
Tidakkah kau berfikir mulai malam tadi hingga sore ini lelaki ini membuang-buang watunya untukmu, Sarla meliriki dalam hening tangannya yang dibawa Morean memasuki lantai dimana unitnya berada, lelakit itu terus menggenggami tangan Sarla sedari tadi dari turun hingga mereka sudah naik.
Morean sadar akan lirikan Sarla,“Kenapa kau melirikku, kau sudah bisa melihat sisi malaikat dari iblis ini?” mereka pun sampai di unit utama yang Morean tempati, seketika lampu tamaram berubah terang benderang dengan dua pembantu yang menyambut mereka.
Sarla menggelengkan kepalanya, “Aku membawa makanan untukmu sebaiknya makan sekarang nanti tidak enak lagi.” Angkat Sarla kantung bekalnya.
Morean mengangkat tanganya memerintah seorang pembantu yang berdiri diujung tempat lain,” Siapkan makananku.” Tunjuknya pada tempat bekal Sarla.
“Tidak, tidak ada yang perlu disiapkan, duduklah kita bisa langsung makan ditempat bekalnya,” Sarla berjalan kesebuah area dining room yang super mengkilap dengan segala furniture mewahnya itu.
Morean pun berdehem, berjalan ke sisi lain melepaskan Jasnya. "Makanan apa yang kau bawa, kau ingin membujukku?"
“Terserah apapun pendapatmu, hemmm..aku tidak tahu kau bisa makan ini atau tidak namun ku rasa ini cukup baik dan termasuk kedalam cleanfood, duduklah!” Sarla menarik sebuah kursi untuk Morean lalu untuknya pula.
Morean berjalam mendekat dan berangsur duduk, melihat dua bekal yang Sarla bawa, bibirnya maju sedikit dengan netranya yang menelisik kedalam kotak itu, “Kenapa hanya 1 yang menggunkan daging?”
Sarla mengulas senyuman,”Itu untukmu, aku makan saladnya saja, aku merasa ingin mual makan daging.” Sarla menyodorkan kotak bekal itu tidak lupa meraih sendok di atas meja yang sudah tertata .
Morean pun berdehem, mulai memakan satu suapan, Sarla juga mulai melahap salad sayurannya, ia lebih bisa memakan yang fresh dan segar saat ini hanya melihat daging yang Morean makan saja dia mual.
“Kenapa?” lihat Morean pada wajah Sarla yang menelan ludah, “Kau masih sakit?”
Sarla tidak menjawab dia menggelengkan kepalanya samar lalu menyuap makananya lagi. “Kau belum makan dari semalam?” Sarla mulai mencoba menetralan suasana sebab lelaki ini sedang tidak memasang level tegangan tingginya.
“Sudah, selepas dari tempatmu, aku belum siap mati kelaparan lalu meninggalkan semuanya dan membuatmu memenangi ini semua.”
Bibir Sarla mencebik, “Maaf— malam tadi aku diminta menginap di tempat teman baruku itu, aku tidak tahu lau datang.”
Ujung bibir Morean naik keatas secenti, ”Kau memang tidak ingin tahu dan peduli itu, hemm... lumayan, buatkan aku lagi lain kali.”Pujinya tidak melihat, “Kau tampak tidak sehat, menginaplah...” Lihat Morean Sarla yang pucat wajahnya tampak sesegar biasa.
Sarla tidak merespon, bibirnya sedikit tertarik menjelaskan dia mengerti permintaan Morean itu, “Kau akan pergi sekarang?”
“Ayahku sakit, aku ingin menemui dokter yang merawatnya memastikan perkembanganya, tapi sudah ku batalkan biar dia yang datang menemuiku.”
Sarla menatap jengah dengan dahinya yang berkerut, “Kau yang membutuhkan dokter, kenapa dia yang harus datang. ”Seketika Sarla menarik sebuah tissu mengusap bekas sauce diujung bibir Morean.
Lelaki itu hening, diam mematung saat tangan Sarla menyentuh lembut bibirnya, “Aku bisa lakukan sendiri....”Tarik Moream tissu itu, mengusapnya sendiri.
"Naik apa kau ke kantorku!"
"Hellikopter..."
"Aku tidak suka bercanda."
"Terserah yang pasti aku bisa lakukan apapun sendiri." Balikkan Sarla kalimat Morean.
Dibawah sana Summer yang dihubungi mendadak oleh Luke tentang Morean yang membatalkan pertemuan mereka dirumah sakit dan meminta dia yang datang menemui lelaki itu, seketika saja Summer sudah datang disana dengan alasan dia kebetulan sedang lewat Appartemen itu.
Gadis cantik berseragam dokter itupun diizinkan masuk saat memberikan bukti bahwa kedatangannya atas perintah Morean Saden, ia pun dipersilahkan naik dengan seseorang yang menghantarkannya, sungguh Summer tampak sumringah Morean mau melakulan pertemuan denganya di appartemen sedari dibawah tadi hingga sampai didalam elevator bibir Summer terus melengkung indah.
"Apakah kau punya maksud lain, More?
Summer merasakan sebuah kerinduan pada lelaki possessive namun sangat lembut jika sedang berdua, lelaki yang begitu sangat pengertian menerima dia dan keluarganya yang berantakan, “Kau hanya salah paham More, tahun-tahun yang ku lewati begitu sulit tanpamu...kini aku datang untuk memperbaiki apa yang ayahku telah hancurkan.”
Ting....
Summer mengangguk, jika bukan bertemu di tempatnya artinya ini hanya akan menjadi sebuah pertemuan biasa, Summer pun tersemyum tidak masalah ini baru permulaan, aku tahu kemana pun kau pergi dan berapa banyak wanita yang kau tiduri namun hatimu hanya aku.
Summer berangsur duduk, ia mengulas senyuman yang mana tiba-tiba ia ingat sebuat tatto yang lelaki itu buat didadanya gambar awan dengan matahari yang muncul sebagia.
Ya... Itu adalah dia Summer season sebuah musin panas yang indah memberi semangat dan kebahagiaan.
***
Morean memegang segelas air putihnya saat sudah selesai makan dan siap menemui Summer yang sudah sampai disana, wajah Sarla terus menatap seperti tatapan kosong tiada arah, bahkan ia tidak sadar Morean melihatnya.
“Apa yang kau fikirkan?” Suara More membuat Sarla tersentak, ia sedang memikirkan tentang dirinya lagi dan lagi, sangat tidak sabar menunggu esok menggunakan tespacknya.
“Tidak ada...pergilah... Mungkin kau sudah ditunggu.” Sarla pun meraih gelas airnya lalu mensesapnya, seketika Sarla ingin mengeluarkannya lagi, meminum air putih saja seperti minum racun diwaktu-waktu tertentu dia begitu mual dan merasa tidak bisa menelannya.
“Kenapa?” Morean melihat itu, sungguh Sarla benar-benar dalam keadaan tidak baik saat ini, dia tampak sangat tidak sehat.
“Tidak ada, pergilah! Setelah ini kau akan pergi menemui tamumu yang lain bukan? Jika kau kembali bawakan aku buah melon dan makanan yang manis-manis ya...”
Morean terperangah,”Melon? Itu didepan mu Melon.” Tunjuk Morean tempat buah dihadapan Sarla.
“Ah bukan yang ini aku ingin yang hijau, kurasa tenggorokan ku tidak nyaman makan apa saja membuatku ingin mengeluarkannya lagi tapi melon yang ku bayangkan sepertinya tidak.”
Morean menatap penuh selidik, “Kau mengkonsumsi pil kb mu bukan, kau yakin tidak kenapa-kenapa?”
Sarla tertampar kuat padahal Morean berucap begitu pelan, Sarla merasa bersalah sudah bersikap sok akrab seperti ini malah meminta Melon padanya, Sarla....kenapa kau bodoh sekali.
“Apa maksudmu! Aku hanya meminta jeruk, kau berfikir kemana-mana, tidak ingatkah kau dokter itu bilang apa?” Sarla berakting seketika ia bisa bersuara lantang dengan diri yang seolah kuat dan sehat.
Morean menatap Sarla lama menerka-nerka namun tidak mungkin pemeriksaan itu salah dia tidak hamil. “Seseorang akan menghantarkan melon dan makanan manismu.”
Sarla mengangguk samar, “Kau akan lama?” Sarla seketika menutup mulutnya, harusnya itu ia ucapkan dalam hati saja sungguh ia rasanya ingin selalu ditemani Morean entah terkena angin apa.
Arghh.... Memalukan...
“Kenapa?” Tatap Morean.
“Ah tidak ada,” Sarla pun bangkit dari sana hendak menghantarkan Morean keluar, seketika Sarla oleng merasakan seperti bumi bergoncang, ia oleng.
Morean pun menangkapnya seketika, “Kau tidak sehat Sarla! Apa yang terjadi padamu!”
Segera Sarla menarik lepas tangan Morean melangkah untuk mengalihkan, “Cepat kembali, jangan lupa melonnya,” Sarla berusaha tidak jatuh walau rasanya ia berdiri saja sudah melayang. “Hati-hati —howeeeekkkkkkkk!”
Muntahan itu lolos tidak tertahankan mengotori baju Morean, lelaki itu terdiam tatapannya penuh khawatir.
Morean pun menjadi panik seketika menangkap Sarla lagi dengan wajahnya yang begitu gusar, “ Aku sudah bilang kau Sakit kau butuh rumah sakit!” Morean pun mengangkat paksa tubuh mungil Sarla dan menaruhnya di tempat tidur hati-hati sekali, segala muntahan Sarla dipakaian Morean tidak lagi lelaki itu pedulikan ia hendak menghubungi Summer untuk memeriksa Sarla. "Aku panggilkan dokter itu untuk memeriksamu."
“Jangann.....aku tidak mau...aku sehat..." yang aku mau adalah kau terus disini, hey ... iblis apakah aku yang mau atau sesuatu milikmu yang sudah menyatu dengan ku ini yang mau.
.
.
.