
“More kau tidak pulang?” Suara sang ayah menggema ditelepon, saat sudah tengah malam lelaki tua itu mencari anaknya dan membuat Morean terjaga.
Morean pun membuat Sarla terbangun saat lelaki itu melepaskan pelukannya dari Sarla, membuat Sarla melihat ke arah More yang sedang berbicara pada sang ayah disebelahnya.
“Aku akan kerumah sakit besok pagi, kenapa ayah belum tidur?”
“Kau bersama seorang wanita? Siapa dia jika kau menyukainya segeralah lamar dia, kau membuat Juless dan Summer menuduhmu menyimpan istri dari seseorang atau wanita terlarang, katakan pada ayah itu tidak benar!”
Morean mendengkus kesal, “Kau tidak perlu mendengar omong kosong mereka urusi saja kesehatanmu, aku baik-baik saja disini.”Morean segera mengakhiri panggilan sang ayah, lalu melihat pada wajah Sarla yang menatapnya.
“Kenapa melihatku?”
“Kau akan pergi?” ucap Sarla dengan nada takut ditinggal.
“Ya, besok, pagi-pagi sekali!”
Wajah Sarla memelas, “Dan kau akan kembali lama lagi?” Keduanya saling bersitatap lelaki itu sudah bisa diajak berbicara dari hati ke hati.
“Tergantung, pejamkam matamu, ini belum pagi!”
Sarla menelan ludahnya masih menatap Morean, “Kau pernah ke tempat wahana bermain Disneyland atau Dreamyland tempat dimana ada komidi putar, rollcoaster, catton candy, popcorn, balon warna-warni.”
“Tidak! Aku tidak suka tempat itu!” Morean pun memejamkan matanya kembali mencoba mengacuhkam Sarla.
“Hemmm... Ya aku tahu itu,” Sarla menelentangkan dirinya menatap pada langit-langit kamar, kenapa sekarang saat keinginan tidak dikabulkan rasanya kesal sekali ya.
Morean yang memejam kembali membuka matanya ia melihat kekecewaan pada wajah Sarla yang memandang langit-langit diatas sana. “Apa yang membuatmu ingin ketempat itu?” Morean kembali bersuara.
Sarla pun menoleh kesamping, Ia mengendikan bahunya, “Entahlah aku ingin sekali berkeliling ditepat itu, sambil makan cotton candy atau ice cream, menikmati keramaian disana.”
“Itu tempat anak-anak bukan tempat mu.”
“Aku tahu, tapi aku ingin ketempat itu apa salahnya?”
“Hemmm, minta Luke menemanimu, aku sibuk tidak ada waktu untuk hal-hal seperti itu.”
“Luke?” Tatap Sarla Morean serius. “Apa dia mau menggandeng sipesakit sepertiku, lalu menggendongku saat aku pingsan tiba-tiba. baiklah izinkan aku pergi sendiri besok!”
“Tidak ada, mintalah yang lain tidak ada kesana sendiri atau bersama siapapun.” Morean berucap tegas kembali memejam.
Sarla menelan ludah seperti tidak terima ucapan Morean. Ya, kesal saat ingin sesuatu tidak dikabulkan entah kenapa membuat sangat kesal, Sarla pun turun dari ranjang membuat Morean membuka matanya mengintip gadis bertubuh mungil yang mengenakan kaus besar miliknya itu berlalu pergi dan masuk kedalam kamar mandi.
Lama sekali Sarla didalam sana ini bahkan hampir setengah jam berlalu, Morean yang akan tidur lagi mendadak tidak bisa tidur menerka-nerka apa yang dilakukan Sarla didalam sana.
Lelaki itu pun memutuskan turun dari ranjang memeriksa Sarla didalam sana, sesuatu kekhawatiran muncul pada Morean ia pun mengetuk-ngetuk kamar mandi.
“Sarla!” Gedor Morean pada pintu kamar mandi yang Sarla kuncim
“Buka pintunya! Apa yang kau lakukan didalam!" Morean menajamkan telinganya nenempelkan pada daun pintu tampak tidak suara apapun disana, tidak menunggu dengan rasa panik ia pun bergegas mencari sebuah kunci cadangan untuk membuka pintu lelaki itu segera meraih laci dinakasnya dan membawanya kesana.
Cklak
Pintu terbuka Morean segera masuk kedalam kamar mandi besar yang sangat bersih itu, seketika ia lihat Sarla berada disebuah dicloset duduk disana, ia menyandar pada dinding dengan kedua matanya yang terpejam.
Morean mendengkus kesal, ada saja kelakuan Sarla bisa-bisanya ia tidur disana hanya karena permintaan ke taman bermainya tidak dikabulkan.
“Sudah bermain Komidi putarnya?”
Suara Morean besar disana membuat Sarla mengerjab. Ia lihat kelaki itu berkacak pinggang melihatnya kesal.
Sarla dengan santainya pun bangkit, ia pun heran kenapa bisa-bisanya tertidur disana, “Sudah sangat puas, hingga mau muntah sudah 10kali putaran.” Sarla memajukan bibirnya keluar dari sana dengan santainya mengacuhkan Morean membuat lelaki itu menggaruk dahi, inilah aslinya Sarla dia sangat menyebalkan.
Bukannya kembali ke ranjang Sarla malah ke sebuah sofa panjang lalu menyalakan televisi disana dengan suara yang ia kecilkan, Sarla berbaring disana menatap pada televisi.
Tidak lama Morean pun keluar dari kamar mandi, melihat Sarla disana, “Kau tidak tahu ini pukul berapa? Kau membuat tidurku tidak cukup!”
Sarla melirik lelaki itu, “Kenapa aku? Suara ponselmu yang tadi membangunkanmu, jika kurang tidur pergilah tidur lagi masih cukup dua jam sampai pagi, aku ingin menonton televisi mataku tidak ngantuk lagi.”
Morean pun melangkah naik keatas Sofa ia duduk dikaki Sarla membuat Sarla melipat kakinya, “Kau mau apa? Pergilah ke tempat tidur, kau akan bekerja besok!”
“Geser!” Morean membuat Sarla bergeser disofa besar itu, “Kau membuatku tidak mengantuk lagi!” Omel Morean menyalipi punggung Sarla dan berbagi ditempat berbaring yang sama.
Sarla membiarkan itu ia terus menatap televisi dan menontonnya tanpa ia sadar Morean juga menonton disana.
“Bohong, drama pembohongan publik!” umpat Morean pada tontonan Sarla, ia pun meraih remot yang Sarla pegang dan mengganti siarannya.
“Apa-apansih! Tidak suka jangan dilihat!”Sarla pun merampas lagi remot dari Morean.
“Aku yang tukar!” Morean mengelak tidak mau memberikan remot.
“Aku duluan yang menyalakanya!” Tarik Sarla paksa namun Morean membuat tangannya terangkat tinggi semakin membuat Sarla kesusahan, hingga akhirnya Sarla menyerah saat Morean memindahkan pada siaran masak memasak.
“Apaan sih yang dilihat hanya orang masak-masak.”
“Lebih menginspirasi dari pada tontonan Robot melahirkan anak!”
“Itu sebuah serial Fantasy kenapa kau mengambil pusing.”
“Aku mau, bukan urusanmu!”
“Terserahlah tonton saja acara masak-memasakmu sendiri!” Sarla kesal segera meraih bantal dan tidur lagi kemudian tidak lama Morean pun memiringkan tubuhnya mencari posisi nyaman dan ikut tidur juga.
Perdebatan itu berakhir dengan keduanya yang terpejam, Sarla berbalik badan memeluk Morean mengambil posisi nyamannya memeluk lelaki itu tangan Morean kemudia reflek memeluk tubuh Sarla mencegahnya agar tidak jatuh ke lantai.
...***...
Pagi-pagi sekali Luke sudah datang, seorang pembantu disana mengatakan Morean belum bangun lelaki itu lantas duduk disana meminta dibuatkan kopi tidak akan mengetuk pintu atau membangunkan More.
“Ketika sudah nyaman tapi salah sasaran, drama telenovela ini masih panjang Bos, turut prihatin atasmu.”
Tanpa diketahui oleh Luke dan Morean malam tadi ternyata Juless menginap diappartemen itu namun di unit tepat disebelah yang Morean dan Sarla tempati, lelaki muda yang bangun tidur itu pun pergi ke unit milik sang paman namun ia dicegah masuk.
“Apa-apan ini, ini appartemen juga milikku, kenapa melarangku masuk!” Juless yang hendak meminta sarapan juga sengaja ingin melihat sang paman disana yang dikatakan Summer menyimpan wanita membuat rasa penasaran Juless pun membumbung dia sengaja tidak pulang ke Rodriguez House memilih ke appartemen malam tadi.
“Maaf tuan, ini perintah!” kata seorang penjaga itu.Juless pun kesal ia segera menghubungi langsung Morean,
Morean pun turun membuat Sarla bergeser ke tengah sofa dan segera ia ambil ponsel milknya yang berdering itu. Layar menampilkan nama Juless bukan Luke ia pun segera mengangknya.
“Hemmmm kenapa?”
“Pengawalmu melarangku masuk! Aku lapar aku mau makan!”
Sial Morean pun meletakkan ponselnya seketika ia sedikit panik mendapati Juless disini, Ia pun mendekat pada Sarla tapi tidak tega untuk membangunkannya.
Namun tanpa dibanguni Sarla pun terbangun dan melihat Morean dengan wajah gusarnya, “Kenapa wajahmu seperti itu, kau tidak cukup tidur?”
Morean mendengkus, “Juless ada didepan berusaha masuk pastikan tidak keluar kamar, sekalipun kau sangat suka kehadiran dia pastikan kau menurutiku kau masih terikat banyak hutang terkait kakakmu—“ air muka Morena terlihat lirih tidak seperti iblis sombong biasanya saat memerintah kali ini.
“Jangan mengancamku, sekalipun kau tidak mengancam aku tetap akan menurutimu!”
Morean berdehem, “Aku keluar sekarang...”
Sarla memelas merentang kedua tangannya, “Peluk aku!” Sarla melampirkan puppyeyes meminta itu dengan sangat manis sontak saja Morean terkesiap.
“Kau tidak habis terbentur, sejak kapan kau suka pelukan iblis.”
Shiiit.
Kenapa kau terlalu manja nak, kau membuat Mama terjebak jika seperti ini.
“Ah tidak, maksudku tolong bantu aku bangkit...”
Morean pun mendekat ia membantu Sarla bangkit untuk duduk entah Sarla tanpa sengaja memeluk pinggang Morean menatap wajah tampannya Sarla pun tesenyum membuat Morean salah tingkah bersitatap dengan Sarla.
“Kau tidak ingin memberikanku ciuman selamat pagi?”
“Juless sudah menungguku!” elak Morean.
Seketika Sarla bangkit dan mengecup pipi Morean lalu ia berlalu seperti biasa pagi-pagi rasa ingin muntahnya mulai datang.
Morean terkesiap mendapati kecupan mendadak Sarla segera ia tarik tangan wanita itu membuatnya mendekat dan menempel.
"Kenapa?" Sarla terkesiap di tarik Morean.
Morean pun mengecup bibir Sarla cepat lalu berpindah kedahi Sarla menahannya lama. “Mandilah aku akan hantarkan sarapan sebentar lagi.”
Morean memeluk pinggang Sarla membuat Sarla menatap pada Morean, “Kau yang membuatnya?”
“Aku tidak bisa memasak!”
“Kau suka menonton itu.”
“Lain kali kita coba, aku keluar dulu!” Ucap Morean saat ponsel Morean berdering lagi sudah jelas Juless sudah sangat kesal disana.
Seketik Sarla mengecup pipi Morean lagi, melambai pergi ke kamar mandi, sungguh ada rasa sedih jika mendengar nama Juless akan tetapi semuanya sudah terlalu jauh dia juga tidak tahu akan bagaimana nasibnya beberapa bulan kedepan nanti Sarla hanya sedang menikmati awal kehamilannya dengan ayah sang anak.
Berharap jika suatu hari ia pergi, ada yang akan ia ceritakan pada anaknya tentang sang ayah yang sebenarnya baik akan tetapi keadaan membuat dia tidak ingin kau hadir di keadaan yang bisa membahayakan kita semua.
...***...
Setelah membuat pintu terkunci Morean pun keluar, dia lihat disana Luke sudah beradu mulut dengan sang keponkan. “Luke biarkan dia masuk!” Morean pun duduk disebuah sofa ruangan tamu memerintah pelayan membuatkan dia minuman.
Juless pun masuk menerobos Luke, “Sejak kapan kau membuatku tidak boleh masuk? Apa yang kau takuti aku tahu?” Kesal Juless.
Morean dengan santai menyalakan gawainya membaca portal berita disana, “Semua orang punya privacy tidak semua hal harus menjadi fasilitas umum!” ucap Morean tanpa melihat.
Juless menyengir kuda, “Omong kosong More! Kau tidak seperti ini!”
Morean pun kini melihat pada sang keponakan, “Kau tidak ke kampus? Ini sudah siang, pastikan juga kau sudah memilih jurusan untuk Master mu, ini sudah mendekati.”
Juless menatap jengah, “Percepat More, aku rasa aku akan berangkat cepat! Wanita itu beberapa hari lalu aku temui di Bougenv dan dia lari, aku datang lagi ke kota kecil itu mencarinya sudah dua hari ini dan seseorang mengatakan dia sudah memiliki seorang lelaki dipastikan mereka sangat dekat seperti suami istri dan lelaki itu sering menginap ditempat tinggalnya, sayangnya saat aku datang ketempat tinggalnya dia tidak lagi ada disana, mungkin sudah pindah.”
Sîal, More mengumpat dalam hati, artinya Juless sudah tahu kediaman Sarla dari mana dia tahu tempat tinggal Sarla jangan sampai orang di restoran yang memberitahu bisa-bisa ketahuan jika lelaki itu adalah salah satu anak keluarga Rodriguez Sanden.
“Dari mana kau tahu informasi itu?”
“Seorang wanita aku temui disebuah restoran mengenal orang pada foto yang ku bawa dia juga memberikan alamat Sarla disana tapi kata tetangganya dia sudah beberapa hari tidak disana.”
Shiiiit... Morean harap hanya itu informasi yang Juless dapatkan dan tidak lebih. Morean yakin pihak Resto pasti merahasiakan identitas dia takut akan hancur dibuat More.
Namun sungguh Morean sudah tidak tenang membiarkan Sarla kembali kesana bisa-bisa Juleas datang lagi menemuinya.
“Lalu apa rencanamu saat ini?”
Juless mengendikkan bahunya acuh, “Lakukan apa yang kau mau More, aku sudah menyerah wanita sialan! Aku benci dia, siapa lelaki itu bisa membuat Sarla seperti itu.” Juless menggeram ingin sekali menghabisi orang yang membuat Sarla pergi darinya. “Jika boleh aku ingin kau mencari tahu siapa lelaki itu More, aku ingin lihat apa kelebihan dia dan menghabisinya! Gadis pembohong hanya karena laki-laki dia lupa semua yang sudah aku lakukan!” Juless menggerami sofa ia tampak begitu meledak dan terbakar.
Luke yang baru duduk hanya bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, andai kau tahu si bangsaaat yang merebut kelasihmu adalah dia, dia pemeran drama telenovela itu.
Morean jujur sedih melihat Juless seperti ini tapi dia juga tidak mau ini terjadi namun Morean sudah terlanjur masuk dan jatuh jauh bersama Sarla yang ia tidak mungkin lepaskan sudah pernah menjadi bekasnya.
Morean menarik nafasnya berat, “Hidupmu masih panjang, kau juga masih muda, kau akan menemukan pengganti yang lebih darinya nanti.”
itu yang berkali-kali ia terus ucapkan pada sang ponakan menutupi rasa sedihnya juga sudah membuat Juless merasakan luka, ia yakin sang ponakan akan bahagia dengan sesuatu yanh lebih baik dari Sarla suaru hari nanti.
.
.
.
.
.
Next» Sajennnnnnnnnn