
Juless menarik paksa Summer, ia ingin memeriksakan jelas keadaan Summer lebih jelas lagi dirumah sakit, bagaimana pun itu perbuatannya, pemeriksaan dibuat agar bisa memikirkan bagaimana selanjutnya.
“Lepas Juless! Lepas kataku, jika tidak aku akan berteriak atau—“ Summer mengeluarkan gunting dari tas miliknya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. “Atau kau akan melihat seseorang mati langsung dihadapanmu.”
Plakk....
Juless segera menghempas kasar gunting dari tangan Summer membuat benda tajam itu terjatuh, “Aku bukan anak kecil Summer! Cepat ikut atau aku akan membuat seluruh rumah sakit tahu kau sedang mengandung anakku!”
Cuih
Summer berdecak kesal, ia semakin murka laki-laki ini begitu berengseknya, “Kau tidak tahu malu, harusnya aku yang berteriak!”
“Teriak silahkan! supaya aku leluasa mengatakan pada semua orang kau sedang mengandung, kau hamil dan kau akan malu, ini lingkunganmu!” Juless segera mengangat tubuh Summer berjalan cepat lewat samping.
“JULESS! Berengsekk, turunkan aku!”
“Berpura-puralah pingsan, agar tidak ada yang melihatmu apa lagi rekan-rekanmu! kita akan masuk dari sampinh,” Juless menyelinap cepat masuk kedalam sebuah elvator dilantai dasar itu.
“Kau bodöh Juless! semua disini mengenalku! Turunkan aku!” Plakkk plakkk....”Turunkan aku!” Summer melepaskan diri turun dari tubuh Juless yang menggendongnya.
Juless mendesah pasrah, “Kau keras kepala Summy, aku akan katakan pada Watson tentang kehamilanmu, kau sudah bisa bayangkan dia yang sedang sekarat hampir mati oleh Morean pasti akan langsung pulih, ini yang dia mau, Hahah!”
“Bedebahh!!!” Summer tersulut ia begitu takut jika Morean tahu sebab dia masih sangat mengharapkan lelaki itu, ini sangat memalukan. ”Tidak ada anakmu, tidak anak apapun yang tumbuh dalam rahimku! AKU BENCI KAU JULESS, AKU BENCI KAU, AKU BENCI KAU JULESSS!” Summer memukuli dinding kaca dilift itu, ia menangis sejadi-jadinya sebab frustasi hingga terduduk dilantai.
Pintu lift terbuka, Juless pun menekan tombol untuk menutup lagi dan kembali turun kebawah, ia merendahakan tubuhnya merasa tidak tega pada Summer, sungguh semua ini kesalahannya.
“Maafkan aku.”
“Menjauhlah!” Tolak Summer, Juless hingga mundur lalu ia memukuli perutnya, ia remasi semakin menangis sejadi-jadinya.
“Semua sudah terjadi, pukuli aku jangan dia, bunuh aku bukan dia, aku yang membuatmu seperti ini.”
“JANGAN MERAYUKU! AKU TIDAK AKAN LULUH DENGANMU!” Teriakan Summer semakin menggema, ia bangkit mendadak dan mengantami kepalanya kekacalift lagi.
“SIALAN! SIALAN! Kenapa kau tumbuh, kenapa kau harus ada dirahimku!”
Juless pun seketika bangkit ia tarik paksa tubuh Summer, menahanya dengan memeluk agar berhenti menyakiti dirinya sendiri, "Dia tidak salah, aku yang salah!"
...***...
Malam bergerak naik, Sarla lebih dulu masuk kedalam kamar meninggalkan Mom Lily dan keluarga lain yang masih diruangan keluarga. Ia sudah mengantuk seharian membuat kue membuatnya sangat kelelahan.
Tidak butuh waktu lama hanya beberapa menit setelah naik ke ranjang ia pun memejam.
Tepat pukul 12 malam di luar sana Morean dan Luke baru saja tiba, keduanya memakai baju yang tidak seperti biasanya, Morean tetap dengan pakaian berandalannya dan Luke memakain piyama balon-balonnya.
Demi menghalau musuh Luke bahkan mengendarai sebuah mini bus untuk kesana. Ini adalah hari ulang tahun Sarla Morean ingin memberikan kejutan pada sang istri yang sudah lama mereka tidak bertemu selain berkirim surat dan via telepon security.
Keduanya tidak lupa membawa cake seadanya sebab tidak berencana matang dan hanya menemukan satu toko roti yang buka, itu pun roti sisa yang akan expire dibesok hari, jelas saja hanya sebuah simbolik tidak akan dimakan.
Luke mengeluarkan kota kue itu untuk Morean segera bawa kedalam, “Nyalakan bos!”
Morean pun mengambil cake yang diulur Luke, “Apanya?”
“OBOR-nya! Ya Lilin....kau fikir apa lagi!”
Morean mengangkat kotak cake itu membuka sedikit kotaknya, “Lilin, tidak ada Luke!” Teriak Morean.
“Ada Bos, tidak mungkin tidak ada cari dulu, apakah mencari lilin dalam kotak juga kau memintaku mencarikan alamatnya.” Luke sibuk mengunci mobil tua yang mereka kendarai itu.
Luke pun mendekat mengambil kotak itu dan mencarinya segera, kanan, kiri, atas bawah.
“ADA, ADA! Apa perlu aku kirimkan alamat menendang kau langsung ke neraka!”
Luke menggaruk pelipisnya, ”Kau ada minta lilinnya tadi?”
“Tidak ada,” Jawab Morean polos.
Hah, Luke mendesah lelah, “Ya sudah lalu kenapa kau mencarinya, mana aku tahu jika kau tidak memintanya, mungkin mereka fikir kau akan membelinya terpisah.”
“Lalu bagaimana? Ini tampak tidak berwarna tanpa cahaya lilin.”
Luke mengedarkan pandangannya kesekitar biasanya dirumah-rumah itu ada lilin hias yang terpasang di lampu meja mereka.
Luke pun tertawa, “Kau ingin cahaya lilin kan, aku punya ide.... Itu kau lihat lampu hias dirumah tetangga dokter Lily." Tunjuk Luke dirumah sebelah.
Plakkk...
Morean memukul kepala Luke, “Kau ingin aku mencurinya, kau tidak lihat laki-laki tua bertubuh gendut yang bernafas di sebelah sofa itu, jika dipukulinya bukan kue ini saya yang kehilangan cahaya hidupku juga.”
“Lalu bagaimana?”
“Kau siapa aku Luke?”
Luke menyengir kuda, “A-aku....aku tetanggamu bos, kau meminta aku yang mencurinya bukan dengan mengatakan asistenmu!”
“LUKE! Cepat.... Aku potong gajimu! Aku matikan semua kartu kreditmu.”
“More sialan! aku pergi kesana sekarang!"
Luke pun segera berjalan kerumah sebelah Dokter Lily tersebut untuk mengambil sebuah lilin disana. Melihat dari jauh Luke sudah bergidik ngeri, tubuh besar, wajah penuh bulu janggut yang lebat, dia memegang sebuah pentungan besar yang biasa digunakan untuk memukul pencuri.
“Pe-permisi.....”
Sial, melihat tatoo-tatoo yang banyak hampir diseluruh ditubuh laki-laki itu Luke yang berencana membangunkan pun tidak jadi, ia langsung saja mematahkan sebuah lilin dari meja dan berlari sekencang-kencangnya pergi dari sana hingga lilin itu padam.
Seluruh tubuh Luke meremang tidak bisa ia bayangkan jika ia di hantami pukulan oleh laki-laki itu, Ah...sial.
“Ini lilinnya Bos, cepatlah masuk!”
“Terimaksih Luke kau terbaik, nyalakan Luke!”
“Nyalakan Bos dengan apa? Kita tidak merokok, aku tidak punya pemantik.”
“LUKEEE!!! Jadi guna lilinnya apa!” Kesal Morean setelah bangga menancapkan lilin putih besar itu ketengah-tengah cake.
Luke mengusap rambutnya tertawa, “Sudahlah bos, anggap saja itu hiasannya, umur akan tetap bertambah tanpa harus meniup lilin, lagi pula kenapa harus ada acara meniup lilin, tidak bisakah diganti dengan hal lain!”
“Apa? Menendang bokong disebalik piyama balon-balonmu!”