
“Aku sudah sampai di kantor.” Suara Morean terdengar di ponsel yang Sarla pegang seraya menyantap sarapannya dimeja makan.
“Hemm, baru sampai? Kau sudah kerumah sakit? Bagaimana perkembangan ayahmu?”
“Jauh lebih baik dia tidak sabar untuk pulang.”
Sarla terus memasukan potongan roti kedalam mulutnya dengan lahap sebab muntahnya sudah selesai pagi tadi sembari membiarkan ponsel itu terus menyala.
”Minta pulang, Kenapa tidak dikabulkan saja, kau kan bisa membuat Dokter itu merawat ayahmu dirumah.”
“Nanti saat sudah ku temukan Dokter yang lebih baik dan bisa merawat ayahku dengan benar.”
“Hemmm...bisakah kau menyalakan videonya, aku ingin melihatmu saat dikantor.” Terdengar menggelikan tidak? Tentunya iya, bagi Sarla saat kewarasan otaknya kembali namun saat ini belum.
Tidak berfikir dan sebab bukan sesuatu yang sulit Morean pun menyalakan panggilan bervideo pada ponselnya, layar memperlihatkan Morean yang sedang dudul disebuah kursi kebersarannya, berlatarkan furniture mewah dan langit-langit ruangan berdesign modern.
Sarla tersenyum disana melihat lelaki itu, “Selamat bekerja...” Ia tersenyum dengan tulusnya memancarkan tatapan mendamba yang Morean bisa menilai Sarla sungguh tidak biasa.
Kurang dari satu menit saat sudah melihat wajah Morean Sarla pun mematikannya, sebab sudah sangat cukup untuknya.
...***...
Berpapasan dengan lelaki berpakaian serba berandalan diluar parkiran Juless menatap curiga pada dua orang yang baru saja berlalu itu, Eddewars tower mengizinkan orang-orang seperti itu masuk namun tidak itu saja tidal lama lagi seorang berpakaian rapi seperti seorang bodyguar mengikuti disana dan mereka turun ke basement bukan naik ke lobby.
Juless mengacuhkan itu, ada banyak orang-orang kelas atas yang tinggal di sana, tentang pengawal dan para bodyguard seperti itu harusnya adalah hal biasa, ia pun pergi dari sana mengacuhkan itu.
Beberapa menit Juless pergi, komponen listrik sebagian appartemen tidak berfungsi namun tidak dilantai dimana milik Morean berada, tampaknya Morean memiliki jalur khusus sendiri untuk itu, membuat orang-orang yang baru saja merusak jaringan listrik disana kesal sebab salah langkah.
Namun mereka tidak menyerah tetap berusaha menerobos beberapa penjaga Morean dilantai 25 itu bagaimanapun caranya, mau tidak mau cara paling kampungan mereka lakukan membuat diri mereka menjadi room service juga penjaga keamanan milik Eddewars tower itu.
Di tempat lain Luke datang terburu-buru dari luar dengan gawainya yang menyala masuk keruangan milik Morean, seorang disana memberitahukan pada Luke perihal komponen listrik yang mati disana dan titik-titik mencurigakan terlihat menerobos masuk Eddewars tower.
“Lalu apa hubungannya dengannku! Ada banyak orang-orang hebat yang menempati Eddewars tower bukan aku saja...SARLA!” Morean seketika bangkit dari duduknya, tidak peduli berapa banyak orang penting yang tinggal disana namun dia tidak boleh lupa Sarla disana.
“Aku sudah minta mereka perketat keamanan hanya ada seorang kurir yang akan mengirimkan barang pesanan nona Wilamo setengah jam lagi dan sudah dipastikan Nona Wilamo tidak akan turun walau dia sudah bersikeras ingin turun.”
“Tetap keras kepala, buka barang pesanannya nanti, pastikan tidak ada barang terlarang atau apapun yang ikut terbawa masuk lewat kurir itu.”
“Permintaanya untuk tidak dibuka!”
Morean menarik nafasnya, “Buka saja, apapun yang masuk periksa pastikan bukan peledak atau sesuatu yang membahayakan.”
Di rumah sakit Summer sudah melacak dokter-dokter specialis yang keluarga Rodriguez Sanden, ia yakin wanita di appartemen dan muntah-muntah kala itu membuat dokter datang kesana, “Dokter Stevanus, dokter senior itu.” Summer juga semua tenaga medis kenal dia ia segera bangkit melepaskan jas dokternya untuk segera menemui Dokter itu mencari informasi.
Ia mengemudi keluar dari rumah sakit dengan kencang menuju kerumah sakit lain dimana dokter itu siang ini bergegas.
Summer berharap bukan kehamilan yang ia dapati dari wanita itu sungguh betapa hancurnya dia jika benar wanita itu hamil dan mengandung anak dari Morean, tidak lagi ada harapanya untuk masuk akan sulit sekali menerobos jika darah daging Morean tumbuh diantara mereka.
...***...
Di appartemen Sarla berbelanja banyak sekali barang lewat online, seperti balas dendam dan tidak pernah berbelanja, saat Luke fikir hanya satu namun ada 13 toko berbeda yang akan mendatangkan barang ke alamat unit milik Morean itu.
Dari mulai dalâman, piyama, dress, sepatu, skin care, Sarla begitu bahagianya hari ini hanya dengan tiduran duduk dan menonton dia bisa berbelanja sesuka hatinya, wanita itu masih berbaring di sofa mengusap-usap perutnya, “ M, Mama berbelanja banyak barang, Mama menghbisi banyak uang ayah mu hari ini, adakah yang kau inginkan nak? Nanti jika Mama sudah pergi Mama mungkin tidak bisa seperti ayahmu bisa memberikan apapun tapi Mama yakin kau pasti punya keberuntungan lain saat lahir dan juga bisa mendapatkan yang kau inginkan, nak.”
Setengah jam berlalu, para pengwal More tampak dibingungkan, ada begitu banyak barang atas nama Morean dibawa sana yang datang,
Di lantai atas beberapa kali penjaga keaman yang tidak dikenal datang mencurigai menanyakan perihal keadaan dilantai 25.
Dan kini orang penjaga kebersihan pingsan saat akan naik ke lantai 25, namun tetap penjaga keamanan Morean tidak lengah sedikitpun untuk yang terlihat mencurigai itu.
“Bruak!!” Salah seorang yang berpura-pura menjadi tukang bersih-bersih itu menggeram, dia menghantam salah seorang lelaki bersenjata seketika ricuh, aksi saling todong senjata pun terjadi.
Segala barang yang akan naik dicegah membuat Sarla yang sudah dihubungi pihak toko online itu bingung ada apa, ia pun meminta dibukakan pintu untuk keluar.
“Tidak bisa Nona!”
“Saya hanya ingin kebawah, tidak kemanapun!”
DORRRRRRR
Sarla yang memaksa seketika berhenti saat dia mendengar suara tembakan dari pintu luar, Sarla bergidik ngeri langkahnya mundur membuat dua orang menjaga dipintu dalam itu meminta Sarla masuk pengamanan mereka perketat tampaknya ada yang sedang mencoba menerobos dan sudah membuat kerusuhan.
Sarla pun berlari, seluruh tubuhnya bergetar dia sedang dalam bahaya, ia berusaha menghubungi Morean namun lelaki itu lebih dulu menghubunginya.
“Aku....takut....aku takut...” Sarla takut dibunuh, ia meremasi perutnya sembari berjongkok disudut kamar bersembunyi disebalik lemari.
“Naik ke tempat tidur! Tetap tenang mereka tidak akan bisa masuk!”Morean tampak panik disana, lelaki itu tampak sudah didalam mobil bergegas kembali ke appartemen.
Hiksss hiksss...
Sarla tidak sanggup bangkit, rasanya ia tidak memiliki tulang untuk menegak, bayangan buruknya hanya satu dia akan dibunuh begitupun anaknya.
Sarla menggeleng, semudah itu dia meminta minum segelas air, sungguh tidak bisa, ia yang tadi begitu bahagia tenang dan bersantai tiba-tiba mendengar suara tembakan, bagaimana bisa dia bernafas normal dan tenang naik ke ranjang.
Morean bisa bayangkan bagaimana ketakutannya Sarla saat ini dia begitu tidak sabar sampai sana, bagaimana gedung super elit bisa meloloskan orang asing, Luke seperti biasa sudah menyiapkan senjata apinya lelaki itu sudah biasa menghadapi hal-hal seperti ini.
“Keluarkan senjata milikku Luke! Aku akan melakukannya sendiri jika itu adalah Watson pelakunya!” Geram Morean wajahnya sudah menegas suaranya pun terdengar berat sekali.
“Jangan kotori tanganmu Bos, apa guna pengawal dan bodyguardmu pasti mereka sudah berhasil melumpuhkan orang-orang itu, Summer, pasti dia yang membuat Watson melakukan ini.”
“Ini yang ku takuti! Ini belum apa-apa! Aku akan pindahkan Sarla atau membebaskannya dan ku rasa akan membawa ayahku melakukan pengobatan diluar negri, mereka dalam bahaya, Summer bukan Summy si gadis berhati lembut itu lagi, dia nekat melakukan apapun!”
Beberapa menit berselang, kedua orang suruhan Watson berhasil dilumpuhkan namun 1 orang lagi berhasil lolos, Morean yang baru sampai pun segera berlari turun menuju elevator khususnya.
“Naiklah Bos, aku lihat dia orang itu sudah tertangkap.” Luke dan Morean berpisah dibawah sana memniat Morean pun bergegas naik.
...***...
Sarla masih berjongkok ketakutan di pojokan lemari, tangannya mengepal dengan terus mengucapi banyak permohonan dan mengajak anaknya terus berinteraksi seolah bisa meredakan ketakutannya.
Dalam hitungan menit Morean sampai dilantai dimana tempatnya itu berada langkah besarnya berjalan cepat kesana ia lihat pecahan kaca berhamburan disana dengan beberapa bercak darah yang masih dibersihkan.
Pintu pun dibuka Morean berlari masuk, “Sarlaaa!” Panggil Morean segera membuka pintu kamar dengan sentuhan tangannya.
Sarla mendongakkan kepalanya akhirnya ia mendengar suara itu, segala rasa takut seperti sedang berada dalam sebuah gelombang pertempuran pun menyurut.
Morean mengedarkan pandangannya,” Kau dimana? Sarla?”
Hiksss hiksss...
Sarla pun kini menangis, Morean segera berjalan cepat kearah suara itu dan mendapati Sarla berjongkok dibawah sana, lelaki itu pun merendahkan tubuhnya.
“Sudah aman...ayo naik!” Morean mengambil tangan Sarla ia genggam satu tangannya, menjelaskan tanpa kata bahwa dia akan melindunginya.
“Aku takut, suara tembakkan itu persis didepanku.”
“Mereka sudah tertangkap.” Moran pun bangkit lalu membantu Sarla untuk bangkit pula. Membawanya duduk disofa, segera Morean mengambilkan Sarla air bisa Morean rasakan tangan Sarla yang membasah ia jelas begitu sangat ketakutannya.
“Siapa mereka?” Tanya Sarla kearah Morean mengambil air.
“Kita pindah dari sini!” Morean menjawab lain, berjalan membawa gelas mengulurkan pada Sarla.
“Apa yang mereka mau, apa menyakitimu?”
Morean tidak ingin memberitahu, jelas ini Summer lah dalangnya, dia yang kesini dan mendengar Sarla muntah pasti Summer menebak sesuatu, sungguh ini tidak baik buat Sarla haruskah dia melepaskan Sarla saja, lalu memintanya pergi yang jauh dari sini.
“Kau ingin bebas?” Ucap Morean tiba-tiba, tidak tega melihat Sarla ketakutan.
Sarla diam sejenak menatap wajah lelaki itu, “Bebas, kau sudah bosan denganku?”
Morean menelan ludahnya, ada titik sakit yang ia rasakan, “Aku memanfaatkanmu? Apakah kau merasa dibuat seperti boneka atau mainanku?” Keduanya bersitatap seperti hati yang bertaut.
Sarla menggeleng, “Kita bertemu karena kesalahan, kau sungguh akan melepaskanku?”
Sungguh Morean merasakan itu sebuah hal yang berat namun semuanya sebelum terlambat, Watson berbahaya, bukan hanya Watson tapi Summer juga beberapa musuh yang tentunya tidak disadari sering meneror seperti penembakan kemarin, saat semuanya tahu Sarla jelas dia akan jadi sasaran, Sebab tidak ada seorang simpanan menginap di aset khusus milik pribadi jika hanya penghangat ranjang tentunyan hanya di hotel atau tempan satu malam saja.
“Negara mana yang akan kau tuju, aku akan persiapkan dan pastikan kau aman disana melepaskanmu.”
Seperti ada yang tersayat didiri Sarla, dia mencoba tenang dan menetralkan dirinya menangkup pipi Morean, “Jangan fikirkan aku, aku akan pilih sendiri tapi sebelun aku benar pergi dan kita berpisah tidak akan jumpa lagi selamanya kabulkan mauku, Ke wahana bermain itu.”
Sebuah tarikan nafas berat Morean terdengar jelas disana, “Kita tidak akan jumpa lagi selamanya?” Ambil Morean tangan Sarla yang mengusap pipinya.
“Hemm, itu perjanjian kita kan, nanti jika kau berjalan-jalan dan berpapasan denganku masihkah kau mau membalas senyumanku?” ucap Sarla menatap wajah Morean.
Morean merasakan sebuah yang seakan runtuh didirinya, ia pun segera berhambur memeluk Sarla, mendekap erat tubuh mungil itu dan meresapi aroma manis yang ada padanya, dia seperti sesuatu yang sudah melekat namun harus dilepaskan.
Sarla berkaca-kaca menahan untuk tidak menangis, “Baby M, kita ternyata akan pergi sebentar lagi, tidak apa-apa nak, ayahmu mungkin takut mama kenapa-kenapa, ayah banyak menanggung beban, kita pergi ya jangan menambah bebannya.”
“Pastikan pengobatanmu terus berjalan, jika dalam waktu dekat semua baik-baik saja, kau bisa pergi tapi tidak dikota ini dan bukan untuk bersama Juless.” Lepaskan Morean pelukannya pada Sarla.
Tatapan Sarla belum beralih masih pada wajah Morean, Kau sudah menjadi pemandanganku, izinkan aku menatap mu lama agar aku tidak lupa wajahmu dan bisa ku deskripsikan dengan anak kita nanti tanpa dia perlu melihat fotomu lalu akan mencarimu.
.
.
.
.