Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 41



Hooweeekkkkk.....


Praaaaaaanggggg....


 Sarla yang baru dari kamar mandi tanpa sengaja menyenggol botol obatnya sendiri yang hendak ia ambil didepan pantry kecil depan kamar mandi, suara samar botol yang jatuh itu bersama suara perempuan muntah cukup bisa didengar oleh Juless, More dan Luke.


“Kekasihmu hamil?” tebak Juless tiba-tiba.


Morean sungguh ingin bangkit saat ia dengar suara dari benda yang jatuh itu, sebisa mungkin ia tidak panik walau nyatanya sangat panik menerka apa yang sedang terjadi didalam sana pada Sarla. Morean malah melihat pada Juless apa dia bisa menebak pemilik suara itu.


“Bos, ayo bersiap kita harus pergi sebentar lagi.”


Luke mencoba mencairkan suasana, paham sekali pasti Bosnya itu begitu gelisah saat ini yang mana ingin melihat Sarla didalam juga kalut menghadapi sang keponakan.


“Hanya sakit biasa,” Morean tidak menutupi bahwa memang ada seorang wanita disana, ia pun segera bangkit untuk masuk. “Jika kau ingin sarapan minta seseorang menghantarkan ke tempatmu, jangan berlama-lama disini setelah aku berangkat tidak ada satupun yang berada disini.” Morean pun berlalu.


Juless menyengir kuda melihat sikap sang paman sepossessive itu dia pada wanita yang ia sembunyikan itu, “Kau mengacuhkan keponakanmu demi dia, More?” Juless tertawa mengejek sang paman.


Morean pun menoleh pada sang ponakan, “Kau bukan bayi lagi dan kau sudah tidak pernah lagi merengek pada ku Julls.”


“More...hikss hiksss More berikan aku mainan, kau ingin aku seperti itu lagi?” Juless tertawa, “Baiklah aku akan melakukan itu tapi merubah kalimatnya. More berikan aku keponakan...More segera berikan keponakan untukku.” Juless masih mencoba mengejek More atas wanita yang ia dengar muntah itu.


Morean tidak ingin meresponnya, terkesan garing andai kau tahu siapa yang sedang jadi bahan lelucon mu Julls, Morean pun segera masuk kembali kedalam kamar dan menguncinya lagi.


“Kau masuk?” Sarla berucap pelan, tampak baru membersihkan botol obatnya disana.


“Apa yang terjadi?” Suara lembut Morean bertanya dengan menatap, membuat Sarla pun menggeleng tidak ada apa-apa.


“Obatku jatuh tersenggol aku akan minta dokter Stevanus yang baru nanti.”


“Hanya itu?” Pastikan Morean lagi menatap dari atas hingga kebawah pada Sarla.


“Hemmm ya, hanya itu kenapa kau masuk?”


“Berhati-hatilah beruntung tidak melukaimu, aku akan kerumah sakit lalu ke kantor,”Morean pun bergegas kekamar mandi saat ia lihat semuanya baik-baik saja, tidak lama ia berbalik lagi, “Sudah mandi? Berapa banyak muntah pagi ini?”


Sarla menggelengkan kepalanya, “Tidak terlalu parah lagi, obatanya sangat serasi untukku.”


“Sudah mandi?” ulangi Morean lagi.


“Dingin...”


“Kau amnesia atau butuh tutorial cara menyalakan kran air panas?”


Sarla kemudian tertawa, “Mandilah aku nanti saja.”


Morean pun mengangguk,”Siapkan pakaian untukku jika kau tidak keberatan.” Perintah lelaki itu kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Sarla pun merasa ambigu dan melengkungkan senyuman, si iblis meminta dengan baik apapun tanpa pernah memaksa lagi.


“Hay baby M, M untuk Morean dan melon makanan pertama yang dia minta pada ayahnya, katakan ibu tersenyum kepadanya karenamu bukan karena ibu sendiri.”


Sarla pun bergegas memilihkan pakaian untuk Morean kenakan lengkap dengan semua aksesories dan sepatu yang tersedia beberapa pasang disana.


Ia bingun akan memilih pakaian yang mana begitu banyaknya pakaian lelaki itu dari berbagai jenis motif, warna dan merek entah kenapa pandangannya selalu jatuh kepada kemeja merah mudah bermotif garis-gari disana, ia membayangkan More pasti akan sangat menggemaskan memakain ini. “Cute sekali warnanya.” Puji Sarla.


Namun ia tidak mungkin memaksa More memakai itu, jelas saja jila untuk ke kantor ini adalah salah costum lelaki itu akan ditertawakan disana, kemeja ini lebih cocok untuk sebuah pesta bertema hari kasih sayang dengan drescode cerah-cerah seperti ini.


Tidak lama Morean pun keluar dari kamar mandi ia mengenakan handuk separuh badannya langsung bercajalan ke walkin closet, “Sudah pakaianku?”


Sarla segera meletakkan gantungan kemeja merah muda itu, “Aku tidak tahu seleramu warna-warna yang kau gunakan selalu warna gelap.”


Morean pun mendekat mengambil kemeja merah muda yang Ssrla letakkan tadi, “Lalu kau memilih ini untukku?”


Sarla menggerakkan kepalanya, “Jangan memakainya nanti kau ditertawakan.” Tatap Sarla wajah Morean.


“Ada yang berani?” Lelaki itu pun mengulas senyuman membawa kemeja itu ketempat lain untul segera memekainya tidak lupa membawa pakaian dàlamannya yang juga sudah Sarla persiapkan.


Sarla dari jauh melihat lelaki itu memakain pakaiannya saat Morean sudah memakai celannya ia pun mendekat, Sarla membawa sebuah handuk lalu mendekat dibelakang leher More, “Rambutmu masih basah.”


Sarla pun berjinjit membantu Morean mengeringkan rambut, membuat lelaku diam dan mematung ada yang mau memperlakukan dia seperti itu, Sarla mengeringkan dengan lembut sedikit memijat disana.


Kemudian ia membanru Morean mengancing kemejanya, tidak ada lagi kalimat angkuh yang keluar dari bibir Morean untuk menolak, nyatanya ia menikmati dan menyukai diperlakukan seperti itu. Sarla menatap tersenyum wajah Moran dihadapannya.


Morean berdehem, “Itu dibuat khusus untukku.” Moran mulai menata rambutnya.


“Oh ya?” Sarla segera meraih sisirnya, “Aku akan menata rambutmu hari ini.” Sarla bergerak menyisir rambut Morean ia membuatnya tidak seperti Morean yang biasa kini tampak lebih muda hair style ala-ala anak muda, Seketika saja Sarla tertawa. “ Kau More?” Keduanya menatap kekaca dan tertawa.


Morean tampak lebih segar dengan tatanan rambut yang dibuat Sarla ia masih terus tersenyum disana, “Aku aneh?”


“No, Kau tampan.” Sarla menyentuh rambut Morean lagi, kemudian mengusap pipi lelaki itu, “Kau tampak 10tahun lebih muda dari usiamu.”


Morean mencebikkan bibirnya melihat pada kemeja soft pinknya juga rambutnya itu, sungguh ini bukan dia sekali namun tidakklau buruk dia jauh lebih tampak segar. “Kenalkan aku Sanden!”


Sarla pun tertawa, “Kau di tunggu kakakku! Jangan salahkan aku jika nanti mencarimu.”Sarla meraih sebuah jas untuk outfit lelaki itu.


“Aku akan jadikan nenek Marimar sebagai Sanden.”


Sarla pun tertawa, “Kau selalu saja menyusahkan dia, baiklah kau akan berangkat sekarang?”


“Hemmm, Sarapanmu akan datang, aku akan sarapan dikantor atau bersama ayah dirumah sakit.”


Kami akan merindukan mu, dad.... rasanya kalimat itu ingin sekali lolos dari bibir Sarla, “Hati-hati...”


Morean pun mendekat, seketika mengecup pada dahi Sarla. “Juless akan pergi dari sini, jika bosan keluarlah dari kamar....jaga dirimu...” Sarla terdiam mendapatkan perlakuan itu, rasa hangat menejalari dirinya seketika.


Tangan Sarla terangkat melambai menghantarkan lelaki itu yang akan berangkat, bolehkah aku meminta jangan pulang larut malam, jangan pulang lama dan segera hubungi aku saat sampai.


“Aku akan kembali cepat kita akan pergi ke wahana bermain yang kau mau itu malam nanti.” Ucap lelaki itu tiba-tiba.


Sarla sepeti mendapatkan udara segar di tengah tandus, “Sungguh?” Sarla bersorak kegirangan seketika ia menutup mulutnya, matanya membola, “Juless masih ada disana?” ucap Sarla pelan kemudian.


Morean membuka lebar pintu dan tersenyum lebar, “ Dia sudah pergi.”


Luke disana berisyarat pada More mengatakan Juless sudah keluar. Sarla begitu antusiasnya.


“Kau janji kita akan pergi?”


“Hemmm...”


Sarla pun memeluk lelaki itu, “Terimakasih...sudah mengabulkan permintaan kami...”


Morean berkerut dahi, “Kami?”


“Aku maksudnya.” Sarla masih memeluk tubuh Morean menyamping membuat lelaki itu merangkulnya.


“Aku berangkat sekarang.”


Sarla pun mengangguk, “Hati-hati...segera kembali.” Rasanya ia ingin terus menempel pada lelaki itu, ia mulai bisa merasakan rasa aman dan dilindungi.


Luke menatap dari atas hingga kebawah pada Morean saat beriringan akan keluar, "Kau tidak salah makan? kita akan bertemu seseorang di Bank swasta bukan akan menghadiri perpisahan anak TK."


"Kau pernah ditendang hingga sekarat?"


Luke pun tertawa, "Lakukan, tapi izinkan aku membalasnya."


 


...***...


“Tusod, aku tidak peduli bagaimana pun caranya, kau harus bisa masuk dilantai 25 Eddewars Tower itu, lakukan apapun yang harus kau lakukan disana, Kau lihat putriku memusuhiku lagi.”


 


 


.


.


.


.


Next»