Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 82



Sudah beberapa jam Molina berjalan-jalan sendiri, menikmati malam indah kota Romein dan menikmati beberapa kudapan yang dijual disepanjang jalan kota itu, ia pun mulai lelah dan memutuskan untuk kembali ke hotel.


Molina memilih berjalan kaki sebab hotel tempatnya menginap tidak terlalu jauh hanya melewati beberapa hotel dan tempat hiburan. Molina membawa 1 cup kopinya ia menyeruput sepanjang perjalanan, sepertinya tekatnya sudah bulat ia akan kembali lagi ke kontrakan lama lalu memulai bekerja lagi apapun itu, meski tidak harus bekerja ditempat keluarga Sanden.


Lama ia berfikir sepanjang langkahnya semua kini seperti apa yang dia harapkan, bisa melihat lagi adalah sebuah anugrah terbaik, ia tidak akan banyak menuntut apapun pada keadaan inilah yang ia impikan, mampu melihat dunia luas, mengelilingi banyak tempat lewat sorot matanya sendiri.


Tentang Sarla biarlah dia bahagia, mungkin Tuhan kirimkan Sanden hanya untuk menolongku membuka mata dan melihat dunia sebab dia adalah jodoh milik adikku.


Di tempat yang sama dengan Molina, Summer dan Juless tengah menikmati akhir pekan mereka, Summer ingin berjalan-jalan diluar dan makan malam diluar appartement mereka.


Summer kini sudah lebih bisa menerima kenyataan, ia sudah bisa menerima Juless sebagai partnernya, dia tidak lagi marah Juless menggandeng atau merangkul, keduanya baru saja menikmati makan malam dan kini akan kembali kembali ke appartement.


“Mau membeli makan ringan atau kebutuhan yang lain, disana ada mini market.” Tunjuk Juless ke sisijalanan.


“Boleh.”


Summer dengan senang hari menyetujui, mereka pun kembali berjalan masih saling menggandeng dan membahas apa saja yang ada hingga mentertawai hal-hal aneh disepanjang jalanan.


“Makanan apa yang kau suka?” Juless sudah mendorong sebuah keranjang belanjaan masuk ke supermarket.


“Entahlah, semua aku suka sekarang.”


Juless mengulas senyuman,”Menurutmu apa jenis kelaminnya nanti?” Keduanya pun berjalan beriringan didalam sana.


Summer mengendikkan bahunya di tidak tahu namun juga sedikit emosional terbawa perasaan jika membahas anak, “Menurutmu Julls?”


“Apapun itu yang terpenting semuanya baik-baik saja, kau dan anak kita sehat dan bahagia selalu.”


Juless mulai meletakkan beberapa barang seperti tissu-tissuan, membuat Summer merasa semakin menghangat, ucapan Juless selalu membuat meleleh, begitupun sikapnya. Tidakkah ini seperti hubungan suami dan istri?


Summer mengulas senyuman, semesta memang tidak parnah salah menempatkan sesuatu, dia kehilangan Morean namun tidak pernah menduga atau terlintas Juless jauh lebih dari Morean.


Keduanya terus memasukan barang untuk kebutuhan mereka, beberapa peralatan makan, isi kulkas hingga kebutuhan toilet, menjadi hal yang menyenangkan untuk Summer, padahal hanya berbelanja saja, Juless tidak berhentinya menggoda dan berlaku sangat manis


Tidak terlalu lama mereka berbelanja hingga akhirnya sampai di tempat pembayaran dan sudah memenuhi trolley kini menunggu beberapa antran didepan Juless yang mendorong trolley berbisik pada Summer.


“Lihatlah mereka!” Tunjuk Juless pada sepasang wanita dan pria juga 3 anak balita yang sedang sibuk berbelanja membawa anak-anak mereka.


“Kenapa?” Lihat Summer kemudian.


“Terlihat sangat seru kan? sepasang lelaki dan wanita juga ketiga buah hati yang selalu membuat mereka tertawa dan saling bekerja sama melengkapi keluarga kecil merka? Will you marry me, Summy?” bisik Juless dibelakang Summer yang sedang berpegang pada Trolley menunggu antrian.


“Apa?” Summer terkesiap, begitu sangat shock ditempat seperti ini Juless mengucapakan itu.


“Ya, mau kah kau seperti itu? Aku kau dan anak-anak kita, im seriously Summy...mau kah kau menjadi istriku? Ini terlalu mengejutkanmu tapi...aku bersungguh-sungguh memintamu, meminta kau secara officially bukan hanya karena kita terikat karena anak.”


Jantung Summer berdegub sangat kencang kedua tangannya mendadak berkeringat sebab ia kepal besi pendorong Trolley, “Julls? Kau biacara apa?”


Mereka maju selangkah untuk kemudian bergiliran melakukan pembayaran, sejenak hal yang membuat Summer terkejut itu berhenti, sampai mereka selesai membyar disana, Juless yang membawa barang-barang mereka dengan satu tangan kini tangan lainnya menggandeng Summer.


“Julls?” Summer menggelengkan kepalanya masih bingung.


“Katakan Ya atau tidak Summey?”


“Tapi ini mendadak Julls!” Summer menarik tangannya yang dibawa Julles.


“Kau tidak mau?” Tatap laki-laki itu serius, “Kau masih mengharapkan Morean.”


Keduanya diam sejenak Juless meminta namun seperti memaksa, keduanya mendadak diam dan saling berpandangan. Summer tidak tahu ia harus apa ia begitu bingung dan takut jika ayahnya memanfaatkan ini.


“Julls!”


“Ya, aku tahu kau masih mengharapkan More—“ Julles menghelakan nafas nenatap kecewa Summer, “....Sudahlah...kita pulang.”


Summer menggelengkan kepalanya dia iba melihat Juless yang kecewa dan juga ucapan Juless tidak benar, dia tidak lagi mengharapkan Morean, “Tidak ada Morean, tidak ada tentang masih mengharapkan dia, itu tidak benar Julls.”


“Sudahlah ayo kita pulang...”


“Kau marah! Aku tidak mau pulang.”


“Sebuah penolakan dalam permohoan biasa terjadi anggap saja aku belum beruntung....”


Summer berkaca-kaca, “Kau salah Julls...” beberapa langkah Summer maju lalu menjatuhkan bungkusannya berhambur memeluk Julles, “ Aku terlalu beruntung memilikimu, aku terlalu beruntung berada didekat orang sepertimu, aku dan anakku beruntung sebab memilikim,.” Summer menganggukan kepalanya didada Juless, “Ya, aku bersedia Julls...aku bersedia..”


“Bersedia?” ulangi Julles.


Kepala Summer bergerak lagi, “Ya, kita akan menikah lalu memulai semuanya dari awal, aku kau dan anak-anak kita.” Mata Summer berkaca-kaca dalam beberapa menit dia menantapkan hatinya untuk menerima keponakan dari mantan kekasihnya.


Juless pun demikian seketika ia berkaca-kaca mengusap pundak Summer yang memeluknya tanpa mereka sadari mereka menjadi tontonan disana beberala mata melihat kearah mereka didepan pintu utama supermarket itu.


Molina yang baru saja sampai disana hendak mampir membeli beberapa potong roti pun melihat itu, sesaat dia berfikir sepertu mengenal lelaki yang berpelukan itu.


“Julles?”


Sungguh dia semakin terperangah, ini Julles mantan kekasih Sarla lihatlah dia sekarang bersama seorang wanita dan sangat seintim ini artinya dia sudah merelakan Sarla dan Morean untuk bersama. Padahal Molina tahu bagaimana dulu Julles sangat mencintai Sarla keponakannya itu.


.


.


.


❤🌹