku, kakakmu bahkan sudah memperjuangkan nyawanya demi keluarga kita.”


“Ayah ingin aku juga seperti itu? Juga seperti kakak tidak melihat anakku besar?”


“Bukan seperti itu tapi—“


Morean pun meninggalkan sang ayah ia enggan mengkonfrontasi memilih naik ke lantai dua rumah bibi Tores, seketika ruangan itu disergap kebisuan, Rodriguez sanden tidak lagi bersuara begitupun bibi Tores.


Sarla pun bangkit membuat Rodri Sanden menatapnya, “Sarla ku mohon jangan buat Morean pergi, aku membutuhkan dia, bukan aku gila harta takut kehilngan semua yang ku punya, tapi semua yang sudah berdiri banyak membuat nyawa keluargaku melayang, jika meninggalkan semua artinya semua pengorbanan mereka sia-sia tidakkah hanya perlu memperkuat pertahanan dan membuat lawan jatuh dengan cara yang lebih kuat pilihan yang baik?”


Sarla mengangguk kemudian ia pun naik ke lantai dua rumah bibi Tores itu.


...***...


Sarla pelan sekali membuka pintu, mengedarkan pandangannya kedalam kamar itu, ia lihat disudur ruanga Morean sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya, langkah takut pun membuat dia masuk perlahan.


Morean mendengar langkah Sarla yang masuk ia pun menyudahi panggilannya, “WANITA PEMBOHONG!” umpat Morean, ia masih tersulut dipermainakan dan dibodohi orang Sarla juga dokter Stevanus, dia gartritis, muntahnya adalah hal biasa, berikan apa yang dia mau, izinkan dia makan yang dia suka, sangat tidak masuk akal bukan? Dimana-mana gastritis bukankah harus menjaga makanannya.


“Biarkan aku pergi sendiri, kau tidak dengar apa yang ayahmu katakan kau bisa kunjungi anakmu kapanpun kau mau.”


“Kau tidak ada hak memutuskan apapun! Kau lupa siapa dirimu? Aku yang memegang kendali atas hidupmu sampai aku mau kapanpun!” Morean menatap tegas dengan kilatan matanya yang tajam.


Sarla mendengkus, “Gugurkan anak ini, jika dia menjadi beban untuk keluarga kalian, Aku bebas pergi dan bebas tidak ada masalah apapun!”


Bruakk!


Morean melempar kasar ponselnya kesal kehadapan Sarla, harusnya ia ingin mencekik Sarla namun tidak bisa, segampang itu ucapan sampah itu keluar dari bibir Sarla.


“Belum puas kau membodohiku! Dan sekarang mengucapkan hal seperti itu!” Tatapnya nyalang Sarla.


.


.


.


.


.


Next »


Nanti satu lagi ya, Sajennn dulu...❤