Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 51



Sarla sedikit terlonjak atas lemparan Morean, ia pun mengalihkan wajahnya, “Tidak bisakah kau mengontrol emosimu, itu tidak akan menyelesaikan masalah.”


 “Jika kau sangat pintar maka fikirkan solusinya.”


BRUAK!!


Lagi-lagi Morean melampiaskan emosinya kini pada sebuah tembok didepannya. Segalanya seakan begitu rumit tidak ada solusi yang bisa ia terima.


BRUAK!!!


“More, Stop! Kau melukai tanganmu!” Sarla menatapnya tegas. Namun tidak menyurutkan kekesalan Morean ia semakin memukuli dengan tanganya yang mengepal memperlihatkan buku-bukunya yang memutih.


“BERENGSÈKKK!!”


BRUAK!!


“Stop More! Berhenti katakku, jika tidak ingin mendengarku maka berhentilah untuk anakmu.”


Ucapan Sarla barusan seperti angin yang membawa kehangatan menyambar kedirinya menyantakkan kesadarannya. Ia berhenti, kini tangannya ia remasi dan sudah memear.


Sarla pun mendekat, ia ambil tangan lelaki itu, “Jika kau sayang anakmu, sayangi dirimu!”


“Anak?”


Morean menunduk, ia memejam tidak pernah ia sangka, ia akan mempunyai anak apa lagi menjadi ayah secara biologis. “Kau berniat menjauhkannya dariku!” Morean menepiskan tangan Sarla yang memegangnya.


“Kau yang membuat itu, kau membuatku takut, ibu mana yang mau anak yang ia kandung terancam.”


“Pembohong! Aku masih tidak terima kau membodohiku.”


“Ku rasa cara ku benar, aku hanya menyelamatkan anakku tentang perkataan ayahmu tadi juga benar, kau bisa meletakkan aku diluar negri kau bisa mengunjungi anakmu disana nanti.”


Morean mendengkus, “Sebait hal kotor dalam kepalamu sudah ku baca Sarla, saat kau terlepas dariku kau akan melepaskan dirimu dariku! Kau bahkan pindah dari kontrakanmu yang dulu takut aku datangi, kau tidak takut tentang hamil yang kau butuhkan kebebasan dan jauh dari masalah.”


“Hidup hanya sekali, apa lagi yang aku bisa buat selain menikmati hidup dan hidup bebas, satu solusi dariku, aku rasa kau harus memikirkan matang tentang melepaskanku, keluargamu membutukan mu, More!”


“Itu bukan solusi, tutup mulutmu jika hanya membuatku semakin sakit kepala!”


Sarla memilih pergi enggan mengkonfrontasi, ia memilih duduk diranjangnya membuka-buka buku tua diujung ranjang. Sembari melirik laki-laki iti dari jauh dan ponselnya yang ia banting dilantai masih bisa terus berdering.


“Sekarang kita beri tahu dia, kenapa Mom menamai boneka panda adalah baby M bukan Baby P, itu karena kau ada, kau dengar Mom nak? Lihat dia, dia sedang banyak mengalami masalah, nanto suatu hari jika kau lahir jadilah orang terbaik untuknya peluk dia, dia ayahmu.”


Morean memejam menutup rapat-rapat kelopak matanya, sungguh ucapan Sarla meruntuhkannya lelaki yang selalu tegar itu menangis, beberapa bulir bening lolos sari kelopaknya yang ia tutup.


Morean sedang berada di titik lelah, lelahnya menjadi anak dan seorang harapan dikeluarga Rodriguez Sanden, yang mana ia sudah mengorbankan banyak waktu untuk keluarganya dan kini dia bahkan diminta jauh dari sesuatu yang ia rasa berat untuk dilepaskan.


Bukan hanya anakknya tapi mungkin hatinya yang sudah bertaut dengan sang wanita yang mengandung darah dagingnya, Isakan Morean benar-benar mendalam dan tanpa suara tubuhnya seakan bergetar.


Sarla pun meletakkan buku yang ia pegang sambil berbicara pada perurnya itu, segera ia bangkit melihT Morean seperti itu.


Sarla bisa merasakan kepedihannya, segera ia ambil tangan Morean berhadapan ia genggam kuat dan peluk lelaki itu.


Kini tangisan itu bersuara berat, menjelaskan betapa ia lelah sekali seperti ini. “Aku sudah lelah! Aku harus apa?”


Sarla tidak merapatkan perutnya, ia menangkup wajah Morean, “My sweet devil, kau tidak pantas menangis, aku lebih suka kau seperti biasa, marah-marah dan—“


“Jangan pergi!” Potomg Morean memeluk leher Sarla seketika, ia memohon dengan bibirnya yang bergetar. “Menetaplah bersamaku! Ada banyak cara tanpa harus pergi, aku butuh kau, butuh anakku.”


Kau tidak tahu betapa aku sesungguhnya juga bingung akan bagaimana saat pergi kau membuatku nyaman dan terbiasa.


“Aku tidak bisa bayangkan akan bagaimana jika Juless tahu tentang ini, keluargamu akan terpecah belah hanya dia satu-satunya yang kau punya selain ayahmu, aku tidak bisa bayangkan bagaimana penyerangan itu lagi terjadi More, jika aku akan kenapa-kenapa aku tidak masalah tapi bagaimama dia.” Sarla menarik tangan Morean meletakkan keperutnya. “Coba kau rasakan dia sudah semakin besar.”


Morean seperti mimpi ia terheran-heran menyentuh perut Sarla segera ia berjongkok dan memeluk perut Sarla yang masih berbalut dress itu, Hiksss ....”Maafkan aku kau harus ada diantara kami dan keadaan yang sulit.”


“Dia mengerti More, dia pasti paham, coba bayangkan dia terlahir memiliki paras sepertimu, dia mungkin tampan atau cantik, tegakah kau melihatnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat seperti ini? Aku tidak tahu kapan keadaan akan aman tapi aku yakin suatu hari nanti akan aman, aku hanya takut tentang yang saat ini, mantan kekasihmu juga ayahnya mereka tampak berbahaya, izinkan kami pergi More, aku tidak takut tentang Juless tahu semua tentang hidup dan takdir siapa yang bisa menebak namun benar kata bibi, biarkan ini sedit lebih tenang saat dimana Juless benar-benar melupakanku atau ada orang lain.”


Morean sejenak terdiam ia mencoba mencerna, entah bagaimana dia melepaskan namun semuanya cukup benar, “Menikahlah denganku, jadi istri sah untukku, itu mungkin akan meyakinkanku kau sudah terikat selain tentang anak.” Morean meminta masih terus memeluk perut Sarla.


Sarla terdiam, lelaki ini melamarnya?


 .


.


.