Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 70



Ini menjadi malam yang Morean dan Sarla rindukan, keduanya bisa tidur diranjang yang sama lagi, Sarla bisa mendapatkan pijatan dipunggung oleh tangan favoritenya lagi, menghidu aroma mint segar dari sang suami yang amat ia sukai.


“Dad, sudah pagi....”


Usap-usap Sarla wajah Morean yang menyembunyikan wajahnya dilengan Sarla.


“Hem, pukul berapa?”


“Pukul 6, seingatku kau meninggalkan Luke dimana? Apakah dia menunggumu diluar?”


“Dia sudah pulang saat ini, jangan fikirkan dia, Luke bukan bayi, dia mungkin sudah dibandara.”


“Hemmm....”


Sarla sedikit kelelahan yang mana pergulatan panas nan lembut sudah 2 kali terjadi, kini keduanya bahkan masih dengan keadaan polos.


Lagi dan lagi tangan Morean kembali bermain diperut Sarla, “Morning baby, buat dia bergerak mom katamu kau sudah bisa merasakan gerakkan kecilnya.”


“Aku tidak bisa membuat itu dia muncul tiba-tiba More.” Pegang Sarla tangan suaminya keduanya meraba pergerakkan bayi mereka masih saling menempel, “Nak, ayo sapa daddy....” Sarla menggerakkan tangannya.


“Tidak ada....malam tadi katamu dia marah saat aku mengunjunginya.”


“Ya malam tadi aku merasakan pergerakkannya, bersamaan dengan pergerakkanmu.”


“Ayo kita lakukan lagi,” Morean mulai menurunkan tangannya kebawah dengan bibirnya mengecup pipi Sarla.


“Itu mau mu, bukan karena baby!” Gerutu Sarla yang mana ia tidak menolak, tubuhnya mengikuti sentuhan dibawah sana dan melenguh, “Dad—“


“Ya, sekarang!”


Lenguhan Sarla cukup menjelaskan sebuah kalimat persetujuan, sang lawan pun siap mengukung naik lalu menghujami leher sang istri, melucuti setiap centi tubuh mulusnya menjadikan pemilik tubuh melenting mendapatkan sensasi geli yang mencipatkan rasa tagih hingga bibir lawan berhenti di titik diri sang istri.


Sentuhan lembut didua paha membuat pemilik tubuh reflek pasrah dan membuka kakinya, tidak ada rasa takut ini adalah hubungan yang baik, penuh cinta dan sah dalam hal apapun.


Penyatuan pun terjadi menciptkan gelombang rasa yang menyetrumi titik diri hingga seluruh tubuh.


 Permainan bibir terus menjalari leher hingga dua benda indah disana seiring dengan hentakkan-hentakkan lembut membuat suara lenguhan yang cukup menjelaskan betapa tubuh keduanya menikmati ini.


Sarla terus menahan tubuh Morean memperingatinya agar tidak terlalu merapatkan diri dan menjaga jarak tekanan para perutnya, hingga Morean menggigit bibir Sarla kuat dan merasakn sesuatu yang lepas dari dirinya.


“MOREE!!!”


Sarla pun berteriak merasakan yang sama, “Dad dia bergerak! Dad dia bergerak....” Sarla mendadak histeris, membuat Morean yang akan turun segera menempelkan tangannya pada perut Sarla.


“Sayang, ini? Pergerakkannya?"


“Ya, itu dia, kamu mungkin tidak terlalu merasakannya, kita akan semakin meraskannya nanti saat dia 7 hingga 9 bulan.”


Morean mengulas senyuman tulusnya, “Kau tau.... kau dan dia membuatku merasa seperti bukan diriku, tidak pernah aku menyukai proses atau perjalanan yang lambat, tapi saat ini aku menikmatinya.”


“Ohya, kami juga selalu menikmati setiap moment bersamamu dad...” Sarla memeluk Morean lagi, “Aku ingin setiap waktu berjalan lambat saat menghabiskan waktu bersamamu.”


Morean merapikan sulur rambut Sarla yang menempel pada dadany, “Kenapa tidak dari awal kita seperti ini tanpa harus ada drama panjang.”


Seulas senyuman lebar muncul dari bibir Morean, “Ini adalah hari terakhirmu disini, kita akan ucapkan banyak terimakasih pada ibu angkatmu itu, hari ini juga Molina sudah bisa kembali kesini.”


“Aku sedih dad bisa berada disini bersama orang sebaij Mom Lily dan keluarganya, tentang kakak sungguh aku sangat merindukannya sudah lama sekali dia disana bahkan banyak yang sudah kita lewati.”


“Apa rencanamu?”


Sarla tertawa ini adalag rencananya sudah lama sejak disini, “Aku ingin menjodohkan Kaviar dengan kakak.”


Morean terkesiap, “Sayang, itu rencanaku akan menjodohkan dia dengan Luke, Kakakmu pasti akan mencari Tuan Sanden aku akan membuat Molina tahu itu adalah Luke karena memang dia yang membuat rencana pengobatan itu.”


“Dad, Tidak! Luke bukan laki-laki yang baik untuk jadi kakak iparku, dia punya beberapa wanita, aku ingat Juless pernah menceritakan itu dulu lama sekali, saat Luke mengambil mobil ke kampus dan didalam mobil itu ada seorang wanita sexy”


“Wanita sexy?”


“Ya, wanita sexy.... Atau jangan-jangan itu wanitamu!” Sarla mengangkat kepalanya menunjuk wajah More.


“Kenapa aku!”


Sarla mendengkus, “Entahlah pokoknya kakak lebih bair bersama Kaviar bukan Luke.”


...*** ...


Di tempat lain


Bruak....


Ponsel Luke terjatuh tersenggol sebuah koper seorang wanita, “HI Nona kau membuat ponselku terjatuh!” Luke mendengkus kesal melihat wanita itu.


“Ma-af tuan saya tidak sengaja....”


“Kaca matamu lepas, ini dalam ruangan! Kau menyelakai orang lain, seleramu terlalu buruk dan kampungan memakai kaca mata hitam dalam ruangan, lagi pula itu kaca mata terlalu kuno untuk dipakai di tahun saat ini! lebih baik kau gunakan saat mengecek pembangunan sebuah gedung kontruksi.”


Luke memungut sendiri ponselnya saat wanita itu diam menunduk takut, Luke terlalu panjang memarahinya hingga mengatainya kemudian duduk disebuah deretan kursi diruangan tunggu.


Sementara wanita itu berjalan lagi kepintu utama tempat keluar tadi seperti mencari-cari sesuatu, enggan berucap apapun pada orang yang sudah memarahinya tadi.


Disebuah bandara internasional, Luke sedang menunggu tamu yang diminta Morean untuk dijemput, dia paling tidak suka menunggu didepan sana apa lagi berhimpitan dengan keramaian mengangkat sebuah papan nama


Bukan Luke namanya jika tidak banyak akal, dia meminta tukang bersih-bersih disana menunggu didepan pintu kedatangan internasional itu dengan mengangkat sebuah papan nama, sementara dia memilih duduk bersantai membaca portal berita di gadgetnya.


‘Molina Orion Wilamo’


“Hi, aku Molina, Kau Luke? Seperti yang dikatakan seseorang yang menjemputku?” Seorang wanita cantik  memakai kaca mata hitam menyapa lelaki Cleaning service yang memegang papan namanya.