Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 29



Sarla terus menyapukan pandangannya kesekitar di tempat yang begitu ramai itu, sebuah topi masih membuat wajahnya di buat sedikit tertutup agar tidak dikenali siapapun disana.


Sesekali ia menghindari anak-anak yang berlarian, menerima beberapa brosur produk dan ajakan berdonasi, hingga tidak lama langkahnya berhenti ia sampai disebuah stand yang cukup besar disana berlambang sebuah hati berwarna merah, belum sempat mencari sosok Juless, Sarla sudah melihat jelas Juless ada di disana, lelaki itu tampak sedang mencatat sesuatu berdiri mengawasi.


Mata Sarla berbinar, ia menelan ludahnya, sungguh rindu yang membuncah tidak tahu lagi bagaimana ia menjelaskannya, “Julss apa kabar? Julss aku disini, masihkah kau mengingatku?” Wajah sendu itu mengulas senyuman merasa sedikit lega, ia lihat sepertinya Juless sudah baik-baik saja saat ini.


Beberapa menit Sarla berdiri diam disana mengamati Juless dari jauh, kemudian dia pun berjalan lagi, hendak membeli minuman atau makanan ringan sembari menyaksikan beberapa atraksi dan carnaval disana.


Begitu banyak orang-orang dengan kostum berwarna warni dan music klasik yang dibawakan dengan begitu merdu sekali.


Harusnya ini sangat menyenangkan semua orang tampak bergembora bersama keluar, pasangan atau rekan-rekan namun tidak dia, dia hanya sendiri.


“Hi Julss, tidakkah kau ingat aku sering mengajak mu mengikuti acara carnival?” Lagi dan lagi Sarla mengenang kisahnya bersama Juless, membuat beberapa tetes air matanya jatuh kepermukaan wajahnya.


Sama halnya dengan Juless, jangankan moment seperti ini yang membangkitkan ingatan, bahkan hanya diam setiap hari saja dia selalu mengingat Sarla semua hal tentanya dan yang pergi entah kemana.


Malam merangkak naik, keramaian pun semakin terasa disana, Sarla tengah ikut mengantri membeli makan ringan untuknya disana, terpaan udara dingin membuat Sarla memeluk dirinya sendiri sepertinya dia membutuhkan minuman yang hangat dan beberapa potong roti yang baru keluar dari mesin pemanggang.


Sarla terus melihat kedepan menunggu berapa lama giliran dia, sepertinya tidak lama lagi hanya dua orang lagi saja didepan sana.


Suara musik tarian disebelah membuat Sarla menoleh seketika Sarla terbelalak jantungnya seakan ingin lepas dari penyanggahnya tepat di ujung jalan yang jauh yang gelap disana ia lihat Morean.


“Tidak itu mungkin hanya mirip saja!” Sarla mencoba menenangkan diri dengan terus menajamkan pengelihatanya untuk melihat jelas, ia menunduk takut dan semakin lama wajah itu semakin jelas walau tertutup topi, sungguh itu benar dia, lelaki iblis itu.


Sarla menjadi tidak karuan rasanya ia ingin menghilang dari sana, ia pun segera pergi dari antrean penjualan makanan itu tidak jadi membeli.


Langkahnya yang tergesa-gesa dan ketakutan, ia menutupi wajahnya masuk ke tempat yang ramai, sudah jelas sekali lelaki itu pasti dari rumahnya dan mencari dia tidak ada.


Jelas sekali titisan iblis dan separuh serigala itu pasti begitu murka tidak menemukan Sarla dirumah, lihat saja wajahnya yang begitu bengis dan serius tadi.


Sarla yang berlari-lari pun kini berhenti, saat ia sadar sepertinya salah masuk tempat, disisi sini sedang ada acara yang lebih khidmat sepertinya dia memasuki sebuah kelompok organisasi yang hendak naik ke panggung acara, baju warna pink cerahnya sangat mencolok disana sebab berbeda diantara orang-orang dengan kostum putih yang sama disana disana.


Sial…


Sarla menggrutu segera menutup wajahnya berlari pergi.


Tidak peduli lagi dengan rasa malu dan kini menjadi sorotan ditempat itu sebab salah mengukuti keramaian, tawaan khalayak ramai begitu pecah tampak mentertawakan dia yang salah masuk dan pergi itu.


“Tuhan….terserah aku memalukan atau apapun ku mohon jangan pertemukan aku dengan serigala separuh iblis itu.…”


Sarla bahkan tidak sadar ia berlari didepan stand-stand dan dimana Juless berada, jelas saja dia telihat disana Juless dan yang lain ikut mentertawakan seseorang yang salah masuk ditengah lapangan terbuka itu namun seketika tawaan Juless menyurut saat ia lihat tangan wanita yang berlari itu, ada sebuah bulatan besar tanda lahir di pergelangan tangan wanita itu membuat dia sadar dan ingat sesuatu.


“SARLA, BABY?” Juless terbelalak, tidak menunggu ia segera melemparkan peralatan bekerjanya asal dan melompat dari pagar stand segera mengejar wanita dengan tanda lahir mirip Sarla tersebut, tidak mungkin hanya sama dan kebetulan, Juless hafal bagaimana tangan Sarla dan cara dia berlari pun seluruh gesturnya.


Mendadak Sarla menjadi sesak nafas, ternyata Juless melihatnya dia dan mengenalinya yang berlari, “Tuhan tolong aku…” Bukan ingin menghindar Julls tapi sungguh bahaya sedang didekat kita.


Langkah Sarla tidak berhenti kakinya yang sudah begitu gemetar ketakutan pun semakin kencang berlari, dia dihadapi dua hal sekaligus sesosok iblis juga kekasih yang sangat ia rindukan.


Dua orang yang merupakan paman dan keponakan yang membuat hidupnya menjadi berantakan.


Rasanya ia ingin sekali berteriak, Sarla terus berlari walau rasanya begitu lelah, hingga ia pun merasa tidak kuat lagi tidak tahu lagi harus kemana semuanya tempat begitu berbahaya dan tidak bisa bersembunyi.


Sarla pun berbelok memasuki sebuah lorong kecil saking paniknya, namun sepertinya ia salah langkah lorong yang ia masuki adalah jalan buntu, seketika ia yang panik dan berhenti matanya melihat sebuah pintu, tidak menunggu sembari menoleh kebelakang Sarla pun masuk saja ke sebuah pintu yang terbuka disana, tidak peduli apapun itu, sebuah tempat gelap dan berhawa panas ia masuki sepertinya adalah ruangan mesin.


Sarla mencari sebuah tempat besembunyi di tempat gelap itu sedikit sekali pencahayaan disana, ia kurang bisa melihat namun masih beberapa sisi yang sedikit tamaram dan memperlihatkan kondisi ruangan, Sarla pun berjongkok seketika disebalik barang barang yang berantakan dan tertumpuk disana.


Dari jauh Morean melihat itu, Juless yang berlari mengejar seseorang sudah jelas dan tidak salah lagi itu adalah Sarla yang ia kejar.


Morean menggeram Sarla benar-benar tidak bisa diberi kelembutan dia menjajah dan menginjak sebuah kepercayaan nekat muncul didepan Juless dengan sengaja.


Sebuah pangilan diponselnya membuat Juless berhenti, Juless ingin mengacuhkan akan tetapi saat ia dengar itu adalah nada khusus panggilan untuk sang paman, akhirnya Juless berhenti artinya jika Morean menghubungi adalah dia hendak mengabarkan sebuah hal yang penting.


Dengan nafas yang tersenggal senggal dan sedikit kesal Julles mengangkatnya.


“Hemm…”


“Segera pulang, kakek tiba-tiba drop, jangan menyesal jika terlambat!” Morean mematikan panggilannya setelah memerintah dengan tegas.


Juless pun meremas ponselnya kesal, kakek dan Sarla adalah dua hal yang penting, jika dia mencari Sarla dia akan terlambat menemui sang kakek, dia tidak tahu hal apa yang tengah terjadi bisa saja kakeknya sudah akan kembali kepada sang pencipta namun jika dia pergi artinya dia kehilangan jejak Sarla.


“SIALL…” Juless tidak tahu kemana Sarla tadi berlari dia kehinglan jejak saat menelepon tadi, Juless menyapukan pandangannya lagi kesekitar disini begitu ramai bagaimana mungkin dia menemukannya.


“SARLA! Kenapa kau menghindariku, aku salah apa!” Raut wajah kesal dan kecewa terlampir diwajah Jules, tidak salah lagi tadi benar adalah Sarla sebab dia berlari dan menghindar.


Juless pun memutuskan segera kembali setelah ia lihat sepertinya sulit mengejar seseorang di tempat yang ramai itu, wajah Juless begitu frustasi, ia merasakan sedih, kecewa dan kesal yang menjadi satu, kenapa Sarla seperti itu? Lalu kenpa dia disini apakah dia tinggal dikota ini sekarang?


Melihat Juless yang sudah pergi, Morean pun melanjutkan langkahnya, dia lihat tadi Sarla seperti berbelok diujung jalan sana, ia membenarkan topinya segera melangkah kesana.


Kekesalan Morean pun sudah membumbung pada Sarla, dia diberi sedikit hati kini menginjaknya dibelakang sana, benar sekali yang Morean tebak, Sarla berbelok tepat diujung jalan ada sebuah lorong kecil Morean pun berbelok kesana.


Netranya menelisik tajam pada lorong itu dan ternyata itu adalah sebuah lorong buntu.


“KELUAR!” Morean berucap tegas, saat matanya melihat sebuah pintu separuh terbuka, semenit dia diam menatap tajam ke pintu yakin sekali Sarla bersembunyi didalam, “KELUAR SEKARANG ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!” Pekik Morean lagi, sukses membuat Sarla yang ketakutan berjongkok diantara barangbarang tumpukan memeluk lututnya.


Bruakk….


Morean pun menendang pintu dengan kasar, ia begitu tersulut pada Sarla ini begitu sudah sangat menggelegak, ibarat siap menerkamnya dengan habis atau membuatnya menjadi debu, wanita itu berusaha lagi melihat Juless menemuinya dibelakang dan tadi bahkan sedikit lagi Juless berhasil menemukan dia.


"SARLAAAA!!! KELUAR!!!!!"


.


.


.


.


.