Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 53



Sebuah gaun sederhana yang Luke hantarkan sudah Sarla kenakan, membalut simple tanpa banyak aksen, hanya sebuah tali yang membentuk pita dipunggungnya, begitu pun rambut Sarla hanya di tata oleh bibi Tores seadaanya mengurangi orang datang membantu agar DelmiForest kediaman bibi Tores selalu aman.


Wajah cantik berseri terpampang diwajah Sarla, ia berjalan menuju masuk tempat pemberkatan yang tidak jauh dari DelmiForest merupakan sebuah tempat khusus tidak untuk penduduk setempat itu.


Morean sudah menunggunya didepan sana, dihadapan seorang tokoh agama yang siap mengikat mereka, tidak pernah segugup ini, Morean berkaca-kaca kala Sarla melangkah masuk bersama tuan Rodriguez Sanden yang perlahan-lahan menggandenya.


Morean menghelakan nafas dan desahàn tanpa suara menahan agar cairan bening yang sudah berkubang dimatanya tidak jatuh masih terus menatap Sarla yang mengulas senyumannya.


Ini titik puncak perasaannya yang mana ia mungkin harus mengakui dia mencintai wanita ini. “Kau selalu sempurna Mom...”Puji Morean, menyambut tangan Sarla naik.


Sarla membenarkan dalaman kemeja lapisan jas More yang sedikit naik, “Kau juga selalu tampan, Dad!” Keduanya memancarkan kebahagian sangat menjelaskan mereka berdua sudah saling mencintai.


Tidak butuh waktu yang lama, entah kapan dan bagaimana namun kau selalu sukses membuat aku tidak bisa jauh darimu padahal kau menyebalkan, My sweet Devil.


Suasana mulai khidmat disana yang mana prosesi akan dimulai, dikarenakan Juga yang menghadiri hanya para bodyguard Morean, perawat Rodriguez Sanden, bibi Tores dan Luke juga beberapa orang dati tempat itu.


Keduanya mendengerkan dengan baik, mulai melewati setiap prosesi pemberkatan dengan mata yang berkaca-kaca, setiap bait janji-janji pernikahan yang dilontarkan begitu menaruh kesan yang mendalam untuk keduanya.


Tidak luput terlihat ayah Morean juga Bibi Tores terharu, dalam waktu yang singkat akhirnya mereka adalah suami istri.


Hingga prosesi pemasangan cincin pun berlangsung, Sarla tertawa melihat lagi lelaki itu menangis, “Kau cengeng seperti ini, aku baru tahu.” Semakin terlihat jelas Morean si iblis berhati lembut.


“Hatimu batu? Kenapa kau tertawa?”


“Kau menggemaskan, Dad! Love you.”


Hiksss, Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Sarla saat ia memasangkan cincin ke jemari Morean, membuat lelaki itu semakin terharu.


“Luke Tissu!” Bisik Morean pada Luke yang berada didekat mereka.


“Di luar bos! Sapu tanganku mau?” Morean pun mengambil sapu tangan yang di ulur Luke.


Luke menepi lagi menyugar rambutnya, seketika ia ingat sapu tangannya sudah dia sudah pakai untuk mengusap ujung sepatunya, dia tertawa disana, “Sorry bos, tapi aku rasa tidak berbahaya hanya ujungnya, aku juga tidak memijak kotoran lihat Luke sepatunya, arh tapi entahlah!”


“Luke! Sapu tanganmu!” Berikan Morean kepada Luke lagi.


Sebuah kecupan Morean berikan pada bibir Sarla, membuat tepuk tangam terdengar meriah, segera Morean menggenggam wanita yang sudah menjadi istrinya itu. “Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu mungkin!”


Sarla merasakan bahagianya ia saat ini, lupakan sejenak masalah yang sedang mengusik, hari ini hari bahagiannya, Sarla menjadi Rindu sang kaKak juga Virel sahabatnya pun Julless.


“Apakah hubungan kita selama ini, sebenarnya adalah penghantar jodoh untukku Julls? Maafkan aku.”


Sekarang Sarla resmi menjadi anggota keluarga baru dikeluarga Rodriguez Sanden, walau dia harus mengalah pergi beberapa waktu sampai mana keadaan sudah aman, tidak bisa dipastikan itu kapan yang pasti mungkin sangat lama.


Morean ingin menikamati masa-masa liburnya di Delmiforest sebagai waktu berbulan madu, sembari menunggu persIapan beberapa hari kedepan Morean sudah harus menghantatkan Sarla ke Utara Eropa memastikan dia aman dan segera kembali tidak bisa berlama-lama disana, perusahaan membutuhkan dia.


...***...


“Senang kau mau aku ajak bertemu, Julls.” Summer mensesap minumanya, dia dan Juless sedang melakukan makanan siang seperti yang Summer minta di kawasan Metro.


“Hemmm, kenapa kau mengajakku bertemu, tentang More dan ayah? Ya mereka sedang di London.”


Summer menyimpul senyuman, “Ya, aku rasa kau tidak suka berbasa-basi, harusnya Morean tidak melakukan itu.”


“More tahu yang terbaik dan apa yang dia harus lakukan.”


“Hemmm, ya kau benar.” Summer diam sejenak, sebelum akhirnya menatap Juless lagi, “Apakah kau tahu siapa wanita yang bersamanya itu?”


“Aku tidak diberi tahu dan aku tidak ingin mencari tahu, More punya alasan sendiri untuk tidak memberi tahu mungkin demi keselamatan wanita itu, kita tidak akan pernah tahu kapan saja hal buruk bisa datang.” Juless seakan menyindir orang tua Summer yang sedari dulu ada saja jalannya untuk mengusik dan berusaha memanfaatkan keluarg mereka.


Summer merasa tersentil ia diam lagi, “Sejujurnya aku ingin meminta bantuanmu untuk mengembalikan aku dan More, dia salah paham aku tidak pernah menikah, kalian tahu seperti ayahku, aku adalah korbannya.”


Juless tertawa kecil seperti mengejek, “Aku tidak bisa berbuat banyak, Morean sama sekali tidak memberi celah tentang wanita itu, aku bahkan tidak tahu apapun walau hanya bayangannya.”


“Kapan More kembali?”


“Entahlah, yang pasti dia membuatku sibuk di kantor selain kuliah, di sedang membuatku masuk ke perusahaan juga.”


“Hemm, Bagaimana hubunganmu ku dengar dulu kau punya kekasih?”


Juless pun tertawa, “Aku rasa aku lebih menyedihkan darimu, kekasihku meninggalkan ku tanpa sebab, setelah lama menghilang aku temukan dikawasan Bougenv ternyata dia sudah bersama seorang pria lain dan sekarang entah dimana, sebereengsek itu hidup, pengorbanan dan cinta bisa terkalahkan dengan apapun aku tidak tahu apa yang dia harapkan dari pria itu dan apa yang lebih baik darinya.”


Summer menyimpul senyum, “Oh ya? bodoh sekali dia melepaskanmu! Tidak tahukah dia kau siapa? Tidak masalah Juless kau masih muda, banyak wanita yang memujamu diluar sana, kau bisa pilih sesukamu.”


“Gadis itu tidak butuh hartaku! Dia berbeda...”


Juless tertawa, “Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang anak yatim piyatu dengan seorang kakak yang buta, dan tinggal disebuah kontrakan kecil bahkan tidak lulus kuliah sebab tidak ada biaya.”


“Wow beruntung sekali dia dicintai olehmu, aku rasa Morean berbeda darimu, dia bahkan menseleksi siapapun yang dekat dengannya bahkan wanita yang hanya ia temui sekali saja.”


“Aku bukan Morean! Hidupnya membosankan!”


...***...


Mereka pun sudah tiba di kediamam bibi Tores lagi, Sarla mengajak Morean kerumah pohon lagi, setelah kemarin mereka berengkar disana, “Kita akan menginap malam ini disini More, nanti kita akan memancing ikan didanau lalu membakarnya.”


Morean melepaskan jasnya melihat pada Sarla, “Ide bagus, kau ingin kebawah? Melihat danau?”


Sarla mengangguk, “Sebentar aku ingin meluruskan pinggangku dulu.”


Sarla berusaha melepaskan gaunnya susah payah, hingga Morean pun mendekat membantu membuka relsletingnya.


“Istirahatlah aku akan menghubungi Juless.”


Morean yang sudah menanggalkan jas dan kemejanya menyisahkan celana panjang dan kaus dalam saja berjalan menuju teras rumah pohon itu. Dia akan memastikan Juless aman dan baik-baik saja disana.


“Apakah sangat sibuk disana? Sulit sekali menghubungimu!”


“Aku sibuk, kakek baik-baik saja, belajarlah di kantor dengan baik, kau bisa dihandalkan Julss sudah saatnya kau serius.”


“Hemm, mana kakek? Aku ingin bicara.”


Sarla menyusul Morean berdiri dipembatas teras menatap pada danau dan pohon-pohon disana, ia memeluk tubuh Morean dari belakang, Morean kemudian mengecup rambutnya. “Kau suka?”


“Suka apa?” Juless menyambut disana.


“Ah kakek diatas—“Morean memeluk Sarla disana meletakkan ponselnya dalam saku, “I love you...” Morean pun memagut bibir Sarla dan disambut pula oleh Sarla, disuasana yang begitu dingin keduanya saling berpagut lembut, mengisapi dan menelusup dalam rongga-rongga dalam dan penuh perasaan.


Hingga Morean membuat Sarla naik dan ia gendong tanpa melepaskan pagutan mereka untuk masuk kedalam, keduanya sudah diselimuti kabut rasa yang menciptkana rasa tagih dan ingi terus berlanjut.


Morean meletakkan Sarla di sofa, melepaskan sendiri celananya, mulai mengukung dan menjalari tubuh Sarla dengan bibirnya.


Kali ini semuanya dilakukan penuh cinta dan kelembutan, setiap sentuhan tangan Morean bahkan begitu lembut dan menciptkan gelombang rasa yang berbeda.


“Ayah akan pelan sayang...” Morean mulai turun mengusap pada perut Sarla dengan jemarinya lalu turun ke pembungkus segitiga yang tampaknya baru itu, Morean tertawa, “G-strîng baru?”


Sarla tertawa, “Kau lebih sukan mana?”


“Apapun milikmu aku suka.” Morean pun manarik lepas benda segita berbentuk renda dan tali itu, membuat Sarla menegang kala tangan More mulai meminta Sarla membuka pahanya.


Sarla melihat Morean disana, ini iblis itu yang memperkosaamu, memperlakukanmu dengan sangat aneh kenapa dan kini dia menjelma menjadi pemilikmu, seluruh hidupnya adalah hidupmu.


Penyatuan telah terjadi membuat Sarla tersentak kecil merasakan sesuatu yang sedikit berusaha masuk, hingga Morean kembali lagi memagut dengan hati-hati mengukung tanpa menyentuh perut Sarla.


Setiap hentakkan seakan mengaliri listrik yang menjalari setruman keseluruh tubuh hingga tulang-tulang, menciptakan rasa tagih yang rasanya ingin terus memasuki lagi dan lagi.


Pagutan pun sesekali terlepas meredam suara dësahaan Sarla, bergantian dengan menyerang leher sang istri menciptakan banyak bekas kepemilikannya disana, memainkan dua benda yang menyembul indah putih bersih masih ada pembungkusnya melilit tanpa dilepaskan.


Juless mematikan panggilan Morean ia mengumpati sang paman yang bisa-bisanya tidak mematikan ponselnya, ia mendengar jelas Morean mengucap cinta, samar suara percakapan tawaan hingga dësahan, sungguh suara itu tidak asing baginya.


Morean mulai berpeluh begitu pun Sarla, perpindahan posisi pun terjadi hingga keduanya menggeram bersama dan menahan dalam lalu merasakan ledakan yang membuat getaran rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Juless pun menghubungi Morean lagi, akan memastikan, sungguh itu benar sekali mirip suara Sarla walau ia tidak yakin desahàhan lakhnàt itu tampak adalah Sarla, Sarla tidak seperti itu, Juless pun berfikir jauh siapa wanita itu? apakah wanita bayarnya atau mungkin yanh di appartemen kemarin, "More ke London membawa dia? Sebudak cinta itu dia?"


.


.


.


.


.


Next » Sajennnn