
Malam hari dihunian barunya Sarla sedang bersantai dengan sang kakak didepan sebuah kolam ikan hias yang dibuat tengah-tengah huniang Sarla, keduanya membincangi banyak hal termasuk kegiatan kakaknya saat pengobatan.
Saat ini Sarla juga tengah menunggu sang suami yang mengatakan sudah dalam perjalanan pulang menatap pada ikan-ikan hias disana.
“Bagaimana dengan Morean, Sarla? Apakah kau mengenal keluarganya dan mereka mau menerimamu, lalu apa kabar Juless sekarang?”
“Menurut kakak?” Sarla tertawa, mulai memakan biskuitnya.
“Entahlah apa mungkin kaum rendahan mau diterima dikeluarga mereka, kau tidak menjadi simpanan bukan?”
Sarla pun tertawa lagi, “Apa maksud kakak, ayahnya akan tinggal disini bagaimana bisa kakak mengatakan aku simpanan, More tidak banyak keluarga hanya ada bibinya tinggal jauh di Delmiforest yang ku ceritakan saat penculikan itu, tentang Juless, entahlah sudah lama aku tidak melihatnya, dia sudah bekerja saat ini.”
“Ini begitu aneh bukan? Kau memacari keponakannya lalu menikah dengan pamannya, perbedaan usia kalian cukup jauh...21...33...kau lebih cocok menjadi keponakannya.”
“Siapa yang tahu takdir.” Sarla tertawa lagi.
“Ya siapa yang tahu akan berapa lama kalian bersama, ku harap dia tidak akan pernah berubah dan tidak akan bosan padamu, orang kaya...kau tahu mereka mudah melakukan apapun yang mereka mau, bukan hanya musuh yang mengintai tapi para wanita yang lebih menarik juga.”
Sarla mengendikkan bahunya, “Entahlah, apapun itu nanti yang terjadi, yang terpenting adalah aku akan bersama anakku kak, anakku segalanya...”
“Ya semoga itu tidak terjadi dan Morean tetap setia,” Sebuah cibiran terbit dari bibi Molina, ia mensesap minumannya.
“Apa rencana kakak saat ini?”
“Entahlah yang pasti bekerja lagi.”
“Aku dan More punya rencana bagaimana jika kakak bekerja diperusahaan Morean?”
Sebuah rasa segar timbul pada hati Molina, “Bekerja di perusahaan keluarga Sanden? Kau yakin Morean merencanakan itu?”
“Hemmm ya, More selalu merencanakan yang baik untuk semua orang.”
“Ya, kau beruntung mendapatkannya, aku akui kau sangat beruntung.”
“Percayalah kak, aku sama sekali tidak pernah menginginkan ini, memiliki dia atau akan menjadi istrinya, aku bahkan tidak tahu Juless adalah cucu dari keluarga Sanden, sama sekali aku tidak mengetahuinya walau dulu saat di kampus beberapa orang mengetahui dia adalah anak darii keluarga kaya raya.”
Molina tertawa, “Ya aku kenal kau, adik terbodoh dan terpolosku...keinginanmu hanya bisa tidur nyenyak dan makan dengan kenyang itu saja.”
“Terserah apapun itu, tapi itulah aku...bagiku ketenangan itu sulit, dengan bekerja yang giat tidak memiliki hutang aku bisa tidur nyenyak dan makan apapun terasa kenyang dan nikmat.”
“Sayang aku pulang!!” Suara Morean terdengar jelas disana dia masuk bersama Luke yang banyak membawakan belanjaan.
Sarla pun bangkit menyambutnya, “Kau sudah pulang, cepat sekali?”
Morean berkerut dahi, “Cepat katamu?” Morean melihat pada arloji miliknya, “Selain tidak bisa melihat matahari apakah kau juga tidak bisa melihat waktu, ini sudah malam? Kita hanya pindah beberapa meter dibawah tanah ku rasa tidak ada perbedaan waktu disini.”
“Ada Bos, dibawah sini 40 hari lebih lambat, mungkin istrimu masih merasakan ini adalah pagi di 39 hari lalu,” Sambar Luke, “Ini belanjaanmu Nona, kurangi permintaanmu yang aneh-aneh... bukan suamimu yang akan kesusahan tapi seluruh orang di Walmart.”
More menggaruk dahinya tertawa, “Aku tidak meminta mereka, mereka saya yang mau membantuku.”
“Tidak meminta tapi kau memperlihatkan wajahmu, siapa yang berani mengacuhkanmu?”
“Oh ya? Lalu apa yang kalian dapatkan?” Sarla begitu antusias membuka bungkus-bungkusan paper bag yang Luke serahkan.
“Baiklah.... Aku akan pulang sekarang, periksalah belanjaan anda nona.”
“Tunggu Luke! Kau belum makan malam bukan? Ayo kita makan malam bersama.”
Sarl bersama Molina kemudian membawa belanjaannya ke meja untuk ia buka, Morean membeli banyak sekali permintaan sang istri yang hanya mengatakan ingin yang asam-asam.
“Apa ini?” Sarla terbelalak, melihat berbagai macam barang, “Permen asam jawa, tamarind candy, asian favorite tropis candy? Benda apa ini hitam-hitam bergula seperti kotoran berlapis gula.”
Morean mendekat pada istrinya, “Oh itu pilihan Luke.”
“Asal ambil?” Morean membuka 1 bungkus plastiknya,”Sini aku coba, jangan makan dulu sebelum tahu aman.”
“Jangan!” Sarla mengambil permen berwarna hitam itu dari sang suami, “Jangan kau yang mencoba dad, bagaimana jika kau kenapa-kenapa? Kau punya istri, kau punya calon bayi, minta tolonglah pada Luke, dia tidak ada tanggungan selain bibi Dora yang katanya juga akan menikah lagi, setelah itu dia tidak ada beban dan tanggungan apapun.”
****.
Luke mengumpat, Luke mengambil permen hitam itu dari tangan More, “Jika aku kenapa-kenapa kalian berdua ku jadikan korban setelahnya.” Ia pun memasukkan permen itu kedalam mulutnya, perlahan ia mengunyahnya merasakan sensasi asam alami bercampur gula yang manis, “Enak, ini enak...rasanya tidak seburuk bentuknya....”
“Hitung mundur 1 menit dad, jika dia tidak berbusa artinya aman.”
“Terserah!” Luke pun mengambil lagi permen itu, ia tidak peduli ucapan Sarla dan tatapan Morean juga Molina yang terus melihatnya aneh, “Hemmmm ini enak, ini sungguh...”
Sarla menelan ludah tampak tertarik ingin memakannya juga, “Dad, aku mau coba....sepertinya sudah 1 menit lebih dia tidak kenapa-kenapa, perutmu aman Luke? Lehermu?”
“Sini aku coba! Aku kurang yakin melihat wajahnya, kebohongan terpancar cerah disana.” More pun melahap sebuah permen hitam itu, mulai menghisapnya merasakan sensasi pecah manis dan asam disana, “Hemmm.....ya....lumayan, dia tidak seburuk bentuknya.”
“Sudah puas!” Luke menggrutu ia kembali memakan sebuah lagi ketagihan.
“LUKE! Hanya ada 5 buah jangan makan lagi!” Pukul Sarla tangannya.
Plakkk.....
“Aww.... Sakit, kalian pasangan teraneh tadi menjadikan ku tumbal sekarang melarangku memakannya, baiklah aku pulang sekarang, aku harus pergi ke suatu tempat.”
“Kau akan berkencan? Jika tidak ajaklah kakak ipar berkeliling dia sudah lama pergi dari kota ini.”
“Eh—“ Molina terkesiap atas ucapan Morean, “Tidak terimakasih aku akan makan malam lalu beristirahat saja.”
Mendapati ucapan Molina Sarla pun tertawa, “Nah, ide bagus! Lakukan, aku akan menemui seseorang, ku mohon bos, biarkan aku pergi dengan tenang.”
“Kau berlebihan Luke, kau ingin mati, sudahlah pergi sana!” Izinkan Sarla sibuk mencicipi banyak makanannya disana.
“Suamimu lebih menyeramkan dari malaikat penyabut nyawa jika memerintah, baiklah aku pergi sekarang, aku harus sampai di Romein tengah malam nanti.”
“Kau akan ke Romein?” Molina yang diam seketika bersuara, membuat semua orang disana bersuara.
“Ya— ada masalah?”
“Ti-tidak, aku hanya ingin ketempat itu sudah lama, jalanan malam disana sangat indah begitupun pusat hiburan malamnya sangat terkenal bagus bukan?”
Sarla dan Morean pun saling lirik, mengisyaratkan sesuatu, “Kakak ingin ke tempat itu? Luke kau tidak keberatan membawa kakak? Kau akan libur besok sebab aku dan More akan suatu tempat besok.”
Luke menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh ia tidak ingin sekali mengajak Molina, dia pergi sebab akan menemui seseorang bagaimana bisa dia membawa Molina akan bagaimana rencananya, tapi bagaimana dia menolak tidak untuk bosnya ini.
“Kau dan Sanden akan kemana?” Molina melihat pada sang adik kemudian, “Kalian akan berlibur?”
“Hemmm....ya kak..." Sarla pun melihat pada sang suami meyakinkan.
“Baiklah aku lebih baik ikut kalian saja, ayolah bawa aku.”
Luke mendengkus kesal, Molina ini sejenis tidak tahu malu dan tidak peka atau bagaimana? Morean dan Sarla adalah suami istri, mereka akan qualty time berdua haruskah dia mengikuti mereka.
“Bersiaplah, ikut denganku! Morean jarang berlibur biarkan mereka berlibur, tidak baik mengikuti pasangan lain.”
“Kenapa? Dia adikku!” Molina menatap sebal Luke.
“Iya dia adikmu,Nona....tapi istri dari seseorang, kau tidak boleh amnesia atau mendadak kejang rusak otak lalu lupa tentang itu.”
“Luke!” Tegur Sarla, “Ucapanmu...kakak ku terlalu lembut untuk menerima kalimat-kalimat beracunmu, biarkan dia memilih!"