Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 37



"Aku tidak perlu diperiksa, mungkin hanya masuk angin sebab tadi perjalanan jauh dan sedikit hujan, " Sarla menarik tangan Morean mencari cara agar lelaki itu tidak membuatnya diperiksa, Sarla juga mengutuki dirinya kenapa dia menjadi seperti ini bisa-bisanya muntah segala dihadapan lelaki itu dan berlaku yang aneh. “Dan aku mungkin kelelahan aku mengidap darah rendah ini sering terjadi kepadaku aku memang harus istirahat beberapa hari untuk pulih lagi.”


Mata Sarla memancarkan ketakutan Morean bisa membaca itu, “Kau menutupi sesuatu, jika kau kelelahan dan kurang darah dokter bisa memberimu suplement atau vitamin.”


Sarla menggeleng paras cantiknya terus memelas, “Untuk orang sepertiku sakit seperti ini biasa tanpa suplement atau vitamin apapun aku akan akan pulih mungkin aku butuh sedikit pijatan, maukah kau memijatku?” Ia memelas netranya menatap tulus masih terus memegangi tangan Morean.


Morean mendengkus, jika difikir-fikir dia tidak mungkin membuat Summer memeriksa Sarla akan menjadi sebuah bahaya jika seseorang tahu dia menyimpan seorang wanita disana, bagaimanapun Summer baiknya dia adalah anak dari Mr.Watson lelaki berpenampilan tidak waras namun sangat berbahaya, dia pinya banyak klan dan orang-orang yang ikut andil bekerja sama menjatuhkan keluarga Rodriguez.


“Aku akan panggilkan terapis untukmu.”


Sarla menggeleng, “Aku mau kau yang melakukannya—“ Sarla berucap sangat spontanitas tidak berfikir panjang sedikitpun, sektika dia mengumpati dirinya dalam hati berani sekali meminta itu padah manusia seperti Morean. “Ah tidak, maaf...pergilah, aku akan pulih dengan bedrest, maaf mengotori pakaianmu.”


Morean melepaskan tangan Sarla melepaskan kemejanya yang kotor untuk mengambil kemeka lain di walkin closet, “Aku turun sebentar, tunggulah...” Ia tampak akan mengabulkan permintaan Sarla dan segera keluar dari sana.


Sarla menganga, menggaruki rambutnya, “Tuhan, Sarla, apa yang kau lakukan! Bisa-bisanya kau meminta itu padanya.” Dia pun tidak mengerti kenapa begitu banyak maunya seperti ini, “Kenapa aku, kena trus ingin menarik perhatiannya.”


***


Summer menunggu disebuah ruangan pertemuan menduduki sebuah sofa panjang disudut ruangan yang menghadap pada sebuah jalanan tengah kota, netranya menyapu kesekitar seraya menerka-nerka bagaimana kehidupan lelaki ini sekarang bertahun-tahun berlalu sungguh dia sangat merindukannya.


Dulu tidak ada appartement ini, Morean memiliki sebuah Vila yang mereka sering datangi bahkan tinggai berdua, sialnya sang ayah menghancurkan semuanya saat Morean padahal sudah melamar dia.


Sebuah cincin bermatakan berlian Summer kenakkan di jemari manisnya, ia mengusap-usap benda itu sengaja ia kenakan untuk mengetuk pintu kenangan mereka, dia yakin More masih belum melupakannya, betapa ia tahu Morean begitu sangat mencintainya dulu.


Derap langkah sepatu dan lantai marmer membuat Summer menoleh tampaknya lelaki itu sudah datang, Summer pun memasang sikap sesantun mungkin dan benar saja Morean datang dengan kemeja putih yang sedang ia kancing tangannya.


“Terimkasih sudah datang dokter...” Morean berbasa-basi berangsur menduduki sebuah kursi single diseberang Summer. Bibirnya melengkung tipis kemudian melipat kakinya ke atas.


Summer tersenyum dengan cantiknya mungkin sebuah senyuman yang dibuat-buat, “Kau terlalu formal More.”


Morean mengangkat arlojinya, masih dengan wajah dingin yang memaksakan tersenyum, “Mungkin anda sibuk dokter tenang aku tidak akan membuat anda lama, baiklah langsung ke inti, bagaimana menurutmu jika ayahku dirawat dirumah dia tidak suka rumah sakit, mungkin alu bisa membuat kamarnya seperti dirumah sakit atau anda sebagai dokter yang merawatnya punya solusi lain Dokter?”


Summer merasa tidak suka sedingin ini pembicaraan mereka, “ Tidakkan kau seharunya tidak seformal itu, ah baiklah tidak masalah aku tahu kau belum terbiasa atas kehadiran ku lagi.”


Morean menyerngit dengan dengusan seperti mengejek, “Apa yang anda katakan, kehadiran bagaimana yang anda maksud?”


“Aku tidak suka kau seperti ini, bersikaplah seperti biasa.” Summer berucap pelan seperti memohon.


Morean menurunkan kaki maniknya menjadi tegas, ”Kau datang untuk ayahku, bukan untuk hal-hal yang sudah ku anggap mati!”


Summer tidak gentar sedikitpun ia tidak takut atas sikap tegas Morean, ”Kau memaksakan dirimu untuk sedingin ini, kau salah paham, aku tidak meninggalkanmu tapi keadaan yang membuat kita berpisah.”


Telinga Morean begitu malas mendengar ini, “Stop, pergi sekarang jika kau tidak mengerti, aku tidak memintamu datang untuk hal-hal sampah seperti ini.”


Summer tersenyum, “Kau berbohong More, kisah kita tertanam didirimu, bahkan di tubuhmu, perasaan cintamu tidak akan pernah hilang jika hanya para ****** yang memenuhinya.”


Morean menyerai lebar, “Kau terlalu percaya diri, aku bahkan mendapatkan yang lebih baik darimu! Jika kau fikir aku tidak bisa melupakanmu kau salah besar, kau lah yang tidak bisa melupakanku, Hahah.” Morean tertawa penuh hinaan.


Wajah Summer seketika berubah, “Kau berbohong! Aku yakin kau hanya berpura-pura aku tahu kau seperti apa.” Summer pun bangkit ia berjalan mendekat, melepaskan blazernya lalu menanggalkan satu kancing kemeja palinh atasnya, membuat Morean diam menatap sengit apa yang hendak wanita itu lakukan, “Kau pasti ingat semuanya, kau tidak akan pernah lupa kita punya tatoo yang sama kau ingat, kqu pernah mengatakan ini tidak akan hilang hingga kapanpun.:


Morean tahu betul Summer ingin memperlihatkan tatoo yang sama punya mereka pada dada Summer lebih kecil dari Morean.


“Stop! Berhenti berlaku bodoh! Aku tidak lagi punya tanda itu, jika kau sekarang menyesal tidak lagi ada gunanya, berikan perhitungan pada ayahmu—“ Morean bangkit dia tidak ingin luluh walau dia tidak bisa berbohong rasa itu masih ada namun kebenciannya jauh lebih besar.


Summer tidak peduli, dia semakin membuka ingin memperlihatkan tanda yang tidak bisa hilang itu, wajahnya melampirkan manik yang berkaca-kaca tidak lagi ia bisa menjelaskan bagiamana dia merindukan lelaki itu, “Terserah—“


Bruak...


Morean membuat meja terdorong dan mengenai Summer, “Kau tidak waras Summer, berlakulah semestinya kau adalah dokter ayahku!”


“Aku benci kau seperti ini, kau membuatku tersiksa, More—“ Summer begitu tidak kuasa melihat sikap dingin Morean, “Kita tidak pernah berakhir More! tidak akan pernah dan aku tidak pernah menikah itu hanya kebohongan saja!.”


Suara langkah lari-lari seketika datang begitu berisik seperti sangat panik, “Tuan permisi, i-itu, itu muntah-muntah lagi.” Wajah pembantu itu begitu paniknya membuat Summer dan Morean yang berdiri diposisi yang dekat menatap terksiap dan serius padanya.


“Pergilah! Aku akan datang.” Moren pun berlalu dengan langkah terburu-burunya, meninggalkan Summer yang terperangah sudah membuka separuh kancing kemejanya demi memperlihatkan tanda kenanangan mereka.


“MORE!!” Summer menggeram kesal ia ditinggalkan begitu saja, Summer pun meraih tasnya segera berlari mengikuti Morean yang pergi terburu-buru itu, menerka-nerka apa yang terjadi tadi ia dengar ada yang muntah-muntah, siapa yang tinggal di appartemen ini apakah istrinya, “Tidak Morean tidak pernah menikah!” Summer menolak keras itu, tidak ada yang bisa memiliki dia, Morean hanya miliknya.


“Maaf dokter anda tidak bisa masuk!” Seorang penjaga disana memberhentikan langkah Summer ke tempat dimana ia lihat Morean dan pembantu tadi masuk.


Summer yang sudah memakai blazernya lagi pun terkesiap,”Kenapa tidak bisa, saya harus masuk!” Summer menegas, seketika seseorang dari dalam membuat pintu tertutup.


“Maaf dokter, saya hanya menjalankan tugas.” Lelaki itu mengangguk hormat, “Mari saya hantarkan turun...”


Persilahkan lelaki itu Summer keluar dari sana.


Summer mendesah putus asa, matanya memejam beberapa detik dengan memijat pangkal hidungnya, kenapa dengan Morean apa yang dia lakukan di dalam sana, dengan kaki yang dihentakkan kasar Summer pun berlalu dan diikuti penjaga itu untuk menghantarkannya.


***


Sial kenapa harus muntah lagi, Sarla memarahi dirinya sendiri, kenapa tubuhnya begitu manja saat berada didekat lelaki ini. “Ac-nya terlalu dingin, sepertinya aku masuk angin, kau sudah selesai, kau jadi memijatku, bukan?”


Tatapan Morean dingin melepaskan tangannya dari Sarla, ia pun menggulung lengan pakaiannya menjauh dari Sarla mencari sesuatu disana, seraya menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Sarla bangkit seketika, “Kau menghubungi siapa? Jangan datangkan siapapun kesini, ku mohon aku ingin tenang tanpa ada siapapun yang datang, kau tidak takut jika orang yang datang membuat Juless atau ayahmu tahu kau menyimpan ku disini.”


Morean menoleh manik menatap dingin,”Berapa banyak stock berkilah mu, kau terlalu pandai mengalihkan pembicaraan, Hallo Luke, datangkan seorang dokter kepadaku, sekarang!”


Sial, Sarla mematung seketika, kakinya seperti terpatri tidak bisa melangkah, harus bagaimana dia saat ini seketika ia oleng hampit jatuh, Oh God.


Morean pun cepat menahannya mendekat, “Stop mengatakan kau baik-baik saja!” Ia pun mengangkat tubuh Sarla ke ranjang.


Sungguh Sarla rasanya benci sekali pada dirinya,seakan di buat-buat dia kenapa selalu menjadi lemah dan tidak berdaya didepan lelaki ini.


Sarla memilih diam saat ini terus memohon semesta membantunya dalam menutupi ini berharap yang datang adalah dokter tua yang kala itu memeriksanya dirumah agar bisa ia mintai pertolongan lagi.


Sementara Morean tampak kembali mencari sesuatu hingga akhirnya ia mengambil sebotol essensial oil lalu berjalan mendekat kepada Sarla.


Lihatlah Sarla merasa dia seperti sangat aneh, dia begitu merasa senang lelaki itu datang dan kini duduk didekat kepalanya, Morean menuang oil itu pada tangannya, lalu dengan sangat lembut memijat kepala Sarla, Sarla merasakan sebuah sentuhan yang nyaman, ia tidak berucap apapun memilih bungkam perlahan-lahan pijatan lembut Morean membuatnya merasakan kantuk, Sarla terbawa suasana ia sungguh sangat menyukai ini dan ingin tidur.


15 menit berlalu, Sarla memejam terbawa rasa tenang yang diciptakan Morean, “Berbaliklah!” perintah dari suara yang khas Morean membuat Sarla membuka mata lagi.


“Hemm...sudah selesai cepat sekali...” ia seakan tidak ingin terlalu cepat Morean menyudahi.


Hemm, “Berpindah ke pundak...buka pakaian,mu” Morean menunggu dengan tangannya yang tampak berminyak terangkat , sungguh Sarla ingin tertawa tidak tahu kenapa dia sebahagia ini.


Sarla pun melepas pakaiannya, lelaki itu bahkan membantunya melepaskan dari lengannya.


Beberapa waktu berlalu, Morean menuruti keinginan Sarla seluruh tubuh wanita itu bagian belakangnya ia pijati dengan lembut berposiso dudu, dia padahal tidak tahu caranya hanya membuat apa yang tukang terapis massage pernah lakukan padanya.


Sarla tidak lagi merasa mual, ia merasakan nyaman sekali, hingga Morean memerintahkannya berbaring memijatinya dengan tiduran, namun Sarla malah meringkuk meniduri paha lelaki itu kedua tangannya memeluk kaki Morean menjadikannya guling memaskanya agar tidak pergi.


Morean hendak melepaskan Sarla namun dia tidak tega, ia pun pasrah duduk seperti itu membiarkan Sarla tidur memeluknya, lagi pula dokter bersama Luke sudah dijalan kesini mungkin sebentar lagi ia bisa membangunkannya.


Morean ingat perkataan Luke tadi ditelepon, "Mungkin saja Juless dan aku akan memiliki keponakan," Morean mematikan panggilannya tidak ingin itu terjadi disaat seperti ini sungguh itu adalah sebuah masalah besar.


Saat itu dokter Stevanus sudah mengatakan Sarla tidak hamil saat itu, lalu bagaimana jika terjadi, selintas bayangan bayi mungil ia lihat dihadapannya, Morean mendengkus itu mungkin kebahagiaan tapi akan banyak masalah menanti untuk dia juga semua keluarganya didepan nanti, dan bagaimana dengan Juless saat mendapatkan kenyataan ini.


Tangan Morean reflek mengusap rambut Sarla, hubungan mereka tidak lebih dari sekedar tuan dan penghangat ranjang, tapi kenapa seorang penghangat ranjang kau pelakulan seperti ini.


Morean mendengkus menurunkan Sarla seketika dari pahanya, Sarla pun terbangun atas dorongan itu, Sarla terbelalak memasang wajah bingung menatap Morean, Sial...Morean mengutuk dirinya kenapa dia menjadi merasa bersalah melihat Sarla terbangun dan terusik.


"Tidurlah! aku akan keluar..."


"Kenapa pergi.." ucapan itu keluar dari bibir Sarla.


Morean yang sedang berperang dengan dirinya pun semakin terkesiap, seketika ia mengacuhkannya dia tidak boleh seperti ini.


Hoeeeekkkkk....


**** Sarla...kau kenapa?


Morean yang sudah diambang pintu siap pergi menjadi menoleh, Sarla yang sudah ia tutupi selimut setelah ia pijati tampak miring ingin muntah, ini sudah tidak benar lagi Morean pun berbalik lagi lalu mendekat memapahnya.


"Mau muntah lagi?"


Wajah memelah Sarla menggeleng, "Mau tidur..."


Mau tidak mau tanpa diminta lelaki itupun melepaskan sepatunya ia ikut naik ke atas ranjang menemani Sarla disana, ikut merebahkan diri membiarkan Sarla meniduri lengannya.


Tangannya tidak berhenti memijati dahi Sarla sungguh semakin membuat Sarla nyaman sekali.


.


.


.


.


.


.


.


Saaaaaaajennnnnnnn🤣