Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 48



Sarla memasang wajah polos atas ucapan Morean itu, ia sangat paham namun rasanya ia amat takut, sangat amat takut dikeadaan hamil muda seperti ini Morean akan berlaku sangat bringas dan akan membahayakan janinnya.


“Hujan More?” ucap Sarla bersamaan dengan hujan deras yang turun tiba-tiba membuat Morean segera turun dari tempat tidur untuk menutupi jendela agar tidak merembesi air dan menghentikan keinginannya.


Sarla pun membantu Morean menutupi pintu lainnya disana hingga keduanya pun tertawa terjebak dirumah pohon itu.


“Kita benar-benar akan disini.” Sarla menatap pada Morean.


“Tidak ada pilihan kecuali kau ingin basah-basahan.”


“Kau belum makam More?”


Morean pun menarik Sarla sebuah sofa dan duduk, “Sudah makan sepotong roti sebelum kemari, kau sudah makan bukan?”


Sarla pun memajukan bibirnya, “Dari mana kau tahu?”


“Bibirmu rasa kaldu ayam.” Ingatkam Morean mereka tadi yang sudah beberapa kali berpagutan, Sarla pun bersemu malu.


“Iya Maaf...”


“Kenapa minta maaf, bibir berkaldu kurasa cukup lezat,” Morean menarik Sarla mendekat kemudian ia mainkan rambut panjang Sarla dengan jemarinya lembut.


“Hemmm... Kau tidak bekerja hari ini?”


“Bekerja kau tidak lihat tadi aku menghantarkan Bosku, Tuan Rodriguez Sanden, itu bahkan sebuah tugas besar.”


Sarla pun tertawa, “Ayahmu sangat ramah.”


“Ya jika dia menilai seseorang itu baik.” Morean teramat suka memainkam rambut Sarla kini ia bahkan menggulung-gulungnya.


“More, kau membuat rambutku kusut,” Tarik Sarla tangan Morean, “More bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Hemmm, jika tidak?”


“Aku serius.” Sarla pun menarik tangan Morean yang sibuk memelintir rambutnya, “Kau ingin ku gigit? Rambutku benar-benar berantakan kau buat.”


“Mau bertanya apa?” Morean pun melepaskan rambut Sarla mulai menyandar pada sofa, membuat Sarla pun menempel pada lengan lelaki itu.


Sepintas Sarla melihat keluar jendela suasana teduh dan sedikit gelap titik-titik hujan yang bahkan membuat takut kini seakan tidak pernah rasakan lagi, Sarla merasakan aman didekat lelaki ini.


“Apa kau bahagia dengan hidupmu More? Kau punya segalanya yang orang lain kejar mati-matian, harta, kedudukan, segalanya? Semuanya kau punya.”


“Tidak dengan ketenangan.”


“Aku mengerti itu, tapi kenapa banyak orang yang berusaha menjahatimu, kekayaanmu seperti kutukan.”


“Ya, itu yang kurasakan semua diawali saat kakekku berhasil mendirikan sebuah perusahaan telekomunikasi dan mampu memperkerjakan banyak orang, disanalah banyak yang berusaha menjatuhkan dan dendam tanpa arah saat beberapa orang ingin ikut masuk kedalam namun sulit, suami bibi Tores meninggal, kakak kandungku juga Istrinya dan kini ayahku, kau ingat aku tertembak kemarin dan ada banyak lagi bahkan kau sekarang tanpa salah menjadi sasaran.”


Sarla diam sejenak, Ia memainkan jemari Morean, “Artinya jika kau punya keturunan dia juga akan dalam bahaya?” Pertanyaan Sarla membuat Morean menatapnya serius. “Ah kenapa kau melihatku, aku kan hanya mengatakan yang kau katakan jangan sampai aku hamil ya ini yang kau takuti dia kenapa-kenapa.”


Sarla sebenarnya terenyuh namun ia harus apa selain menyadarkan diri, setidaknya kalimat ini bisa membuat dia kuat anaknya harus tetap hidup dan tidak akan membawa nama Rodriguez Sanden sebab nyawanya akam terancam


“I believe baby, ayah pasti menyayangimu, aku paham dia takut kau akan dalam bahaya jika menjadi anaknya, kau akan jadi anak mama hanya punya mama.”


“Terkadang aku lelah, aku ingin hidup normal...”


Ikut kami dad kita pergi dari sini tinggalkan semuanya demi dia...andai saja kau tahu...


“Sudahlah jangan bahas lagi, ku mohon isilah kebahagiaan di detik-detik kepergianku, aku ingin mengenangmu nanti sambil tidur walau aku tahu akan banyak hal yang membuat kita saling melupakan, My sweet devil...” Sarla pun memeluk Morean menempelkan dirinya pada tubuh lelaki itu.


“Kau sudah fikirkan akan kemana?”


Sala pun tertawa, “Kenapa bertanya itu rahasia bagaimna jika kau rindu aku dan datang tiba-tiba, No tidak boleh kita, More! Aku pastikan aku akan menemukan seorang kekasih nanti dan kau bisa jalani hidupmu mungkin mencari pasangan yang sepadan juga memiliki banyak pengawal.”


Morean mengulum senyum, dia tidak suka mendengar perkataan Sarla akan menemukan seorang kekasih ia benci saar membayangkan Sarla akan bermanja-manja seperti dengannya selama ini.


“Kalian akan bersama?”


“Mungkin, ayahmu bilang aku, kau dan Juless berhak bahagia dan hidup lebih baik nanti.”


Morean tidak lagi merespon ia menarik tubuh Sarla mereka pun berbaring disofa itu, Morean mengambil tangan Sarla mengecupnya bertubi-tubi.


“Jika kau diberi kesempatan memutar waktu hal apa yang ingin sekali kau lewati More?” Tanya Sarla kini keduanya menatap pada langit-langit tuangan yang beberapa lapisannya adalah kaca tembus pandang.


“Tidak menjebakmu dan tidak mengenalmu.”


Morean mendengkus ia tidak pertanyaan itu, “Kau mencintainya?”


Hahah, “Cinta? Tetap kau lah pemenangnya More,  hemm.... aku ngantuk suasannya membuatku ingin tidur apa lagi guling besarku ada disini.” Sarla memiringkan tubuhnya memeluk Morean.


Pemenang? Dan apa kau sadar sedari pertama kaIi kau memeluklu seperti ini kau membuatku tenang, kau membuatku terdiam lama, ku rasa kau memenangkan hatiku? Lebih dari aku pernah memaksa menguasaimu.


Setengah jam berlalu Morean pun terpejam dipagi hari yang hujan itu, namun Sarla terjaga saat suara ponsel Morean berdering, Sarla mengerjan dan meraba ponsel itu.


“Juless...”


Sarla segera meletakkannya lagi, coba merasakan apakah mau rindu dia Sarla? Nyatanya biasa saja, entah dia atau bawaan anak yang ia kandung, Sarla enggan jauh dari lelaki didepannya ini, selalu tersenyum melihatnya, menatap lamat-lamat wajah tampan yang memejam itu, bulu mata yang lentik, bibir tipis yang selalu berucap dingin namun selalu berlaku hangat.


Sarla bangkit dari sana enggan mengusik Morean tidur, ia berjalan kearah jendela, memilih menatap hujan, merenungi nasibnya dan berfikir akan kemana dia nanti, sampai hari ini dia belum terfikir akan kemana.


...*** ...


Disebuah meja makan bibi Tores sedang makan bersama ayah Morean sembari menceritakan banyak hal yang sudah terjadi termasuk masalah Morean, Juless dan Sarla dimalam itu.


“Bagaimana gadis itu, siapa namanya Sarla?


Bibi Tores berdiam lama ia tidak tahu harus bagaimana dengan apa yang ia ketahui hanya dengan melihat bagian tubuh Sarla dan menyentuhnya, “Sarla hamil, Rodri, aku tidak tahu pasti dia tidak sadar atau memang menutupi, apakah Morean mengatakan sesuatu padamu?”


Lelaki tua itu begitu terkejutnya walau ia sudah menebak itu semalam, ia menatap sang adik, “Kau yakin Toress?”


“Simpanlah ini Rodri aku tidak terlalu yakin, tapi aku yakin kita akan tahu kebenarannya, jika dia hamil aku tidak tahu akan bagimana hubungan Morean dan Juless, tidak bisa menolak kemungkinan hal-hal yang kau takuti terjadi, Juless terlihat sangat lembut namun amat sangat keras.”


Rodriguez terdiam menarik nafasnya berat, “Lalu menurutmu Stevanus berbohong atas hasil tes Sarla? Menurutku juga seperti itu, itu pasti karena Morean pasti pernah mengancamnya untuk tidak hamil sekarang hanya menunggu hari pemeriksaan Sarla akan baik-baik saja dan dia akan pergi.”


“Aku tidak setuju Sarla pergi tapi aku juga takut hal buruk akan terjadi anatara Morean dan Juless yang mana juga katamu Watson menaruh dendam atas Summer yang kembali namun tidak lagi diperdukikan Morean, Watson terkenal gila dia nekat berbuat apa saja.”


...***...


Di rumah pohon lagi dan lagi ponsel Morean berdering, kini lelaki itu terbangun ia melihat Sarla sudah dipintu menatap keluar segera ia lihat pada ponselnya, ‘Juless’ Morean tahu Juless menanyakan keberadaan sang kakek yang dibuat Morean seolah berangkat keluar negri, Morean pun mengacuhkan itu ia memilih bangkit dan mengusi Sarla.


Dengan langkah pelan Morean mendekat, lalu meniup telinga Sarla membuatnya terkesiap dan menoleh, “Kau bangun?”


“Kau tidak tidur? Apa yang kau lihat?”


Sarla tertawa, “Kau dan rekan-rekanmu berlarian menghindari hujan, itu...itu...itu...satu tertinggal.” Tunjuk Sarla seekor kera keluar dengan tertawa.


Morean pun tertawa ia gemas kemudian menggigit telinga Sarla, “Aku kera?”


“Sakit More!” Lelaki itu tidak lagi menggigit namun ia mulai menjelajahi leher Sarla dengan bibirnya membuat Sarla meremang dan diam, lelaki itu menurunkan relsleting dress Sarla membuatnya terlepas begitu saja.


Kini Sarla pun dibuat berhadapan, mereka saling berpagut dengan seluruh tubuh Sarla dipeluk kuat Morean, Morean mulai bergrilya menyentuh apa saja dipunggung hingga kebawah sana, membuat Sarla semakin gusar, dan seketika saja Morean menjarakkan tubuhnya merasakan Sarla yang seperti menjarakkan perutnya agar tidak menempel.


“Kenapa perutmu?”


Sial dia menyadari itu...


“Ke-kenapa? Ayo lanjutkan...” ucap Sarla mencoba tenang membuat Morean menatap wajah Sarla begitu serius banyak hal yang memang sangat mencurigai Morean, Morean paham keanehan Sarla hanya saja hasil tes Stevanus tidak bisa ia tolak mengatakan Sarla tidak hamil, “Ayo lanjutkan, More.” Sarla semakin gusar melihat tatapan lelaki itu.


“Kau mengandung Sarla! Kau membohongiku!” Tatapan Morean semakin menegas memancarkan cahaya kemarahan menusuk mata Sarla hingga membuatnya sangat ketakutan.


“A-apa masudmu More?”


“Hentikan basa-basimu Sarla! KATAKAN YANG SEBENARNYA SARLA!” Pekik Morean begitu kuatnya membuat Sarla terlonjak.


Sarla baru saja masuk keperangkap Morean ia sengaja melakukan itu ingin mengetahui sendiri apa yang akan Sarla akan lakukan, pasti dia akan berusaha menjaga perutnya dan benar saja, dia melakukan itu walau diawal tadi dia menolak dan hujan tiba-tiba menolongnya.


.


.


.


.


.


.


Next»