
Morean mengemudi begitu kencang kembali kekediaman Sarla, tangannya menggenggam stering mobil kuat sembari menerka-nerka singgah kemana Sarla sampai belum juga kembali sudah malam seperti ini.
"Apa yang dia lakukan..." Morean menggrutu sendiri tidak bisakah satu hari saja dia tidak membuatnya marah dan kesal, siapa temannya rasanya dia tidak ada teman lain disini.
Apakah dia pergi bersama lelaki yang tempo hari tampak bersamanya yang merupakan pegawai restoran itu juga, Morean mendengkus, jika benar, sungguh jangan sebut namanya Morean jika dia tidak membuat wanita itu menyesal lelaki itu akan ia habisi.
Perjalanan yang tidak jauh kembali membawa Morean ke pemukiman penduduk dipinggiran jalan dimana kontrakan Sarla itu berada, ia lihat dari dalam mobil menelisik jauh rumah itu masih tampak gelap, lampu disana pun belum juga menyala, Morean memukul stir kuat melampiasakan kekesalannya lagi dan lagi.
Sarla sungguh sangat pembangkang bahkan dia tidak pernah mengaktifkan ponsel yang sudah Morean berikan, betapa angkuhnya Sarla bahkan tidak pernah meminta uang atau apapun untuk memanfaatkannya seperti wanita lain.
Padahal Morean menunggu itu terjadi, namun malah dia memilih bekerja sebagai pelayan disana dan pasrah membayar tubuhnya untuk sang kakak yang sudah Morean jadikan tumbal tidak berkutik atau memperhitungkan.
Mungkin ini yang membuat Juless begitu mati-matian tidak bisa melepaskannya Sarla, ia mempunyai pribadi yang apa adanya dan tidak pernah memnafaatkan keadaan, padahal betapa menyedihkannya Sarla.
Morean kemarin sempat melihat isi kulkas di rumah itu dia tidak memiliki apapun disana bahkan dia pun makan saja mungkin begitu sulit.
Seperti apa yang Molina ceritakan pada salah seorang dokter disana ia bahagia sirumah sakit sebab dia tidak lagi harus menjadi beban fikiran Sarla untuk hari esok harus bagaimana dan Sarla hanya perlu memikirkan dirinya sendiri.
...***...
Di tempat lain Sarla baru saja selesai makan kini ia sedang menikmati acara atelevisi ditengah-tengah keluarga Viviane rekan sesama pelayannya itu ia merasakan hangatnya suasana keluarga yang sudah lama ia tidak rasakan sejak keluar dari panti.
Sarla disambut baik disana oleh keluarga Viviane tidak ia sangka akan begitu cepat sedekat ini pada orang lain, sungguh walaupun hanya sebuah keluarga sederhana Sarla begitu merasakan nyaman tanpa beban disana.
“Pergilah istirahat, kalian sudah lelah bekerja, diluar sudah turun hujan kembalilah besok pagi,” perintah ibu Viviane. Sarla yang sedang berdiri dipintu melihat keluar juga sedang berfikir bagaimana dia pulang hujan-hujanan seperti ini dia juga baru sembuh demam tadi.
“Iya Sarla, menginaplah, lagi pula besok restoran tutup kita bisa bercerita hingga larut malam nanti aku ingin mendengarkan banyak tentang kisah mu aku juga akan menceritakan tentangku…” Viviane begitu antusias, “Sudah lama sejak berpindah ke kota ini aku tidak mempunyai teman atau kerabat selain adik perempaunku.”
Setelah menimbang ulang Sarla pun menyetujui itu, ia akan menginap disana dirumah sederhana keluarga itu.
Waktu bergerak maju Sarla yang tampak malu dan sedikit segan pun sudah berganti pakaian dan ikut merebahkan diri dikamar kecil milik Viviane itu, sebuah matras berbusa tipis keduanya tempati dibawah lantai sana bersebelahan Sarla memeluk selimut disana dengan Viviane yang sibuk dengan ponselnya.
Hingga Viviane pun meletakkan ponselnya, “Kau memiliki kekasih Sarla? Aku baru saja mengabari kekasihku, aku akan tidur dia juga baru saja pulang bekerja.”
Sarla mengulas senyuman, ia menarik nafasnya, “Entahlah, aku rasa sudah berakhir aku meninggalkannya pindah ke kota ini dan dia tidak tahu kepergianku…”
Viviane berkerut dahi, “Kau pergi begitu saja, kenapa? Kau sudah bosan?”
Sarla pun tertawa, “Tidak— hemm.. mungkin kami tidak lagi punya kecocokan dia dan aku jauh berbanding terbalik dia adalah seorang anak dari keluarga kaya raya, sudahlah aku rasa dia bisa mencari yang lain…”
Sarla terenyuh, bibirnya mengatup seketika ia merasa kelu jika harus mengulang hal lalu yang sudah berakhir dengan tragis dan dia harus menjadi penghangat seorang yang tidak punya hati yang tidak lain paman dari seseorang yang ia cintai dan terpaksa ia lepaskan itu, aku harusnya membencimu juga…membencimu Juless hidupku tidak lagi ada artinya lagi hanya sedang menunggu kapan dia bosan dan membuangku.
Tuhan… aku lelah...
“Sarla? Kau baik-baik saja?” Viviane menoleh pada Sarla yang seperti menerawang jauh, maniknya berubah menyedihkan seketika.
Sarla terkesiap, “Ah ya aku baik-baik saja ayo kita tidur…atau berceritalah tentangmu, aku ingin mendengarkannya sebab tentangku tidak ada yang special…”
Viviane pun tertawa, dia memang suka bercerita, gadis itu bahkan membuat kopi demi mereka bisa bercerita bersama Sarla didalam sana sembari menonton sebuah film yang ia putar dengan laptopnya, Sarla tidak keberatan sungguh ia sudah lama tidak melakukan hal ini sebelumnya sejak tidak lagi ada Virel sang sahabat yang ia juga jauhi saat ini.
Di tempat lain, Morean yang sengaja tidak makan ingin makan bersama Sarla dirumahnya pun mendadak tidak lapar lagi terkalahkan dengan kekesalan dan kantuknya, ia juga tidak tahu harus mencari Sarla kemana lagi, tidak mungkin merepotkan Luke untuk hal seperti ini, Luke begitu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan tidak melulu tetang hal sepele Sarla lagi dan lagi.
Morean memilih tetap dimobilnya yang masih terparkir didepan jalanan rumah Sarla ia tidur disana menunggu Sarla hingga pagi jika dia tidak juga kembali barulah ia betindak memerintah orang-orangnya.
...***...
Pagi sudah datang namun mentari belum begitu terang memperlihatkan wujudnya, Sarla berpamitan pada Viviane untuk kembali sebelum ia semakin merepotkan keluarga Viviane lagi dengan memberikannya makanan atau membuatkannya kudapan untuk ia bawa pulang seperti yang ibu Viviane katakan ingin membuatkan Sarla kue kering khas keluargnya.
Sarla pun berjalan kaki pulang menuju kediamannya yang memang tidak jauh dari kediaman Viviane, seperti pagi kemarin hari ini Sarla merasakan demam lagi, sungguh tidak nyaman sekali seperti ini.
Sarla kemudian memutuskan berjalan pelan-pelan saja asal sampai dengan selamat, memegangi tas selempangnya, ia melewati jalur pejalan kaki yang sedikit basah sebab hujan semalaman itu, sepertinya hari ini dia akan beristirahat seharian penuh dirumah sebab resto tutup sang owner akan melakukan resnovasi selama dua hari kedepan untuk restonya.
Saat hampir sampai dari jauh Sarla sudah melihat sebuah mobil yang ia kenal disana, mobil jenis Suv yang biasa Morean gunakan saat datang, Sarla pun meremasih tasnya takut.
"Kenapa pagi sekali lelaki itu datang, pagi sekali? Atau jangan-jangan sudah dari semalam ia datang?" langkah Sarla pun semakin lambat ia menjadi sangat takut, bagaimana jika benar Morean sudah menunggunya dari semalam artinya saat ini serigala itu sedang sangat marah.
Morean turun dari mobilnya ia saat baru saja bangun dan ia lihat dibelakang sana Sarla baru saja kembali, lelaki itu berdiri diluar mobil dengan tatapan dinginnya wajah kusut bangun tidur menatap ke arah Sarla yang berhenti.
Sarla seperti bertemu seekor binatang buas ditengah hutan, saat dia maju pasti akan diterkam dan jika berlari pasti ia akan dikejar, seketika saja lelaki itu yang maju masih dengan tatapan dinginnya yang belum menyurut dia datang membuat Sarla semakin ketakutan dan meremasi tasnya kuat.
“Kau baru pulang dipagi hari, apa yang kau lakukan semalama, Sarla!!” Pekik Morean dengan menarik kasar lengan sarla hingga hampir saja ia terjatuh.
Sarla mengaduh dan memasarahkan Morean yang menariknya kasar lelaki itu membawanya paksa masuk kedalam rumah, sungguh Sarla memohon dalam hati jangan dulu melakukan hubungan itu dia sedang sangat tidak nyaman saat ini.
Morean merampas kasar kunci dari tangan Sarla kemudian membuka pintu dan menarikd Sarla lagi untuk masuk dan membanting pintu dengan kakinya Sarla meringis, “Sa-sakit…”
“Katakan kau dari mana!” Bentak lelaki itu lagi menatap dengan sengit Sarla yang berdiri dihadapannya memegangi pergelangan tangannya kesakitan.
“Aku menginap ditempat temanku, dia bekerja di restoran itu juga.”
“Lelaki itu, kau jangan berbohong! Siapa yang menizinkanmu pergi tanpa izinku, kau tahu berapa lama aku menunggumu semalaman disana hingga hujan deras, katakan dengan jelas aku tidak mempercayaimu!”
“Sudahlah kepalaku sakit, jika kau tidak percaya datang saja kerumahnya diujung jembatan sana namanya Viviane, tundalah hardikanmu dan apapun itu aku sedang tidak sehat, maafkan aku membuatmu menunggu,” Sarla pun menurukan sebuah kasur lipatnya memubuatnya rapi lalu menjatuhkan dirinya disana.
Morean terus memperhatikan apa yang dilakukan Sarla dengan tatapan yang masih dingin namun tidak lagi berkomentar sebab Sarla terlihat pucat saat ini, “Kita kerumah sakit…”
Sarla menggeleng,” Aku butuh istirahat mungkin beberapa jam lagi akan pulih, pulanglah! Sekali lagi maaf membuatmu menunggu.” Sarla pun memejam kemudian memeluk dirinya sendiri, membuat Morean menjadi khawatir.
“Bangkit, kita kerumah sakit sekarang!” tegaskannya lagi.
Netra Sarla membuka sebagian melihat kearah Morean, “Hemmm.. bukan kita tapi aku, kau akan membiarkan aku masuk sendiri bukan? Kau takut akan mencipatakan rumor tentang seorang anak pengusaha kaya raya menghantarkan seorang wanita sakit.” Sarla pun tersenyum mencibir.
“Diamlah, kau fikir apa yang aku lakukan saat kakimu berdarah kemarin.”
Sarla pun tertawa lagi, “Ini kota kecil tidak akan ada yang mengurusi hal itu, sudahlah aku hanya demam, pulanglah bukankah waktu adalah uang, jangan membuang uang demi seseorang sepertiku…” Tidak memperdulikan ucapan Sarla Morean pun segera mengangkat tubuh Sarla.
“TIDAKKKKKK, JANGAN PAKSA AKU!!” Sarla mendorong dengan kuar Morean ia takut sepanjang perjalanan tadi ia sudah berfikir jauh bagaimana jika dia saat ini sedang hamil dan sakitnya setiap pagi beberapa hari ini adalah bagian dari morningsickness kehamilan.
Morean terdorong kebelakang nyaris tersungkur, ia pun mendengkus kesal, “Jika kau keras kepala aku akan mengikatmu!”
Sarla tidak mau kalah sungguh ini menyangkut hidup dan matinya jika benar dia hamil akan ketahuan dirumah sakit dan dia dan anaknya bisa dibunuh lelaki ini atau keluarganya mungkin seketika, “Aku akan bunuh diri jika kau memaksaku! Tinggalkan aku, aku ingin istirhat! ku mohon mengertilah sekali saja..." Nada Sarla melemah diujung kalimatnya memohon dengan sungguh-sungguh.
Morean mendengkus, mau tidak mau dia pun menuruti kemauan Sarla, ia seakan lemah melihat Sarla memohon.
.
.
.
.