Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 79



Di kediaman Morean dan Sarla, keduanyabsedang bersantai disebuah kolam berenang mereka, menatap pada langit-langit berlampu indah dirumah, “Apa yang dilakukan kakak dan Luke saat ini ya Dad? Apa semuanya baik-baik saja? Dia pasti akan marah jika tahu sebenarnya kita tidak kemana-mana hanya dirumah.”


Sarla memeluk kaki Morean yang duduk ditepi kolam berenang sementara dia masuk kedalam air kolam dengan bikini seksînya.


“Niat kita baik, ingin mendekatkan mereka, sudahlah! Semuanya akan baik-baik saja, Luke adalah orang baik walau dia begitu menyebalkan."


“Hemm, ku harap seperti itu, Kakak selalu saja berbicara seperti dia tidak suka dengan keadaannku sekarang, aku rasa dia masih tidak bisa terima jika Sanden adalah kau, suami adiknya.” Sandar Sarla wajahnya pada paha Morean.


"Sudahlah jangan fikirkan itu, fikirkan saja yang membuatmu senang, aku tidak suka kau memikirkan hal yang buruk sedang aku selalu berusaha kau menjalani semua yang baik dan kau suka.


“Hemm...iya maaf, ayo turun, kau akan menemani ku berenang kan? jika tidak basah namanya bukan menemani lebih baik aku sendiri.”


“Dingin...ini sudah jam tidur.”


“Tidak ada bedanya siang atau malam, disini sama saja, ayo turun dad!” Tarik-tarik Sarla suaminya.


“Dingin sayang—“ Morean bergidik ngeri, “Aku tidak suka berenang.”


Sarla pun melotot sebal, “Tuan Costa! Temani aku berenang, kau sibuk tidak!” Sarla memekik memanggil penjaga keamanan rumahnya.


:Costa pun segera datang berlari-lari membuat Morean tertawa, “Stop Costa jangan kesini! Istriku sedang mabuk kembalilah bekerja.”


“Tidak Costa! mendekatlah bawa aku berkeliling kolam.”


Morean terus tertawa, “Ya aku turun, pergilah Costa! Istriku sedikit kelainan jiwa.” Morean pun turun kedalam air saat bibir Sarla sudah maju beberapa centi, “Senyumlah, aku sudah turun.”


“Karena dipaksa.”


“Tidak sayang, aku hanya malas basah-basah ayo kita berenang sayang....” Morean pun membawa tubuh Sarla yang masih marah, ia pasrah dibawa untuk berkeliling kolam berenang mereka.


Sarla tertawa puas, ia tahu Morean memang tidak suka basah-basah tengah malam, terus saja ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Morean menempel seperti bayi siamang dibelakang sana.


“Ayo bawa aku berputar Dad... Kau tahu hobby ku adalah berenang.”


Morean memegangi punggung Sarla untuk berenang, “Kau hobby berenang? Dulu kau sering berenang?”


“Tidak dad, aku kan tidak bisa berenang.” Jawab Sarla polos.


Morean menggerutu, “Kau tidak bisa bereng tapi kau mengatakan hobby mu berenang, pernyataan macam apa itu.”


Sarla dipunggung Morean pun terbahak-bahak, “Terserah aku dad, hidup itu pilihan, semua orang bebas memilih apa yang dia mau.”


“Ya bebas tapi tidak mengarang bebas juga sayang. Bagaimana jika kau bertanya apa hobby mu dad? lalu aku jawab, meniduri tetangga, apa itu bisa diterima padahal aku tidak pernah.”


“Kenapa jauh kesana! Fikiranmu terlalu jauh.” Pukul Sarla lengan suaminya.


“Auw...kau yang memulai! Fikiranmu yang terlalu jauh, apa yang salah dengan meniduri tetangga, bisa ayahnya, kakeknya atau tukang kebunnya.”


“Masalah lah, kau tahu makna meniduri? Itu artinya melakukan sebuah tindakan.”


Sambil berenang mereka terus saja membicarakan hal-hal yang tidak penting kekonyolan khas mereka.Morean tertawa, “Ehm ya baiklah terserah apa apapun itu pendapatmu, Ibu kutil yang penting kau senangm”


“Apa katamu?” Sarla menggigit punggung suaminya, membuat Morean memekik.


“Sakiiiit! Sarla!”


Sarla pun terbahak-bahak turun dari punggung Morean, segera menepi, Morean menatap kesal pada sang istri terus mengusap punggungnya yang digigit itu. “Gigit yang lain, jangan yang diluar kendaliku.”


“Apa yang dalam kendalimu?” Hahaha, “Ayo naik aku lapar, aku mau kau memasak untukku.”


Morean kembali menepi berenang ketepian, “Kita pesan saja, jika kau bosan masakan pembantu dirumah.” Morean mengusap wajahnya yang basah.


“Jika memesan aku tidak perlu mengatkan padamu, aku bisa sendiri.” Sarla dengan bikini seksinya bangkit dan siap masuk kedalam rumah.


“Sayang! Hey SAYANG! Mana handukmu, pakai handukmu!”


Sarla berhenti dan tertawa, di pintu masuk ada beberapa penjaga rumah mereka,”Iya maaf aku lupa, ayo naik aku ingin makan masakanmu.”


Morean pun naik dengan tangga disana, “Aku hanya bisa memasak telur mata sapi.”


“Ya tidak masalah aku suka telur mata sapi.”


“Tapi ini berbeda dia sedikit katarak, aku selalu tidak berhasil membuat bulatannya tetap utuh, dia selalu pecah dipenggorengan.”


“Terserah apapun itu, telur mata sapi katarak, mata sapi silinder atau mata sapi minus, aku ingin makan sekarang.” Keduanya yang basah pun berjalan masuk kedalam rumah mereka Morean memegangi sang istri agar tidak terpeleset.


Menggenggam dengan eratan tangan yang kuat, selalu saja rasanya Morean tidak percaya sampai dititik ini, mempunyai  pasangan hidup, teman bertengkar dan tempat berbagi juga meluapkan segala hal.