
“Siapa?” Tatap Sarla pada Morean menarik sebuah selimut disana.
Morean menatap bodoh pada ponselnya, melihat tampilan durasi yang terpampang jelas disana 15 menit lebih sedari tadi dia ternyata belum mematikan panggilannya.
“Aku tidak mematikan panggilan tadi, dia mencurigai suara yang dikenalnya.”
Sarla membelak, “More!”
“Ssst...tenanglah!”
Morean meraih celana pendeknya segera memakai dan mengangangkat panggilan Juless.
“Kau dimana, More! Kau berbohong, kau ada dikawasana perbukitkan Delmiforest, apa rencanamu, apa yang kalian tutupkan dariku!” Kesal Juless disana.
Morean lupa, Juless begitu kritis ia pasti melacak ponselnya, More lupa itu saking dia sibuknya mengurusi pernikahannya tidak memikirkan hal sepele itu.
“Tidak ada yang di tutupi darimu, semua ini tentang kakek dan keselamatannya, biarkan kakek disini ya, aku berbohong tentang data keberangkatannya, aku dan kakek di tempat bibi Tores, Summer berbahaya apa lagi ayahnya, kau harus hindari itu, dia membuat Kakek seolah sakit parah tidak bisa lepas dari alat namun setelah dokter lain memeriksa kakek tidak seburuk itu.”
Juless mendengkus, “Aku sudah duga itu—kau bersama wanita di appartement itu? Siapa dia kenapa aku seperti tidak asing dengan suaranya.”
“Siapa? Lalu bagaimana dengan suaramu dan suaraku dipanggilan apakah berbeda?” Morean begitu gugupnya namun ia mencoba tenang agar bisa menutupi.
“Kau budak cinta More! Dia hamil anakmu? Aku jelas dengar itu, perkataan menjijikanmu.”
“Bukan urusanmu, bekerjalah dengan benar aku masih mengurusi kakek disini.”
“Dan urusan bercintamu yang memuakkan itu! Omong kosong!”
Morean tidak ingin berbasa-basi lama, ia rasa Juless tidak mencurigai itu, segera ia matikan panggilannya, Ia pun bernafas dengan lega menghirup banyak oksigen seakan baru keluar dari gua yang sesak, sepertinya tidak ada sedikitpun nama Sarla yang ia sebut.
Sarla memakai kemeja Morean agar tidak masuk angin sebab mereka tidak membawa baju turun, Ia mendatangi sang suami keluar teras.
“Bagaimana?”
“Hampir saja..”
Tatapan Sarla lirih, “Dia mendengar semuanya.”
Morean pun merangkul Sarla, “Maaf aku fikir aku sudah mematikannya.” Satu kecupan pun mendarat pada pipi Sarla. “Sudah janhan difikirkan, kau ingin turun kita akan pergi memancing.”
“Ambilkan pakaianku dad.. .”
“Iya, aku akan naik ambil pancing dan beberapa kebutuhan kita menginap disini.”
“Ehem..sekarang?”
“Tidak, 2 tahun lagi.” Keduanya pun tertawa, hingga mereka masuk lagi, Morean meraih jasnya untuk bergegas naik.
“Jangan lama-lama!”
Sarla melebarkan tawaannya, “Aku pernah punya jurus itu, saat tanggal tua dan diminta bayar kontrakan, jurusku semakin hebat.”
“Kau sangat hebat jika tentang pelarian, hem aku naik sekarang.” Morean seperti tidak bisa berhenti memeluk Sarla dan menciuminya, "Didalam saja, banyak kera disini." Ia menunduk sedikit lalu mencium perut Sarla, "Aku naik, sekarang love."
"Hemmm, hati-hati...kami akan merindukanmu."
Morean ditangga tertawa, "Hanya ke atas bukan ke Alaska." Senyuman bahagia terus terbit pada Sarla, ia begiru bahagia atas keadaan ini.
...*** ...
Juless tidak tinggal diam, dia pun akan pergi sendiri ke DelmiForest melihat keadaan yang ada, yang mana juga ingin menjenguk sang kakek.
Tidak ada dibenaknya Sarla yang bersama More, namun dia menaruh rasa penasaran pada sang paman dia dengar jelas, More mengucapkan cinta dan mengatakan akan pelan-pelan.
“Aku akan punya adik sepupu? Kau bahkan menyembunyikannya hingga ke Delmiforest, More! Ini sangat bukan kau, pamanku tersayang.”
Juless pun bergegas keluar dari Rodriguez House menuju ke Delmiforst, beruntung ini adalah weekend, tidak ada kesibukan yang berarti hari ini.
...***...
“Kau masih disini Luke?”
Luke dengan santai melihat Morean yang acak-acakan, jelas sekali dia baru selesai bertempur, ada bekas-bekas lipstik di area rahangnya.
“Kau langsung mengeksekusinya Bos? Di hutan? Kau menjadi tontonan gratis para kera?” Letakkan Luke gadgetnya ia tidak tahu tentang rumah pohon dibawah sana.
“Apa maksudmu?” Morean paham hanya saja enggan membahas. “Hentikan omong kosongmu, Luke! Carikan aku pancing aku akan memancing.”
“Memancing?” Luke mengendikkan bahunya, “ Aku tidak suka memancing, saat kecil ada kontes memancing, ibuku mendaftarkanku bersyukur kami melewati pasar dan aku bisa membeli ikan segar untuk kontes itu.”
“Kau licik! Dan kau pemenangnya?”
“Ya, Tapi aku meminta kalah saja, sebab hadiahnya adalah aku bisa memancing disana sepuasnya, ibuku kecewa dia memukuliku sebab dia suka pada panitia itu.”
“Manis, kisah yang manis, Omong kosong Luke!” bentak Morean bisa-bisanya dia mendengarkan itu, “Kisahmu tidak menarik, apa peduliku, carikan aku pancing sekarang.”
Di tempat lain, Watson baru saja mendapati kabar dari para anak buahnya bahwa Juless keluar dari Rodriguez House menuju je sebuah hutan lindung, Watson tidak menaruh curiga apapun namun ia memerintah anak buahnya itu untuk mengikuti mobil Juless itu.
.
.
.
.