Rodriguez Affair

Rodriguez Affair
Bab 28



Sebuah tempat lebih mirip gedung tua menjadi tempat pertemuan Mr.Watson sang penipunuling ayah dari Summer dan Morean, kini mobil milik Morean berhenti tepat didepan gedung tua itu.


“Kau tidak salah tempat Luke, ini seperti tempat tidak berpenghuni.” Morean mengedarkan pandangannya kesekitar dengan parah anak buahnya yang juga mengamankan dia di belakang sana.


“Ini gedung bekas pabrik bahan baku obat-obatannya beberapa tahun silam sepertinya akan di operasikannya lagi.”


Morean tertawa pelan mengejek, “Siapa yang berhasil ia kelabui lagi?”


Prokk...


Prokk...


Prokk...


Suara tepuk tangan dari pintu besar yang terbuka pun menyambut Morean, sekilat mungkin para bodyguard Morean mendekat melindungi Bos mereka itu sebab dicurigai penembakkan kemarin Mr.Watson lah dalangnya.


“Selamat datang ke tempatku mantan calon menantu, ku lihat kau tampak semakin sukses saat ini....”


Morean menyeringai lebar, “Harusnya kau merubah kalimatmu, ku lihat kau sudah sangat sehat saat ini, sepertinya kau yang sudah kembali sukses, katakan apa yang kau mau dari ku, setelah berhasil menembakku kau berani mengundangku datang, ternyata kau punya keberanian yang menjulang.”


Wajah tua itu seperti shock, “Menembakmu? Aku—“ Tunjuk lelaki itu pada dirinya sendiri.


Luke pun menarik sebuah kursi dan membuat Morean duduk dihadapan lelaki yang berdiri itu, “Sudah berbasa-basimu, Watson? Aku anggap itu ucapanan selamat datang kembali darimu...”


Lelaki itu berkerut dahi, “Memang bukan aku, kau mungkin salah orang.”


Morean terbahak-bahak, "Proyektil bersarang memang bisu tapi kau lupa aku siapa dan cukup mudah untuk melacakknya, LEDAKKAN TEMPAT INI!” Morean yang sedari mencoba sabar pun memekik tinggi.


Lelaki itu pun membuat anggotanya keluar dan mebidik Morean ditengah-tengah itu, Morean seketika tertawa, “Ini artinya aku sangat bodoh menghantarkan nyawaku ke medan pertempuran, katakan apa yang kau inginkan dariku Watson.”


Watson mengintruksi mundur para anak buahnya ia pun mendekatkan jarak pada Morean seraya tertawa, “Berhentilah mengutarakan hal yang hanya omong kosong More, aku hanya ingin mengajak kerja sama dengamu yang pasti sangat menguntungkanmu.”


Ucapa Watson membuat Morean tertawa geli, sudah sangat di hafal bagaimana trik pintarnya Watson dalam berbicara dia begitu mudahnya mengelabui dengan sebuah kata-kata, “Stop! Katakan intinya, aku tidak punya banyak waktu untukmu.”


“Sezeras, kau sudah lama ingin mengambil alih kawasan itu bukan? Kawasan kumuh yang pastinya akan menjadi seperti bongkahan emas yang bersinar jika dikelola dengan tangan dinginmu.”


Morean sedikit terkesiap bagaimana Watson tahu itu namun ia mencoba tenang, “Kenapa? Kau bisa membuat aku memiliki penuh daerah itu?” Morean tertawa sebab itu adalah ketidak mungkinan kawasan itu merupakan area yang miliki oleh negara.


“Tentu, Jika sesuai...”


Tatapan kecurigaan pun muncul pada Morean pada lelaki itu, apa yang lelaki ini hanggarkan bagaimana bisa dia seangkuh itu, seban adalah sebuah kemustahilan merebut yang memang sedang banyak diperebutkan, “Siapa yang menjadi korbanmu saat ini Watson?”


Watson tertawa,” Kau terlalu merendahkanku yang pasti aku bersungguh-sungguh berbisnis denganmu, bukan menjual putriku.”


Deg...Sebuah ingataan lalu pun muncul Summer, apakah dia disini? Morean berusaha tertawa, “Jika benar itu terjadi, itu adalah urusanmu bukan urusanku...baiklah apapun itu kabarkan saja, aku harus pergi sekarang.” Morean mengangkat jam tangannya, “Waktunya sudah habis, aku harus pergi.” Morean menyunggingkan bibir segera keluar dari sana di ikuti para bodyguardnya.


Belum diketahui siapa yang membuat Watson kembali muncul, tentang kawasan Sazeras itu memang sudah lama Morean inginkan akan tetapi dia yakin sedang di tarik kedalam perangkap oleh Watson.


“Sazeras....”Morean memegangi dagunya. “Kau dengar betapa angkuhnya dia Luke, siapa yang menjadi kekuatannya? Kau tahu?”


Luke segera memasang seatbeltnya saat memastika Morean sudah aman, “Ku harap keingintahuan mu tidak membuatmu menyesal Boss, Mr.Watson penipu ulung kau jangan pernah melupakan itu.”


Morean tertawa, “Gantikan posisi aku Luke, kau terlalu menganggapku seperti orang bodoh, seolah aku tidak mengerti itu.”


“Aku hanya mengingatkan Boss,


terkadang satu hal bisa menghancurkan beberapa hal...”


“Tidak ada, anggaplah aku hanya meracau...” Luke pun kembali lagi bekerja menyibukkan diri dengan gawainya didepan sana mengihakan ia baru menyindir Morean atas yang sedang berjalan sekarang dihidup lelaki itu.


***


Sarla yang masih begitu kacau dan bingung sejak kehadiran dokter tadipun kini menjadi semakin kebingungan tiba-tiba saja sebuah paket berisi ponsel datang untuknya.


Sudah jelas ini dari Morean sebuah merek ponsel ternama dan keluaran baru akhirnya Sarla punya, seketika ia menghempaskannya begitu saja ke ranjang, memiliki ponsel artinya sudah bersedia akan di tindas kapan saja.


“IBLIS!” Geram Sarla.


Sarla berdiri dijendela sembari melihat keluar jalanan disama begitu ramai sekali, Festival apa yang sebenarnya sedang terjadi apakah hari jadi kota ini atau pemerintah setempat sedang membuat acara kampanye.


Sarla mengulas senyuman Juless ada disana, ingin sekali melihat lelaki itu, “Aku rinduk kau, Juls...” Manik Sarla berkaca-kaca raut kerinduan terpancar jelas padanya.


Ingin sekali ia pergi keluar ke acara itu melihat dari jauh Juless dan juga Festival dan kemeriahan yang sedang berlangsung, sepi, itulah yang begitu dominan ia rasakan saat ini hidupnya seperti kelabu tidak ada warna lagi.


Sarla pun memutuskan untuk pergi, ia pastikan dia akan baik-baik saja dan tidak diketahui Juless, bukankah hanya Juless yang dilarang di temui bukan tentang pergi ke acara Festival itu.


Sarla segera memakai sweaternya lalu memalai sebuah topi tidak lupa mencari sebuah kaca mata untuk dikenakan, ia pun menarik sebuah laci disana mengambil sisa-sisa uang yang ia punya tanpa sudi meminta kepada siapa saja apa lagi Morean yang memang sengaja tidak memberikan uang, ia pun pun berkaca lagi melihat penampilan diri adakah yang mencurigakan dan sepertinya tidak, Sarla segera bergegas keluar dari rumah.


Lihatlah saat langit semakin malam kemeriahan pun semakin terasa. Anak-anak kecil membawa lampu-lampu indah, berjalan kaki menuju tengah kota, Sarla mengusap tangannya udara sudah mulai dingin saar ini ia pun menarik sweaternya agar menutupi tangan lalu berjalan disana mengikuti orang-orang yang akan pergi ketempat yang sama.


Diperjalanan saja kemeriahan sudah terasa, lampu-lampu warna-warni indah berjajar disana kini mulai terdengar suara dari sebuah musik jauh disana, “Hemmm...”Sarla menarik nafasnya, mengingat sang kakak, dia dan Virel sahabatnya yang suka sekali pergi ke acara seperti ini lalu mereka akan berada dipaling depan acara berteriak paling heboh disana agar mendapatkan hadiah.


Kini dia hanya sendirian bertemankan ketakutan dan kesedihan yang bergantian datang dan tidak lama sampailah Sarla disana, ia pun membaca disani memang benar ini adalah acara ulang tahun kota kecil itu tampak semua orang turun dijalanan, netra Sarla pun mengedar pandangannya melihat apa saja yang ada disana.


Mungkin bukan melihat apa saja namun mencari Juless yang katanya ada disana, ia berjalan lagi mencari-cari disisi stand yang berjajar ia terkesiap sebagian benar-benar rekan kampus Juless artinya Juless memang ada disana.


Di kediaman Sarla, Morean baru saja tiba dengan sebuah mobil tuanya meninggalkan Luke yang terus berceramah mengingatkannya agar selalu berjaga-jaga, Morean tampak memakai kaus sederhana dan topi yang menutup area kepalanya agar tidak dikenal jika dia berada disana. Ia pun segera turun tidak sabar meminta dibuatkan teh jahe seperti kemarin.


Ia mengetuk disana beberapa kali, tidak tahu yang mana membuat tidak sabar meminum teh atau memangsa pembuatnya seketika senyuman Morean pun terbit dibibirnya.


"Nona Wilamo?" Morean terus mengetuk dan memamggil hingga beberapa menit kemudian ia mengintip ke jendela, apakah dia tidur? Ketukan Morean tidak berhenti hingga menit kesepuluh.


“SARLA!” Suara besar Morean mengebas disana, membuat seorang anak kecil diluar sana menoleh


“Bibi itu, rambutnya segini? Tadi aku lihat dia keluar ke arah sana.” Tunjuk gadis kecil kontrakan sebelah itu ke arah kota.


Morean mendengkus kesal, rahangnya menegak benar-benar Sarla tidak bisa dipercaya, bagaimana lagi untuk membuat dia patuh dan mengikuti perintah.


Apa yang akan dia lakukan disana, menemui Juless melepaskan rindu? Dengan kesal tatapan yang berapi-api Morean pun bergegas turun dari sana.


***


“SARLA, BABY!!!!”


.


.


.


.


Next » Hey ribuan pembaca gaib pelit amat ih like aja, 😂, Yaudah Vote ajah sama sajennya entar lagi up lagi...