
Setelah melalui banyak tangan-tangan akhirnya sepucuk surat itu sampai di tangan Luke, seorang security menyerahkan pada receptionist lalu singgah kebodyguard Morean hingga akhirnya setelah memastikan itu hanya sebuah surat biasa dengan sebuah prangko tebalnya tanpa ada sesuatu benda yang bersifat menjebak seperti alat penyadap, surat itu pun diberikan pada Luke.
.
“Bos, surat cinta untukmu.” Luke meletakkan benda itu diatas meja Morean.
Ia pun melirik saat tengah sibuk dengan layar monitornya, segera ia geser dan jatuhkan kesebuah tempat sampah kertas yang tertutup di samping tempat duduknya.
“Sampah! Siapa yang mengizinkan kalian menerima sampah?” Morean menyandarakan dirinya, ia mendesah lelah Summer tidak berhentinya mengusik.
“Kau membuangnya? Jangan paksa aku mengambilnya.”
Morean menatap Luke serius, “Apa maksudmu?”
“Bacalah sebelum kau membuangnya!”
“Terserah.”
“From baby M untuk daddy.”
Morean membelalak, sebutan baby M hanya dia dan Sarla yang tahu, segera mungkin Morean merunduk mengambil kertas itu yang masuk kedalam bersama potongan-potongan kertas ia buat berserakan menuang semua isinya.
Hingga ia berhasil mengambilnya dan ia baca pengirimnya jelas disana. From baby M untuk daddy
Morean segera membuka dan membacanya, ia menatap lama-lamat membaca sangat cepat hingga mengulang-ulangnya lagi agar tidak tertinggal satu kalimat dan katapun.
Morean meremasih tangannya sendiri, maniknya berubah sendu dengan wajah yang sangat memperlihatkan kesedihannya. Ia mengharu benar memang membuatnya tenang namun juga membuatnya semakin merasakan kesedihan.
Dia mampu memberikan segalanya namum tidak rasa aman, ‘Maaf nak, Tuhan membuatmu menjadi bagian dari hidup ayah, orang yang tidak mampu memberi ketenangan dan rasa aman....’
“Periksa siapa yang mengirim, Luke!”
“Seorang laki-laki sepertinya seorang suruhan.”
Morean diam sejenak, Sarla memintanya untuk membiarkannya sejenak tenang disana, lalu apakah dia harus membiarkannya?
Tapi benarkah dia bersama orang-orang yang baik, ‘Nak pulang lah semuanya sudah lebih aman, kali ini ayah pastikan tidak akan ada apapun lagi yang akan terjadi pada kalian.'
“Bagaimana kau ingin aku melacaknya bos?”
Morean mendesah lelah, “Dia ada dikota ini, dia berada ditempat yang membuatnya aman dan nyaman, aku mau istri dan anakku, Luke! Tapi aku tidak bisa tidak mengabulkan permintaanya, dia butuh ketenangan dan tempat yang nyaman, mungkin dia masih trauma atas semua yang terjadi, a-aku rasa, aku tidak bisa memakasakannya Luke, itu akan mempengaruhi psikisnya.”
“Kau benar bos, tapi kita bisa cari tempat itu dimana, kau tetap bisa menjaga dan memperhatikan dia dari jauh.”
“Ya, cari lelaki itu Luke, dan dimana mereka tinggal.”
...***...
Juless seperti dikerjai, ia kerumah sakit tempat yang Summer katakan dimana Sarla berada namun tidak ada apapun disana dan kini ia kembali lagi mencari Sarla berfikir Morean dan Summer sudah menemukannya.
Lelaki itu mendatangi Summer ditempat tinggalnya pagi-pagi sekali setelah semalaman ia ada di sebuah pub, membuat wanita yang akan berangkat ke rumah sakit itu terkesiap.
Sebuah mobil berhenti didepan mobilnya yang baru ia panasi.
“Juless?”
Juless pun turun ia begitu acak-acakan wajahnya pun berantakan ia sepertinya sedang mabuk jelas terlihat dari gesturenya dan manik yang kosong itu.
“Dimana Sarla? Kau memberitahukan More kenapa aku tidak?”
Juless mendekat membuat Summer bergidik ngeri tatapannya sangat kacau, yang mana Summer tinggal sendiri dirumah bisa-bisa dia dianiaya atau dibunuh.
“Kau mabuk Juless, disini tidak ada Sarla wanita kalian itu, pergilah aku akan berangkat kerumah sakit!”
Juless mendekat pada Summer yang bergidik ngeri itu, “Kau pembohong!” ia tarik pergelangan tangan Summer dan mendorongnya ke badan mobil membuat tubuh mereka bertemu, “Kau dan ayahmu sama berengsëknya! Kau dan keluargamu yang membuat semua kekacauan!” Juless bersuara tegas, menahan tubuh Summer.
Summer mengalihkan wajahnya, saat wajah Juless dengan tatapanya yang sudah menusuk itu hanya berjarak beberapa centi saja.
"Menyingkir Juless! Kau mabuk, Sadarlah!!”
“Diam!” Tangan menangkup kasar wajah Summer memkaskannya untuk melihat kepadanya. “Kau cantik Summy sayangnya kau iblis!” Bruak, Juless memukul badan mobil disebelah Summer, membuat gadis itu ketakutan.
Sungguh Juless membuat Summer tidak bisa bergerak ia benar-benar menguncinya. “Aku akan teriak!” Pekik Summer.
“Teriak sekarang!” Juless tertawa disana ia tidak takut apapun lagi pula tempat ini begitu sepi.
“To-tolong!”
“Diam!”
Juless pun menahan mulut Summer menariknya kemudian hingga terkunci dilengannya, dengan gerakkan begitu cepat Juless menarik tubuh Summer ia angkat paksa masuk kedalam rumah wanita itu.
Summer terus memberontak, dia berteriak dan seketika dihempas Juless ke sofa, dibatas tidak waras dan entah apa yang ada pada kepalanya Juless seperti gelap mata melihat kaki jenjang dan mulus Summer dari pencil skirt Summer yang tersingkap.
Rasa benci dan ***** yang normal membabi buta tidak lagi ada rasa kasihan padanya
“Tolooooong aku!” Teriak kuat Summer begitu ketakutanya meliat Juless semakin menyeramkan. "Tolongggg!"
"Teriak yang kencang tidak ada siapapun!" Juless menyeringai cibiran dengan matanya yang sudah berkabut kebencian.
Dengan kasar Juless menahan tubuh Summer, dengan kedua tangan Summer ia selipkan disebalik tubuh wanita itu, "Kita bersenang-senang?"
"Jangan!"
"Diam!" Juless lalu menutup mulut Summer yang berteriak dengan tangan lalu satu tangannya, lalu menarik G-strîng gadis itu.
“Aaaaaaaaaa...
Juless menurunkan separuh celananya, mengukung Summer naik lalu menyikap keatas rok Summer lagi, tidak peduli penolakan tubuh Summer dan teriakannya juga kaki Summer yang menendang-nendang, Juless semakin mengunci tubuh Summer dengan tubuhnya yang lebih besar menahan dirinya agar tidak terdorong
Penyatuan mulai Juless lakukan dengan paksaan menerobos, tidak ada kelembutan saat sudah berhasil memasuki diri, dilakukan dengan sangat menggebu dan kasar, Juless menikmati hentakkannya sendiri memejam dan membuka mata.
Hingga beberapa menit kemudian Summer seakan pasarah ia sudah kelelahan dan tidak sanggup lagi melawan, sampai dimana sebuah hentakkan sangat cepat terjadi merasakan sesuatu yang meledak dan memenuhi penuh didalam sana membuat sipemilik tubuh pun menangis.
Hiksss....
Juless pun menitikkan air matanya ia turun begitu saja, sungguh ia seperti sudah tidak waras, saat ia dapati kekasih yang ia cari kemana-mana ternyata bersama pamannya, mereka bersama, sang paman bahkan mencintaiya menikahinya, Juless menepi ia menundukkan kepalanya yang sebenarnya ingin pecah sebab terlalu banya minum.
Summer bangkit, ia mengambil bantalan sofa dan memukuli Julesss, “Kau bèrengsekk, kau berengsekkk Juless!” Ia hantami wajah Juless lelaki itu tidak menghindar, “Kau akan aku tuntut!” Segera Juless menarik tubuh Summy membuatnya terjatuh dipangkuannya
“Kita sama-sama hancur!”
“Menyingkir!” dorong Summer Juless segera ia berlari ke kamar mandi berusaha membersihkan semuanya ia tidak boleh hamil oleh Juless, tidak akan.