
Benar-benar tidak ada percakapan antara Luke dan Molina didalam mobil, saking kesalnya Luke kelakuan Molina dibandara tadi ia meminta Molina agar tidak duduk didepan melainakan di kabin paling belakang sana, mengatakan dia akan menjemput orang lagi dan mobilnya akan penuh.
“Mana orang yang akan anda jemput tuan, apakah tidak jadi?”
Luke tidak menyahut, yang mana mereka sudah sampai digedung tempat dimana pintu utama kediaman baru Salra itu berada.
“Kita disini? Ini sebuah mall? ini pusat perbelanjaan, kenapa kau membawaku kesini? Aku akan bertemu Sanden ku fikir dia ada ditoko roti tempatnya bekerja.”
“Hey kau tuli, Tuan?”
“Tuan kau tidak mendengarku? HEY!”
Luke semakin melajukan kencang mobilnya saat naik ke gedung parkiran, membuat decitan kuat terdengar jelas didalam sana.
Molina ketakutan, “Anda tidak waras tuan! Apa yang anda akan lakukan?”
“Hey kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku apakah anda bisu, apakah mulutmu pindah kebokong sehingga tertutup saat diduduki.”
Ciiiiitt.....
Luke pun mengerem mendadak membuat gesekan rem begitu memekak telinga, dia paling benci orang yang terlalu banyak bicara, “Tidak bisakah anda diam, aku bisa menabrak karena kehilangan konsentrasi.”
Molina tersulut,“Salahkah aku bertanya kenapa kita disini? Kita akan ketempat Sanden bukan kesini!”
“Kau tidak lihat aku sedang menghantarkanmu kepadanya?”
“Tapi bukan ini tempatnya,” Molina menentang menatap kesal pada Luke.
“Sekarang kau sudah bisa lihat 'kan? maka artinya kau sudah bisa lihat yang sebenarnya, Sanden itu adalah nama belakang seseorang lebih tepatnya adalah nama orang tua, laki-laki yang menolongmu bernama Morean, Morean Rodriguez Sanden coba ingat dan putar balik dimana mungkin kau pernah mendengar nama itu, yang perlu anda ketahui, dia membantumu sebab yang kebetulan sedang mencari Sarla adikmu.”
Molina sedang mencerna nama itu, Morean Rodriguez Sanden ya sebuah nama yang tidak asing, sebuah nama dari seorang ternama dan tidak asing sekali di negara ini.
“Rodriguez Sanden pemilik gedung star up terbesar di jalan Montirez?” Molina terbelalak, siapa yang tidak kenal itu namun ia tidak habis fikir jika itu Sanden yang sama.
“Ku rasa aku tidak perlu menjelaskan itu, kau tahu mereka dan siapa yang tidak tahu itu.”
“Apa hubungan dia dengan adikku Sarla, kenapa dia mencarinya hingga menolongku!”
Molina mulai shock dia sedikit kecewa dengan hal yang baru dia ketahui, apakah ini benar? padahal ia berharap bisa bertemu laki-laki bernama Sanden itu memeluknya lalu mengucapkan banyak terimakasih padanya sudah memberi dia jalan untuk sembuh.
“Dia adalah paman dari Juless ku rasa kau kenal dia dengan baik, banyak hal yang terjadi dibelakangmu, hingga kepergianmu mulai dari Sarla yang terjebak masalah bersama Morean sanden, dia hamil hingga menikah dengan paman dari Juless.”
Molina berpindah bangkit ia bahkan ingin berpindah kedepan, “Hal apa? S-sarla hamil? Dia sudah menikah dengan orang yang menolongku?”
APA? BAGAIMANA BISA?
Segalanya seakan memukuli kepalanya, kenyatan macam apa ini kenapa semuanya begitu tidak masuk akal dan diluar logika, artinya bukan biaya pemerintah yang menangguh segapa pengobatannya.
Ya bukan pemerintah setempat mana mungkin fasilitasnya sebaik itu, semuanya ditangani dengan baik dan handal.
Ia juga tampak di pandang tinggi disana bukan seperti pasien kursng mampu lainnya, “Kau tidak sedang menceritakan drama atau telenovela yang kau tonton bukan? Ini sangat sulit aku terima tuan.”
Luke mendengkus kesal, “Apa maksud anda, terserah ingin percaya atau tidak kita turun sekarang!”
“Tu-turun? Kemana?” Molina menatap pada sekitar dluar sana.
Luke memarikirkan asal mobilnya segera memberikan kunci para seoarang valet untuk mengurusi mobilnya dan ia segera pergi dari sana. Molina pun turun dari mobil ia melihat Luke yang berjalaj cepat.
“Hey Tuan! Tunggu!”
Luke bukan meninggalkannya melainian menunggu didepan pintu, “Aku banyak pekerjaan tidak bisakah kau lebih cepat?”
“Koperku?” Molina memelas ia tidak paham cara membuka bagasi mobil ini.
Lagi-lagi helaan nafas Luke mengudara lelah dengan malas ia pun berjalan lagi kearah mobilnya kemudian membantu Molina membawa kopernya, “Ikuti aku, jangan banyak bicara!” Paham Luke, Molina akan banyak bertanya sebab mereka akan turun kekediaman Sarla dibawah ssna.
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh betanya?” Langkah Molina terburu-buru mengimbangi Luke yang berjalan lebih dulu masuk kedalam gedung itu.
“Lihatlah begitu banyak lorong disini, jika banyak bertanya maka akan sesat dijalan! Maka diamlah!”
Molina membenarkan begitu banyak lorong dan jalan berkelok dijalana ini, ini jenis hunian semacam apa?
Ini hotel atau bagaimana, dia tidak bertanya lagi namun jutaan pertanyaan menggangu dikepalanya apa lagi tentang adiknya, apakah semua ucapan laki-laki ini bisa dipercaya?
“Tu-tuan?” Molina berhenti saat akan masuk kedalam sebuah elevator.
Luke menatapnya sinis, “Kau tidak paham perkataanku?”
“Bu-bukan, aku bukan ingin bertanya hanya ingin menjelaskan aku takut naik lift.”
“Omong kosong,” Luke menarik cepat Molina membuatnya masuk kedalam, “Tutup matamu berhayalah kau sedang di gendong oleh malaikat tampan.”
Sialnya Molina seperti dihipnotis, Molina diam sungguhan dan menghayalkan dia sedang dalam gendongan.
Ting...
Dalam sekejap mereka sudah sampai dilantai lain, Molina membuka matanya, jika tadi mereka berada dikoridor dengan konsep warna merah dan gold kini berubah menjadi suasan dusty dan banyak lukisan pepohonan.
“Keluarlah, jangan terlalu lama berhayal hanya sekedar untuk menyingkirkan ketakutanmu.” Luke berjalan lagi membawa koper besar Molina itu dan Molina pun keluar segera kembali mengimbangi langkah cepat Luke.
Molina berkerut dahi entah jenis manusian apa laki-laki bernama Luke ini, sungguh setiap berbicara selalu seperti tamparan namun setiap yang ia ucapkan selalu tampak benar adanya.
“Tuan....”
“Tidak ada Lift lagi.”
“Bu-bukan itu! Ta-pi terimkasih kau membuat dalam beberapa detik ketakutanku bertahun-tahun pada sebuah lift hilang.”
“Simpan saja kalimatmu, aku tidak suka berbasa-basi, baiklah.... kita sudah sampai segeralah masuk, ini adalah hunian bawah tanah dengan penjagaan yang ketat, kau perlu dekatkan wajahmu didepan panel di tengah pintu itu maka kau bisa masuk menemui adikmu.”
“Kau akan kemana?” Tatap Molina Luke yang beranjak akan pergi.
Luke melihatnya serius, “Kau bertanya, hanya menjemputmu dari bandara tidak membuatmu berhak bertanya penjemputmu akan kemana!”
“Ti-tidak maksudku, aku takut....tidak bisakah menunggu sampai aku masuk dan menemui Sarla.”
Luke menghela nafasnya, tidak berekspresi apapun segera ia berlalu melewati Molina, membukakan pintu dengan akses miliknya, “Masuklah segera, kau sudah ditunggu disana, aku hanya bisa menghantar sampai sini.”
Molina mengulas senyuman menarik koper miliknya segera masuk kedalam pintu besar yang terbuka otomatis itu dan segera menghilang saat akan melambaikan tangan pada Luke, pintu segera tertutup lagi, membuatnya terkesiap dan shock dengan semua teknologi canggih yang ada dihadapannya saat ini.