
Diluar rumah sakit para anak buah Watson kesal, mereka tidak tahu jika dokter itu merupakan keluarga dari seorang general komisaris besar kepolisian di Madrid, Dokter Stevanus bahkan tinggal dilingkungan yang memiliki pengawalan ketat bahkan saat berangkat bertugas kemanapun.
Watson tentunya sangat berhati-hati dan tidak mau memancing ia yang pernah menjadi DPO menjadi bermasalah lagi.
“Kembali sekarang, kita susun rencana ulang!” Kesal Watson dijalan lain, siap mengemudi kembali ke gudang, Ia tidak boleh gagal begitu saja tentunya akan membuat Summer marah dan kecewa padanya.
...***...
Di tempat lain Sarla dan Morean sudah kembali dari sebuah tempat wahana bermain dan kini sudah berada dalam sebuah mobil siap kembali pulang saat hari sudah menjelang malam.
“Kita akan kemana More?” Sarla mengedarkan pandangannya kesekitar saat mereka memasuki sebuah kawasan seperti hutan bukan jalanan tengah kota seperti Eddewars Tower appartement Morean berada.
“Rumah mendiang nenekku.”
“Di hutan?”
“Ya, di atas bukit sana dibelakanya ada danau, sementara kau akan tinggal disana sampai nanti pemeriksaan dokter Stevanus mengatakan kau sudah pulih dan bisa pergi.” Perut yang sesak terasa sakit mengucapkan kata pergi, Morean menelan ludah terbiasa dekat membuat terbiasa pula bersama namun keadaan mereka adalah hal yang terlarang dan beresiko. “Eddewars tower sudah tidak aman, belanjaanmu juga sudah dibawa dimobil belakang, rumah nenek sangat aman juga nyaman untuk healing, ayah sering menempati itu memancing didanau, tempatnya sangat asri dikelilingi pepohonan pinus bunga-bunga tulip dipinggiran danau.
Sarla mengulas senyuman ya, mau tidak mau pasrah saja menerima, “Sepertinya tempat yang bagus.”
“Hemmm, jika malam ya seperti ini hanya ada suara-suara jangkrik dan katak.”
“Kau akan meninggalkanku disana?” Tidak malu sekali aku mengucapkan itu Tuhan. “Ah tidak maksudku aku akan sendirian disana?”
“Disana ada bibi Torres, bibiku, adik terkecil ayahku masih menempati rumah itu bersama beberapa pembantunya dia masih aktif dikebun juga suka kepertenakan dia menyukai tamu yang datang anggaplah kau sedang berlibur disana begitu tenang tidak ada rumah lain selain rumah besar itu.”
Sarla menatap Morean dalam tamaramnya pencahayaan di mobil, “Apakah orang yang datang kemarin menembaki senjata ingin menyerangku? Salahku apa?”
Bibir Morean melengkung, Ia mengusap rambut Sarla, “Kau tidak salah, mereka yang salah berfikir kau adalah wanitaku! Apapun yang terlihat berharga dariku akan dihancurkan, kau sasaran mereka saat ini, ayahku sakit juga diawali dari racun yang mereka berikan dulu hingga dia mengalami stroke.”
“Salahmu kenapa kau membawaku ke appartement mu, lebih baik dirumahku! Kenapa kau tidak memulangkanku kerumah saja?”
Morean menarik Sarla agar menyandar di antara lengannya, ia memainkan ramput panjang selembut sutra itu, “Beberapa hal terjadi.” Sial Sarla terlalu suka rambutnya diusap-usap membuatnya nyaman dan mengantuk apa lagi menyandar pada tubuh hangat Morean membuatnya nyaman sekali.
“Hal apa?” Sarla bersuara pelan, sayup-sayup mata mencoba memejam.
“Juless sudah tahu tempat tinggalmu dia pernah kesana dan tetanggamu mengatakan kau sudah memiliki suami.”
“Sudah ku duga pasti tetangga ku berfikir itu hemmm...”
“Tidur?”
Sarla tertawa, “Kau membuatku mengantuk! Masih jauh lagi?”
Morean menelisik keluar pada jalanan gelap itu, “Setengah jam lagi, kau bisa tidur jika kau mau.”
“Hemmmm, aku ingin tahu siapa yang menyerang lalu bagaimana dia bisa tahu kau menyimpanku disana, bukankah itu tempat yang privacy? Dan pengawansan ketat?”
Morean diam sejenak tangannya terus membelai lembut pada Sarla memutarkan jemarinya disela-sela rambutnya, “Kau ingat dokter ayahku yang tempo hari datang saat kau sedang muntah-muntah?”
“Dokter itu yang memberitahukan kepada musuhmu?”
“Orang yang menjadi musuh dan membenci keluarga ku sejak lama adalah ayahnya.”
Sarla pun menegakkan tubuhnya menatap serius pada Morean, “Ayahnya membencimu kenapa kau membiarkan ayahmu dirawat olehnya kau tidak takut itu menjadi bahaya dan akses mudah untuk musuhmu melumpuhkan?”
“Dia berbeda aku kenal dia, dia berbanding terbalik dengan ayahnya misi hidupnya adalah menyembuhkan orang lain dan menolong orang-orang yang membutuhkan, tapi itu dulu sepertinya sekarang sudah berubah tentang ayahku dokter lain juga mengawasinya disana para pengawal dan bodyguardku ku menjaga ketat ayah.”
Sarla masih terus menatap More, “Kau sangat mengenal dokter itu More.”
Satu tarikan nafas Morean mengudara, “Dia mantan kekasihku— bahkan kami sudah bertunangan dan akan menikah dulu.”
Sarla menarik nafasnya sedikit terkesiap, lelaki ini menceritakan semuanya bahkan hingga mantannya, apakah aku termasuk sesuatu yang berharga hingga bisa membuatku menceritakan tentang kehidupanmu.
“Artinya dia mengadukan pada ayahnya, tentangku! Dan artinya dia mencemburuiku More!”
“Hemmm... Mungkin!”
“Kenapa kalian berakhir?”
“Kau ingin jadi wartawan? Atau reporter berita infotainment?” Morean sedikit tertawa mengejek Sarla yang bertanya semakin jauh.
Sarla pun tertawa, “Ceritamu sudah separuh jalaan, aku kan menjadi ingin tahu bagaimana kau yang bahkan sudah bertunangan dan akan menikah bisa berakhir.”
“Karena celàna dalamnya bolong.”
“Moreeee!” Haha Sarla pun tertawa geli, “Aku serius! Mana mana mungkin dia memiliki kegemaran sepertiku.”
“Kenapa tidak!” Sebuah kecupan pun mendarat pada pipi Sarla, membuat Sarla bersemu malu.
“Kau seperti mencium seekor kucing.”
“Kucing? Kau bukan kucing tapi Srigala! Begitu menyeramkan saat tidak menyukai sesuatu.”
“Kau memancing?” Sarla pun terkekeh, ia beringsut mundur hingga Morean menaring pinggulnya menarik Sarla mendekat, “Naiklah!” Perintahnya, membuat Sarla menurut ia berangsur menduduki paha Morean seperti bayi, keduanya saling berhadapan melengkungkan senyuman mendamba, Morean mulai memeluk pinggang Sarla dan Sarla sudah melingkarkan kedua tangannya dileher Morean.
Aku akan sangat merindukanmu More... Tatap Sarla lamat-lamat wajah tampan Morean.
Morean memejam ia tarik tubuh Sarla kemudian ia dekap erat-erat, wajahnya menempel pada pundak Sarla menghidu aroma-aroma pada pakaiannya.
Padahal ini adalah posisi on top yang mana tubuh mereka sudah saling menempel namun ia tidak memikirkan hàsrat atau sesuatu selain ingin memeluknya lama-lama dan dalam.
Morean mulai menegakkan kepalanya menempelkan wajahnya pada leher Sarla, begitupun Sarla ia menempelkan wajahnya pada leher Morean mengirup dalam aroma maskulin dari White musk lelaki itu.
Hening jalanan begitu terasa melengkapi suasana haru dalam syahdu mereka dan hanya degupan jantung yang terasa terdengar.
“More?” Sarla mengangkat kepalanya menjarakkan tubuh mereka masih saling bersitatap.
“Hummm, kenapa?” Tatap mata sendu Morean kepada Sarla.
“Tidak ada.” Sarla pun tersenyum, “Aku hanya suka kau peluk, aku suka bau pafume mu...”
“Kau sudah mengatakannya beberapa kali.”
Sarla tertawa, “Oh ya? Haha...”
“Ssstt...”Jemari Morean menutup mulut Sarla yang tertawa, membuat mereka saling menatap lagi dan seperti saling mengerti kedua bibir mereka pun mulai memagut tanpa intruksi.
Seakan tidak memperdulikan dua pengawal dan supir didepan sana, Morean masih melingkarkan kedua tangan besarnya pada pinggang Sarla dan terus memagut, kini penuh kelembutan, saling menghisap lembut dan bertukar saliva, meresapi setiap pergerakkan bibir mengaliri rasa yang menjalar hingga hati.
Hingga pagutan pun terlepas saar dari jauh sudah tampak rumah berlantai tiga dengan cahaya lampuannya di tengah-tengah hutan itu, Morean mengakhiri pagutan dengan ciuman kecil di bibir lalu berpindah ke dahi Sarla hingga membuatnya beringsut turun dari kedua paha Morean.
...*** ...
“Moreeee!!” Suara melengking bibi Tores menyambut antusias kedatangan More.
Sarla yang digandeng Morean turun pun malu-malu harus bersikap apa. “Bagaimana kabarmu bibi?” Sambut Morean pelukan hangat sang bibi.
“Aku selalu sehat, siapa dia More? Istrimu?” Sang bibi begitu sumringahnya melihat Sarla yang digandeng malu-malu itu, tidak pernah bibi dapatkan Morean membawa gadis ke tempatnya bahkan calon istrinya yang seorang dokter kala itu.
“Dia Sarla bibi.”
Bibi pun langsung memeluk Sarla, “Kau cantik sekali, kau calon istri More? Kau beruntung sekali Morean sangat penyayang dan penuh perhatian.”
Morean tidak menolak ucapan bibi lagi pula akan bagaiman bibi berpendapat jika Morean memperkenalkannya sebagai orang lain dan bukan siapa-siapa, mereka pun masuk kedalam rumah besar bibi Tores, Sarla benar-benar disambut baik disana.
Morean membiarkan itu, ini adalah tempat yang aman buat Sarla sebab Juless pun tidak pernah kesini ia selalu bertemu bibi Tores hanya saat bibi Tores yang datang ke Rodriguez House.
“Kau akan menginap More?”
Morean melihat pada waktunya, “Aku akan menjenguk ayah, kau tidak keberatan Sarla tinggal disini beberapa hari ini bukan?”
“Pergilah sekarang kau tidak boleh sering-sering meninggalkan ayahmu, sudah ku katakan biarkan ayahmu tingga disini, tempat ini lebih aman untuknya dan sehat untuk orang sepertinya.”
Sarla menatap pada Morean memelas, akan bagaimana jika dia ditinggal pada orang yang tidak ia kenal, Morean paham tatapan takut Sarla. “Kau akan aman, aku tidak disini tapi tangan-tanganku ada disini siap menjagamu.”
Bibi Tores tertawa, “Kau semakin pintar menggombali More, pergilah sekarang aku akan menjaganya untukmu! Ayo cantik bibi tunjukkan kamarmu!”
Sarla pun mengangguk berjalan dibawa bibi Tores, matanya masih terus mentap Morean yang berdiri, hingga Morean pun mengikuti keduanya.
“Aku berangkat sekarang.” Morean membuat Sarla berhenti, kemudian lelaki itu memeluknya, “Jangan takut disini aman, ada banyak tempat persembunyian yang aman disini, anggaplah bibi seperti ibu mu,” Satu kecupan pun mendarat pada puncak kepala Sarla mengaliri rasa aman padanya.
“Aku mengerti, pergilah! Hati-hati...” Genggam Sarla tangan Morean kemudian ia lepaskan dan kembali mengikuti bibi Tores.
.
.
.
.
.
Next »