Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 80



“Apa yang kau lakulan disini nyonya Lindon!” Watson bersusah payah bangkit dari tempatnya berbaring mendapati istri Lindon datang.


“Berikan aku uang yang kau janjikan, jika tidak aku akan menghancurkan gudangmu.” Wanita dengan style retro rambut tergurai indah dan lipstik tebal merah menyala itu menatap tajam pada Watson.


“Apakah ada yang berhasil, semua kesepakatan kita tidak ada yang berhasil, kau gagal melakukan semuanya aku bahkan yang menjadi korban.”


“Persetan tentang itu, kau berjanji padaku jika aku mau bekerja sama denganmu dan mengikut sertakan anak buahku, kau akan membayarku lebih dari uang ganti rugi yang Morean Sanden bayarkan atas kematian suamiku, kau tahu sudah berapa banyak pekerjaanku yang gagal karena memata-matai Morean Sanden dan sekarang bahkan kau hampir mati kehilangan jejak wanita yang menjadi istrinya itu, bayar aku sesuai yang kau katakan jika tidak anakmu akan membayarnya.”


Watson tersulut, “Semuanya tidak ada yang berhasil, Morean Sanden tidak kembali bersama Summer dan tidak ada gunanya membunuh kakek tua itu. Summer tidak akan pernah masuk dikeluarga itu. Tidak ada yang bisa lagi ku handalkan.”


“Maka bunuh saja putrimu, dia tidak berguna! Kita sudah mengupayakan banyak hal, ternyata dia tidak diinginkan oleh keluarga Rodriguez Sanden terlebih Morean anaknya.”


“Tutup mulutmu, Summer sudah berusaha masuk kembali dan membuat celah untuk aku menjadi bagian dari keluarga itu tapi wanita sialan bernama Sarla Wilamo yang sedang mengandung itu mengacaukan semua harapanku.”


“Semua kebodohan putrimu, kenapa di la menggunakan cinta, kenapa dia tidak hamil saja membuat semua akan mudah lalu kau bisa masuk keluarga itu dan bangkit lagi untuk menghidupkan semua asetmu, gadis bodoh! Jika kau tidak membayar setengah dari janjimu minggu depan, maka putri bodohmu akan membayar semuanya.”


Watson menatap nyalang Nyonya Lindon, “Jangan pernah sekalipun kau menyentuh putriku maka kau akan tahu akibatnya!”


“Apa akibatnya?” Wanita itu tertawa, “Kau bernafas saja sudah sulit atau kau yang mau membayar dengan nyawamu.” Haha...


“Tutup mulutmu wanita licik!”


“Terserah aku tunggu, Tuan Watson jika tidak maka kebahagiaan dan cinta yang abadi disurga menanti putrimu, selamat tinggal.”


Hahaha... Wanita bergaya retro itu terbahak-bahak, mengudarakan bong berasapnya pergi keluar dari ruangan tempat Watson berbaring itu.


“Bedèbah! Wanita licik! Carlos....dimana kau, dimana Putriku!” kegundahan menyemuti lelaki yang sekujur tubuhnya nyari tidak berdaya itu. Ia begitu takut jika Nyonya Lindon menyakiti Summer. Sebab ia belum punya nominal seperti yang ia janjikan pada wanita licik itu.


...***...


Di sebuah appartemen jauh dari kota dimana mereka tinggal Juless membawa Summer ke tempat barunya itu, sebuah tempat yang ia beli secara mendadak bahkan dia sedang sibuk melakukan pengurusannya sendiri, lelaki itu meninggalkan Summer sendiri diunitnya dan kini dia akan naik menemui wanitanya itu.


Summer kembali bedrest ia hanya bisa duduk diranjang, menunggu Juless yang sibuk dari sampai hingga saat ini. Ia bahkan berkali-kali tidur dan bangun namun laki-laki itu tidak juga kembali.


Kesal, marah, bosan dan sepi, Summer terus menggerutu tidak jelas, berkali-kali Juless di hubungi ternyata ponselnya tertinggal. Sejenak terkadang Summer diam dia bermonolog pada dirinya kenapa dia seperti sangat membutuhkan Juless.


Tapi sungguh, hamil sendirian rasanya berat dengan adanya Juless dia cukup terbantu sekali karena kodratnya adalah hamil harus ada suami mereka harus bekerja sama.


Klik


Suara pintu terbuka diluar kamar membuat Summer segera berpura-pura tidur kembali merebahkan dirinya ke ranjang.


“Summy....”


Juless berjalan masuk membawa berkas-berkas pembelian unit baru appartement itu, lalu masuk kedalam kamar yang terbuka melihat Summer terbaring memejam disana. Juless mendekat menatap pada Summer yang tidur lalu meletakkan berkas-berkas ke nakas, Juless mengusap perut Summer yang memiringkan wajah. “Ini tempat tinggal untukmu dan mom... baby, ini ayah beli dengan gaji ayah bukan uang kakek buyutmu.”


Mana mungkin Summer tidak terenyuh, Juless berusia muda namun tidak dengan sikapnya, nyaris malah seperti dia yang kekanakan Juless tidak sama sekali.


Tempat tinggal unkuk Mom dan baby, Summer menelan ludahnya merasakan titik tersentuh didirinya, bedanya Juless dan Morean, Juless melakukan apapun sendiri dia tidak memerintah asisten atau orang-orangnya untuk melakukan yang dia mau.


Summer berpura-pura terjaga ia menggeliatkan tubuhnya, lalu barpura-pura terkesiap melihat kehadiran Juless, “Hemmm kau sudah kembali? Cepat sekali aku masih ingin tidur sendiri tidak terganggu olehmu.” Summer berakting ia bangkit dan duduk diranjang.


“BESOK PAGI?” Summer terkesiap.


Juless pun menatapnya heran, “Kenapa? Ada masalah, mungkin kehadiranku terlalu sering membuatmu tidak nyaman dan marah-marah, yang terpenting saat ini kau aman dari manapun, aku tidak suka kau tidak nyaman, nikmatilah istirahatmu, aku hanya akan datang pagi hari melihatmu sebelum ke kantor.”


Summer diam lama, ada penolakan pada dirinya namun entah bagaimana ia menyikapi ini, ia enggan tinggal sendiri, dia butuh orang lain terlebih orang yang mengetahui keadaannya dan paham apa yang terjadi padanya. Haruskah dia terus menahan egonya— gengsinya, sampai kapan?


“Kau tidak tinggal disini?”


Juless terkesiap mendapatkan pertanyaan Summer itu, “Maksudmu?”


“Entahlah aku ingin ke toilet—“


“Kau sudh bisa berdiri kuat? Aku akan hantarkan.”


Summer yang berdiri menatap pada Juless, “Kau tahu aku belum bisa berdiri kuat? Lantas kenapa kau mau meninggalkan ku dan datang hanya pagi saja!”


Juless lagi-lagi terkesiap, itu sebuah pernyataan atau kemarahan, “Summy?” Juless memegang lengan Summer.


“Lepas, pergilah sana! Aku jatuh atau kenapa-kenapa disini siapa yang peduli, tidak ada yang tulus dengan anakku apa lagi aku.”


Juless merasa aneh, ia berkerut dahi namun juga tersenyum geli, Summer tidak ingin ditinggal namun ia bersikap tetap sama terlalu membesarkan egonya.


“Aku tidak mengerti dengan sikapmu Summy—“


“Pergilah, tinggalkan aku!” Summer menepis Juless yang akan memegangnya.


Juless tertawa ia mengikuti Summer, lalu mengambil sebuah sandal dan meletakkanya menunduk didepan Summer, “Pakailah, ini anti slip.”


Summer seketika terdiam, menatap pada laki-laki yang selalu bertindak peka ini, seketika ia berkaca-kaca mengalihkan wajahnya. “Kenapa kau selali baik Julss...”


Julles bangkit ia semakin aneh melihat sikap Summer, “Kenapa? Aku salah lagi?”


Summer seketika berhambur memeluk Juless dihadapannya ia menggelengkan kepalanya, “Kenapa kau begitu sabar, kenapa kau begitu peka dan peduli padaku.”


Ini untuk pertama kalinya Summer mau memeluknya, dia menangis sesegukan didada Juless, Juless bingung ia pun ragu menyentuh punggung Summer. “Tidak ada yang istimewa aku melakukannya karena kau wanita, aku menyakitimu, kau...mengandung anakku, kau membawa sebagian dari nyawaku.”


Hiksss hikss


Summer terseduh-seduh ia semakin memeluk erat Juless, “Tetaplah disini, aku butuh kau....butuh seseorang yang mengerti keadaanku dan yang pasti ayah dari anak yang ku kandung.”


Juless merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, sungguh Summer mengatakan itu? Dia meminta itu, Juless mendadak berkaca-kaca dan memeluk erat tubuh Summer, keduanya menyatu dalam rasa yang sama yaitu perasaan saling membutuhkan.


“Maafkan aku Summy....mungkin keadaan memaksa kau harus menerimaku.”


Summer menggelengkan kepalanya, “Tidak hanya itu Julss, sebab aku juga ternyata membutuhkanmu....”


Juless menarik dekat kepala Summer masih dengan berkaca-kaca lalu ia kecup lembut dan menahan lama dipuncak kepala Summer, “Kita akan lewati ini bersama-sama.”


Cup....