
“Selamat datang dirumah milikmu, sayang ....”
Morean mempersilahkan sang istri setelah mereka melewati banyak pintu keamanan diatas sana dan turun langsung dengan mobil mereka hunian besar itu.
Dibawah sini keamanan sudah hanya menggunakan alat-alat saja bukan manusia lagi, ada banyak sensor keamanan disana. Ini tampak seperti hunian mewah pada umumnya, dibuat dengan sangat aman nyaman dengan berbagai macam interior terbaik disana.
Sebuah kolam berenang besar menjadi pemandangan pertama saat Sarla masuk, taman kecil buatan yang dibuat seperti sedang di alam tampak terlihat disana, cukup asri walau bukan diatas permukaan tanah.
“Semuanya cukup baik, hanya saja tidak bisa melihat matahari langsung.” Sarla melangkah masuk kedalam masih terus mengedarkan pandangannya pada hunian baru yang ia tempati itu.
“Tapi sirkulasi udara disini disini cukup baik, sesekali kita bisa berjalan-jalan keatas.”
“Ya apapun itu yang terpenting kau tetap bersama kami.”
“Tidak hanya aku tapi ayahku juga, agar aku hanya perlu membuat pengawalan pada satu titik saja tidak perlu disana juga.”
“Hemmm lakukan yang terbaik dad, aku tahu kau tau yang mana baik untuk kita semua.”
“Molina dan Luke menuju kesini, terserah Molina dia akan tingga dimana, dia bebaa pilih tapi mungkin aku bisa merekomendasikan kantorku sebagai tempatnya bekerja.”
Sarla berangsur duduk di sebuah sofa kulit yang membentang panjang di living room rumahnya itu, “Terimkasih dad, hem....aku suka tempat ini lebih suka jika kau ada.”
“Ini kawasanmu, ayah akan menempati unit sebelah sana, mungkin kita berdua butuh privacy— bagaimanapun butuh tempat yang khusus untuk kita berdua saja, ada 2 orang pembantu disini yang akan bergantian mengurusi tempat kita dan tempat ayah, jangan katakan kau tidak butuh, tempat ini cukup luas untuk dibersihkan, kau tidak akan sanggup dan aku tidak akan mengizinkanya.”
“Berlebihan....”
“Bukan itu, jika kau kelelahan kau akan membuatku tidak tidur, memijati punggungmu hingga pagi.”
“Oh, jadi aku tidak boleh memintamu memijati lagi, baiklah—“
“Bukan sepertu itu sayang— ah sudahlah, pokoknya kau jangan terlalu banyak mengerjakan apapun, terlalu aktif saat mengandung pun juga tidak baik.”
“Emh.....” Sarla mengiyakan ia pun mulai menaikan kakinya ke atas. “Nyaman sekali sofa ini More, aku suka ini.”
“Nikmati apapun yang kau suka.” Morean duduk sofa lainnya ia sibuk dengan ponselnya.
Segalanya sudah lebih tenang saat ini, entah apa kabar Watson dan istri Lindon itu mereka hilang begitu saja, begitu pun Summer sebulan ini tidak ada kabar.
Namun dia tidak lengah tetap menjaga keamanan dimanapun tidak ingin kebobolan lalu jatuh begitu saja.
“Dad....”
“Molina pasti akan sangat terkejut melihatku hamil, menikah lalu ada disini, lalu bagaimana menjelaskan tentang Sanden, sampai sekarang dia tahunya yang menolongnya adalah Sanden ‘Kan? Bagaimana jika dia menaruh rasa pada si Sanden itu, orang yang tidak bisa melihat tentunya sangat peka terhadap suara ia tidak bisa melihat wajah Sanden namun pasti ia sangat ingat seperti apa suaramu.”
Morean tertawa, “Terdengar menarik.”
“Dad!” Sarla melolot kesal, “Aku serius!”
“Ya aku juga serius.” Morean bangkit dari tempatnya lalu berjalan mendekat pada sang isrti ia mengangkat kaki Sarla dan meletakkan pada pahanya, “Kau takut kakakmu menyukai aku?”
“Dad, itu sebuah hal yang logis, kakak sudah banyak dibantu Sanden, tanpa dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kita tidak bisu, kita bisa menjelaskan semuanya, apa yang sulit.” Morean berucap dengan mudahnya memainkan jemari kaki sang istri.
“Dad, aku takut!” Wajah Sarla memancarkan kegusaran ia menurunkan kakinya dari paha Morean, segera ia merangkak mendekat kesuaminya lalu menyandar dan memeluknya, “Ini tentang hati Dad, betapa bangganya kakak menceritakan Sanden, kau tahu itu.”
Morean mengusap punggung Sarla yang memeluknya,”Aku akan meminta maaf padanya juga akan mencerirakan tentang pertemuan kami pertama kali semua itu diawali sebab aku mencari si gadis yang lari dariku hari itu.”
“Kau bisa bayangkan bagaimana jika kakak benar jatuh hati padamu?”
Morean memeluk Sarla masih terus tertawa,”Itu konyol sayang, dia tidak melihatku tapi menyukaiku.”
“Tapi sikap dan perbuatanmu More, kau membuat impiannya melihat lagi menjadi nyata, aku takut Dad.... Kau tidak paham.”
“Kau takut atau cemburu?”
“Dad— Aaa...seribu persen aku takut bukan cemburu.”
“Percayalah tidak akan terjadi apapun, aku akan menyelesaikan semuanya.”
Cup.
Cup.
Morean mengecupi puncak kepala sang istri dengan satu tangannya masih memeluk, membuat Sarla menjatuhkan dirinya pada sang suami, bermanja-manja tidur dipahanya.
Ini adalah tempat ternyamanku, suamiku... Sarla merasakan nyamannya usapan tangan Morean yang terus mengusap-usap rambut panjangnya.
Keduanya pun terus bercerita sembari menunggu Luke dan Molina tiba, kini Morean punya kegiatan penghilang segala penatnya hal-hal sederhana seperti ini bersama istrinya.