
Sarla begitu tercengang atas apa yang Morean katakan, tidak ingin dia hamil lantas bagaimana dengan apa yang sudah terjadi kemarin?
Lalu apakah lelaki itu fikir aku mau mengandung janin dari benih lelaki iblis ini.
Seketika Sarla merasa takut bagaimana jika benar dia hamil dan lalu apakah lelaki ini memintanya menggugurkannya?
Sarla diam tidak bergeming hingga sampai mereka keluar mengenda-endap dimalam hari keluar dari kediaman milik keluarga lelaki itu.
Sarla diam seribu bahasa terus mengumpati betapa tidak ada hatinya lelaki ini berucap seperti itu, sungguh bukan manusia dia, sesosok
Iblis yang hanya di beri harta namun tidak hati atau waktu lahir Tuhan menggandakan hartanya dan lupa meletakkan hatinya.
Di lantai paling atas rumah itu Juless tampak menikmati suasana tengah malamnya, mengenang sang kekasih yang entah menghilang kemana, sembari mensesap minuman hangatnya, entah bagaimana mengungkapkan rindu ini begitu tidak lagi bisa terucap sangat ingin sekali ia berteriak, memeluknya erat tak melepaskan.
Tiupan angin malam menerbangkan apa saja yang ia terlihat tidak berdaya diatas sana seperti daun-daun atau kertas yang tergeletak namun kenpa tidak dia.
Terbangkan aku ke tempatnya kemana dia saat ini berpijak dan melihat langit dari sisi yang sama.
Siang tadi Juless tidak berhasil melihat wanita yang dibawa Morean kerumah sebab tidak ada sama sekali rekaman yang merekam bisa jadi Luke sudah menghilangkanya atau memang dia masuk lewat sisi yang tidak terlihat oleh camera cctv.
Mata Juless lihat Morean baru pergi, mobil yang keluar dari gerbang itu sepertinya sang paman menggunakan sebuah mobil lain miliknya yang dulu sering ia gunakan dan tanpa pengamanan.
“Haruskah dia membawa wanita itu kembali malam-malam seperti ini?” Juless tertawa, kembali mensesap minumannya, “Apakah sedang menjalin sebuah hubungan terlarang bersama anak seorang lawan atau istri seseorang? Morean tidak pernah seperti itu menutupi seorang wanita.” Tawaan Juless tidak menyurut ia semakin begitu geli atas sikap sang paman yang aneh.
***
Menempuh perjalanan yang panjang mereka pun sama sekali tidak berbicara apapun, keduanya sama-sama dijajah kebisuan Sarla disebelah menyandar pasrah menatap pada jalanan malam sembari memikirkan sang kakak yang entah bagaimana kabarnya saat ini, sementara Morean tengah berperang dengan dirinya memikirkan banyak masalah.
Morean mengingat sesuatu hal yang rumit ia yang tadi sedari diam pun menoleh pada Sarla kemudian, “Bisakah kau pastikan kau tidak akan hamil atas apa yang sudah terjadi malam itu?”
Morean kembali membahas itu, ada banyak sekali kegundahan yang kini membelitnya sudah pasti jika itu terjadi itu akan menjadi titik lemahnya.
Sarla mendengkus, “Bernegosiasilah dengan Tuhan, aku tidak bisa memastikan tapi aku pun berharap tidak akan pernah ada benih dari manusia iblis sepertimu tumbuh dirahim suciku.” Sarla berucap dingin namun cukup membuat telinga Morean panas menusuk dalam telinga dan mengendap dihatinya menciptakan rasa sakit, seketika saja lelaki itu mengerem mendadak membuat Sarla sedikit terlonjak.
“TURUN!” Morean menegas, “TURUN SEKARANG!” Pekiknya kuat namun tidak sedikit pun membuat Sarla gentar.
Sarla malah mengulas senyuman tanpa sedikitpun takut lalu turun begitu saja dan menutup kembali pintu, ia tampak begitu kuat namun hatinya seketika sakit tubuhnya serasa ingin ambruk, hidupnya sudah terasa semakin terlunta-lunta saat ini.
Sarla terus berjalan membiarkan kakinya terus melangkah tidak tahu sampai mana ia akan sanggup, ia terus menahan agar tidak menangis dan terus kuat untuk tetap bertahan, sementara Morean masih berhenti ia tampak memukul stering mobil kemudian menjatuhkan kepalanya disana.
Sungguh angkuh sekali wanita itu dia tidak tahu betapa ingin pecahnya kepala Morean saat ini, banyak hal yang akan dia lindungi dia tidak ingin tragedy kematian sang kakak dan istrinya tidak lain adalah kedua orang tua Juless terjadi lagi.
Beberapa menit kemudian Morean pun melajukan mobilnya lagi segera mengejar Sarla yang sudah berjalan jauh didepan sana, masih beberapa kilo meter lagi untuk sampai dikota kecil itu tidak mungkin dia meninggalkannya tengah malam seperti ini sendirian.
Sarla pun menoleh pada lampu mobil yang menyorotnya diajalan sepi itu, ia menarik nafasnya menyunggingkan bibir mencibir terus berjalan mengacuhkan lelaki yang ia anggap iblis tidak punya hati itu.
Sungguh kebenciannya semakin membumbung tinggi pada Morean, saat ia fikir dia sedikit punya hati memperlakukannya baik dirumahnya tadi nyatanya tidak seperti itu, dia tidak memiliki hati sama sekali, bahkan memintanya berfikir bagaimana caranya agar dia tidak hamil setelah dia sudah menodai dan merampas kesuciannya begitu saja.
Sarla tidak sedikitpun sakit hati mendapati cercaan itu, ia terus menyunggingkan bibirnya tertawa tanpa menoleh, “Dan kau fikir aku sudi di bujuk oleh mu, tidak apa-apa kau mengatakan ini adalah hal yang kurang penting nyatanya kau menghantarku dan mengejarku saat aku pergi, lihatlah betapa pentingnya aku walau kau tidal mengakui itu.” Suara Sarla pelan tidak bisa ditangkap oleh Morean.
“Shùt Up! terserah apupun yang kau katakan! Cepat naik atau akan benar-benar meninggalkanmu!” Pekik Morean lagi.
Sedikitpun Sarla tidak peduli itu bahkan ia mengacuhkkannya terus berjalan membuat Morean menjadi kesal dan turun dari mobilnya segera berjalan cepat mendekat pada wanita itu.
Sarla terbelalak, "Mau apa kau!"
Morenan tidak mengindahkan ia segera mengangkat paksa Sarla masuk kedalam mobil dan mendorongnya. “Kau terlalu bertingkah!”
tutup kuat Morean pintu.
“Kenapa kau memasukan ku, kenapa! Biarkan saja aku dijalanan, biarkan! Apa pedulimu, aku bahkan sangat bersyukur jika sebuah mobil mau menabrakku biar selesai semua sakit yang ku rasakan dan aku tidak perlu lagi berhubungan dengan iblis sepertimu!”
Morean mengacuhkannya, ia tidak ingin tersulut bisa-bisa dia lepas kendali dan melakukan hal yang semakin membuang waktu, Mobilnya pun semakin melaju kencang dijalanan menerobos apapun yang harusnya membuatnya berhenti, membuat Sarla dibelakang sana berkali-kali oleng kesamping.
Sarla tidak ingin komplaint atau berkomentar bibirnya sudah tidak sudi lagi mengucapkan apapun pada iblis ini, rasa senang dan kelegahan kini mulai melingkupi dirinya kala ia sudah hampir sampai dikediamannya, sebentar lagi dia bisa bernafas dengan lega dan mungkin sesekali saja akan sesak jika lelaki ini datang.
Sarla berharap semoga masalah selalu bersama lelaki itu agar dia tidak punya waktu datang untuk menemuinya disini.
Hingga akhirnya mobilnya pun berhenti tepat didepan kediamannya itu dan Sarla melihat rumah disebelah sudah selesai direnovasi artinya dia bisa pindah kesebelah lagi besok.
Segera Sarla turun tanpa diperintah ia berjalan cepat tidak berkata apapun menuju kerumahnya dengan wajah yang begitu bahagia namun tidak dengan Morean artinya ia akan kembali sendiri dan lama lagi akan bertemu wanita ini, sebuah rasa penolakkan pun mucul Moran seakan tidak ingin.
Morean turun mengikuti, ia berjalan cepat sekali tanpa disadari Sarla yang hendak membuka pintu rumahnya, “AWW.....” Morean menarik kasar lengan Sarla seketika, kemudian menahan wajahnya dan mengujami bibir Sarla tanpa ampun seperti tidak memperdulikan waktu dan tempat ia membuat Sarla menempel didepan pintu dan memagut dengan sangat menggebu, dua tanganya menahan pinggang Sarla lalu turun memegangi dibelakang sana, Sarla nyaris kehilangan nafas tanpa aba-aba iblis tidak waras baginya ini menyerang mengabsensi rongga dan menariki salivanya
Secepat kilat lelaki itu memutar kunci dan mendorong dengan kakinya untuk segera masuk kedalam.
Jika Sarla fikir dia akan bisa tidur dan hidup lagi dengan ternyata dia salah bahkan belum beberapa menit lelaki ini sudah hendak menyiksanya lagi, tidak bisa memberontak nasib Molina sang kakak ada ditangannya.
Dan aku harus pasrah membayar semunya untuk Molina, menjadi penanggung jawab padahal aku adalah korban di awalnya.
.
.
.
.
.
LIKE yang banyak dan, Sesajennya🐤