
Morean yang tidak berniat tidur malah ikut tidur bersama Sarla, Sarla merasakan nyaman memeluk tubuh lelaki itu seperti guling dan bantal tanpa sadar, hingga suara ketukan dari pintu oleh Luke yang baru datang seketika membangunkan Morean.
Morean terkesiap kenapa dia ikut tertidur juga, segera ia melepaskan Sarla yang memeluknya meletakkan kebantal dan berangsur bangkit. Wajah kusut bangun tidur Morean terlihat jelas saat membuka pintu.
“Hemmm, sudah datang dokternya?”
“Sudah dilobby, Kau tidak jadi keluar Bos? Setengah jam lagi kita harus sampai, Odenville.” Luke melihat pada ponselnya.
Morean tampak mengusap wajah bangun tidurnya, “Tunggu aku ingin memastikan kondisi wanita itu, dia berkali-kali muntah, aku takut sesuatu terjadi...”
Seketika Luke tertawa dengan wajahnya yang tampak mengejek,”Keponakan pertamaku?”
“Kau ku pecat, Luke! Urusi dokter itu aku akan mandi diunit sebelah jangan buat dia terbangun sebelum dokter itu datang, sebab dia akan muntah-muntah.”Morean pun berlalu meninggalkan Luke yang berdiri disana.
“Kau tidak bisa menolak bos, jika kenyataan membawa kepada Juless dan aku akan menjadi seorang paman dan kau adalau seorang ayah.”
“Selamat malam...” Suara dokter Stevanus membuat Luke yang hendak duduk seketika tidak jadi dan segera menyambut dokter senior itu juga asistennya untuk segera masuk.
“Malam dokter...silahkan masuk, Nona Wilamo ada didalam kamarnya.”
Sampai detik ini tidak ada apapun yang disampaikan pihak Morean atau Luke tentang kondisi yang mereka curigai terhadap Sarla, tidak bertanya Dokter Stevanus pun segera masuk, membuat Sarla yang baru saja terjaga terkesiap bersyukur pakaiannya sudah terpasang lagi entah kapan dia tidak sadar.
“Dokter?” Sarla menyapa Doktet itu dengan air muka yang tidak tenang, kemudian melirik kebelakang dokter itu ada Luke disana. Ia pun menjadi tidak berkutik padahal bukan Morean namun Luke sama saja menyeramkannya dengan lelaki itu.
“Kita lakukan pemeriksaan sekarang, Nona! Apa keluahan mu.”
Luke didepan pintu pun maju beberapa langkah kedepan, “Dia muntah-muntah tanpa henti, merasakan tubuh yang lemas dan seperti orang yang mengalami sakit.”
“Dokter apakah pemeriksaan boleh ada orang lain aku tidak nyaman.”
Sial.
Luke tersindir tapi dia sudah diperintah Morean yang mandi untuk berjaga, Dokter itu pun tersenyum, “Baiklah ini pemeriksaan khusus yang tidak ada kaitannya dengan pemeriksaan tolong menunggu diluar ya....”
Luke mengangguk hormat kemudian segera keluar meninggalkan dokter Stevanus bersama asistennya juga Sarla didalam sana, Sarla pun akhirnya bisa bernafas lega dan tepat sekali kedua orang ini tahu kondisi Sarla saat ini.
“Dokter, sa-saya tidak mau seperti ini...saya terjebak akan ini semua, hidup saya terikat oleh sesuatu hal yang hanya menginginkan tubuh saya namun tidak kehidupan saya atau mungkin yang saat ini dicurigai tumbuh dirahim saya.”
Dokter itu pun kemudian memeriksa tekanan darah Sarla lalu detak dalam tubuhnya, “Anda benar belum menstrusi hingga kini bukan? Coba ceritakan dengan jujur kapan terarkhi anda mengalami menstruasi...”
Sarla pun menjelaskan dengan detail hingga keluhan-keluahan yang ia rasakan sekarang membuat dokter itu pun bisa menyimpulkan dengan cepat, menarik nafasnya sedikit berat.
“Anda sedang mengandung dengan usia kandungan 5 minggu nona...” lihat Dokter tua itu wajah Sarla.
Sarla seketika terdiam dengan mulutnya yang ia tutup dan matanya seketika membasah, “H-hamil dokter?” Sarla pun menangis, akan bagaimana nasibnya sekarang Morean tidak mau ini terjadi dia bahkan menanyakan dengan lantang perihal pil kb itu tadi. “Dokter—“
“Saya tidak tahu harus ikut senang atau turut prihatin, tapi dia adalah anugrah, harusnya dia membawa kebahagiaan untuk anda.”
“Dokter tapi saya tidak diinginkan, saya juga tidak menikah, saya hanya disimpan bukan untuk dianggap sebagai wanita, nasib saya dan anak saya dipertaruhkan dia pasti akan menyakiti saya atau meminta anak saya digugurkan.”
Hiksss hiksss...
“Cobalah jujur, tidak ada seorang ayah yang tidak mengingkan darah dagingnya.”
“Dokter!” Sarla menegas, “Dia mengatakan 'pastikan saya tidak hamil saat setelah terjadi sesuatu kala itu, saya tidak ingin anda hamil anak saya'.. Hiksss hiksss Dokter....”Sarla meremasi baju diperutnya, menyedihkan sekali nasib anak yang ia kandung.
Dokter itu pun luluh, “Kau mengingatkan ku pada putriku, dia mungkin juga seusia denganmu dia sedang hamil di Polandia suaminya mengalami kecelakaan 3 bulan lalu, anaknya akan kehilangan cinta seorang aya mungkin sebab itu saya yang akan pensiun dua bulan lagi akan pergi kesana menemani dia hingga lahiran dan membantunya membesarkan anaknya.”
“Anakmu masih beruntung punya kau dokter, saya tidak satupun bahkan kakak ku juga mengalami kebutaan, saya sendiri dan sebatang kara.”
Satu tarikan nafas dokter itu mengudara ia menatap pada Sarla serius yang menunduk dengan air matanya yang bercucuran. “Saya bisa bantu anda mungkin hanya dua bulan ini, setelah itu saya tidak bisa lagi membantu anda.”
“Dokter....”Sarla mendongak melihat pada wajah dokter itu, “Kau akan membantu? Ya dua bulan saja itu sudah cukup mungkin setelah itu saya bisa fikirkan lagi nanti bagaimananya yang terpenting saat inu dia tidak tahu saya mengandung....”Bibir Sarla kelu dia menangis diujung kalimatnya, sakit sekali rasanya seperti ini.
“Sebenarnya ini menyalahi aturan dalam profesi saya namun jika untuk menyelamatkan nyawa seseorang saya yakin bukanlah hal buruk, saya akan mengatakan bahwa muntah-muntah dan rasa lemas juga sakit anda adalah sebuah penyakit lambung gastrititis ini adalah titik kambuh dan dalam beberapa waktu kedepan masa pengobatan anda akan sering mengalami muntah-muntah ini saya juga akan mengatakan bahwa anda harus makan teratur dan memberikan yang anda selerai yang terpenting anda mau mengisi perut anda.”
“Dokter....” Hikssss Sarla terharu dokter tua ini begitu baik sekali padanya itu semua benar sekali yang ia rasakan dia tidak bisa makan jika tidak yang ia inginkan. “Dokter kenapa saya menjadi sering terbawa perasaan sering sekali seperti mencari-cari kedekatan dengan lelaki itu biasanya saya sangat tidak suka dia ada didekat saya.”
“Perubagan hormonal bisa mempengaruhi Emosional, itu biasa, bisa juga ikatan bathi antara anak dan janinnya, Ya...tidak ada salahnya hanya saja jika anda tidak ingin diketahui jangan terlalu memperlihatkan perubahan anda terlalu signifikan.”
“Saya tidak akan bertanggung jawab setelah dua bulan sebab saya tidak lagi disini, Erik asisten saya juga ikut ke Polandia, maka itu menjadi urusan anda nanti...saya akan berikan vitamin dan obat anti mual nanti tanpa label dan mereknya agar tidak di curigai, pastika anda meminumnya agar bisa mengurangi keluhan muntah-muntah.”
“Iya dokter saya paham...saya tidak tahu lagi harus berkata apa...”
Di ruangan tengah Morean melihat Luke bersantai duduk memegang gawainya, derap langkah Morean membuat lelaki itu pun menoleh. “Dokter Stevanus sudah datang Bos!”
Morean terperangah, “Kenapa kau duduk disini? Kenapa kau tidak menunggi didalam melihat pemeriksaan itu?”
Luke pun bangkit, “Mereka memintaku keluar.”
Morean pun segera masuk kedalam meninggalkan Luke yang sedikit takut apakah dia salah tidak menunggui pemeriksaan itu. Luke mengusap tengkuknya gusar, “Di Sana memintaku keluar dan disini memintaku masuk.”
Suara pintu yang terbuka membuat Sarla juga dokter Stevanus sedikit terkesiap, ia baru saja dari kamar mandi mencoba melakulan pemeriksaan dengan tespack yang dokter itu berikan seketika Sarla menyalipkan dalam pakaiannya.
Suasana menjadi hening asisten dari dokter itu pun mendekat pada Sarla membuat secara cepat terpack itu berpindah pada tanganya, lalu membantu Sarla untuk duduk diranjang kemudian.
“Bagaimana?” Moream sungguh merasakan getaram jantung yang tidak stabil, firasatny mengatakan bahwa Sarla benar hamil tapi dia tidak inginkan itu terjadi.
Dokter Stevanus mengulas senyuman, “Nona Sarla didiagnosa mengalami Gastritis, ini sudah sangat akut, mual dan muntah adalah sesuatu yang wajar akan sering ia alami, pastikan saat dia muntah mintalah dia makan lagi, tubuhnya mungkin merasa tidak nyaman bahkan demam, berikan saja apa yang menjadi seleranya yang terpenting ada yang masuk dan ia konsumsi tentunya yang sehat dan bernutrisi sesekali makan ringan mungkin tidak masalah, obat-obatannya akan saya kirimkan segera.”
Morean memejam seraya menarik nafasnya dalam, kecurigaanya tidak membawa pada hasil yang ia sangat takuti itu, Morean sedari tadi begitu sangat tidak tenang bahkan mandi pun sebenarnya cara dia menghalau untuk tidak mendengar kenyataan itu langsung dan bisa membuat dia mungkin seperti terperanjat dalam sebuah jurang dalam, dan akan terikat dengan dia dan miliknya yang menyatu pada wanita itu.
"Lakukan yang terbaik dokter, aku akan pergi menemui kolegaku..." Morean mengangguk hormat pada dokter itu kemudia ia segera pergi.
"Melonku!" Sarla bersuara disana, membuat Morean kembali berhenti dan menoleh.
"Mereka sudah membawanya." Jawab Morean siap pergi.
"Aku akan pulang jika hanya sendirian disini." ucap Sarla seperti sebuah ancaman kepada Morean.
Morean menelan ludahnya, "Iya aku akan kembali 1 jam lagi..." Morean pun segera keluar dari sana.
Dokter Stevanus tersenyum menahan, "Ku harap semua akan berjalan dengan baik untukmu, aku yakin Morean Sanden lelaki yang baik."
"Semoga semuanya seperti apa yang kau lihat Dokter walau sebenarnya tidak."
Diluar sana Morean pun memerintah para pelayannya untuk segera memotongkan Sarla buah melon yang baru datang, lelaki itu tampak menunggu disana dengan keahlian khusus para pelayan Melon-melon itu sudah terpotong dan tersedian di sebuah nampan.
Morean padahal ingin segera pergi namun entah kenapa ia malahan menyempatkan membawa potongan buah itu untuk Sarla dan menghantarkan kedalam kamarnya.
"Terimakasih Dokter Stevanus...." Morean berselisih dengan Luke yang akan menghantarkan Dokter itu kembali pulang diruangan menuju keluar.
Dan ia pun masuk lagi kedalam kamar Sarla.
Sarla terkesiap, melihat yang berdiri dipintu membawa sebuah baki.
"Kau belum pergi?"
"Melon mu, aku pergi sekarang!" Letakkan Morean dimeja sebelah Sarla agar mudah dijangkau.
Sarla menelan ludahnya, "Bisakah kau yang memakannya?"
Morean terperangah, menatap dengan tatapan serius, "Apa maksudmu? kenapa aku? sedari tadi kau sibuk memintan melon lalu sekarang kau memintaku memakannya?"
.
.
.
.
.
Next»