Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 30



Tangan Sarla mengepal kuat dengan tubuhnya yang semakin melantai saat suara sepi berganti dengan pekikan pedas Morean lelaki itu akhirnya menemukan dia, Sarla gemetaran, yakin kali Morean akan begitu murka, pasti dia tadi menyaksikan Juless yang mengejarnya tadi.


“SARLA, KELUAR! SATU—“


Sarla pun panik ia bangkit seketika wajahnya begitu ketakutan ia pun tampak begitu kotor sebab terduduk dibawah sana tadi.


Hingga Sarla pun keluar melangkah gontai menunduk takut tidak melihat wajah Morean, tangan besar Morean pun segera menangkup kasar dagu Sarla.


Nafasnyasudah begitu memburu dengat tatapan bingisnya ke arah pintu. “Berhasil, KAU BERHASIL MENEMUINYA!” pekik Morean dengan lantangnya, Sarla mengaduh sakit dagunya di tahan kasar, tatapannya begitu menyedihkan.


“A-aku hanya ingin berkeliling sa-saja bukan untuk bertemu Juless.”


Morean menyeringai, Bruakk...satu tangannya memukul pintu, “Lalu tadi apa? Tadi apa? Hanya kebetulan...” Mata Morean benar-benar memancarkan amarah yang membuncah membuat Sarla tidak bisa berkutik.


“Sungguh aku tidak berbohong.”


Morean pun melepaskan kasar wajah Sarla membuatnya sedikit terhempas kebelakang, “Kau dihukum, pulang sekarang!” Morean berucap tegas dan berlalu, ia melewati banyak botol minuman disana yang berjajar rapi.


Bruakkkk.....


suara nyaring dan kelentingan bunyi itu mengudara kuat bersama pecahan botol yang bertaburan. Sarla terlonjak lagi, tubuhnya seakan limbung dalam kondisi seperti ini.


“Awwwww...” Satu langkah Sarla maju kakinya yang kehilangan sebelah alas kaki pun menginjak pecahan kaca yang ditendang Morean itu, Sarla merintih diam menahan kakinya yang tertancap kaca.


Morean yang masih begitu marah pun menoleh ia seketika berlari saat melihat telapak kaki Sarla tertancap kaca, darahnya mengalir sangat deras, Morean pun panik segera mengangkat tubuh mungil itu tanpa berucap apapun, wajah sangarnya berubah panik sekali.


“Aku tidak apa-apa.” Sarla menahan sakit, Morean mengacuhkan ucapan Sarla, ia mencari sesuatu ke kanan dan kekiri berlari tanpa peduli orang-orang melihatnya.


Setelah berlari-lari akhirnya ia menemukan sebuah klinik dokter gigi disana yang padahal saat itu tidak beroperasi sebab adanya carnaval, namun tidak ingin mendengar penolakan klinik itu nyatanya sedang dibuka seseorang, Morean pun mengancam mereka untuk mengobati Sarla jika tidak akan mencabut izinya.


Morean mengeluarkan kartu namanya, sontak saja melihat nama keluarga Rodriguez Sanden ia pun segera di takuti dan Sarla pun berhasil diobati.


Morean yang tidak sanggup melihat darah dan ia tadi bahkan berkeringat dingin saat menyaksikan kaki Sarla yang berdarah, dengan gusar Mirean terduduk pasrah diruangan tunggu kosong itu.


Morean merasa bersalah, ia mengutuki dirinya terlalu emosi pada Sarla, ia begitu gelap mata dan tidak tahu kenapa bisa semarah itu, Morean menduk gusar, baru kali ini dia menganggap Juless layaknya lawan padahal biasanya dia akan mempermudah apapun yang Juless mau.


Sarla pun sudah selesai dia keluar dari ruangan itu, tertatih-tatih dengan kakinya yang terangkat sebelah, melihat itu Morean pun segera berlari, wajah bengis sudah sirna ia menatap sendu Sarla.


“Kenapa turun, aku akan menggendong mu.”


Sarla menggeleng, “Cepat panggil taksi, aku ingin segera beristirahat.” Kali ini Sarla mulai berani memasang wajah kesalnya, mendorong Morean dihadapannya.


Mengacuhkan ucapan Sarla, Morean pun mengangkat kembali tubuh mungil itu, Sarla sedikit memberontak, “Diam, kau masih akan ku hukum.” Ancam Morean membuat Sarla pun terdiam seketika.


Dari keluar hingga sudah sedikit jauh dari kawasan carnaval itu sama sekali tidak ada taksi yang mereka temui, Morean terus menggendong Sarla dengan Sarla yang pasrah dan tidak sedikitpun enggan berbicara ia begitu benci atas sikap Morean yang tempramental.


Mau tidak mau Morean pun berjalan kaki untuk sampai kerumah Sarla yang memang tidak terlalu jauh hanya tingga 2 kilo meter lagi.


Dijalanan yang mulai gelap itu Sarla pun semakin memeluk leher Morean sebab takut.


“Jika kau tidak bertingkah ini semua tidak akan terjadi!” Morean pun akhirnya bersuara.


“Ini tidak sakit dibandingkan hatiku yang selalu mendapatkan pekikan pedas dari mu, kenapa kau tidak bunuh saja aku.” Sarla menyahut wajahnya mengalihkan enggan melihat Morean


.


Keduanya pun kembali diam disuana hening, hingga sampailah mereka dikediaman Sarla, Morean membuka kunci yang Sarla berikan dengan Sarla yang sudah turun dari gendongan.


“Kau akan menginap?” tanya Sarla sembari masuk terpincang-pincang.


Morean memantik batang berasapnya diluar, “Buatkan aku minuman seperti saat itu,” Ia membungkuk disana menyandar pada pagar sembari mengudarakan asapnya.


Sarla pun berdehem masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya, memilih sebuah piayama yang nyama dilemari sang kakak kemudian membuka pakaiannya.


Tanpa ia sadari Morean sudah masuk kesana hembusan angin membuat kamarnya terbuka tanpa Sarla sadari Morean terbelalak melihatnya yang berganti pakaian melepaskan semua yang melekat pada tubuhnya.


“Kau tidak datang bulan?” ucapan Morean membuat Sarla begitu terkejut, Ia pun menutupi tubuhnya seketika dengan kain disana.


“Ka-kau tidak sopan! Tunggulah diluar aku akan ganti pakaian!” Sarla tampak gugup melihat ekspresi lelaki itu.


“Kau berbohong! Kau tidak sedang datang bulan!” Pekik Morean lagi, Sarla pun menciut saat ia ketahuan berbohong.


“Su-sudah habis!” Sarla mundur ketakukan seketika wajah Morean menegas lagi dengan tatapannya yang begitu serius.


Morean pun maju beberapa langkah netranya menatap tajam dan sangat mengunci,” Kau berbohong! Apa yang terjadi padamu, kenapa kau membohongi dokter itu, apa yang sedang kau tutupi.”


“S-sungguh aku tidak berbohong, aku benar datang bulan pagi tadi namun saat sore sudah kering, itu...” Sarla berusaha tenang menunjuk bungkus pembalut di atas lemari membalas tatapan Morean, “Aku tidak berbohong, percayalah...”


"Omong kosong!"


"Ti-tidak, aku tidak berbohong, sungguh..." Sarla merasakan sesak dia sudah ketahuan berbohong, ia pun selangkah mendekat mengambil dua tangan Morean tidak peduli lagi kain yang menutup tubuh polosnya terjatuh.


Sarla pun seketika melingkarkan tanganya keleher Morean memancing dan akan memegang kendali pada lelaki ini sungguh ini pekerjaan liar yang biasa ia lakukan saat menipu para pelanggannya dulu namun tidak tanpa busana seperti dan rela menyerahkan diri seperti ini.


“Aku tidak berbohong...” Sarla berusaha meyakinkan lagi menatap pada mata berkilau Morean, sedetik saja Morean luluh rangkulan tangan nakal Sarla dan wajah cantik yang begitu memikat itu membuat Morean lupa diri, Morean pun merengkuh pinggang Sarla dan memagut bibirnya dalam.


Permainan bibir itu pun berlanjut yang mana keduanya sudah saling membalas dan mengabsensi, kedua tangan Morean bergerak meremasi, Sarla membathin dalam hati lagi-lagi dia menjadi wanita murahan untuk lelaki ini dan kini dia yang memancingnya lagi.


Morean pun membuat Sarla turun ke ranjang, menanggalkan pakaiannya sendiri dan pergulatan panas itu pun terjadi, masih menciptakan gelombang rasa sakit yang bercampur nikmat.


Sarla mencoba menjadi bukan dirinya berusaha agresif agar membuat Morean terlena dan terbawa suasana tidak lagi mempertanyakan hal yang tadi, belum selesai ia sudah menjadi liar membuat Morean dibawah dengan dia yang mengukungnya.


Haruskah bertanya bagaimana melakukannya sungguh lelaki inilah pertama baginya, namun ia rasa tidak perlu belajar nyatanya semuanya mengalir begitu sana dan sesekali Morean menuntunya berpegang pada pinggang Sarla.


Setiap denyutan rasa seakan bercampur dengan tusukan hati yang perih, tidak pernah ada dalam benakknya akan menjalin hubungan seperti ini dengan paman sang kekasih yang amat ia sayangi.


.


.


.


.


.


Like comment sesesajen🌼