Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 69



Jules sudah hampir setengah jam berdiri didepan rumah Summer, menekan bel hingga berkali-kali mengetuk pintu namun sama sekali ia tidak membukanya, entah kemana gadis itu sejak pertengkaran mereka kemarin yang membuat Juless akhirnya melepaskan Summer pulang.


Dan kali ini Juless datang lagi kekediaman Summer, melihat keadaannya. Summer tidak bekerja pagi tadi, artinya dia ada dirumahnya entah pun di kediaman sang ayahnya.


“Summy, kau didalam?”


Juless berkali-kali berteriak dan terus menghubungi namun ponsel Summer tidak aktif, kekhawatiran Juless adalah Summer nekat bunuh diri atau melakukan aksi menggugurkan kandungannya didalam sana.


“Summy!” Juless mengusap wajahnya, tidak masalah dia dirumah ayahnya asalkan baik-baik daja, bukan didalam sana sedang berbuat sesuatu.


Menurut Juless Summer tidak kemanapun, mobilnya ada didepan sana tapi tidak bisa dipastikan ia pergi atau tidak, Juless terus berjalan kekanan dan kekiri rumah terus berusaha mengintip


“ASAP APA ITU!” Juless terkesiap saat melihat asap keluar dari bawah-bawah pintu dan fentilasi, ia pun menjadi panik artinya benar Summer ada didalam rumahnya.


Juless segera berlari kedepan sepertinya jendela besar disana mudah dibobok dan— Bruakk.... Sekali tendangan dari telapak sepatu kulitnya berhasil memobobolkan dan melepaskan jendela, Juless pun segera membuka kunci pintu dari dalam dan berlarian masuk.


“Summy! Summy kau dimana?”


Ia membuka pintu kamar tidak ada orang hingga ia mencari dimana sumber asap itu dan Juless terkesiap Summer sudah terlentang dibawah kompor listriknya yang mengeluarkan asap dan mungkin terjadi sebuah konslet disana.


Juless segera mengangkat tubuh tidak berdaya Summer, ia begitu sangat paniknya membawa Summet keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan pada tetangga Summer untuk memeriksakan kedalam dia akan membawa Summer kerumah sakit.


Tidak tahu apa yang terjadi dan tidak memikirkan apapun selain keselamatan Summer, Juless terus mengemudi begitu kencangnya segalanya ia trobos begitu saja dengan terus memohon Summer baik-baik saja dan kandungannya pun selamat.


...***...


Beberapa jam berlalu, Summer sudah berada diruangan perawatan, segala kepanikan Juless berangsur mereda, wanita itu menghidup banyak asap, membuatnya tidak sadarkan diri beruntung dia baik-baik saja begitupun janin yang ia kandung.


Dalam sekali jalan Juless juga akhirnya bisa memeriksakan kandungan Summer betapa tidak bisa berkata-katanya dia Summer benar mengandung anaknya, kebenciannya pada Summer hilang entah kemana yang tersisa hanya rasa iba.


Dalam diam menatap Summer yang terbaring Juless berkelana jauh, seperti inikah yang sang paman rasakan dulu pada Sarla, dia tidak pernah tahu apa yang mereka lewati yang ia tahu Morean begitu melindunginya dan menyembunyikannya.


Juless melangkan mendekat, berangsur ia sentuh tangan Summer, ia tersenyum aneh entah jalan apa yang membuat akhir seperti ini, kita berdua memperjuangkan orang lain namun pada akhirnya aku menarik mu jatuh dan kita harus berhenti.


Tangan Juless menggenggam satu tangan Summer, menatap pada wajah cantiknya, kemudian dengan ragu ia sentuh perut Summer yang rata itu, terkenang jelas ucapan dokter itu.


Juless tidak mampun berkata-kata hanya air muka dan matanya yang berkaca-kaca menjelaskan betapa dia terharunya atas keadaan ini, “Maaf.... Ini bukan yang kau harapkan, maaf menghancurkan harapanmu tapi inilah yang sudah terjadi.”


Summer terjaga, ia terlonjak sadar saat mendapatu tangannya digenggam oleh sebuah telapak tangan hangat, “APA YANG TERJADI!” Summer menepis tangan Juless, “Apa yang kau buat padaku!”


Juless mengulas senyuman, “Terimakasih kau masih tetap hidup.”


Dengan tatapan benci Summer sedikit bangkit, “Apa yang terjadi padaku, kenapa kau membawaku kesini.”


“Apa yang kau masak? Kenapa kau tidak mengatakan kau tidak sehat, kau hampir kehilangan nyawamu....juga dia....”


“Bukan urusanmu! Aku mau pulang, kau membawaku kemana?” Summer begitu takut kehamilannya diketahui semua orang apa lagi rekan-rekan tenaga medisnya.


“Kau ditempat yang aman, jangan fikirkan itu, ini tempat khusus yang aku pesan untukmu, kau akan aman disini apa lagi privacy-mu.”


Summer menatap jengah pada laki-laki berstelan rapi ini, ia tampak dewasa dengan stelan jasnya disebalik tubuh atletisnya, tampaknya dia baru saja pulang bekerja tadi.


“Kenapa kau bisa membawaku kesini! Apa yang kau lakukan dirumahku?”


“Aku hanya datang untuk menjengukmu, entah takdir atau ikatanan bathin dari sesuatu membuatku hadir saat bersamaan kau sedang dalam bahaya.”


“Persetan dengan itu! Menjauhlah dariku... Aku ingin pulang sekarang!” Summer memekik, menatap dengan sengit penuh kebencian pada Juless.


“Sssstt....tenanglah, berteriak atau membunuhku sekalipun tidak akan merubah apapun.”


Hiksss.... Hiksss....


Summer terseduh-seduh, ia sungguh depresi dengan keadaan ini, ia bahkan tidak bekerja sebab saking depresinya, fikirannya seakan tidak bekerja, ia tidak bisa tidur tenang, “Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati.”


Juless menarik nafasnya berat menatap nanar pada Summer, “Berkali-kali aku bilang, kau tidak salah, dia juga tidak salah, jika kau mau kau bisa menghukumku atau kau ingin menembakku?” Segera Juless mengeluarkan sebuah revolver dari sebalik saku jasnya, “Lakukan! Aku membawa ini sebab sekarang aku harus bisa berjaga-jaga seperti More juga, tembak aku 1 kali, jika aku tidak mati artinya itu adalah kesempatanku untuk memperbaiki dan memulai semuanya menjadi sebuah hal yang baik tapi jika aku mati, ya....mungkin itu hukumanku dan yang terbaik untukmu.” Juless tersenyum tulus, ia mengambil tangan Summer meletakkan benda kecil itu ditangan Summy, "Lakukan!"