Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 25



“Kau tidak ingin aku hamil kenapa terus saja melakukannya?” Tegur Sarla, saat Morean sudah mendorongnya keranjang kecil milik Molina dikamar masih berposisi mengukungnya.


Seketika saja Morean bangkit menatap dengan dingin wajah Sarla lalu melepaskannya, Morean duduk turun dibawa lantai kamar itu seketika.


Morean tertampar akan ucapan Sarla seketika ia berdiam lama, lalu menarik nafasnya bangkit segera, “Istirahatlah, aku akan kembali.”


Sarla yang sudah dibuat terlentang pun bangkit duduk, melihat pada lelaki itu yang tampak murung seperti sedang terjadi sebuah masalah dengannya, “Kau baik-baik saja? Menginaplah sampai pagi dan kembalilah besok, ini sudah sangat larut, aku akan tidur ditempatku diluar.”


Sarla bangkit akan membentang sebuah tempat tidur lipatnya di luar sebab dia memang tidur disana jika Molina ada, tempat tidur ini terlalu kecil jika tidur berdua lagi pula Sarla lebih nyaman jika tidur sendiri tidak berhimpit bersama sang kakak.


Morean menggeleng samar, “Aku harus pergi pagi-pagi sekali besok.”


Kini ia mulai bisa diajak berbicara seperti manusia normal lainya.


Sarla diambang pintu menoleh, “Pukul berapa? Aku akan bangunkan kau pagi-pagi sekali, malam sangat rentan kejahatan, tidak musuhmu mungkin hal lain bisa saja akan datang.”


Morean menyimpul cibiran, “Dan kau suka itu sebab akan terbebas dariku, bukan?”


Sarla melebarkan senyumannya, “Sangat suka tapi tidak dalam keadaan berhutang budi padamu, dan tidak karena menghantarkanku, istirahatlah! Mungkin saja harimu akan melelahkan besok.” Sarla pun melangkah keluar dari sana untuk menuju dapurnya.


Sarla pun beranjak kebelakang, sejenak ia duduk saput seraya mengisi air untuk dipanaskan, berinisiatif untuk membuatkan lelaki itu minuman jahe penghangat tubuh seperti yang Juless suka minta kepadanya jika datang


Sarla membandingkan keduanya adalah dua karakter yang sangat berbeda, Juless yang tampak ceria, bersikap selalu penuh kelembutan, romantis dan sangat terbuka sementara Morean dia begitu dingin, spontanitas, kasar dan penuh misteri.


...***...


Beberapa saat kemudian Sarla pun masuk kedalam kamar milik Molina tersebut, ia lihat lelaki itu masih berdiam seperti tadi menatap kosong kelantai seperti banyak sekali masalah dalam kepalanya.


Suara langkah Sarla pun membuatnya tersadar dan menoleh seketika. “Pukul berapa sekarang?”


l


“Pukul 1 lewat, minumlah teh jahe ini, ini bisa menghangatkan tubuhmu dan mungkin bisa membuat fikiran mu lebih baik lebih segar.”


Letakkan Sarla merendahkan tubuhnya ke lantai, “Maaf harus menghidangkan mu di lantai segala barang-barangku, aku tinggal di tempat lama tidka bisa membawanya.”


Morean melihat pada cawa kecil yang mengepulkan asap itu, “Kau tidak memberikannya racun atau semacamnya agar bisa membuatku mati dan membalaskan dendammu?”


Mendengar ucapan Morean, Sarla pun ikut duduk disebelahnya tertawa tanpa siara, “Rencananya sih akan tetapi aku tidak memilikinya saat ini, minumlah…Juless menyukai ini.”


“Juless?”


Sarla seketika salah tingkah sebab sudah menyebut nama itu, “Bu-bukan maksudku—Ah maafkan aku, selamat malam, tidurlah yang nyenyak air jahe bisa membuat mu nyenyak tidur.” Sarla mengecup pipi Morean dan berjalan cepat keluat dari kamar jantungnya berdegub sangat kencang ia takut lelaki itu murka, Sarla layaknya anak kecil yang sedang ketakutan dimarahi ia menggigiti jemarinya berdiri diluarsana.


Morean memang tidak suka Sarla menyebut nama Juless akan tetapi dia berhasil tertawa kala Sarla menciumnya seperti itu, dia diperlakukan seperti anak remaja lagi kelakuan Sarla sukses membuat wajah Morean sumringah ia melengkungkan bibirnya, lalu perlahan meraih gelas teh jahe itu dan mensesapnya.


Setengah jam berlalu, Ini begitu sederhana hanya segelas teh dengan campuran jahe powder dan diseduh air hangat namun rasanya begitu nikmat membuat Morean berkali-kali mensesapnya, ia benar merasakan hangat dan sedikit lebih segar tapi membuatnya tidak bisa tidur atau mengantuk Morean pun kemudian bangkit untuk keluar dari kamar kecil itu.


***


Diluar Sarla sudah terpejam disebuah kasur busa tipis lipat di ruangan tamu itu memeluk selimutnya, seketika saja Morean menjatuhkan dirinya disebelah Sarla, menatap pada langit-langit putih namun kotor di plafon sana, membuat Sarla terjaga namun ia enggan membuka mata terlalu malas berbas-basi jika ingat segala perlakuannya dan bisa-bisa dia salah bicara lagi.


Sarla pun berdehem, “Disini sangat dingit kenapa kau berpindah keluar, masuklah kekamar atau aku yang akan masuk.” Sarla pun menarik selimutnya menutupi wajahnya untuk segera tidur seketika Morean menarik selimutnya.


“Minuman tadi membuatku tidak bisa tidur kau harus bertanggung jawab!” dia seperti biasa sellau berucap tanpa melihat wajah Sarla.


Sarla membuka selimutnya lagi, “Pejamkan matamu, tidak bisa tidur mungkin kau merasa tidak tenang atau memikirkan sesuatu yang mengganjal….” Lirik Sarla pada lelaki itu.


“Apakah kau punya masalah?” Tiba-tiba saja lelaki itu berbicara layaknya manusia normal lainya lagi namuntetap dengan dikap dingin dan air muka angkuhnya.


Sarla berdeham berdiam lama sejenak, kemudian menarik nafasnya berat, “Satu-satunya masalah terberat dalam hidupuku dan terbesar saat ini adalah kau…maaf aku berkata jujur.” Morean sedikit tertampar namun ia membenarkan itu, “Jika aku bisa memutar waktu aku tidak ingin terjebak denganmu….oh ya bagaimana semua dengan keingianku yang sudah ku tulis sepertinya kau tidak pernah membacanya atau mungkin tulisan itu sudah hilang begitu saja.


“Kau sangat membenciku? Apa yang kau tulis, Luke mungkin sudah membacanya….”


Sarla mengendikkan bahunya, “Aku tidak tahu yang pasti semua wanita akan benci jika diperlakukan seperti ini, kertas itu ku buat untukmu…bukan untuk Luke!” Sarla sedikit meninggi. “Baiklah, selamat malam aku sudah mengantuk, karena ini rumahku, maka kau tidak bisa memerintah sesukamu…ini termasuk yang ku tulis.” Sarla kembali berbalik badan membelakangi Morean, menurut Sarla lelaki itu hanya beberapa waktu saja bisa jinak besok saat mentari terbit ia yakin Morean akan sangar seperti Serigala kembali. “Selamat malam….”


Morean pun beringsut menaikan tubuhnya paksa ke kasur tipis itu menyalipi Sarla, menempel disebalik punggungnya, seketika ia memeluk Sarla mendekatkan wajahnya dibelakang ceruk Sarla, “Malam…” balas Morean sedikit tersenyum sukses membuat Sarla terkesiap dipeluk seperti ini.


Morean memeluknya erat membabat jarak mereka berdua, begitu jelas terasa helaan hangat Morean dirambut Sarla memuat dia merasakan sesuatu yang aneh namun tidak ingin menegur lelaki itu, “Pejamkan matamu Sarla…pejamkan!” bathinya.


Namun sungguh Sarla tidak bisa memejam jika seperti ini bernafas saja ia rasanya takut membuatnya terusik.


“Kenapa, kau tidak nyaman?” Morean pun melepaskan pelukannya.


“Sedari kecil aku tidak suka tidur dipeluk…” ucap Sarla tanpa menoleh kebelakang.


“Tapi kau suka memeluk.” Sindir Morean lagi kembali melihat ke langit-langit.


Sarla tercengang berfikir akan maksudnya dan segera membalik tubuhnya.“Aku memeluk?


Memeluk siapa, bahkan kakakku saja aku tidak suka memeluknya saat tidur.” Lihat Sarla wajah lelaki itu yang berpangku tangan pada dahinya.


“Kau tidak ingat?” Morean menahan senyuman membuat Sarla menggelenng memang tidak ingat apapun.“Tapi aku ingat semuanya sekalipun tidak sadarkan diri….” Sudah jelas ucapan itu mengarah pada kejadian dimalam itu.


Sarla tidak lagi menyahut dan langsung paham akan kejadian itu, mendadak keduanya saling diam, Morean melihat ke atas sana dan Sarla menatap pada Morean.


Hingga malam beranjak naik Sarla pun kini benar-benar kembali terpejam namun tidak dengan Morean dia sungguh tidak bisa tidur, Mr.Watson dan istri dari Lindon sudah bersatu pasti saat ini mereka mempunya banyak rencana jahat dan memerintah banyak orang untuk mengincar dia dan keluarganya namun apakah mereka mengikuti kesini, sepertinya tidak sedari tadi dijalanan tampak tidak ada yang mengkuti lagi pula mobil yang ia gunakan tampak sangat lusuh dan yang biasa mobil dengan jenis ini digunakan oleh tukang kebunnya akan sangat tidak mungkin mereka mencurigai itu.


Morean pun mulai merasa mengantuk ia ikut memiringkan tubuh menghadap Sarla menatap wajah cantik Sarla lamat-lamat, Morean mengulas senyuman kemudian memeluknya saling berhadapan dan ia pun ikut tertidur juga.


Sedetik kemudian Sarla kembali lagi membuka matanya merasakan pelukan Morean, wajah Morean berhadapan sedikit jarak dengannya, kini Sarla melihat iblis itu berwujud manusia biasa yang tampak tidak berdaya dan dia mengirup udara yang sama bukan hawa neraka, Sarla pun tersenyum kembali menutup matanya membiarkan tangan Morean memeluknya.


.


.


.


.


🌹☕